<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Markaz Dakwah untuk Bimbingan dan Taklim &#187; bahaya</title>
	<atom:link href="https://markazdakwah.or.id/tag/bahaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://markazdakwah.or.id</link>
	<description>www.markazdakwah.or.id</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Apr 2019 07:54:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Peringatan Keras tentang Bahaya Dunia Perdukunan</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/peringatan-keras-tentang-bahaya-dunia-perdukunan/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/peringatan-keras-tentang-bahaya-dunia-perdukunan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Nov 2017 02:13:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya]]></category>
		<category><![CDATA[dukun]]></category>
		<category><![CDATA[jin]]></category>
		<category><![CDATA[kesyirikan]]></category>
		<category><![CDATA[perdukunan]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan]]></category>
		<category><![CDATA[syaithan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3979</guid>
		<description><![CDATA[Al-Kahanah ‘Perdukunan’ telah dikenal oleh umat manusia sejak dahulu kala.
Di zaman para nabi dan rasul, mereka telah ada bahkan mereka menjadi musuh dakwah tauhid yang dilancarkan oleh para nabi dan rasul.
Sebab, mereka (para dukun alias paranormal), biasanya adalah orang-orang yang bekerjasama dengan para setan dari kalangan jin.
Sedang para nabi dan rasul memberantas kesyirikan, termasuk diantaranya perdukunan yang menggunakan jin dan mengaku tahu perkara gaib. Di dalamnya, mereka melakukan ke-syirik-an (menduakan Allah dengan makhluk-Nya) dalam ibadah dan ketaatan.
Dunia perdukunan terus berkembang pesat, seiring dengan jauhnya manusia dari agama Islam yang menyerukan tauhid dan membasmi syirik.
Perkembangan dunia perdukunan di zaman ini jauh lebih menghebohkan, karena para dukun pandai mengelabui manusia dengan menggunakan nama-nama keren lagi memikat, seperti mereka biasa menyebut diri dengan "orang pintar", "paranormal", "tabib yang menyembuhkan semua penyakit".
Lebih ganas lagi, mereka sekarang mulai menggunakan gelar "kiai", lalu membalut kepala mereka dengan serban sambil menggunakan pakaian koko atau gamis panjang. Semua ini tentu akan menipu kaum awam yang memiliki pemahaman agama yang dangkal.
Dahulu, orang-orang menganggap dukun dan perdukunan adalah sebuah perkara yang tabu.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh: </strong><strong>Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. </strong><strong>–<em>hafizhahullah</em>&#8211;</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Al-Kahanah</em></strong> ‘Perdukunan’ telah dikenal oleh umat manusia sejak dahulu kala.</p>
<p>Di zaman para nabi dan rasul, mereka telah ada bahkan mereka menjadi <strong>musuh dakwah tauhid </strong>yang dilancarkan oleh para nabi dan rasul.</p>
<p>Sebab, mereka (para dukun alias paranormal), biasanya adalah orang-orang yang bekerjasama dengan para setan dari kalangan jin.</p>
<p>Sedang para nabi dan rasul memberantas kesyirikan, termasuk diantaranya perdukunan yang menggunakan jin dan mengaku tahu perkara gaib. Di dalamnya, mereka melakukan ke-<em>syirik</em>-an (menduakan Allah dengan makhluk-Nya) dalam ibadah dan ketaatan.</p>
<p>Dunia perdukunan terus berkembang pesat, seiring dengan jauhnya manusia dari agama Islam yang menyerukan tauhid dan membasmi syirik.</p>
<p>Perkembangan dunia perdukunan di zaman ini jauh lebih menghebohkan, karena para dukun pandai mengelabui manusia dengan menggunakan nama-nama keren lagi memikat, seperti mereka biasa menyebut diri dengan<strong>&#8220;orang pintar&#8221;</strong>, <strong>&#8220;paranormal&#8221;</strong>, <strong>&#8220;tabib yang menyembuhkan semua penyakit&#8221;</strong>.</p>
<p>Lebih ganas lagi, mereka sekarang mulai menggunakan gelar <strong>&#8220;kiai&#8221;</strong>, lalu membalut kepala mereka dengan serban sambil menggunakan pakaian koko atau gamis panjang. Semua ini tentu akan menipu kaum awam yang memiliki pemahaman agama yang dangkal.</p>
<p>Dahulu, orang-orang menganggap dukun dan perdukunan adalah sebuah perkara yang tabu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kini, mereka menjadi selebriti dan pekerjaan mereka menjadi <strong>&#8220;alternatif akhir&#8221;</strong> bagi kaum awam dalam dunia pengobatan.</p>
<p>Kesan positif juga semakin tersemat pada mereka, karena merebaknya praktik <em>ruqyah </em>yang dilakoni oleh para dukun dan selain dukun, sehingga masyarakat tidak bisa membedakan antara dukun dan selainnya.</p>
<p>Walaupun ruqyah adalah perkara yang disyariatkan dalam agama. Tapi, kini banyak dukun yang berkedok<em>ruqyah</em>.</p>
