Hukum Mencela dan Mengejek Janggut, Hijab atau Cadar, Celana di atas Maka Kaki, dan Apapun dari Ajaran Islam

Hukum Mencela Apapun dari Ajaran Islam

Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. -hafizhahullah-

 

Pada momen yang indah hari ini, kami akan mengangkat beberapa permasalahan yang berkaitan dengan mencela atau mengejek ajaran agama dan syariatnya (seperti, mencela Allah, Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-, mush-haf, siwak, cadar, celana di atas mata kaki, dan apapun dari syariat Islam yang suci ini.

Perkara-perkara seperti ini sengaja kami angkat ke masyarakat, sebab banyak kita temui orang-orang yang mengaku Islam, namun ia melakukan hal-hal tersebut dengan berbagai macam alasan.

Terkadang karena alasan main-main atau sungguh-sungguh, atau alasan-alasan lainnya. Mereka menganggap perkara seperti itu adalah ringan. Padahal hakikatnya berat dan hukumnya dalam agama besar!

Sering kali kita menemui dan menasihati orang-orang semacam ini, namun ia tak bergeming dengan ucapan dan nasihat kita. Walaupun kita telah membacakan kepadanya ayat-ayat atau hadits dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka tetap saja ia keras kepala.

Mungkin mereka tidak menganggap nasihat itu, karena muncul dari seorang yang bukan ulama.

Nah, oleh karena itu, kali ini kami akan menukilkan dan membawakan beberapa fatwa para ulama Ahlus Sunnah yang terhimpun dalam sebuah lembaga yang bernama Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Iftaa’, di Timur Tengah.

 

  • Mencela Allah

Seorang penanya wanita dari Denmark bertanya, “Aku adalah seorang nyonya muslimah yang hidup di Denmark bersama suamiku yang muslim. Aku dikaruniai darinya 3 orang anak. Anggaplah namaku adalah fulanah. Dalam keadaan marah memuncak, aku mencela Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa. Sejak saat itulah suamiku enggan mengajakku berbicara dengan alasan bahwa aku telah murtad, akad nikahku telah dihapus oleh Allah, sembelihanku juga haram baginya, aku tak diwarisi, jenazahku tak akan disholati, tak dimandikan, tak dikafani dan tak akan dikuburkan dan anjing dihasung untuk memakan mayatku serta hartaku menjadi fa’i (ghanimah) bagi kaum muslimin. Namun kini aku amat menyesal dan ini adalah pertama kali selama hidupku. Aku adalah orang yang sedikit memiliki wawasan dan keilmuan, alhamdulillah. Aku tahu bahwa hal ini (mencela Allah) adalah perkara yang amat mengerikan telah timbul dari diriku. Sementara itu ada yang memberikan isyarat kepadaku agar aku menulis surat kepada anda para ulama yang mulia tentang perkara tobatku. Apakah aku masih bisa bertobat? Apakah aku masih bisa kembali kepada suamiku. Kalau bisa, bagaimana caranya? Semoga Allah memperbaiki keadaan kalian”.

Para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah yang saat itu diketuai oleh Syaikh bin Baaz, diwakili Syaikh Abdur Razzaq afifi, dan beranggotakan Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud.

Mereka memberikan jawaban,

ج: لا شك أن سب ذات الله جل جلاله ردة وخروج عن دائرة الإسلام بإجماع علماء المسلمين يستحق صاحبه القتل إذا لم

يتب منه؛ لقوله عليه الصلاة والسلام: «لا يحل دم امرئ مسلم إلا بإحدى ثلاث: الثيب الزاني، والنفس بالنفس، والتارك لدينه المفارق للجماعة» .

