Berkaca dari Musibah

Berkaca dari Musibah

Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. -hafizhahullah-

 

Saat ini, musim kemarau panjang melanda. Berita musibah datang silih berganti. Angin kencang, tanah longsor, kekeringan dan si jago merah yang kian merajalela.Hampir setiap hari terjadi kebakaran, baik di perkotaan, maupun di hutan. Rasa was-was dan khawatir pun kian menghantui jiwa.

Tatkala sengatan matahari yang begitu panas membuat rumput-rumput menjadikering kerontang sehingga sepuntung api rokok saja, mampu menghanguskan berhektar-hektar kebun dan hutan.

Akibatnya, banyak kerugian dan kesedihan terjadi. Semoga segala keadaan ini dapat dipahami sebagai suatu peringatan bagi kaum mukminin dan manusia seluruhnya untuk menerimanya dengan jiwa yang lapang dan hati yang sabar sebagai suatu ketentuan dari-Nya.

Allah -Subhana wa ta’ala- berfirman,

{نَحْنُ جَعَلْنَاهَا تَذْكِرَةً وَمَتَاعًا لِلْمُقْوِينَ } [الواقعة: 73]

Kami jadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir.” (QS. Al-Waqi’ah: 73)

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thobariy –rahimahullah– berkata,

“نحن جعلنا النار تذكرة لكم تذكرون بها نار جهنّم، فتعتبرون وتتعظون بها.” اهـ من تفسير الطبري = جامع البيان ت شاكر (23/ 144)

(Maksudnya), Kami jadikan api itu sebagai peringatan bagi kalian yang kalian bisa mengingat dengannya api neraka Jahannam. Karena itu, perhatikanlah dan saling menasehatilah dengannya” [Lihat Jami’ Al-Bayan (23/144) cet. Mu’assasah Ar-Risalah, tahqiq Ahmad bin Muhammad Syakir, 1420 H]

Oleh karenanya, Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah mengingatkan para sahabatnya tentang api yang ada di dunia dalam sabdanya,

نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً قَالَ فُضِّلَتْ عَلَيْهِنَّ بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا

“Api kalian (di dunia ini) merupakan bagian dari tujuh puluh bagian api neraka jahannam”. Ditanyakan kepada Beliau; “Wahai Rasulullah, satu bagian itu saja sudah cukup (untuk menyiksa pelaku maksiat)?” Beliau bersabda: “Ditambahkan atasnya dengan enam puluh sembilan kali lipat yang sama panasnya”. [HR. Al-Bukhari dalam Kitab Bad’il Kholq (no. 3265)]

Pembaca yang budiman, marilah kita merenungi kejadian-kejadian yang terjadi dan mengintropeksi diri kita masing-masing.

Jika kita mau melihat dengan pandangan yang jujur, maka kita akan menyadari begitu banyaknya kekurangan dan pelanggaran yang kita  lakukan, baik terhadap hak Allah, maupun hak para makhluk.

Begitu banyak kezholiman yang terjadi pada diri hamba sendiri dan orang lain. Manusia telah tersesat jauh dari jalan Allah dan tuntunan Rasul-Nya –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– sampai tidak mengenal lagi halal dan haram.

Tercampurnya antara yang hak dan yang batil sehingga yang benar dianggap batil dan yang batil dianggap benar. Oleh karenanya, Allah –Azza wa jalla– menurunkan musibah demi musibah agar kita sadar dan paham tentang kesalahan kita serta mau kembali bertaubat kepada-Nya.

Allah –Subhana wa ta’ala– berfirman,

{قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ } [الأنعام: 65]

“Katakanlah: “Dia-lah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu, atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. (QS. Al-An’am: 65 )

Jabir bin Abdillah –radiyallahu ‘anhu– berkata,

لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ: (قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ) قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : أَعُوذُ بِوَجْهِكَ, قَالَ: (أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ)، قَالَ: أَعُوذُ بِوَجْهِكَ, (أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ)، قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : هَذَا أَهْوَنُ

“Ketika ayat ini turun, “Katakanlah, Dialah Yang Berkuasa untuk mengirimkan azab (siksaan) kepadamu, dari atas kalian

Beliau bersabda: “Aku berlindung dengan wajah Allah yang mulia”.

Lalu Beliau membaca “atau dari bawah kakimu”

Beliau bersabda: “Aku berlindung dengan wajah Allah yang mulia”..

Dan ketika membaca: “atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu kepada keganasan sebahagian yang lain.”

Beliau bersabda : “Ini lebih ringan”. [HR. Al-Bukhariy dalam Kitab At-Tafsir (no. 4628)]

Pembaca yang budiman, seluruh musibah-musibah yang terjadi pada diri kita merupakan tanda-tanda kebesaran Allah –Subhana wa ta’ala– dan takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya.