<p>Usut punya usut, ternyata si dukun ini melakukan praktik perdukunan yang melanggar agama dalam <em>ruqyah</em>-nya, misalnya menggunakan jampi yang tidak dimengerti maknanya, membalik ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, menulis ayat atau dzikir dengan menggunakan najis dan sebagainya.</p>
<p>Para pembaca yang budiman, mungkin ada diantara kita yang bertanya, <em>&#8220;Apa dan siapa sih dukun itu?&#8221;.</em></p>
<p>Menjawab hal ini, Al-Imam Ibnul Atsir Al-Jazariy &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong>&#8220;الكاهِنُ: الَّذِي يَتَعاطَى الخَبَر عَنِ الكائِنات فِي مُسْتَقْبَل الزَّمَانِ، ويَدَّعي مَعْرِفَةَ الأسْرار. وَقَدْ كَانَ فِي الْعَرَبِ كَهَنة، كَشِقّ، وسَطِيح، وغيرِهما، فَمِنْهُمْ مَنْ كَانَ يَزْعمُ أَنَّ لَهُ تابِعاً مِنَ الجِنّ وَرَئِيًّا يُلْقِي إِلَيْهِ الْأَخْبَارَ،</strong></p>
<p><strong>وَمِنْهُمْ من__كَانَ يَزْعمُ أَنَّهُ يَعْرِف الْأُمُورَ بمُقَدِّمات أسْباب يَسْتَدلُّ بِهَا عَلَى مَواقِعها مِنْ كَلَامِ مَن يَسأله أَوْ فِعْلِه أَوْ حَالِهِ، وَهَذَا يَخُصُّونه بِاسْمِ العَرَاف، كَالَّذِي يَدَّعِي مَعْرِفَةَ الشَّيْءِ المَسْروق، وَمَكَانِ الضَّالَّة وَنَحْوِهِمَا.&#8221; اهـ من النهاية في غريب الحديث والأثر (4/ 214-215)</strong></p>
<p><em>&#8220;Dukun adalah orang yang melakukan pemberitaan tentang perkara-perkara yang akan terjadi di masa akan datang dan mengaku tahu perkara yang rahasia (gaib). Sungguh dahulu di kalangan bangsa Arab, para dukun telah ada, semisal Syiqq, Sathih dan selainnya. Diantara mereka ada yang mengaku punya pengikut dan khadam (pelayan) dari kalangan jin yang akan menyampaikan berita kepadanya. Diantara para dukun ada yang mengaku bahwa ia akan mengetahui perkara-perkara dengan sebab-sebab terdahulu yang ia jadikan sebagai petunjuk tentang tempat-tempatnya dari ucapan orang yang ia tanyai, atau dari perbuatannya dan kodisinya. Orang yang seperti ini, manusia khususkan baginya dengan sebutan &#8220;arrof&#8221; (peramal), seperti orang yang mengaku tahu tentang barang yang dicuri, barang hilang dan sejenisnya&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>An-Nihayah fi Ghorib Al-Hadits</em></strong>(4/214-215)]</p>
<p>Dukun dalam perjalanannya –sebagaimana yang kami telah utarakan- mengalami perkembangan.</p>
<p>Kini, banyak diantara mereka juga merambah ke dunia medis dengan berkedok istilah <strong>&#8220;pengobatan alternatif&#8221;</strong>.</p>
<p>Karenanya, jangan sampai kita cepat terpengaruh dengan istilah itu, lalu lari ke dukun.</p>
<p>Tapi perhatikanlah hakikat praktik dan perbuatan mereka. Banyak diantara mereka menggunakan mantra-mantra kesyirikan atau jampi-jampi yang tak bisa dimengerti, serta bekerjasama dengan jin. Sebab mereka adalah kaum yang memiliki jiwa yang busuk dan buruk.</p>
<p>Penampilan lain dari dunia perdukunan, sesuatu yang kita kenal pada hari ini dengan <strong><em>&#8220;astrologi&#8221;</em></strong> (ilmu ramalan bintang) alias “zodiak”.</p>
<p>Ilmu perdukunan yang satu ini, juga banyak menyesatkan manusia, sebab ia mulai menggunakan sarana dan teknologi canggih dan merambah ke dunia maya (internet) dan dunia komunikasi, seperti telepon, HP, surat kabar, majalah dan sebagainya.</p>
<p>Ketahuilah bahwa ilmu ramalan bintang itu adalah ilmu sesat!! Ilmu yang diingkari dalam syariat, sebab tidak makhluk yang meramalkan sesuatu yang akan terjadi di hari esok berupa kejadian dan peristiwa, atau penyakit dan musibah.</p>
<p><strong>Al-Imam Abu Sulaiman Al-Khoththobiy </strong>&#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong>&#8220;الكهان فيما علم بشهادة الامتحان: قوم لهم أذهان حادة ونفوس شريرة، وطبائع نارية، فهم يفزعون إلى الجن في أمورهم، ويستفتونهم في الحوادث، فيلقون إليهم الكلمات.&#8221; اهـ من تيسير العزيز الحميد في شرح كتاب التوحيد الذى هو حق الله على العبيد (ص: 347)</strong></p>
<p><em>&#8220;Dukun –menurut sesuatu yang telah dimaklumi berdasarkan hasil eksperimen- adalah kaum yang memiliki perasaan yang tajam, jiwa yang buruk dan tabiat yang panas. <strong>Mereka selalu kembali kepada jin</strong> dalam berbagai urusan mereka, dan meminta saran kepada mereka tentang beberapa peristiwa, lalu para jin pun menyampaikan ucapan-ucapan (wangsit) kepada mereka&#8221;. </em>[Lihat <strong><em>Taisir Al-Aziz</em></strong> (hal. 347)]</p>
<p>Ketahuilah bahwa para jin tak akan mau menjadi pelayan manusia dalam segala hajatnya, <strong>melainkan jin akan meminta tumbal dan ganjarannya.</strong></p>
<p>Lantaran itu, para dukun pun akhirnya siap diperbudak oleh para jin, tanpa sadar, sehingga apapun yang diminta oleh para jin, walaupun itu adalah perkara yang melanggar syariat, maka para dukun siap memenuhinya, demi mendapatkan sesuatu yang ia  inginkan dari para setan jin itu, berupa sihir dan berita-berita gaib yang sudah bercampur dengan kebatilan dan kedustaan.</p>
