<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Markaz Dakwah untuk Bimbingan dan Taklim &#187; Berqurban</title>
	<atom:link href="https://markazdakwah.or.id/tag/berqurban/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://markazdakwah.or.id</link>
	<description>www.markazdakwah.or.id</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Apr 2019 07:54:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Syariat Berqurban</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/syariat-berqurban/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/syariat-berqurban/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Aug 2017 06:54:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Berqurban]]></category>
		<category><![CDATA[Syariat Berqurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3707</guid>
		<description><![CDATA[Berqurban adalah salah satu ibadah yang disyariatkan dalam Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallamserta tergolong simbol Islam yang disepakati oleh para ulama akan anjurannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ “Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu, dan berqurbanlah.” [Al-Kautsar: 2] Tatkala menjelaskan makna ayat di atas, Ibnu Jarîr Ath-Thabary rahimahullâh berkata, “Jadikanlah, (wahai Muhammad), shalatmu seluruhnya ikhlas hanya untuk Rabb-mu... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/syariat-berqurban/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Berqurban adalah salah satu ibadah yang disyariatkan dalam Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>serta tergolong simbol Islam yang disepakati oleh para ulama akan anjurannya.</p>
<p>Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL"><strong>فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ</strong></p>
<p><em>“Maka dirikanlah shalat karena </em>Rabb<em>-mu, dan berqurbanlah.”</em> [<strong>Al-Kautsar: 2</strong>]</p>
<p>Tatkala menjelaskan makna ayat di atas, Ibnu Jarîr Ath-Thabary <em>rahimahullâh</em> berkata, “Jadikanlah, (wahai Muhammad), shalatmu seluruhnya ikhlas hanya untuk <em>Rabb</em>-mu tanpa (siapapun) yang bukan Dia, di antara sekutu-sekutu dan sembahan-sembahan. Demikian pula sembelihanmu, jadikanlah hanya untuk-Nya, tanpa berhala-berhala, sebagai kesyukuran kepada-Nya terhadap segala sesuatu yang Allah berikan kepadamu, berupa kemuliaan dan kebaikan yang tiada bandingannya, dan Dia mengkhususkan engkau dengannya, yaitu pemberian <em>Al-Kautsar</em> kepadamu.”<a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/6%20Syariat%20Berqurban.doc#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Ibnu Katsîr <em>rahimahullâh</em> berkata, “Ibnu ‘Abbâs, ‘Athâ`, Mujâhid, ‘Ikrimah, dan Al-Hasan berkata, ‘Yang diinginkan oleh hal tersebut adalah menyembelih unta dan (hewan lain) yang semisal dengannya.’ Demikian pula perkataan Qatâdah, Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhy, Adh-Dhahhâk, Ar-Rabî’, ‘Athâ` Al-Khurasâny, Al-Hakam, Ismail bin Abu Khâlid, dan ulama salaf yang lain. ….” Lalu, beliau membawakan beberapa pendapat lain dari penafsiran ayat, kemudian menyatakan, “Yang benar adalah pendapat pertama bahwa yang dimaksud dengan <em>an-nahr</em>‘menyembelih’ adalah sembelihan manasik ….”</p>
<p>Allah <em>Subhânahû wa Ta’âlâ</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL"><strong>قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ</strong><strong>.</strong><strong> لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ</strong></p>
<p><em>“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku</em><em>,</em><em> dan matiku hanyalah untuk Allah, </em>Rabb<em> semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya</em><em>. D</em><em>emikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan </em><em>saya</em><em> adalah orang yang pertama-tama </em><em>berserah</em><em> diri (kepada Allah).’.”</em> [<strong>Al-An’âm: 162-163</strong>]</p>
<p>Allah <em>Subhânahû wa Ta’âlâ</em> menjelaskan pula bahwa berqurban adalah perkara yang disyariatkan pada seluruh agama sebagaimana dalam firman-Nya <em>‘Azza wa Jalla</em>,</p>
<p dir="RTL"><strong>وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا</strong></p>
<p><em>“Dan bagi tiap-tiap umat, telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah (Allah) rezekikan kepada mereka. Maka </em>Rabb<em> kalian ialah </em>Rabb<em> yang Maha Esa. Oleh karena itu, berserahdirilah kalian kepada-Nya.”</em>[<strong>Al-Hajj: 34</strong>]</p>
<p>Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> juga menjelaskan bahwa ibadah agung ini adalah salah satu simbol syariat-Nya sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p dir="RTL"><strong>وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</strong><strong>.</strong><strong> لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ</strong></p>