Hal itu diturunkan agar manusia itu takut dan sadar akan kelemahan dirinya, ketika ia membangkang dan durhaka kepada perintah Rabb-Nya yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Allah -Azza Wa Jalla- berfirman,

{وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا } [الإسراء: 59]

 “Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu, melainkan untuk menakuti”. (QS. Al-Isra’: 59)

Qatadah bin Di’amah As-Sadusiy rahimahullah- berkata, “Sesungguhnya Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menakut-nakuti manusia dengan tanda-tanda kekuasaan yang Dia kehendaki, agar mereka mengambil pelajaran, ingat dan kembali (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala)”.[ Lihat Tafsir Ibnu Katsir (5/91), cet. Dar Thoibah, 1420 H]

Hendaknya seorang mukmin merasa takut dan mengintrospeksi diri masing-masing, ketika musibah datang.

Seorang mukmin harus bersabar dan mengharapkan pahala atas musibah tersebut, bukannya justru berusaha mencari kambing hitam dan berburuk sangka kepada orang lain, kecuali jika memang ada bukti dan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan, maka hal itu tidaklah mengapa.

Bila tak ada bukti, maka hindarilah buruk sangka dan mencari-cari kambing hitam. Ketahuilah bahwa seluruh musibah yang terjadi telah tertulis di Lauhul Mahfuzh sebelum diciptakannya makhluk.

Tak ada guna kita berputus asa dan saling salah menyalahkan atau curiga mencurigai. Tugas kita adalah bersabar, menghindari perkara yang mendatangkan musibah serta memohon perlindungan kepada-Nya.

Allah –Tabaaraka wa ta’ala- berfirman,

{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)} [الحديد: 22، 23]

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (QS. Al-Hadid: 22-23)

Segala peristiwa dan sebabnya (berupa kebakaran, banjir, longsor, kemarau dan lainnya) telah tertulis di sisi Allah sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menetapkan ketentuan-ketentuan (takdir bagi setiap makhluk) lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” [HR. Muslim dalamKitab Al-Qodar (no. 2653)]

Seorang tabi’in, Abu Abdillah Ikrimah Al-Madaniy -rahimahullah- berkata,

“لَيْسَ أَحَدٌ إِلَّا وَهُوَ يَفْرَحُ وَيَحْزَنُ، وَلَكِنِ اجْعَلُوا الفَرَح شُكْرًا وَالْحُزْنَ صَبْرًا.” اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (8/ 27)

“Tidak ada seorang pun, melainkan ia merasakan senang dan sedih. Karenanya, jadikanlah kesenangan itu sebagai kesyukuran dan kesedihan sebagai kesabaran”[Lihat Tafsir Ibnu Katsir (8/27) karya Al-Hafizh Abul Fidaa’ Ibnu Katsir, tahqiqSami bin Muhammad Salamah, Dar Thoibah, 1420 H]

Tidaklah ada suatu musibah pada jiwa, harta dan anak yang terjadi, melainkan atasqadha dan qadar Allah -Azza wa jalla-. Jika seorang hamba beriman bahwa musibah itu berasal dari Allah, lalu ia rela dengannya dan memasrahkan urusannya pada-Nya, maka ia mendapatkan pahala yang besar dan mulia, baik di dunia, maupun di akhirat.

Allah akan menunjuki hatinya sehingga ia merasa tenang dan tidak panik ketika mendapat musibah dan dikaruniai keteguhan saat datangnya musibah serta melakukan tuntutan kesabaran. Karenanya, ia memperoleh pahala yang disegerakan bersamaan dengan pahala yang disimpan Allah baginya pada hari pembalasan nanti.[Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 867) cet. Maktabah An-Nubalaa’].

Allah -Jalla Wa ‘Alaa- berfirman,

{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} [التغابن: 11]

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. At-Taghabun: 11)

Alangkah indahnya ucapan Ibnu Nashiriddin Ad-Dimasyqi –rahimahullah– ,

Maha suci Dzat yang menguji manusia

Dia mencintai mereka, sedangkan bala diberikan

Maka sabarlah dengan musibah dan ridho-lah

Hal itu akan menjadi obatnya

Pasrahlah kepada Allah terhadap apa yang ditaqdirkan-Nya

Dan Allah berbuat sekehendak-Nya.[Lihat Bardul Akbad ‘Inda Faqdi Aulad(hal. 11)]

 

Semoga risalah ini bisa memberi manfaat kepada para pembaca dan bisa meningkatkan keimanan kita terhadap takdir yang telah ditetapkan Allah -Subhana wa ta’ala- .

Sumber:
https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/10/berkaca-dari-musibah.html

Leave a Reply