<p>Akhirnya, para dukun pun ikut dusta, sebagaimana para jin yang mereka kultuskan berdusta dalam mengabarkan perkara-perkara gaib yang terkait kejadian masa lalu dan masa mendatang.</p>
<p>Para jin yang buruk lagi pendusta, tidak akan turun, melainkan kepada manusia yang buruk lagi pendusta (seperti : dukun, paranormal dan peramal), sebagaimana halnya malaikat yang baik lagi jujur tidak akan turun, melainkan kepada para nabi dan rasul yang baik lagi jujur dalam ucapan dan perbuatannya.</p>
<p>Allah<em> -Azza wa Jalla- </em>berfirman,</p>
<p><strong>{هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ (221) تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (222) يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ (223)} [الشعراء: 221 &#8211; 223]</strong></p>
<p><em>&#8220;Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan- syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa. Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaitan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta&#8221;.</em> <strong>(QS. Asy-Syu&#8217;araa&#8217; : 221-223)</strong></p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Katsir &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong>&#8220;وَإِنَّمَا يَنْزِلُونَ عَلَى مَنْ يُشَاكِلُهُمْ وَيُشَابِهُهُمْ مِنَ الْكُهَّانِ الْكَذَبَةِ.&#8221; اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (6/ 172)</strong></p>
<p><em>&#8220;Para setan hanyalah turun kepada orang-orang yang semisal dan serupa dengannya dari kalangan para dukun yang pendusta&#8221;. </em>[Lihat <strong><em>Tafsir Al-Qur&#8217;an Al-Azhim</em></strong>(6/172), cet. Dar Thoibah]</p>
<p>Oleh karena itu, kita amat heran dengan sebagian orang yang berseliweran ke  tempat-tempat praktik para dukun. Setiap ada masalah, pasti ke dukun. Setiap mau kenaikan pangkat, pergi ke dukun. Setiap sakit, pergi ke dukun.</p>
<p>Bahkan ada sebagian orang, bila mau mencalonkan diri sebagai pejabat, maka ia pasti datang ke dukun demi meminta berkah, restu dan doa. <em>Subhanallah</em>, alangkah jahilnya mereka tentang Islam! Apakah para dukun itu adalah tuhan yang mengatur segala urusan. Apakah para dukun adalah tuhan yang mampu melakukan segala sesuatu.</p>
<p>Andaikan para dukun itu mampu melakukan segala sesuatu dan mampu mengatur alam semesta ini, maka pasti mereka akan mengatur nasib mereka sendiri, agar selanjutnya tidak lagi mengharapkan dan merogoh harta benda dan uang-uang kalian.</p>
<p>Nabi <em>-Shallallahu alaihi wa sallam-</em> pernah bersabda dalam mengancam orang yang mendatangi para dukun dan peramal,</p>
<p><strong>« مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»</strong></p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang mendatangi peramal, lalu ia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka sholatnya tak akan diterima selama 40 hari&#8221;.</em> [HR. Muslim dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (no. 2230)]</p>
<p>Al-Imam Abu Zakariya An-Nawawiy &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong>&#8220;أَمَّا الْعَرَّافُ فَقَدْ سَبَقَ بَيَانُهُ وَأَنَّهُ مِنْ جُمْلَةِ أَنْوَاعِ الْكُهَّانِ.&#8221; اهـ من شرح النووي على مسلم (14/ 227)</strong></p>
<p><em>&#8220;Adapun <strong>arrof</strong> (peramal), sungguh telah lewat penjelasannya, dan bahwa ia adalah termasuk golongan para dukun&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Al- Minhaj Syarh Shohih Muslim</em></strong>(14/227)]</p>
<p>Bahkan Rasulullah <em>-Shollallahu &#8216;alaihi wasallam-</em>bersabda,</p>
<p><strong>مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ</strong></p>
<p><em>&#8220;Barang siapa yang mendatangi dukun atau arraf (peramal) lalu membenarkan apa yang ia katakan, maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad&#8221;. </em>[HR. Ahmad dalam <strong><em>Musnad</em></strong>-nya (2/429/no.9532), Al-Hakim dalam <strong><em>Al-Mustadrok</em></strong>(1/8/no.15), Al Baihaqiy dalam <strong><em>As-Sunan Al-Kubro</em></strong>(7/198/no.16274), dan di-<em>shahih</em>-kan oleh Syaikh Al Albaniy dalam <strong><em>Shohih At-Targhib</em></strong> (3047)]</p>
<p>Maksudnya, ia telah mengingkari ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad &#8211;<em>Shollallahu &#8216;alaihi wasallam</em>&#8211; berikut ini,</p>
<p><strong>{قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ} [النمل: 65]</strong></p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah&#8221;, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan&#8221;.</em><strong>(QS. An-Naml: 65)</strong></p>
<p>Para pembaca yang budiman, dua hadits di atas menerangkan kepada kita bahwa mendatangi dukun adalah perbuatan melanggar agama!</p>