<p><em>“Dan telah Kami jadikan unta-unta itu untuk kalian sebagai bagian dari syiar Allah, yang kalian memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah oleh kalian nama Allah ketika kalian menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian, apabila (unta-unta itu) telah roboh (mati), makanlah sebagiannya serta beri makanlah orang yang rela dengan sesuatu yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu untuk kalian, mudah-mudahan kalian bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kalian supaya kalian mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kalian. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”</em> [<strong>Al-Hajj: 36-37</strong>]</p>
<p>Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> mensyariatkan ibadah qurban melalui ucapan, perbuatan, serta penetapan beliau.</p>
<p>Syariat berdasarkan ucapan beliau tersirat dari sabda beliau <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>,</p>
<p dir="RTL"><strong>مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا ذَبَحَ لِنَفْسِهِ ، وَمَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَقَدْ تَمَّ نُسُكُهُ ، وَأَصَابَ سُنَّةَ الْمُسْلِمِينَ</strong></p>
<p><em>“Siapa yang menyembelih sebelum shalat, sembelihannya hanyalah untuk dirinya sendiri. </em><em>Dan </em><em>b</em><em>arangsiapa yang menyembelih setelah pelaksanaan shalat (</em><em>‘</em><em>Id), </em>nusuk<em>-nya (sembelihannya) telah sempurna dan ia telah mencocoki sunnah kaum muslimin.</em><em>”</em><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/6%20Syariat%20Berqurban.doc#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Syariat berdasarkan perbuatan beliau terurai dari penuturan Anas bin Malik <em>radhiyallâhu ‘anhu</em>,</p>
<p dir="RTL"><strong>ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا.</strong></p>
<p><em>“Nabi </em><em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em><em> berqurban dengan dua kambing jantan yang </em>amlah<a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/6%20Syariat%20Berqurban.doc#_ftn3">[3]</a><em>. Beliau menyembelih kedua</em><em> (kambing) tersebut </em><em>dengan tangan</em><em> beliau</em><em>. Beliau membaca basmalah dan bertakbir serta meletakkan kaki beliau di atas badan kedua (kambing) itu.”</em> <a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/6%20Syariat%20Berqurban.doc#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Adapun berdasarkan penetapan (persetujuan) beliau, hal tersebut bisa dipahami dari hadits Jundub bin Sufyah Al-Bajaly <em>radhiyallâhu ‘anhu</em> bahwa beliau berkata, “Saya menyaksikan ‘Idul Adha bersama Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>. Tatkala menyelesaikan shalat bersama manusia, beliau melihat seekor kambing yang telah disembelih. Lalu, beliau bersabda,</p>
<p dir="RTL"><strong>مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَلْيَذْبَحْ شَاةً مَكَانَهَا وَمَنْ لَمْ يَكُنْ ذَبَحَ فَلْيَذْبَحْ عَلَى اسْمِ اللَّهِ.</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang menyembelih sebelum pelaksanaan shalat (‘Id), hendaknya ia menyembelih kambing (lain) sebagai pengganti, dan barangsiapa yang belum menyembelih, hendaknya dia menyembelih dengan (menyebut) nama Allah.”</em> <a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/6%20Syariat%20Berqurban.doc#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Adapun kesepakatan para ulama tentang syariat berqurban, hal tersebut telah masyhur dalam buku-buku fiqih.</p>
<p><em>Wallâhu A’lam.</em></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/6%20Syariat%20Berqurban.doc#_ftnref1">[1]</a> <em>Tafsir Ibnu Jarîr</em> 24/696. Dalam <em>Tafsir</em>-nya 8/504, Ibnu Katsîr menganggap bahwa ucapan Ibnu Jarîr di atas sangatlah indah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/6%20Syariat%20Berqurban.doc#_ftnref2">[2]</a> Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Al-Barâ` bin Azib <em>radhiyallâhu ‘anhumâ</em> dan Anas bin Malik<em> radhiyallâhu ‘anhu</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/6%20Syariat%20Berqurban.doc#_ftnref3">[3]</a> Kambing<em> amlah</em> adalah kambing yang berbulu putih dan hitam, tetapi bulu putihnya lebih mendominasi. Demikian keterangan Al-Kisâ’iy. Adapun menurut Ibnul ‘Araby, itu adalah kambing yang bersih nan putih. Demikian nukilan Ibnu Qudamah dalam <em>Al-Mughny</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/6%20Syariat%20Berqurban.doc#_ftnref4">[4]</a> Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/6%20Syariat%20Berqurban.doc#_ftnref5">[5]</a> Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, Muslim, dan An-Nasâ`iy.</p>