وما دمت قد تبت من ذلك، وندمت على فعلك له، وعزمت ألا يخرج منك مثل ذلك الكلام السيئ فتوبتك صحيحة، ولزوجك الاتصال بك، واعتبار حالك معه بعد التوبة مثلها قبل أن يصدر منك ذلك؛ لأن الصحابة رضي الله عنهم أقروا المرتدين على نكاحهم بعد أن عادوا للإسلام ولم يفرقوا بينهم وبين زوجاتهم، ولم يجددوا لأحد منهم نكاحا، ولنا فيهم أسوة حسنة.

وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.

“Tak ragu lagi bahwa mencela Allah –Jalla Jalaaluh- adalah kemurtadan dan keluarnya seseorang dari lingkup agama berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama kaum muslimin. Pelakunya berhak dibunuh, bila ia tak mau bertobat darinya, berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,

لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِإِحْدَى  ثَلاَثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِيْ, وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ, وَ التَّارِكُ لِدِيْنِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

“Tidaklah halal darah seorang muslim, kecuali karena salah diantara tiga perkara: “Tsayyib (orang yang sudah berkeluarga) yang berzina, jiwa dengan jiwa (hukum qishosh), dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin)”. [HR. Al-Bukhoriy dalamShohih-nya (6484), dan Muslim dalam Shohih-nya (1676)]

Selama anda betul-betul mau bertobat dari perkara itu, telah menyesali perbuatanmu tersebut dan ber-azam (berkeinginan kuat) agar tak lagi keluar darimu ucapan buruk seperti itu, maka tobatmu sah, suami boleh berhubungan denganmu dan menganggap posisi dirimu bersama setelah tobat seperti halnya sebelum hal itu (yakni, mencela Allah) muncul darimu. Karena para sahabat -radhiyallahu anhum- telah membiarkan orang-orang murtad di atas pernikahan mereka setelah mereka kembali lagi ke Islam. Mereka (para sahabat) tidaklah memisahkan antara orang-orang yang pernah murtad dengan istrinya dan mereka tidak memperbaharui nikah seorang diantara mereka. Sedangkan kita tentunya punya keteladanan yang baik pada diri mereka (yakni, para sahabat)”. [LihatFataawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (2/6-7), dengan tartibSyaikh Ahmad bin Abdir Razzaq Ad-Dausariy, cet. Dar Balansiyah, 1421 H]

  • Mencela Agama

Penanya lain pernah melayangkan surat berisi pertanyaan kepada para ulama tersebut dengan bunyi pertanyaan,

س2: أسكن في منزل فيه يسكن إنسان يطلق لحيته حينا ويحلقها حينا، ويكذب ويعصي والديه، ويسب هذا الدين، وخالص الأمر: أنه يظهر فيه جملة من علامات النفاق – أعاذنا الله – وقد حدث أنه سب لي الدين في عشر دقائق: سبع أو ثماني مرات. فهل يلقى على مثل ذلك السلام وأنا أبغضه، وإذا ألقى علي السلام فهل أرده؟ أفيدونا.

“Aku tinggal di sebuah rumah yang di dalamnya ada seseorang yang terkadang memanjangkan jenggot dan terkadang juga ia cukur. Orang itu suka bohong, mendurhakai kedua orang tuanya, dan mencela agama. Ringkas kata, tampak darinya sejumlah tanda kemunafikan –semoga Allah melindungi kita-. Pernah terjadi, ia mencela agamaku selama 10 menit sebanyak 7 sampai 8 kali. Apakah orang seperti ini boleh diberi salam, sedang aku sendiri membencinya. Jika ia beri salam kepadaku, apakah aku jawab? Tolong berikan faedah (jawaban) kepada kami”.

Para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah yang diketuai oleh Syaikh bin Baaz, diwakili Syaikh Abdur Razzaq afifi, dan beranggotakan Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud.