<p>Bagaimana tidak, sedang para dukun itu pada hakikatnya adalah <strong>wali-wali dan perantara setan</strong> yang akan menyesatkan manusia dari jalan yang lurus.</p>
<p>Al-Allamah Syaikh Abdul Aziz bin Baaz &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong>&#8220;فلا يجوز للمريض أن يذهب إلى الكهنة الذين يدَّعون معرفة المغيبات ليعرف منهم مرضه، كما لا يجوز له أن يصدقهم فيما يخبرونه به فإنهم يتكلمون رجماً بالغيب، أو يستحضرون الجن ليستعينوا بهم__على ما يريدون، هؤلاء حكمهم الكفر والضلال إذا ادعوا علم الغيب.&#8221; اهـ من حكم السحر والكهانة وما يتعلق بها (ص: 4_5) للشيخ عبد الزيز بن باز</strong></p>
<p><em>&#8220;Tidak boleh bagi orang yang sakit untuk mendatangi para dukun yang mengaku tahu perkara gaib agar si sakit dapat mengetahui penyakitnya dari mereka, sebagaimana halnya tak boleh baginya membenarkan para dukun dalam sesuatu yang mereka kabarkan. Karena mereka itu berbicara dengan menerka perkara gaib atau mereka menghadirkan para jin demi meminta pertolongan atas perkara yang mereka hendaki. Para dukun ini, urusan mereka adalah kekafiran dan kesesatan. Sebab mereka mengaku tahu perkara-perkara gaib&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Hukm As-Sihr wal Kahanah</em></strong> (hal. 4-5) oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz]</p>
<p>Para dukun dalam menjalankan aksinya, mereka bekerjasama dengan setan dari kalangan jin dalam mengetahui perkara gaib.</p>
<p>Ada juga yang tidak bekerjasama dengan jin, tapi ia dasari semua ramalannya dengan prasangka dan perasaan saja, sehingga terkadang ia benar, dan seringnya salah! Golongan ini adalah pendusta besar yang berusaha menandingi Allah Yang mengetahui perkara gaib.</p>
<p>Mengaku tahu perkara gaib merupakan kekafiran, sebab tidak ada yang mengetahuinya, selain Allah -Azza wa Jalla-, berdasarkan ayat di atas dan lainnya.</p>
<p>Lantaran itu, para ulama mengafirkan para dukun dari sisi ini, walaupun ia tidak bekerjasama dengan jin.</p>
<p>Nah, bagaimana lagi bila ia menjalin hubungan dengan jin dan diperbudak oleh jin serta takut kepada jin. Jelas  ini adalah kekafiran!</p>
<p>Adapun orang yang mendatangi dukun, maka para ulama juga telah merinci perkara ini.</p>
<p>Bila ia datang bertanya, tanpa membenarkannya, maka perbuatannya adalah dosa besar. Tapi bila ia membenarkan ucapan dukun, maka ia kafir.</p>
<p>Syaikh Sulaiman bin Abdillah Alusy Syaikh An-Najdiy &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata saat mengomentari hadits di atas,</p>
<p><strong>&#8220;وظاهر الحديث أنه يكفر متى اعتقد صدقه بأي وجه كان، لاعتقاده أنه يعلم الغيب، وسواء كان ذلك من قِبَل الشياطين، أو من قِبَل الإلهام لا سيما وغالب الكهان في وقت النبوة إنما كانوا يأخذون عن الشياطين.&#8221; اهـ من تيسير العزيز الحميد في شرح كتاب التوحيد الذى هو حق الله على العبيد (ص: </strong><strong>338</strong><strong>)</strong></p>
<p><em>&#8220;Lahiriah hadits ini menerangkan bahwa ia (orang yang datang ke dukun) adalah kafir, bila ia meyakini kebenaran dukun dengan segala bentuknya. Sebab, ia meyakini bahwa si dukun mengetahui perkara gaib. Sama saja apakah hal itu (yakni, pengakuan dukun) dari arah setan atau dari sisi ilham. Terlebih lagi, mayoritas dukun di zaman kenabian, mengambil (keterangan) dari para setan&#8221;. </em>[Lihat <strong><em>Taisir Al-Aziz Al-Hamid</em></strong> (hal. 338), <em>tahqiq</em>Muhammad Aiman As-Salafiy, cet. Dar Alam Al-Kutub, 1419 H]</p>
<p>Perdukunan bukanlah jalan orang-orang sholih, bahkan ia adalah jalan dan metode yang digunakan oleh para wali setan dan penyembahnya.</p>
<p>Karenanya, Rasulullah<em> -Shallallahu alaihi wa sallam-</em>berlepas diri dari orang yang melakukan perdukunan dalam sabdanya,</p>
<p><strong>لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ وَلا تُطُيِّرَ لَهُ، وَلا تَكَهَّنَ وَلا تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ</strong></p>
<p><em>&#8220;Bukanlah termasuk dari golongan kami orang yang ber-tathoyyur (merasa sial dengan suatu hari atau tempat) atau di-tathoyyur-kan, orang yang melakukan perdukunan atau didukunkan dan orang yang menyihir atau disihirkan&#8221;.</em> [HR. Al-Bazzar dalam <strong><em>Al-Bahr Az-Zakhkhor</em></strong> (no. 3578) dan Ath-Thobroniy dalam <strong><em>Al-Mu&#8217;jam Al-Kabir</em></strong> (no. 355). Hadits ini di-<em>hasan</em>-kan oleh Al-Albaniy dalam <strong><em>Takhrij Ishlah Al-Masajid </em></strong>(hal. 116)]</p>
<p>Jadi, hendaknya seorang mukmin waspada dengan praktik perdukunan yang merebak di berbagai tempat dan media.</p>
