Demonstrasi adalah Wujud Pemberontakan yang Tercela dalam Syariat Islam

demonstrasi-adalah-wujud-pemberontakan-yang-tercela-dalam-syariat-islam

Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-

 

Demonstrasi yang dilakukan oleh sebagian jamaah dakwah dan harokah islamiyyah pada zaman ini bukanlah bagian dari ajaran Islam. Ia merupakan pintu yang mengantarkan kepada pemberontakan melawan pemerintah yang sah.

Demonstrasi dengan segala warnanya sebab utama munculnya arogansi masyarakat dan hilangnya wibawa pemerintah. Dengannya, mereka akan melecehkan pemerintah.

 

Efek minimal yang tercipta dari demonstrasi, masyarakat secara meluas akan mengetahui adanya keburukan dan kekurangan yang dilakukan oleh pemerintahnya, sehingga pada gilirannya akan bermunculan rumor dan desas-desus yang akan menanamkan bibit-bibit kebencian kepada pemerintah di hati masyarakatnya.

Sebagian kaum pergerakan mengira bahwa demonstrasi adalah perkara ringan. Mereka tidak menyangka bahwa DEMONSTRASI adalah WUJUD SEBUAH PEMBERONTAKAN yang akan banyak melahirkan banyak keburukan dan kerusakan bagi bangsa dan masyarakat. Cukuplah kerusakan dan madhorot dari demo dalam AKSI REFORMASI pada tahun 1998.

Seorang ulama dari Timur Tengah, Al-Muhaddits Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbadhafizhahullah– pernah ditanya,

سؤال : هل يمكن القول بان المظاهرات والمسيرات تعتبر من الخروج على ولي الأمر ؟

“Apakah mungkin dikatakan bahwa demonstrasi dan unjuk rasa adalah dianggap termasuk pemberontakan atas pemerintah?”

Beliau menjawab,

جواب الشيخ : لا شك إنها من وسائل الخروج ، بل هي من الخروج لا شك!!

“Tidak diragukan lagi bahwa demonstrasi termasuk sarana pemberontakan, bahkan ia termasuk pemberontakan, tanpa syak!![sumber fatwa : http://rightofallah.net/?p=6412]

Sekian kali demonstrasi yang dilakukan sebagian pihak, berakhir dengan kerusuhan dan perusakan yang muncul dari para demonstran atau para penyusup yang sulit dideteksi dalam barisan.

Anda masih ingat dengan “demo damai” yang dilakukan oleh masyarakat Mesir dalam menggulingkan mendiang Presiden Husni Mubarak. Demo itu bermula pada Hari Selasa, 25 Januari 2011 dengan aksi damai yang dihadiri oleh berbagai kalangan dan pemilik kepentingan. Diantara yang hadir saat itu adalah jamaah Ikhwan Al-Muslimin yang digerakkan oleh Muhammad Mursi.

Demo yang diklaim damai itu berakhir dengan kerusuhan yang memaksa Muhammad Husni Mubarak harus rela melepaskan jabatannya sebagai presiden, pada 11 Februari 2011.

Pasca demo dan revolusi tersebut, Mursi terpilih sebagai Presiden Mesir 24 Juni 2012, lalu dilantik pada tanggal 30 Juni 2012.

Nah, apakah ketika Mursi sudah menjadi presiden, keadaan menjadi tenang dan lebih baik?

Jawabannya, tidak! Bahkan masyarakat pun semakin arogan dan berani dalam menjatuhkan presidennya. Apalagi Mursi dinilai gagal dalam memimpin Mesir.  Akhirnya, Mursi terpaksa turun dari kursinya pada tanggal 3 Juli 2013.

Ini semua adalah realita yang menunjukkan bahwa demo bukanlah sebuah solusi yang baik. Bahkan ia adalah pintu kerusakan dan pemberontakan yang membawa petaka bagi umat.

Ambillah pelajaran dari Mesir, dan jangan sampai ulah kalian dalam berdemo yang dijadikan pelajaran oleh orang lain.

Sumber:
https://abufaizah75.blogspot.co.id/2016/11/demonstrasi-adalah-wujud-pemberontakan.html

Leave a Reply