Mereka memberikan jawaban,

ج2: سب الدين – والعياذ بالله – كفر بواح بالنص والإجماع؛ لقوله سبحانه: {أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ}، {لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ} الآية، وما ورد في معناها، ويجب أن ينصح وينكر عليه ذلك، فإن استجاب فالحمد لله، وإلا فلا يجوز أن يبدأ من يسب الدين بالسلام، ولا يرد عليه إن بدأ، ولا تجاب دعوته، ويجب هجره هجرا كاملا حتى يتوب أو ينفذ فيه حكم الله بالقتل من جهة ولي الأمر؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم: «من بدل دينه فاقتلوه» خرجه البخاري في صحيحه_

من حديث ابن عباس رضي الله عنهما، ولا شك أن المنتسب للإسلام إذا سب الدين فقد بدل دينه.

وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.

“Mencela agama –na’udzu billah- adalah kekafiran yang nyata berdasarkan nash dan ijma’. Karena adanya firman Allah,

{أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ}، {لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ} الآية

“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, Karena kamu kafir sesudah beriman”. (QS. At-Taubah : 65-66)

Masih ada lagi ayat semakna dengan ini. Wajib orang itu dinasihati dan diingkari. Jika ia menerima, maka alhamdulillah. Jika tidak mau, maka tak boleh dimulai salam bagi orang yang mencela agama dan tak boleh dijawab salamnya, bila ia memulai salam. Orang seperti ini tak boleh dipenuhi undangannya dan wajib diboikot secara sempurna sampai ia mau bertobat atau diterapkan padanya hukum Allah berupa pembunuhan oleh pihak pemerintah berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,

مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ

“Barangsiapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah ia”.[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3017 & 6922) dari hadits Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma-]

Tak ragu lagi bahwa orang yang mengaku muslim bila mencela agama, maka sungguh ia telah mengganti agamanya”.[Lihat Fataawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (2/12-13), dengantartib Syaikh Ahmad bin Abdir Razzaq Ad-Dausariy, cet. Dar Balansiyah, 1421 H]

  • Merobek-robek Al-Qur’an

Telah sampai berita kepada kami bahwa sebagian mahasiswa muslim Indonesia memiliki kebiasaan buruk merobek mush-haf (lembaran) Al-Qur’an saat mereka mengadakan acara latihan debat atau basic training dan semisalnya.

Bahkan konon kabarnya, mereka juga melemparkannya dan menginjak-injak mush-haf Al-Qur’an. Ini adalah kekafiran yang nyata!!

Perkara ini pernah ditanyakan kepada para ulama kita yang terhimpun dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah oleh seorang penanya dengan isi pertanyaan,

س5: ما حكم الدين في رجل أمسك بالمصحف الشريف ثم أخذ يمزق صفحاته الواحدة تلو الأخرى وهو يعرف أنه مصحف، وقد قال له شخص آخر يقف بجانبه: إنه مصحف، وفي رجل أطفأ السيجارة في المصحف؟

“Apa hukum agama terhadap orang yang memegang mush-haf Al-Qur’an yang mulia, lalu ia mulai merobek-robeknya lembar demi lembar, sedang ia tahu bahwa itu adalah mush-haf. Orang lain yang ada di sampingnya berdiri berkata, “Heh itu adalah mush-haf” Ada juga orang yang memadamkan api rokok pada mush-haf”.

Para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah yang diketuai oleh Syaikh bin Baaz, wakilnya Syaikh Abdur Razzaq afifi, dan beranggotakan Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud.

Mereka memberikan jawaban tegas,

ج5: كلاهما بفعله ذلك كافر؛ لاستهتاره بكتاب الله تعالى، وإهانته له، وهما بحكم المستهزئين على حكمه؛ لقوله تعالى: {قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ} {لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ}

وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.