<p>Sebab, ia adalah perkara yang amat diingkari oleh Nabi &#8211;<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>&#8211; dan para sahabatnya &#8211;<em>radhiyallahu anhum</em>-.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dia adalah jalan yang mendatangkan kerusakan dan kesesatan bagi manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/10/peringatan-keras-tentang-bahaya-dunia-perdukunan.html#more">https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/10/peringatan-keras-tentang-bahaya-dunia-perdukunan.html#more</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/peringatan-keras-tentang-bahaya-dunia-perdukunan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Maksiat Pembinasa</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/tiga-maksiat-pembinasa/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/tiga-maksiat-pembinasa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Oct 2017 07:50:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya]]></category>
		<category><![CDATA[bahaya maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[binasa]]></category>
		<category><![CDATA[hancur]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[tiga maksiat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3846</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Faizah, Lc. –hafizhahullah- &#160; Kehidupan dunia adalah kehidupan yang penuh dengan aral dan rintangan. Barang siapa yang tak berhati-hati mencari jalan yang dapat menyelamatkan dirinya, maka ia akan celaka di dunia, bahkan boleh jadi nanti di akhirat. Karena itu, hendaknya kita menghindari segala perkara yang mendatangkan kebinasaan. Disebutkan dalam sebuah hadits :... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/tiga-maksiat-pembinasa/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Faizah, Lc.<strong> </strong>–hafizhahullah-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kehidupan dunia adalah kehidupan yang penuh dengan aral dan rintangan.</p>
<p>Barang siapa yang tak berhati-hati mencari jalan yang dapat menyelamatkan dirinya, maka ia akan celaka di dunia, bahkan boleh jadi nanti di akhirat.</p>
<p>Karena itu, hendaknya kita menghindari segala perkara yang mendatangkan kebinasaan.</p>
<p>Disebutkan dalam sebuah hadits :</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="561">Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p><strong>ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ ، وَثَلاَثٌ مُنْجِيَاتٌ ، فَقَالَ : ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ : شُحٌّ مُطَاعٌ وهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ</strong></p>
<p><em>&#8220;Ada tiga perkara yang dapat membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. Tiga perkara yang membinasakan adalah kebakhilan yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan dan bangganya seseorang terhadap dirinya&#8221;.</em></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>þ  <strong>Takhrij Hadits</strong></p>
<p>Hadits ini diriwayatkan dari beberapa orang sahabat: Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Awfa dan Abdullah bin Umar <em>-radhiyallahu anhum-.</em></p>
<p>Hadits Anas &#8211;<em>radhiyallahu anhu</em>&#8211; diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam <strong><em>Musnad</em></strong>-nya (no. 80), Al-Uqoiliy dalam<strong><em>Adh-Dhu&#8217;afaa&#8217;</em></strong> (hal. 352), Abu Bakr Ad-Dainuriy dalam<strong><em>Al-Mujalasah wa Jawaahir Al-Ilm</em></strong> (no. 899), Abu Muslim Al-Kaatib dalam <strong><em>Al-Amaali</em></strong> (261/1), Abu Nu&#8217;aim dalam <strong><em>Al-Hilyah</em></strong> (2/343) dan Al-Harowiy dalam<strong><em>Dzammul Kalaam</em></strong> (145/1)  dan Al-Qudho&#8217;iy dalam<strong><em>Musnad Asy-Syihaab</em></strong> (no. 327).</p>
<p>Hadits ini sanadnya <strong><em>dho&#8217;if</em></strong> (lemah). Akan tetapi ia memiliki beberapa <em>mutabi&#8217;</em> dan <em>syawahid</em> sehingga derajatnya menjadi <em>hasan</em>, bahkan boleh jadi <em>shohih</em>. [Lihat <strong><em>Ash-Shohihah</em></strong> (no. 1802) karya Syaikh Al-Albaniy &#8211;<em>rahimahullah</em>-]</p>
<p>þ  <strong>Faedah Ilmiah Hadits Ini</strong></p>
<p>Hadits ini lafazhnya pendek, tapi mengandung banyak manfaat dan faedah serta nasihat.</p>
<p>Begitulah salah satu ciri sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, pendek lafazhnya. Tapi faedahnya banyak sekali.</p>
<p>Lain halnya dengan ucapan kebanyakan diantara kita. Lafazhnya bertele-tele dan panjang, namun sedikit manfaatnya.</p>
<p>Para pembaca yang budiman, diantara faedah yang bisa kita petik dari hadits Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- yang mulia ini:</p>
<p>î  <strong>Bahaya Bakhil</strong></p>
<p>Bakhil adalah penyakit hati yang timbul karena kurangnya tawakkal seseorang kepada Allah.</p>
<p>Sebab orang yang bakhil merasa bahwa apabila ia sedekahkan sebagian hartanya, maka harta itu akan hilang begitu saja, tanpa ada gantinya.</p>
