<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Markaz Dakwah untuk Bimbingan dan Taklim &#187; Beberapa Hukum Seputar Penyembelihan</title>
	<atom:link href="https://markazdakwah.or.id/tag/beberapa-hukum-seputar-penyembelihan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://markazdakwah.or.id</link>
	<description>www.markazdakwah.or.id</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Apr 2019 07:54:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Beberapa Hukum Seputar Penyembelihan</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/beberapa-hukum-seputar-penyembelihan/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/beberapa-hukum-seputar-penyembelihan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Aug 2017 05:54:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Beberapa Hukum Seputar Penyembelihan]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Seputar Penyembelihan]]></category>
		<category><![CDATA[Penyembelihan]]></category>
		<category><![CDATA[Seputar Penyembelihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3689</guid>
		<description><![CDATA[Berikut beberapa hukum seputar penyembelihan. Pertama, seseorang tidak boleh melafazhkan niat saat menyembelih sebagaimana pelaksanaan seluruh ibadah lain yang niatnya tidak dilafazhkan. Hal ini karena niat itu berasal dari dalam hati menurut kesepakatan para ulama. &#160; Kedua, dalil-dalil umum tentang keutamaan menghadap kiblat juga berlaku terhadap penyembelihan. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk menghadap ke... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/beberapa-hukum-seputar-penyembelihan/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut beberapa hukum seputar penyembelihan.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, seseorang tidak boleh melafazhkan niat saat menyembelih sebagaimana pelaksanaan seluruh ibadah lain yang niatnya tidak dilafazhkan. Hal ini karena niat itu berasal dari dalam hati menurut kesepakatan para ulama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kedua</strong>, dalil-dalil umum tentang keutamaan menghadap kiblat juga berlaku terhadap penyembelihan. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk menghadap ke arah kiblat ketika menyembelih. Telah sah dari Ibnu Umar <em>radhiyallâhu ‘anhumâ</em> bahwa beliau membariskan hadyu beliau secara berdiri kemudian menghadapkan hadyu itu ke arah kiblat, selanjutnya menyembelih hadyu tersebut dengan tangan sendiri, lalu makan dan bersedekah dengan sembelihan itu<a title="" href="http://dzulqarnain.net/beberapa-hukum-seputar-penyembelihan.html#_ftn1">[1]</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, setelah membaca basmalah ketika menyembelih, seseorang juga disunnahkan untuk membaca takbir sebagaimana penjelasan yang telah berlalu dalam sejumlah riwayat shahih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Keempat</strong>, ketika menyembelih, seseorang boleh berdoa dengan lafazh, “Ya Allah, terimalah dari saya dan keluargaku …,” sebagaimana perbuatan Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>. Hal tersebut bukanlah bentuk melafazhkan niat.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa hanya disyariatkan untuk membaca basmalah, takbir, dan doa lafazh di atas saat menyembelih. Adapun membaca shalawat dan taslim setelah bacaan tadi, amalan ini tidaklah mempunyai dasar tuntunan.</p>
<p>Apabila pemilik sembelihan diwakili oleh orang lain, adalah hal yang bagus bila orang yang mewakili tersebut menyebutkan doa, “Ya Allah, ini adalah milik Si Fulan,” atau, “Ya Allah, terimalah dari Si Fulan dan keluarganya ….” Namun, meskipun orang yang mewakili tersebut tidak menyebutkan doa ini, sembelihan <em>udh-hiyyah</em> tetap sah menurut kesepakatan ulama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kelima</strong>, kami perlu mengingatkan bahwa Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>bersabda,</p>