</div>
<p>Sumber:<br />
<a href="http://dzulqarnain.net/syariat-berqurban.html">http://dzulqarnain.net/syariat-berqurban.html</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/syariat-berqurban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Etika bagi Orang yang Ingin Berqurban</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/beberapa-etika-bagi-orang-yang-ingin-berqurban/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/beberapa-etika-bagi-orang-yang-ingin-berqurban/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Aug 2017 06:49:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[bagi Orang yang Ingin Berqurban]]></category>
		<category><![CDATA[Beberapa Etika bagi Orang yang Ingin Berqurban]]></category>
		<category><![CDATA[Berqurban]]></category>
		<category><![CDATA[Etika bagi Orang yang Ingin Berqurban]]></category>
		<category><![CDATA[Ingin Berqurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3704</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa etika yang penting diketahui oleh siapa saja yang ingin menyembelih ketika akan memasuki Dzulhijjah. Dasar tuntunan dalam hal etika bagi orang yang ingin berqurban adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiyallâhu ‘anhâ bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,  إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِيْ الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ “Apabila kalian telah melihat... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/beberapa-etika-bagi-orang-yang-ingin-berqurban/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Ada beberapa etika yang penting diketahui oleh siapa saja yang ingin menyembelih ketika akan memasuki Dzulhijjah.</p>
<p>Dasar tuntunan dalam hal etika bagi orang yang ingin berqurban adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah <em>radhiyallâhu ‘anhâ</em> bahwa Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL"> <strong>إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِيْ الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ</strong></p>
<p><em>“Apabila kalian telah melihat hilal Dzulhijjah, dan salah seorang di antara kalian berkehendak untuk menyembelih </em><em>(qurban), hendaknya ia menahan rambut dan kuku‑</em><em>kukunya.”</em></p>
<p>Dalam sebuah riwayat disebutkan,</p>
<p dir="RTL"> <strong>إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا</strong></p>
<p><em>“Apabila sepuluh (hari awal Dzulhijjah) telah masuk, dan salah seorang di antara kalian berkehendak untuk menyembelih (qurban), janganlah ia menyentuh sesuatu pun berupa rambut dan kulitnya.”</em> <a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/8%20Beberapa%20Etika%20bagi%20Orang%20yang%20Ingin%20Berqurban.doc#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Hadits ini menunjukkan beberapa ketentuan hukum dan etika. Rinciannya adalah sebagai berikut.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, bila Dzulhijjah telah masuk dan seseorang berkeinginan untuk menyembelih hewan qurban, dia tidak diperbolehkan untuk memotong, mencukur, dan mengambil rambut, kuku, dan kulitnya hingga selesai menyembelih hewan qurbannya.</p>
<p><strong>Kedua</strong>,<strong> </strong>bila seseorang akan menyembelih lebih dari seekor hewan qurban, sembelihan pertamanya telah menggugurkan larangan terhadap dia sehingga dia boleh mengambil rambut, kuku, dan kulitnya setelah menyembelih hewan pertama.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, larangan dalam hadits di atas bersifat haram menurut pendapat yang lebih kuat. Demikian pendapat Sa’îd bin Musayyab, Rabî’ah, Ahmad, Ishâq, Dâwud Azh-Zhâhiry, Ibnu Hazm, dan selain mereka. Oleh karena itu, barangsiapa yang melanggar larangan itu secara sengaja, ia telah berdosa sehingga harus bertaubat dan memohon ampunan-Nya.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, larangan dalam hadits di atas berkaitan dengan kesengajaan. Adapun seseorang yang mengambil rambut, kuku, dan kulitnya karena lupa atau tidak mengetahui adanya larangan, tidaklah ada dosa terhadapnya, demikian pula sesuatu yang diambil diluar kesengajaan.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, hadits di atas tidak menyebutkan ketentuan fidyah atau kaffarah terhadap siapa saja yang melanggar larangan. Oleh karena itu, pelanggaran terhadap larangan tidak mengganggu keabsahan <em>udh-hiyyah</em>-nya, tidak pula dia terkena kewajiban fidyah maupun kaffarah.</p>