<p>Padahal bila ia mau berpikir bahwa dengan sedekah, Allah akan membersihkan hartanya dan memberkahinya.</p>
<p>Dengan itu, ia akan diberi ganti yang lebih baik, entah di dunia, atau kalau tidak <em>–insya Allah </em>di akhirat- dengan ganti yang jauh lebih baik.</p>
<p>Seorang yang bakhil akan jauh dari kebaikan, imannya tak akan bertambah, bahkan boleh jadi akan menurun.</p>
<p>Sebab dengan kikirnya seseorang, banyak sekali jalan-jalan kebaikan yang mestinya ia lakukan, tapi ia sia-siakan.</p>
<p>Dia tinggalkan kesempatan dalam memperbanyak amal yang bisa meningkatkan iman akibat sifat kikir pada dirinya.</p>
<p>Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p><strong>لَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ فِي جَوْفِ عَبْدٍ أَبَدًا وَلَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا</strong></p>
<p><em>&#8220;Tak akan berkumpul debu fi sabilillah dan asap Jahannam dalam rongga tubuh seorang hamba selama-lamanya, dan tak akan berkumpul sifat bakhil dan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya.&#8221;</em>[HR. An-Nasa&#8217;iy dalam <strong><em>Kitab Al-Jihad</em></strong> (no. 3110 &amp; 3111). Hadits ini di-<em>shohih</em>-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam <strong><em>Takhrij Al-Misykah </em></strong>(3828)]</p>
<p><strong>Al-Imam Abul Hasan Nuruddin As-Sindiy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong>&#8220;أَي : لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤمنِ أَن يجمع بَينهمَا إِذْ الشُّح أبعد شَيْء من الْإِيمَان أَو المُرَاد بِالْإِيمَان كَمَاله كَمَا تقدم أَو المُرَاد أَنه قَلما يجْتَمع الشُّح والايمان وَاعْتبر ذَلِك بِمَنْزِلَة الْعَدَم.&#8221; اهـ حاشية السندي على سنن النسائي (6/ 13)</strong></p>
<p><em>&#8220;Maksudnya, tak pantas bagi seorang mukmin untuk mengumpulkan antara kedua hal itu, sebab sifat kikir adalah sesuatu yang amat jauh dari keimanan; atau maksudnya, jarang berkumpul antara sifat kikir dengan keimanan. Perkara itu dianggap seakan-akan tak ada&#8221;.</em>[Lihat <strong><em>Hasyiyah As-Sindiy ala Sunan An-Nasa&#8217;iy</em></strong>(6/13), cet. Maktab Al-Mathbu&#8217;at Al-Islamiyyah, 1406 H]</p>
<p>Abu Bakr Al-Kalaabaadziy &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong>&#8220;وَالْبُخْلُ يَكُونُ مِنْ سُوءِ الظَّنِّ بِاللَّهِ تَعَالَى؛ لِأَنَّهُ يَخَافُ عَلَيْهِ أَنْ لَا يَخْلُفَ، وَلَمْ يُمْكِنْ تَحْقِيقُ الثَّوَابُ مِنْ قِبَلِهِ، فَالْبُخْلُ بِالْمَالِ مِنْ سُوءِ الظَّنِّ بِاللَّهِ، وَسُوءُ الظَّنِّ يُوهِنُ التَّصْدِيقَ.&#8221; اهـ من بحر الفوائد المسمى بمعاني الأخبار للكلاباذي (ص: 187)</strong></p>
<p><em>&#8220;Sifat kikir muncul dari adanya buruk sangka kepada Allah -Ta&#8217;ala-. Karena si kikir khawatir bila Allah tak memberinya ganti. Tak mungkin akan terwujud pahala dari orang yang seperti. Jadi, sifat kikir muncul dari buruk sangka kepada Allah, sedang buruk sangka kepada Allah akan melemahkan iman&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Bahr Al-Fawa&#8217;id</em></strong>(hal. 187), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1420 H]</p>
<p>Perkataan beliau ini amatlah benar. Sebab tak mungkin seseorang kikir dan menahan hartanya, kecuali karenan lemahnya iman yang lahir adanya buruk sangka kepada Allah. Karenanya, layaklah bila imannya tak bertambah, bahkan berkurang.</p>
<p>Allah -Ta&#8217;ala- berfirman dalam mencela kaum munafiq akibat sifat bakhil mereka,</p>
<p><strong>{أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا } [الأحزاب: 19]</strong></p>
<p><em>&#8220;Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam,<strong>sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu belum beriman</strong>. Karenanya, Allah menghapuskan (pahala) amalnya. dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah&#8221;. </em><strong>(QS. Al-Ahzaab : 19)</strong></p>
<p><strong>Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Abdur Rahman As-Sa&#8217;diy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong>&#8220;{أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ} بأبدانهم عند القتال، وبأموالهم عند النفقة فيه، فلا يجاهدون بأموالهم وأنفسهم.&#8221; اهـ من تيسير الكريم الرحمن (ص: 661)</strong></p>
<p><em>&#8220;Mereka bakhil terhadapmu dalam hal badan mereka ketika perang dan dalam harta mereka ketika berinfaq di jalan Allah. Jadi, mereka itu tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Taisir Al-Karim Ar-Rahman</em></strong>(hal. 660)]</p>
<p>Demikianlah Allah –azza wa jalla- mencela pelaku kebakhilan, akibat keburukan laku bakhil mereka. Ia mengira bahwa dirinya akan mulia dengan menahan harta benda di tangannya, dan menumpuknya demi memperkaya diri dan berbangga-bangga, lalu melupakan tabungan di negeri akhirat, melalui infaq dan sedekah yang ia keluarkan.</p>
<p>î  <strong>Larangan Memperturutkan Hawa Nafsu</strong></p>
