Mutiara Salaf 18: Ciri Ketaqwaan pada Diri Seorang Hamba

Mutiara Salaf 18 Ciri Ketaqwaan pada Diri Seorang Hamba

Orang yang bertakwa bukan dinilai pada pengakuan dirinya atau pujian manusia, melainkan dinilai dengan perangai dan sifatnya. Di antara sifat orang yang bertakwa adalah mampu mengontrol hawa nafsunya sehingga ia tidaklah rakus dengan dunia, tidak pula terbawa oleh perasaannya sehingga ia mampu menahan marahnya.

Inilah sifat mulia yang ada pada kaum yang bertakwa, para pewaris surga yang akan merasakan kenikmatan-kenikmatan surga. Tiada yang mampu mewarisi sifat-sifat ketakwaan, kecuali mereka yang diberi taufik untuk selalu bertaqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan membenci perkara-perkara yang Rabbnya, Allah Tabaraka wa Ta’ala, benci.

Seorang ulama kibar tabi’in, Imam Bakr bin Abdillah Al-Muzany Abu Abdillah Al-Bashriy (wafat pada 106 H) rahimahullah berkata,

لاَ يَكُوْنُ الرَّجُلُ تَقِيًّا حَتَّى يَكُوْنَ بَطِيْئَ الطَّمْعِ بَطِيْئَ الْغَضَبِ

“Seseorang tak akan menjadi orang yang bertakwa sampai ia lambat kerakusannya dan lambat marahnya.” [HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 2/225]

Oang yang bertakwa selalu mengontrol dirinya dari sifat marah yang tercela karena ia mengerti bahwa sifat marah seringkali menyeret seseorang untuk jauh dari kebaikan dan terjatuh ke dalam dosa. Hamba yang muttaqin senantiasa menghiasi diri dengan sifat qana’ah (merasa cukup dengan kebaikan dan nikmat yang ia dapatkan dari Allah) sehingga, dengan sifat itu, ia tidak rakus mengejar dunia yang akan melalaikannya dari mengingat Allah, serta ia menunaikan hak dan kewajiban yang ada di pundaknya. Jika mendapatkan nikmat dan anugerah dari Allah, ia gunakan nikmat itu dalam ketaatan, bukan harta dan nikmat itu ditumpuk dan dibangga-banggakan.

Al-Ustadz Abdul Qodir, Lc.

 

Leave a Reply