Hukum Melepaskan Sihir dan Menangkalnya dengan Menggunakan Sihir

Hukum Melepaskan Sihir dan Menangkalnya dengan Menggunakan Sihir

Oleh: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. –hafizhahullah-

 

Sihir adalah pekerjaan setan. Para setan menyebarkan sihir demi menyakiti manusia dan mendatangkan madhorot dan keusakan bagi mereka.

Sihir memiliki berbagai macam bentuk yang kesemuanya adalah kerusakan bagi dunia dan akhirat, baik bagi pelaku sihir, maupun bagi orang yang tersihir beserta orang-orang yang ada di sekitarnya.

Satu diantara jenis sihir yang sering kita jumpai dan dengarkan beritanya, sihir yang menimbulkan penyakit.

Si penyihir dalam menyebarkan sihirnya memiliki berbagai macam tendensi dan tujuan.

Ada yang menyihir, karena sakit hati dan hasad. Ada yang menyihir karena diminta oleh orang lain dalam melampiaskan amarahnya.

Ada yang menyebarkan sihir jenis ini demi mencari rejeki dengan cara batil seperti ini.

Ada juga yang menyebarkan sihir karena ugal-ugalan dan iseng-iseng saja!! Semua ini adalah haram dan perbuatan kesyirikan yang mengafirkan pelakunya!!!

Dari segala macam sepak terjang para penyihir dalam menyebarkan sihir yang menimbulkan penyakit, seringkali membuat repot orang yang terkena sihir dan para keluarga dan handai tolan.

Akhinya, ada diantara mereka yang datang ke tukang sihir yang sering kita kenal dengan “orang pintar” alias dukun.

Padahal perkara seperti ini telah dilarang oleh Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-.

 

Para tukang sihir pun melakukan “nusyroh”, yaitu melepaskan dan menyembuhkan sihir. Hanya saja mereka melepaskannya melalui sihir juga dari hasil kerjasama mereka dengan para setan dari kalangan jin. Jadi, sihir lawan sihir!!

Sahabat Jabir bin Abdillah -radhiyallahu anhu- berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النُّشْرَةِ فَقَالَ هُوَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ

“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah ditanya tentang nusyroh. Beliau bersabda, “Itu termasuk pekerjaan setan”. [HR. Abdur Rozzaq Ash-Shon’aniy dalam Al-Mushonnaf (11/13), Ahmad dalam Al-Musnad (3/294) dan Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 3868). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 2760)]

Al-Imam Abul Faroj Abdur Rahman Ibnul Jauziy Ad-Dimasyqiy –rahimahullah– berkata,

“النُّشْرَةُ : حَلُّ السِّحْرِ عَنِ الْمَسْحُورِ وَلَا يَكَادُ يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلَّا مَنْ يَعْرِفُ السِّحْرَ.” اهـ من فتح الباري لابن حجر (10/ 233)

“Nusyroh adalah melepaskan sihir dari orang yang tersihir. Hampir saja tak ada yang mampu melakukan hal itu, kecuali orang yang mengenal sihir”. [Lihat Fathul Bari (10/233)]

Melepaskan sihir dengan sihir adalah perkara yang terlarang, karena di dalamnya terdapat perbuatan syirik.

Sebab, seorang tukang sihir yang melepaskan sihir, pasti ia bekerjasama dengan setan dari kalangan jin, sebagaimana saat halnya ia menyebarkan sihir, maka ia harus bekerjasama dengan jin.

Sementara itu, jin tak mungkin akan bekerja begitu saja, tanpa ada ganjaran dan tumbalnya.

Orang yang datang kepada tukang sihir, walaupun ia meyakini haramnya sihir, maka perbuatannya tetap haram, karena ia telah melakukan ta’awun (kerjasama) dengan tukang sihir dan jin dalam melakukan sihir.

Di dalam agama kita, Allah melarang kita kerjasama dalam dosa dan permusuhan.

Para tukang sihir dalam aksinya saat melepas sihir, pasti menggunakan jampi-jampi (ruqyah) yang mengandung kesyirikan (penyekutuan) kepada Allah, bid’ah dan kemungkaran.

Lantaran itu, para ahli ilmu melarang keras orang melepas sihir dengan sihir.

Al-Imam Abul Qosim Al-Baghowiy rahimahullah– berkata,

“وَالْمَنْهِيُّ مِنَ الرُّقَى مَا كَانَ فِيهِ شِرْكٌ، أَوْ كَانَ يُذْكَرُ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، أَوْ مَا كَانَ مِنْهَا بِغَيْرِ لِسَانِ الْعَرَبِ، وَلا يُدْرَى مَا هُوَ، وَلَعَلَّهُ يَدْخُلُهُ سِحْرٌ، أَوْ كُفْرٌ، فَأَمَّا مَا كَانَ بِالْقُرْآنِ، وَبِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّهُ جَائِزٌ مُسْتَحَبٌّ، فَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، «كَانَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ».” اهـ من شرح السنة للبغوي (12/ 159)

“Ruqyah yang dilarang adalah ruqyah (jampi) yang di dalamnya terdapat kesyirikan atau disebutkan di dalamnya jin-jin jahat, atau ruqyah yang bukan berbahasa Arab dan tak diketahui apa hakikatnya. Karena boleh jadi ruqyah itu telah disusupi oleh sihir atau kekafiran.