<p><strong>Keenam</strong>, sabda beliau, <em>“dan salah seorang dari kalian berkehendak untuk menyembelih …,”</em> menunjukkan bahwa larangan ini berlaku khusus untuk orang yang akan berqurban itu sendiri. Apabila seorang perempuan ingin berqurban, kemudian mewakilkan penyembelihan kepada orang lain, perempuan tersebut tidak boleh mengambil rambut, kuku, dan kulitnya, sedangkan orang yang mewakili perempuan tadi tidaklah termasuk ke dalam larangan. Demikian pula, kalau seorang ayah berqurban untuk anak dan istrinya, hanya sang ayah-lah yang terkena larangan, sedangkan anak dan istri sang ayah tadi boleh memotong rambut dan kukunya serta mengambil kulitnya yang melepuh.</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, tidaklah mengapa seseorang memotong rambut, kuku, atau kulitnya jika memang darurat untuk dipotong. Demikian pula, mandi serta mencuci rambut dan badan juga tidak terlarang karena dua hal tersebut diperbolehkan terhadap orang yang sedang berihram umrah maupun haji, sementara orang yang ingin berqurban tidaklah lebih terikat daripada orang yang berhaji dan berumrah.</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/8%20Beberapa%20Etika%20bagi%20Orang%20yang%20Ingin%20Berqurban.doc#_ftnref1">[1]</a> Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 1977 (konteks hadits adalah milik beliau), Abu Dâwud no. 2791, At-Tirmidzy no. 1527, An-Nasâ`iy 7/211-212, dan Ibnu Mâjah no. 3149-3150.</p>
</div>
<p>Sumber:<br />
<a href="http://dzulqarnain.net/beberapa-etika-bagi-orang-yang-ingin-berqurban.html">http://dzulqarnain.net/beberapa-etika-bagi-orang-yang-ingin-berqurban.html</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/beberapa-etika-bagi-orang-yang-ingin-berqurban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beberapa Hikmah di Balik Syariat Berqurban</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/beberapa-hikmah-di-balik-syariat-berqurban/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/beberapa-hikmah-di-balik-syariat-berqurban/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Aug 2017 03:23:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Berqurban]]></category>
		<category><![CDATA[di Balik Syariat Berqurban]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah di Balik Syariat Berqurban]]></category>
		<category><![CDATA[Syariat Berqurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3665</guid>
		<description><![CDATA[Banyak hikmah di belakang syariat berqurban yang mengingatkan seorang hamba kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan hari akhirat. Di antara hikmah tersebut adalah: 1. Menegakkan peribadahan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Subhânahû wa Ta’âlâ menjelaskan ibadah qurban sebagai salah satu bentuk penegakan perintah dan penyerahan diri kepada-Nya sebagaimana dalam firman-Nya, قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/beberapa-hikmah-di-balik-syariat-berqurban/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak hikmah di belakang syariat berqurban yang mengingatkan seorang hamba kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> dan hari akhirat.</p>
<p>Di antara hikmah tersebut adalah:</p>
<p>1. Menegakkan peribadahan kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>.</p>
<p>Allah <em>Subhânahû wa Ta’âlâ</em> menjelaskan ibadah qurban sebagai salah satu bentuk penegakan perintah dan penyerahan diri kepada-Nya sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p dir="RTL"><strong>قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ</strong><strong>.</strong><strong> لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ</strong></p>
<p><em>“Katakanlah, ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, </em>Rabb<em> semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya, demikian itulah yang diperintahkan kepadaku, dan saya adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).’.”</em> [<strong>Al-An’âm: 162-163</strong>]</p>
<p>Allah <em>Subhânahû wa Ta’âlâ</em> juga menjelaskan bahwa berqurban adalah ibadah yang agung bila disertai dengan takwa dan keikhlasan sebagaimana firman Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>,</p>
<p dir="RTL"><strong>لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ</strong></p>
<p><em>“Daging-daging dan darah (unta) itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.”</em> [<strong>Al-Hajj: 37</strong>]</p>
<p>2. Sebagai lambang kesyukuran seorang hamba terhadap nikmat Allah <em>Subhânahû wa Ta’âlâ</em>.</p>
<p>Allah <em>Subhânahû wa Ta’âlâ</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL"><strong>فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</strong></p>