<p dir="RTL"><strong>إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah telah menetapkan </em><em>perlakuan</em><em> baik </em><em>terhadap</em><em> segala sesuatu. Apabila kalian membunuh, perbaikilah cara membunuhnya, dan apabila kalian menyembelih, perbaikilah cara menyembelihnya. Hendaknya salah seorang di antara kalian mempertajam pisaunya dan menenangkan sembelihannya.”</em> <a title="" href="http://dzulqarnain.net/beberapa-hukum-seputar-penyembelihan.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Keenam</strong>, salah satu bentuk berbuat baik dan merahmati sembelihan adalah dengan tidak memperlihatkan pisau sembelihan kepada hewan sembelihan, kecuali pada saat penyembelihan. Adapun mengasah pisau di depan sembelihan, perbuatan itu merupakan hal yang sepatutnya ditinggalkan. Demikian pula, jangan menyembelih hewan jika hewan lain (yang belum disembelih) melihat proses penyembelihan tersebut. Juga disunnahkan untuk menyegerakan tebasan pisau terhadap hewan sembelihan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, disunnahkan untuk membaringkan hewan sembelihan saat penyembelihan. Hal ini tergolong ke dalam perbuatan baik terhadap hewan dan perkara yang disepakati oleh para ulama akan kesunnahannya. Juga telah berlalu hadits Aisyah <em>radhiyallâhu ‘anhâ</em> yang menyebutkan bahwa beliau berkata,</p>
<p dir="RTL"><strong>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَمَرَ بِكَبْشٍ أَقْرَنَ يَطَأُ فِيْ سَوَادٍ وَيَبْرُكُ فِيْ سَوَادٍ وَيَنْظُرُ فِيْ سَوَادٍ فَأُتِىَ بِهِ لِيُضَحِّىَ بِهِ فَقَالَ لَهَا يَا عَائِشَةُ هَلُمِّي الْمُدْيَةَ ». ثُمَّ قَالَ اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ. فَفَعَلَتْ ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ « بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ ». ثُمَّ ضَحَّى بِهِ.</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya Rasulullah memerintah (untuk ber-</em>udh-hiyyah<em>) dengan kambing bertanduk yang menginjak dengan yang hitam, bersimpuh dengan yang hitam, dan melihat dengan yang hitam, maka didatangkanlah (kambing tersebut dan) beliau ber-</em>udh-hiyyah<em> dengan (kambing) itu. Beliau bersabda, ‘Wahai Aisyah, ambilkanlah pisau,’ lalu berkata, ‘Asahlah (pisau itu) dengan menggunakan batu.’.” (Perawi berkata), “Aisyah pun melakukan hal itu. Selanjutnya, Nabi </em><em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em><em>mengambil pisau itu dan mengambil kambing beliau. Lalu, beliau membaringkan (kambing)nya kemudian bermaksud menyembelih (kambing) tersebut, lalu berdoa, ‘Bismillah. Ya Allah, terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad, serta dari umat Muhammad.’ Selanjutnya beliau ber-</em>udh-hiyyah<em> dengan (menyembelih kambing)nya.”</em> <a title="" href="http://dzulqarnain.net/beberapa-hukum-seputar-penyembelihan.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Hukum di atas berlaku untuk sapi dan kambing. Adapun unta, jenis ini disunnahkan untuk disembelih dalam keadaan berdiri berdasarkan firman Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>,</p>
<p dir="RTL">ﭿ ﮥ  ﮦ  ﮧ  ﮨ  ﮩ   ﮪ  ﮫ  ﮬ  ﮭﮮ  ﮯ  ﮰ  ﮱ  ﯓ  ﯔﯕ ﭾ</p>
<p><em>“Dan telah Kami jadikan unta-unta itu untuk kalian sebagai bagian dari syiar Allah, yang kalian memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah oleh kalian nama Allah ketika kalian menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat).”</em>[<strong>Al-Hajj: 36</strong>]</p>
<p>Selain itu, telah datang sejumlah hadits dari Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> yang menjelaskan tentang posisi berdiri tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kedelapan</strong>, si penyembelih disunnahkan untuk meletakkan kakinya di badan dekat leher sapi atau kambing yang akan disembelih. Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik <em>radhiyallâhu ‘anhu</em> bahwa beliau berkata,</p>
<p dir="RTL"><strong>ضَحَّى </strong><strong>النَّبِيُّ</strong><strong> </strong><strong>صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا.</strong></p>
<p><em>“Nabi </em><em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em><em> berqurban dengan dua kambing jantan yang </em>amlah<em>. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya. Beliau membaca basmalah dan bertakbir serta meletakkan kaki beliau di atas badan kedua (kambing) itu.”</em> <a title="" href="http://dzulqarnain.net/beberapa-hukum-seputar-penyembelihan.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Ketika menjelaskan hadits di atas, An-Nawawy <em>rahimahullâh</em> berkata, “Beliau melakukan hal tersebut agar mengokohkan dan memapankan (posisi hewan sembelihan) supaya hewan sembelihan tidak menggerakkan kepalanya yang mengakibatkan hilangnya kesempurnaan dalam penyembelihan atau mengakibatkan (hewan tersebut) tersakiti.”</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kesembilan</strong>, terputusnya leher <em>udh-hiyyah</em> ketika disembelih adalah hal makruh karena dikhawatirkan bahwa hewan tersebut mati bukan karena penyembelihan, melainkan karena lehernya yang terputus. Setelah lehernya terputus, <em>udh-hiyyah</em>tersebut harus diperiksa: bila <em>udh-hiyyah</em> masih bergerak, ruh <em>udh-hiyyah</em> itu masih ada dan penyembelihan berlaku padanya, tetapi, jika tidak bergerak lagi setelah lehernya terputus, hewan tersebut mati karena leher yang terputus sehingga tidak boleh dimakan.</p>