Adapun ruqyah (jampi) dengan menggunakan Al-Qur’an, dan dzirullah –azza wa jalla-, maka sungguh hal itu adalah boleh lagi dianjurkan. Karena, Nabi –shollallohu alaihi wa sallam- dulu meniup (menjampi) pada dirinya dengan suroh-suroh al-mu’awwidzat (Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Naas,_pent.)”. [Lihat Syarh As-Sunnah(12/159)]

Nah, inilah hakikat perbuatan para penyihir dalam melepaskan sihir, yakni pasti mereka menggunakan cara-cara yang melanggar syariat.

Al-Imam Al-Hasan ibnu Abil Hasan Al-Bashriy –rahimahullah– berkata,

لا يَحُلُّ السِّحْرَ إِلاَّ السَّاحِرُ

“Tak ada yang melepaskan sihir, kecuali penyihir”. [LihatFathul Majid (hal. 303) dan Ad-Diin Al-Kholish(2/340)]

Syaikh Sholih bin Abdil Aziz An-Najdiy hafizhohullah– berkata,

“يعني: لا يحل السحر بغير الطريق الشرعية المعروفة إلا ساحر.” اهـ من التمهيد لشرح كتاب التوحيد (ص: 328)

“Maksudnya, tak ada yang mampu melepaskan sihir dengan cara yang tak syar’iy lagi tidak pula dikenal, selain tukang sihir”. [Lihat At-Tamhid (hal. 328-329), cet. Darut Tauhid, 1424 H]

Disinilah pentingnya kita bertanya kepada orang yang mau melepaskan sihir.

Bila ada yang mengaku bisa melepaskan sihir, maka tanyailah, “Apakah anda menggunakan bacaan Al-Qur’an, doa dan dzikir yang disyariatkan dalam agama?”

Bila ia menjawab, “Tidak!!”, maka tanyai lagi, “Apakah anda dokter yang mengobati orang yang tersihir dengan ilmu medis?”

Jika ia bilang, “Bukan!!”, maka kalau begitu ia adalahpenyihir yang ingin melepaskan sihir dengan.

Sebab, bila ia tidak menggunakan cara yang syar’iy, dan tak menggunakan cara medis yang ma’ruf, maka tidak mungkin ada yang mampu melepasnya dengan cara lain, kecuali penyihir.

Semua ini tak mungkin, kecuali melalui jalan setan-setan jin yang memberikan pengaruh pada orang tersebut.

Jadi, melepaskan sihir dengan sihir adalah perkara yang terlarang dalam agama, walaupun niat dan tujuan kita baik.

Adapun dengan cara yang syar’iy (menurut tuntunan syariat), yaitu dengan jampi-jampi (ruqyah) yang menggunakan bacaan Al-Qur’an, dzikir dan doa yang disyariatkan dalam agama, maka ini adalah perkara yang boleh, bahkan disyariatkan demi membantu saudara kita yang terlilit masalah.

Al-Imam Qotadah Ibnu Di’amah As-Sadusiy –rahimahullah– berkata,

قُلْتُ لِسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ : “رَجُلٌ بِهِ طِبٌّ أَوْ يُؤَخَّذُ عَنْ امْرَأَتِهِ، أَيُحَلُّ عَنْهُ أَوْ يُنَشَّرُ؟”

قَالَ : لَا بَأْسَ بِهِ إِنَّمَا يُرِيدُونَ بِهِ الْإِصْلَاحَ فَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَلَمْ يُنْهَ عَنْهُ

“Aku pernah bertanya kepada Sa’id bin Musayyib, “Ada seseorang yang pada dirinya terdapat sihir atau ia tertahan dari istrinya (akibat sihir), apakah ia di-nusyroh (dilepas sihirnya)?”. Beliau menjawab, “Tak mengapa, karena mereka menginginkan dengan itu perbaikan. Adapun yang mendatangkan manfaat bagi manusia, maka tak dilarang”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (10/232)]

Para pembaca yang budiman, perlu kita ketahui bahwanusyroh (melepaskan sihir) ada dua macam:

(1)         Pertama, nusyroh (melepas sihir) dengan menggunakan sihir. Ini yang haram.

(2)         Kedua, nusyroh (melepas sihir) dengan menggunakan metode yang dibenarkan oleh syariat berupa bacaan Al-Qur’an, dzikir dan doa yang diajarkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Al-Imam Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah –rahimahullah– berkata,

“والنشرة حل السحر عن المسحور، وهي نوعان :

حل سحر بسحر مثله، وهو الذي من عمل الشيطان، فإن السحر من عمله فيتقرب إليه الناشر والمنتشر بما يحب فيبطل عمله عن المسحور.