<p><em>“Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan sesuatu yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kalian, mudah-mudahan kalian bersyukur.”</em> [<strong>Al-Hajj: 36</strong>]</p>
<p>3. Menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim <em>‘alaihis salâm</em>.</p>
<p>Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL"><strong>فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ</strong><strong>.</strong><strong> </strong><strong>فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ</strong><strong>.</strong><strong> وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ</strong><strong>.</strong><strong> قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ</strong><strong>.</strong><strong> إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ</strong><strong>.</strong><strong> وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ</strong></p>
<p><em>“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya saya melihat dalam mimpi bahwa saya menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ (Anaknya) menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah sesuatu yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sabar.’ Tatkala keduanya telah berserah diri dan (Ibrahim) membaringkan (anak)nya di atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, ‘Wahai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami menebus (anak itu) dengan seekor sembelihan yang besar.”</em> [<strong>Ash-Shaffât: 102-107</strong>]</p>
<p>Sementara itu, Allah <em>Subhânahû wa Ta’âlâ</em> telah memerintah Nabi Muhammad <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> dan umat beliau untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim <em>‘alaihis salâm</em> sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p dir="RTL"><strong>ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ</strong></p>
<p><em>“Kemudian Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad), ‘Ikutilah agama Ibrahim dengan hanif (lurus, condong kepada tauhid),’ dan dia tidaklah termasuk ke dalam golongan orang-orang musyrikin.”</em> [<strong>An-Nahl: 123</strong>]</p>
<p>Seorang muslim, bila mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail <em>‘alaihis salâm</em>, akan mencontoh kesabaran mereka berdua dalam hal menjalankan perintah Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>, dan selalu mengingat bahwa mendahulukan perintah Allah di atas segala hal adalah lebih baik baginya.</p>
<p>4. Memperkuat tali persaudaraan dan kecintaan antara sesama muslim.</p>
<p>Hal ini sangat tampak dari beberapa syariat dalam berqurban, seperti memberi sebagian daging qurban kepada tetangga dan fakir miskin serta pembolehan kepada tujuh orang untuk berserikat dalam penyembelihan.</p>
<p>5. Pengagungan terhadap simbol Allah <em>Subhânahû wa Ta’âlâ</em>.</p>
<p>Tidak diragukan bahwa ibadah qurban adalah salah satu simbol Allah yang sangat agung. Menegakkan simbol tersebut merupakan buah ketakwaan. Allah <em>Subhânahû wa Ta’âlâ</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL"><strong>ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ</strong></p>
<p><em>“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”</em> [<strong>Al-Hajj: 32</strong>]</p>
<p>6. Mendulang kebaikan dari pelaksanaan ibadah qurban.</p>
<p>Allah <em>Subhânahû wa Ta’âlâ</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL"><strong>وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ</strong></p>
<p><em>“Dan telah Kami jadikan untuk kalian unta-unta itu sebagian dari syiar Allah agar kalian memperoleh kebaikan yang banyak padanya.”</em> [<strong>Al-Hajj: 36</strong>]</p>
<p>Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsîr <em>rahimahullâh</em> berkata, “Sesungguhnya sebagian salaf ada yang berutang untuk menggiring unta. Oleh karena itu, dikatakan kepadanya, ‘(Mengapa) engkau berutang untuk menggiring unta?’ Dia menjawab, ‘Saya mendengar Allah berfirman, <em>‘Untuk kalian memperoleh kebaikan yang banyak padanya.’</em>.’.”</p>
<p>7. Memberi kelapangan kepada anak, keluarga, dan tetangga pada hari ‘Id.</p>
<p>Allah <em>Subhânahû wa Ta’âlâ</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL"><strong>فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ</strong></p>
<p><em>“Maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan sesuatu yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.”</em> [<strong>Al-Hajj: 36</strong>]</p>
<p>Dari Al-Barâ` bin Azib <em>radhiyallâhu ‘anhumâ</em>, Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>bersabda,</p>