<p><strong>Kesepuluh</strong>, penyembelihan boleh dilakukan pada malam hari karena tidak ada dalil kuat yang menunjukkan kemakruhan penyembelihan pada waktu tersebut. Adapun hadits, yang kadang tersebar di tengah masyarakat, tentang larangan penyembelihan pada malam hari, itu tergolong ke dalam hadits lemah dan tidak boleh dijadikan sandaran. Akan tetapi, kalau pada malam hari akan mengurangi kesempurnaan penyembelihan atau pembagian daging qurban kepada orang-orang yang berhak, penyembelihan lebih utama dilakukan pada siang hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kesebelas</strong>, sebaiknya setiap orang menyembelih <em>udh-hiyyah</em>-nya masing-masing. Penyembelihan juga boleh diwakilkan dan tidak terlarang sebagaimana yang diterangkan dalam beberapa riwayat bahwa Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>mewakilkan penyembelihan unta beliau kepada ‘Ali <em>radhiyallâhu ‘anhu</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kedua belas</strong>, hewan <em>udh-hiyyah</em> apapun tidak boleh dijual, baik dagingnya, kulitnya, maupun bagian lain. Demikian pula, apabila menggunakan jasa tukang sembelih, hendaknya pemilik sembelihan memberi upah yang bukan berasal dari hewan sembelihan, seperti daging atau kulit sembelihan. Hal ini berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallâhu ‘anhu</em> bahwa beliau berkata,</p>
<p dir="RTL"><strong>أَمَرَنِ</strong><strong>يْ</strong><strong> رَسُولُ اللَّهِ </strong><strong>صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ</strong><strong> </strong><strong>أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِىَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ</strong><strong>:</strong><strong> نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا.</strong></p>
<p><em>“Rasulullah </em><em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em><em> memerintah saya untuk mengurus unta beliau, juga (memerintah saya) untuk bershadaqah dengan daging, kulit, dan sesuatu yang dipakai di punggung unta, serta (memerintah saya) agar saya tidak memberi berupa sembelihan itu kepada tukang sembelih. Beliau berkata, ‘Kami akan memberi</em><em>kan dia</em><em> dari sisi kami.’.”</em> <a title="" href="http://dzulqarnain.net/beberapa-hukum-seputar-penyembelihan.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ke</strong><strong>tiga</strong><strong> belas</strong>, perempuan, baik yang suci maupun yang sedang haidh, dan anak-anak kecil yang <em>mumayyiz</em> diperbolehkan untuk menyembelih karena tidak ada dalil yang melarang hal tersebut. Adapun orang buta, dia teranggap makruh untuk menyembelih karena membahayakan atau menyiksa sembelihan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Keempat belas</strong>, Hewan yang memang dasarnya adalah haram untuk dimakan, hukumnya tetap haram walaupun telah disembelih. Penyembelihan tidaklah mengubah hukum terhadap hewan yang asalnya haram menjadi halal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Ke</strong><strong>lima</strong><strong> belas</strong>, Penyembelihan hanya disyaratkan terhadap hewan darat, sedangkan hewan laut tidak harus disembelih. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> tentang air laut,</p>
<p dir="RTL"><strong>هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ , الْحِلُّ مَيْتَتَهُ.                       </strong></p>
<p><em>“(Air laut) itu adalah yang airnya mensucikan, (dan) bangkainya halal.”</em> <a title="" href="http://dzulqarnain.net/beberapa-hukum-seputar-penyembelihan.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p><em>Wallâhu A’lam</em>.</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="http://dzulqarnain.net/beberapa-hukum-seputar-penyembelihan.html">http://dzulqarnain.net/beberapa-hukum-seputar-penyembelihan.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/beberapa-hukum-seputar-penyembelihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