<p>Hawa nafsu maknanya keinginan jiwa. Jiwa manusia terkadang menginginkan dan mencintai sesuatu berupa perkara-perkara yang menyenangkan dirinya.</p>
<p>Hanya saja banyak diantara mereka yang tak bisa menempatkan hawa nafsunya sesuai yang diridhoi oleh Allah, sehingga sering kali kita menemukan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu yang tidak mendatangkan ridho Allah, bahkan menyeret dirinya kepada jurang kebinasaan.</p>
<p>Para pembaca yang budiman, hawa nafsu bisa berupa kesenangan dan kecintaan kepada harta, pekerjaan, keturunan, kehormatan dan lainnya.</p>
<p>Dengan hawa nafsu, terkadang seseorang terpuji dan seringnya tercela.</p>
<p>Lantaran itu, seseorang harus mengerti hakikat hawa nafsu yang memiliki kesenangan dan kecintaan.</p>
<p>Menyenangi dan membenci sesuatu haruslah mengikuti kecintaan dan keridhoan Allah -Azza wa Jalla-.</p>
<p>Bila hawa nafsu seseorang mencintai Allah atau mencintai sesuatu sesuatu yang Allah cintai, maka hawa nafsu ini terpuji.</p>
<p>Demikian pula, bila hawa nafsunya membenci setan dan segala yang disenangi oleh setan, maka hawa nafsu ini terpuji.</p>
<p><strong>Intinya</strong>, hawa nafsu kita harus mencintai dan membenci karena Allah semata.</p>
<p>Inilah hawa nafsu yang terpuji, hawa nafsu yang memperhambakan diri kepada Allah, Sang Maha Pencipta.</p>
<p>Sebaliknya, bila hawa nafsu malah lebih mencintai setan dan segala hal yang disenangi oleh setan, maka hawa nafsu seperti ini adalah tercela.</p>
<p>Demikian pula, bila hawa nafsu malah membenci Allah atau membenci perkara yang dicintai oleh Allah, maka hawa nafsu ini juga tercela, dan pemiliknya telah menghambakan diri kepada hawa nafsunya.</p>
<p>Inilah yang dikatakan oleh Allah dalam firman-Nya,</p>
<p><strong>{أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ (23)} [الجاثية: 23]</strong></p>
<p><em>&#8220;Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?&#8221;</em><strong>(QS. Al-Jatsiyah : 23)</strong></p>
<p><strong>Al-Hafizh Abul Fidaa&#8217; Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong>&#8220;أَيْ: إِنَّمَا يَأْتَمِرُ بِهَوَاهُ، فَمَهْمَا رَآهُ حَسَنًا فَعَلَهُ، وَمَهْمَا رَآهُ قَبِيحًا تَرَكَه.&#8221; اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (7/ 268)</strong></p>
<p><em>&#8220;Maksudnya, ia hanya mengikuti keinginannya (hawa nafsunya). Apa pun yang dipandang baik oleh keinginannya, maka ia lakukan dan apapun yang ia pandang buruk, maka ia meninggalkannya&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Tafsir Al-Qur&#8217;an Al-Azhim</em></strong> (7/268) oleh Ibnu Katsir, cet. Dar Thoybah]</p>
<p>Orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai pengatur dirinya, yang mengarahkan dirinya kepada segala yang diinginkan oleh jiwa, tanpa memandang batasan-batasan Allah. Pelakunya telah mempertuhankan hawa nafsunya.</p>
<p>Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy -rahimahullah- berkata,</p>
<p><strong>&#8220;فَمَنْ أَحَبَّ شَيْئًا وَأَطَاعَهُ، وَأَحَبَّ عَلَيْهِ وَأَبْغَضَ عَلَيْهِ، فَهُوَ إِلَهُهُ، فَمَنْ كَانَ لَا يُحِبُّ وَلَا يُبْغِضُ إِلَّا لِلَّهِ، وَلَا يُوَالِي وَلَا يُعَادِي إِلَّا لَهُ، فَاللَّهُ إِلَهُهُ حَقًّا، وَمَنْ أَحَبَّ لِهَوَاهُ، وَأَبْغَضَ لَهُ، وَوَالَى عَلَيْهِ، وَعَادَى عَلَيْهِ، فَإِلَهُهُ هَوَاه.&#8221; اهـ من جامع العلوم والحكم (ص/ 210)</strong></p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa yang mencintai dan menaati sesuatu; ia mencintai dan membenci karena sesuatu tersebut, maka sesuatu itu adalah tuhannya. <strong>Barangsiapa</strong> yang tak mencintai dan membenci, kecuali karena Allah serta ia tak berloyal dan memusuhi, kecuali karena Allah, maka Allah adalah ilah-nya (Tuhannya) yang sebenarnya. Barangsiapa yang mencintai dan membenci sesuatu karena hawa nafsu (keinginan jiwa)nya serta ia berloyal dan memusuhi (sesuatu) karena hawa nafsunya, maka tuhannya adalah hawa nafsunya&#8221;. </em>[Lihat <strong><em>Jami&#8217; Al-Ulum wal Hikam</em></strong> (hal. 210), cet. Dar Al-Ma&#8217;rifah, 1408 H]</p>
<p>Dari sini ada sebuah permata ilmu yang amat berharga bagi kita bahwa seorang hamba tak boleh bergaya hidup bebas, sehingga apa saja yang diinginkan oleh jiwanya, maka ia lakukan, tanpa memperhatikan aturan dan batasan Allah -Azza wa Jalla-.</p>
<p>Seakan-akan ia hidup seperti binatang, tanpa aturan. Hidupnya ingin bebas tanpa kendali dan aturan syariat.</p>
<p>Gaya hidup bebas seperti ini tampak merambah pada sebagian generasi muslim yang jahil tentang agamanya, sehingga apa saja yang disenangi oleh jiwanya, maka ia lakukan, tanpa takut kepada Allah saat ia durhaka kepada-Nya.</p>
<p>Bila ia mau berzina, maka ia lakukan. Jika ia mau minum khomer atau narkoba, maka dengan bebas dan congkak ia pun meminum dan menggunakannya.</p>