<p dir="RTL"><strong>إِنَّ أَوَّلَ مَا نَبْدَأُ بِهِ فِى يَوْمِنَا هَذَا نُصَلِّى ثُمَّ نَرْجِعُ فَنَنْحَرُ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ أَصَابَ سُنَّتَنَا وَمَنْ ذَبَحَ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لأَهْلِهِ لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِى شَىْءٍ.</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya </em><em>permulaan,</em><em> yang kita mulai pada hari </em><em>kita </em><em>ini</em><em>,</em><em> adalah shalat. Setelah itu, kita kembali lalu menyembelih. Barangsiapa yang mengerjakan hal tersebut, sesungguhnya ia telah mencocoki sunnah kami, dan barangsiapa yang menyembelih sebelum pelaksanaan shalat (‘Id), sesungguhnya (sembelihan) itu hanyalah daging yang dia peruntukkan untuk keluarganya, tidak terhitung sebagai </em>nusuk<em> (sembelihan) sama sekali.”</em> <a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/7%20Beberapa%20Hikmah%20di%20Balik%20Syariat%20Berqurban.doc#_ftn1">[1]</a></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/7%20Beberapa%20Hikmah%20di%20Balik%20Syariat%20Berqurban.doc#_ftnref1">[1]</a> Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim.</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="http://dzulqarnain.net/beberapa-hikmah-di-balik-syariat-berqurban.html">http://dzulqarnain.net/beberapa-hikmah-di-balik-syariat-berqurban.html</a></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/beberapa-hikmah-di-balik-syariat-berqurban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum tentang Berqurban</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/hukum-tentang-berqurban/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/hukum-tentang-berqurban/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Aug 2017 03:12:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Berqurban]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum tentang Berqurban]]></category>
		<category><![CDATA[tentang Berqurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3659</guid>
		<description><![CDATA[Kebanyakan ulama, dinukil dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khaththâb, Bilâl, dan Abu Mas’ûd Al-Badry dari kalangan shahabat, serta Suwaid bin Ghafalah, Sa’îd bin Al-Musayyab, Sufyân Ats-Tsaury, Ibnul Mubârak, ‘Athâ`, ‘Alqamah, Al-Aswad, Malik –dari pendapat masyhur beliau-, Asy-Syâfi’iy, Ahmad, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, Ishâq, Abu Tsaur, Al-Muzany, Ibnul Mundzir, Dâwud, Ibnu Hazm, dan selain... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/hukum-tentang-berqurban/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Kebanyakan ulama, dinukil dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khaththâb, Bilâl, dan Abu Mas’ûd Al-Badry dari kalangan shahabat, serta Suwaid bin Ghafalah, Sa’îd bin Al-Musayyab, Sufyân Ats-Tsaury, Ibnul Mubârak, ‘Athâ`, ‘Alqamah, Al-Aswad, Malik –dari pendapat masyhur beliau-, Asy-Syâfi’iy, Ahmad, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan, Ishâq, Abu Tsaur, Al-Muzany, Ibnul Mundzir, Dâwud, Ibnu Hazm, dan selain mereka dari kalangan imam fiqih, berpendapat bahwa hukum tentang berqurban adalah sunnah. Mereka memahami bahwa dalil-dalil tentang syariat <em>udh-hiyyah </em>hanya menunjukkan penganjuran, bukan pewajiban, apalagi Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL"><strong>إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا.</strong></p>
<p><em>“Apabila telah masuk sepuluh (awal Dzulhijjah) dan salah seorang di antara kalian berkehendak untuk menyembelih (qurban), janganlah ia menyentuh sesuatu pun berupa rambut dan kulitnya.”</em> <a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Sabda beliau, <em>“Dan salah seorang dari kalian berkehendak untuk menyembelih qurban,”</em> menunjukkan ketidakwajiban hal tersebut karena hal yang bersifat wajib mesti dilaksanakan, bukan suatu alternatif yang disandarkan kepada kehendak pelaku sebagaimana dalam hadits di atas. Demikian keterangan Imam Asy-Syâfi’iy dan selain beliau.</p>
<p>Selain itu, di antara dalil tentang ketidakwajiban berqurban adalah hadits yang diriwayatkan oleh Jâbir <em>radhiyallâhu ‘anhu</em> bahwa beliau berkata, “Saya menyaksikan (‘Idul) Adha bersama Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> di lapangan. Tatkala beliau selesai berkhutbah, seekor kambing didatangkan kepada beliau, lalu beliau pun menyembelih (kambing) tersebut seraya bersabda,</p>
<p dir="RTL"><strong>بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّيْ وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِيْ</strong></p>
<p><em>‘</em>Bismillâhi wallâhu Akbar<em>. Ya Allah, ini untuk saya dan untuk siapa saja di antara umatku yang tidak berqurban.’</em>.”<a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Imam Asy-Syaukâny menjelaskan sisi pendalilan akan ketidakwajiban berqurban, dari hadits di atas dan yang semisalnya dengannya, melalui ucapan beliau, “Yang tampak adalah bahwa <em>udh-hiyyah</em> beliau, bagi umat dan keluarga beliau, adalah mencukupi orang yang tidak berqurban, baik orang tersebut mampu ber-<em>udh-hiyyah</em> atau tidak.”</p>
