Tentang Shalat Sunnah Usai Shalat Tarawih

Tentang Shalat Sunnah Usai Shalat Tarawih

Tanya:
Bagaimana hukum di suatu masjid yg sdh ditegakkan sholat terawih bakda isya kemudian sebagian orang menegakkan lagi sholat terawih di akhir malam dalam masjid yg sama?

 

Jawab:
Shalat tarawih disyariatkan di awal malam pada Ramadhan. Bila tarawih usai, seseorang boleh mengerjakan shalat sunnah lagi setelah itu, dengan syarat ia tak mengerjakan shalat witir lagi. Cukup dengan shalat witir yang ia kerjakan pada shalat tarwih.

Dari Qais bin Thalq berkata,

زَارَنَا طَلْقُ بْنُ عَلِىٍّ فِى يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأَمْسَى عِنْدَنَا وَأَفْطَرَ ثُمَّ قَامَ بِنَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ وَأَوْتَرَ بِنَا ثُمَّ انْحَدَرَ إِلَى مَسْجِدِهِ فَصَلَّى بِأَصْحَابِهِ حَتَّى إِذَا بَقِىَ الْوِتْرُ قَدَّمَ رَجُلاً فَقَالَ أَوْتِرْ بِأَصْحَابِكَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « لاَ وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ ».

“Thalq bin Ali pernah mengunjungi kami pada suatu hari dari Ramadhan. Beliau terus berada di sisi kami sampai sore dan berbuka puasa. Kemudian beliau memimpin kami (mengerjakan) shalat (tarawih) dan berwitir. Kemudian beliau meluncur menuju masjidnya lalu memimpin shalat (tarawih) bersama para sahabatnya sampai, apabila witir tersisa, beliau mendorong seorang laki-laki ke depan seraya berkata, “Pimpinlah shalat witir para sahabat kalian karena saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Tak ada dua witir dalam semalam.”
[HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 1439, At-Tirmidziy dalam Sunan-nya no. 470, dan An-Nasa’iy dalam Sunan-nya no. 1679. Hadits ini di-shahihkan oleh Syaikh Al-Albaniy]

Dari hadits ini, ditarik kesimpulan:
a. Bolehnya seseorang bertarawih bersama suatu jamaah di tempat lain lalu menutup tarawihnya dengan witir, kemudian ia mengerjakan shalat tarwih atau shalat malam lagi untuk kedua kalinya. Akan tetapi untuk kedua kali tersebut, ia tidak berwitir lagi.
b. Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam. Bila selaku makmum, ia sebaiknya mengerjakan shalat witir bersama imam agar mendapatkan pahala shalat sunnah semalam suntuk. Jika ia seorang imam, ada dua pilihan baginya: ia boleh tak berwitir pada tarawih pertama, tetapi ia berwitir pada tarawih kedua. Boleh juga sebaliknya: ia berwitir pada tarawih pertama, tetapi pada tarawih kedua ia tidak lagi berwitir.

Dari penjelasan di atas, jelaslah apa-apa yang ditanyakan oleh penanya. Jadi, seseorang boleh mengerjakan shalat tarawih dan witir, lalu melaksanakan shalat lail lagi kedua kalinya pada malam itu juga, tetapi ia tidak lagi berwitir. Sebab, Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga biasa menutup shalat malamnya dengan witir, tetapi setelah itu beliau melaksanakan shalat malam lagi.
Ini adalah pendapat yang dirajihkan oleh Sufyan Ats-Tsauriy, Malik bin Anas, Ibnul Mubarak, Asy-Syafi’iy, orang-orang Kufah, Ahmad, At-Tirmidziy dan selain mereka rahimahullahu Ta’ala.
[Lihatlah Sunan At-Tirmidziy 2/333]

Ustadz Abdul Qodir, Lc.

Leave a Reply