“Kedua orang itu dengan perbuatannya tersebut adalah kafir, karena ia telah merusak kehormatan Kitabullah -Ta’ala- dan merendahkannya. Kedua orang itu sama hukumnya dengan orang-orang yang mengolok-olok (Al-Qur’an) berdasarkan firman Allah -Ta’ala-,

{قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ}  {لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ}“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, Karena kamu kafir sesudah beriman”. (QS. At-Taubah : 65-66)

Wabillahit taufiq wa shollallahu ala Nabiyyina Muhammadin wa alihi wa shohbihi wa sallam”. [Lihat Fataawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (2/20-21), dengan tartib Syaikh Ahmad bin Abdir Razzaq Ad-Dausariy, cet. Dar Balansiyah, 1421 H]

  • Mengolok-olok Jilbab dan Jenggot

Di kota Makassar pernah tersebar isu dan olok-olokan kepada wanita muslimah yang berhijab dan bercadar bahwa mereka mirip Vampire atau Ninja, karena pakaian para wanita bercadar itu mayoritas hitam atau biru polos.

Akhirnya, hal itu  memberi kesan buruk kepada wanita bercadar, bahkan kepada Islam.

Perkara seperti ini pernah ditanyakan kepada para ulama Al-Lajnah Ad-Da’imah di Timur Tengah.

Mereka waktu itu diketuai oleh Syaikh bin Baaz, wakilnya Syaikh Abdur Razzaq afifi, dan beranggotakan Syaikh Abdullah bin Ghudayyan dan Syaikh Abdullah bin Qu’ud.

Mereka memberikan jawaban tegas,

ج2: من يستهزئ بالمسلمة أو المسلم من أجل تمسكه بالشريعة الإسلامية فهو كافر، سواء كان ذلك في احتجاب المسلمة احتجابا شرعيا أم في غيره؛ لما رواه عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال: «قال رجل في غزوة تبوك في مجلس: ما رأيت مثل قرائنا هؤلاء أرغب بطونا، ولا أكذب ألسنا، ولا أجبن عند اللقاء، فقال رجل: كذبت ولكنك منافق، لأخبرن رسول الله صلى الله عليه وسلم، فبلغ ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم ونزل القرآن، فقال عبد الله بن عمر: وأنا رأيته متعلقا بحقب ناقة رسول الله صلى الله عليه وسلم تنكبه الحجارة وهو يقول: يا رسول الله، إنما كنا نخوض ونلعب، ورسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: {أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ} {لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ}» فجعل استهزاءه بالمؤمنين استهزاء بالله وآياته ورسوله.

وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.

“Siapa saja yang mengolok-olok wanita muslimah atau lelaki muslim karena berpegangteguhnya ia kepada syariat Islam, maka ia (si pengolok) adalah kafir!! Sama saja olokan itu dalam hal berhijabnya (berjilbabnya) seorang wanita muslimah dengan hijab syar’iy atau pada perkara lain…(kemudian mereka membawakan ayat di atas beserta sebab turunnya)”. [Lihat Fataawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (2/25), dengan tartib Syaikh Ahmad bin Abdir Razzaq Ad-Dausariy, cet. Dar Balansiyah]

Mereka juga memberikan jawaban,

سب الدين والاستهزاء بشيء من القرآن والسنة والاستهزاء بالمتمسك بهما نظرا لما تمسك به كإعفاء اللحية وتحجب المسلمة هذا كفر إذا صدر من مكلف

“Mencela agama dan mengolok-olok sesuatu dari Al-Qur’an dan sunnah atau mengolok-olok orang yang berpegang teguh dengan keduanya, karena melihat kepada sesuatu (berupa syariat) yang ia pegang teguh, seperti memanjangkan jenggotdan berhijabnya (berjilbabnya) seorang muslimah. Semua ini adalah kekafiran bila muncul dari seorang mukallaf”.[LihatFataawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (2/24), dengan tartib Syaikh Ahmad bin Abdir Razzaq Ad-Dausariy, cet. Dar Balansiyah, 1421 H]

 

Sumber:
https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/07/hukummencela-dan-mengejek-janggut-hijab-atau-cadar-celana-di-atas-mata-kaki-dan-apapun-dari-ajaran-islam.html#more

Leave a Reply