<p>Selain itu, di antara dalil akan ketidakwajiban berqurban adalah sejumlah atsar dari shahabat yang menguatkan pendapat jumhur ulama:</p>
<p>Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy, dari Abu Sarîhah Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifary <em>radhiyallâhu ‘anhu</em>, beliau berkata,</p>
<p dir="RTL"><strong>أَدْرَكْتُ أَبَا بَكْرٍ أَوْ رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا لاَ يُضَحِّيَانِ كَرَاهِيَةَ أَنْ يُقْتَدَى بِهِمَا</strong></p>
<p><em>“Saya mendapati Abu Bakr, atau saya melihat Abu Bakr dan Umar </em><em>radhiyallâhu ‘anhumâ</em><em>, tidak mengerjakan </em>udh-hiyyah<em> karena khawatir bila mereka dijadikan panutan.”</em></p>
<p>Maksudnya adalah bahwa mereka dijadikan panutan agar tidak meninggalkan berqurban atau menganggap bahwa berqurban itu wajib.</p>
<p>Juga dari Abu Mas’ûd Al-Anshâry, beliau berkata,</p>
<p dir="RTL"><strong>إِنِّيْ لأَدَعُ الأَضْحَى وَإِنِّيْ لَمُوسِرٌ مَخَافَةَ أَنْ يَرَى جِيرَانِيْ أَنَّهُ حَتْمٌ عَلَيَّ</strong></p>
<p><em>“Saya meninggalkan </em>udh-hiyyah<em>, padahal saya sangat berkelapangan, karena khawatir bahwa para tetanggaku beranggapan bahwa hal tersebut adalah wajib bagiku.”</em> <a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Imam Al-Bukhâry menyebutkan pula hadits dari Ibnu Umar <em>radhiyallâhu ‘anhumâ</em>bahwa beliau berkata,</p>
<p dir="RTL"><strong>هِيَ سُنَّةٌ مَعْرُوْفَةٌ</strong></p>
<p><em>“(</em>Udh-hiyyah<em>) itu adalah sunnah dan dikenal.” </em><a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Masih ada beberapa ucapan shahabat lain tentang ketidakwajiban berqurban tersebut:</p>
<p>Ibnu Hazm <em>rahimahullâh</em> berkata, “Tidak sah, dari seorang shahabat pun, bahwa <em>udh-hiyyah</em> adalah wajib.”<a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftn5">[5]</a></p>
<p>Al-Mâwardy <em>rahimahullâh</em> berkata, “Telah diriwayatkan, dari para shahabat, hal yang merupakan ijma’ (kesepakatan) akan gugurnya kewajiban (<em>udh-hiyyah</em>).”<a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftn6">[6]</a></p>
<p>Pada versi lain, sejumlah ulama berpendapat bahwa hukum <em>udh-hiyyah</em> adalah wajib. Pendapat tentang kewajiban berqurban adalah pendapat Rabî’ah, Al-Laits bin Sa’d, Al-Auzâ`iy, Abu Hanîfah, salah satu pendapat Malik, serta salah satu riwayat dari Abu Yusuf dan Muhammad. Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. Mereka memandang bahwa <em>udh-hiyyah</em>merupakan salah satu simbol Islam dan ibadah yang ditekankan dalam banyak dalil dari Al-Qur`an maupun hadits.</p>
<p>Ada beberapa dalil yang dipakai oleh kalangan ulama yang mewajibkan <em>udh-hiyyah</em>. Namun, semua dalil tersebut mengandung kemungkinan yang bermakna sunnah, bukan wajib. Selain itu, dalil-dalil tersebut banyak berasal dari hadits lemah. Oleh karena itu, kami lebih condong kepada pendapat yang menyatakan bahwa <em>udh-hiyyah </em>adalah sunnah, bukan wajib. Kendati demikian, dalil-dalil ulama, yang menganggap <em>udh-hiyyah</em> adalah wajib, tetap perlu dipertimbangkan sehingga seorang muslim dan muslimah, yang mempunyai kelapangan harta, tidak pantas meninggalkan ibadah yang agung nan mulia ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Seekor Kambing untuk Satu Keluarga</strong></p>
<p>Seekor kambing cukup bagi satu orang bersama anggota keluarga di rumahnya, dan ia boleh mengikutkan orang lain dalam pahala <em>udh-hiyyah</em>-nya sebab, ketika menyembelih, Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> membaca<em> </em>basmalah lalu berdoa,</p>
<p dir="RTL"><strong>اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ.</strong></p>
<p><em>“Ya Allah, terimalah dari Muhammad dan keluarga Muhammad</em><em>,</em><em> serta dari umat Muhammad.”</em> <a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftn7">[7]</a></p>
<p>Anggota keluarga yang tersebut dalam hadits mencakup istrinya –walaupun lebih dari satu dan berpisah rumah-, anak-anaknya, dan keluarganya yang tinggal serumah dengannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mana yang Lebih Utama, Berqurban atau Bersedekah Senilai Harga Qurban?</strong></p>
<p>Ada sebagian kaum muslimin yang tidak berqurban, tetapi bersedekah senilai harga hewan qurban, yang sedekah tersebut ditujukan kepada hal yang lebih bermanfaat menurut pandangan mereka.</p>