والثاني: النشرة بالرقية والتعوذات والدعوات والأدوية المباحة، فهذا جائز، بل مستحب.” اهـ من إعلام الموقعين عن رب العالمين، ت : عصام الدين الضبابطي، ط. دار الحديث (2/4/588)

“Nusyroh adalah melepaskan sihir dari orang yang tersihir. Nusyroh itu ada dua: melepaskan sihir dengan sihir yang semisalnya. Inilah pekerjaan setan, karena sihir adalah pekerjaan setan. Orang yang melakukan nusyroh (penyihir alias dukun) dan orang yang meminta nusyroh sama-sama mendekatkan diri kepada setan dengan melakukan sesuatu yang disukai oleh setan. Lantaran itu, setan pun melepaskan pekerjaannya (yakni, sihirnya) dari orang yang tersihir. Jenis kedua, nusyroh dengan menggunakan ruqyah, ta’awwudz (memohon perlindungan kepada Allah), doa-doa, dan obat-obatan yang mubah. Jenis ini boleh, bahkan mustahab (dianjurkan)”. [Lihat I’laam Al-Muwaqqi’in (2/4/588),tahqiq Ishomuddin Adh-Dobaabithiy, cet. Darul Hadits, 1422 H]

Jadi, atsar dari Sa’id Ibnul Musayyib, jangan dipahami bahwa beliau membolehkan nusyroh jahiliah yang menggunakan sihir, bahkan yang beliau bolehkan nusyroh yang disyariatkan, yaitu nusyroh yang menggunakan ruqyah syar’iy berupa bacaan Al-Qur’an, dan doa-doa atau dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah –shollallohu alaihi wa sallam-.

Menggunakan ruqyah yang syar’iy dalam menghilangkan sihir adalah perkara yang dibolehkan Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Oleh karena itu, beliau pernah me-ruqyah dirinya sendiri atau di-ruqyah oleh sebagian istrinya. Beliau juga biasa ditanya tentang ruqyah dan mengizinkan para sahabat.

Al-Imam Al-Baghowiy –rahimahullah– berkata dalamSyarh As-Sunnah (12/159),

“فَأَمَّا مَا كَانَ بِالْقُرْآنِ، وَبِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّهُ جَائِزٌ مُسْتَحَبٌّ.” اهـ من شرح السنة للبغوي (12/ 159)

“Adapun ruqyah (jampi) dengan menggunakan Al-Qur’an dan dzikrullah -Azza wa Jalla-, maka sesungguhnya hal itu boleh lagi mustahab”.

A’isyah -radhiyallahu anha- berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْفِثُ عَلَى نَفْسِهِ فِي مَرَضِهِ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ

“Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dulu meniup (me-ruqyah) dirinya sendiri dengan al-Mu’awwidzat (yakni, An-Naas, Al-Falaq dan Al-Ikhlash), saat beliau sakit yang beliau meninggal karenanya”. [HR. Al-Bukhoriy dalamKitab Ath-Thibb (5751)]

Ibnu Abbas –radhiyallahu anhuma– berkata,

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ

“Dahulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- men-ta’widz (memohonkan perlindungan kepada Allah) bagi Hasan dan Husain…”. [HR. Al-Bukhoriy (3371), At-Tirmidziy (2060) dan Ahmad (2434)]

Ketika Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– disihir oleh Labid Ibnul A’shom, seorang Yahudi, maka beliau di-ruqyah oleh Jibril sebagaimana dalam riwayat Muslim, At-Tirmidziy dan lainnya. [Lihat Shohih Al-Jami’ (no. 70)]

Ruqyah-meruqyah, baik dalam menghilangkan sihir atau atau menyembuhkan penyakit adalah perkara yang masyhur di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.

Hanya saja banyak orang yang salah dalam me-ruqyah sebagaimana halnya juga di zaman kita ini.

Karena itu, Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– biasa menanyai sahabat tentang bacaan ruqyah yang mereka baca seraya bersabda,

اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى، مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ

“Coba paparkan ruqyah kalian kepadaku. Ruqyah (jampi-jampi) tidak mengapa, selama tidak ada kesyirikan di dalamnya”. [HR. Muslim (2200) dan Abu Dawud(3886)]

Jadi, melepas sihir dengan sihir atau istilah lainnya “sihir lawan sihir” adalah perkara yang tidak dibenarkan dalam agama kita, karena ia pasti mengandung kesyirikan.

Sebaliknya, nusyroh (melepas sihir) dengan ruqyah (jampi-jampi) dengan menggunakan bacaan Al-Qur’an, doa dan dzikir yang disyariatkan adalah perkara yang dianjurkan, bukan perkara yang terlarang.

Sebab ia merupakan salah satu bentuk ta’awun seseorang kepada saudaranya dalam melepaskan kesusahannya.

 

Sumber:
https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/09/hukummelepaskan-sihir-dan-menangkalnya-dengan-menggunakan-sihir.html#more

Leave a Reply