<p>Bila ia mau berkata-kata jorok dan berbuat cabul, maka ia pun perbuat.</p>
<p>Segala penampilannya dirinya, mulai rambut sampai ke ujung kaki, semuanya bergaya hidup bebas dan jauh dari bimbingan agama.</p>
<p><strong>Rambut disemir ala barat</strong>, baju ala metal, celana model bajingan alias preman. Rambut dicukur ala <em>mohawk</em> yang terlarang dalam Islam!</p>
<p><strong>Sepatu</strong> juga tak ketinggalan bergaya bebas ugal-ugalan; itulah sepatu bot model serdadu.</p>
<p><strong>Telinga</strong> dan hidung, bahkan lidah, semuanya dilubangi atau ditindih dengan logam dan permata, sehingga ia mirip wanita India atau sapi India.</p>
<p>Tak ketinggalan <strong>tangannya</strong> diberi gelang dengan berbagai macamnya, mulai dari logam sampai benang, tergantung mana yang keren menurut hawa nafsunya.</p>
<p><strong>Jasad penuh tato</strong> dengan berbagai macam corak dan modelnya. Padahal tato adalah perkara sial yang menyebabkan pelakunya dilaknat oleh Allah dan Rasulullah –alaihish sholatu was salam-.</p>
<p>Inilah yang kita lihat pada penampilan dan lahiriah anak-anak kaum muslimin yang larut atau termakan oleh propaganda dan pengaruh serdadu setan dari kalangan pecandu musik aliran <em>underground </em>(seperti, Punk Metal, Trush Metal, Heavy Metal dan Blak Metal).</p>
<p>Kalau kita melihat kepada latar belakang dan keluarga mereka, ternyata mereka adalah muslim.</p>
<p>Tapi kini keislamannya sudah mulai muram. Sholat saja tidak. Kalaupun sholat, ya sholat asal-asalan atau sholat musiman!!! <em>Laa haula walaa quwwata illa billah.</em></p>
<p>Kita memohon perlindungan dari buruknya hawa nafsu yang menjauhkan manusia dari Islam dan kebaikan.</p>
<p>î  <strong>Haramnya <em>Ujub </em>(Membanggakan Diri)</strong></p>
<p>Sifat <em>ujub</em> (bangga diri) adalah sebuah sifat tercela yang dapat membinasakan pelakunya.</p>
<p>Sifat <em>ujub</em> ini seringnya menyerang orang-orang yang memiliki kelebihan dan keutamaan.</p>
<p>Sebab bila seseorang memiliki keutamaan dan kelebihan, maka ia akan selalu bangga dengannya sehingga ia melupakan bahwa semua itu asalnya dari Allah -Azza wa Jalla-.</p>
<p>Kisah Qorun masih segar dalam ingatan kita. Dia ditenggelamkan oleh Allah bersama kaumnya.</p>
<p>Padahal kaumnya telah mengingatkannya bahwa semua nikmat dan harta yang Allah berikan kepadanya adalah hal yang perlu disyukuri dengan menginfaqkannya dan menyedekahkannya di jalan kebaikan sebagai <strong>bekal ke akhirat.</strong></p>
<p>Tapi ia berkata dengan <strong><em>ujub</em></strong> (bangga diri) sebagaimana dalam (QS. Al-Qoshosh : 78 &amp; 81),</p>
<p><strong>{قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ (78) فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ (81)} [القصص: 78 و 81]</strong></p>
<p><em>&#8220;Karun berkata: &#8220;Sesungguhnya Aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku&#8221;. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap siksa Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)&#8221;.</em></p>
<p><strong>Al-Imam Abdur Ra&#8217;uf Al-Haddadiy Al-Munawiy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>-,</p>
<p><strong>&#8220;أَي : ملاحظته اياها بِعَين الْكَمَال مَعَ نِسْيَان نعْمَة الله تعال،</strong></p>
<p><strong>قَالَ الْغَزالِيّ : حَقِيقَة الْعجب استعظام النَّفس وخصالها الَّتِي هِيَ من النعم والركون إِلَيْهَا مَعَ نِسْيَان اضافتها إِلَى الْمُنعم والأمن من زَوَالهَا.&#8221; اهـ من التيسير بشرح الجامع الصغير (1/ 470)</strong></p>
<p><em>&#8220;Bangga diri, maksudnya ia memandang dirinya sempurna. Sementara ia melupakan nikmat-nikmat Allah -Ta&#8217;ala-. Al-Ghozali berkata, &#8220;Hakikat ujub (bangga diri) adalah menganggap hebat diri sendiri dan segala kelebihannya berupa nikmat-nikmat serta amat percaya kepadanya. Sementara ia lupa menyandarkan nikmat-nikmat itu kepada Pemberi nikmat (Allah) dan ia merasa aman (tak takut) dari hilangnya nikmat-nikmat tersebut&#8221;.</em>[Lihat <strong><em>At-Taisiir bi Syarh Al-Jami&#8217; Ash-Shoghier</em></strong>(1/956), cet. Maktabah Al-Imam Asy-Syafi&#8217;iy, 1408 H]</p>
<p>Inilah tiga dosa dan maksiat yang akan membinasakan seorang hamba. Tiga perkara ini menjauhkannya dari kebaikan dan jalan-jalannya.</p>
<p>Semoga Allah –azza wa jalla- melindungi kita dari tiga perkara itu dan memberi taufiq bagi untuk mencari keridhoan-Nya melalui amal-amal sholih yang mengantarkan kita kepada rahmat dan surga Allah,<em>aamiin</em>…</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/10/tiga-maksiat-pembinasa.html#more">https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/10/tiga-maksiat-pembinasa.html#more</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/tiga-maksiat-pembinasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