<p>Namun, hal ini adalah sebuah kekeliruan yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p>Berqurban adalah simbol Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> yang disyariatkan untuk ditegakkan sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p dir="RTL"><strong>ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ</strong></p>
<p><em>“Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”</em> [<strong>Al-Hajj: 32</strong>]</p>
<p>Selain itu, contoh amalan Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> adalah dengan berqurban, bukan dengan bersedekah, sedang Allah <em>Subhânahû wa Ta’âlâ</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL"><strong>لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik pada (diri) Rasulullah itu bagi kalian, (yaitu) bagi siapa saja yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta banyak menyebut Allah.” </em>[<strong>Al-Ahzâb: 21</strong>]</p>
<p>Telah berlalu, bersama kita, sejumlah dalil yang menunjukkan makna kesunnahan dengan berqurban, bukan dengan mensedekahkan harga qurban tersebut. Selain itu, akan datang sejumlah dalil lain yang memuat makna ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Udh-hiyyah</em></strong><strong> untuk Musafir dan Orang yang Sedang Berhaji</strong></p>
<p>Jumhur ulama berpendapat bahwa <em>udh-hiyyah</em> disyaratkan untuk seluruh kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, baik penduduk kota maupun penduduk desa, serta baik orang yang bermukim, musafir, maupun orang yang tengah menunaikan ibadah haji.</p>
<p>Jumhur ulama berpegang dengan dalil-dalil umum tentang pensyariatan <em>udh-hiyyah</em>bahwa syariat <em>udh-hiyyah</em> tersebut berlaku umum bagi seluruh kaum muslimin.</p>
<p>Dalam <em>Shahîh</em> beliau, Imam Al-Bukhâry memberi judul “Bab <em>Udh-hiyyah</em> untuk Musafir dan Kaum Perempuan” lalu membawakan sanadnya kepada Aisyah <em>radhiyallâhu ‘anhâ</em> bahwa sesungguhnya Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> masuk menjumpai Aisyah, sedang Aisyah menangis –karena mengalami haid di Sarif, sebelum memasuki Makkah- maka Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL"><strong>مَا لَكِ أَنَفِسْتِ . قَالَتْ نَعَمْ . قَالَ إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ ، فَاقْضِيْ مَا يَقْضِيْ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِيْ بِالْبَيْتِ. فَلَمَّا كُنَّا بِمِنًى أُتِيتُ بِلَحْمِ بَقَرٍ ، فَقُلْتُ مَا هَذَا قَالُوا ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنْ أَزْوَاجِهِ بِالْبَقَرِ</strong></p>
<p><em>“Ada apa denganmu, apakah engkau nifas (baca: haid)?” (Aisyah) menjawab, “Iya.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya ini adalah perkara yang Allah tetapkan untuk anak-anak perempuan Adam. Tunaikanlah (amalan) yang ditunaikan oleh orang yang berhaji, kecuali thawaf di Al-Bait (Ka’bah).” (Perawi berkata), “Tatkala kami berada di Madinah, daging sapi didatangkan untukku. Saya berkata, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Rasulullah ber-</em>udh-hiyyah<em> untuk isti-istrinya dengan seekor sapi.” </em><a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Juga telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam <em>Shahîh</em> beliau dari Tsaubân <em>radhiyallâhu ‘anhu</em> bahwa Tsaubân berkata,</p>
<p dir="RTL"><strong>ذَبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ضَحِيَّتَهُ ثُمَّ قَالَ يَا ثَوْبَانُ أَصْلِحْ لَحْمَ هَذِهِ. فَلَمْ أَزَلْ أُطْعِمُهُ مِنْهَا حَتَّى قَدِمَ الْمَدِينَةَ</strong></p>
<p><em>“Rasulullah </em><em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em><em> menyembelih </em>udh-hiyyah<em> lalu bersabda, ‘Wahai Tsaubân, simpanlah daging </em>udh-hiyyah<em> ini dengan baik.’ Saya pun terus memberi makan untuk beliau berupa (</em>udh-hiyyah<em>) tersebut hingga beliau tiba di Madinah.”</em></p>
<p>Dalil-dalil di atas dan selainnya adalah bantahan bagi orang-orang Hanafiyah dan Malikiyah yang berpendapat bahwa tidak ada <em>udh-hiyyah</em> bagi orang yang sedang berhaji, juga bantahan bagi orang-orang Hanafiyah dalam hal membedakan antara mukim dan musafir menyangkut kewajiban <em>udh-hiyyah</em>, yang merupakan pendapat yang dipegang dalam madzhab Hanafiyah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Terhadap Orang yang Tidak Mampu, Apakah Boleh Berutang Agar Mampu Berqurban?</strong></p>
<p>Jawabannya adalah bahwa, kalau orang tersebut mampu melunasi utangnya ketika meminjam untuk ber-<em>udh-hiyyah</em>, hal tersebut adalah baik, tetapi dia tidaklah wajib berutang. Demikian simpulan dari fatwa Ibnu Taimiyah<a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Menyembelih Hewan dengan Niat </strong><strong><em>Udh-hiyyah</em></strong><strong> dan Aqiqah</strong></p>
<p>Tentang seseorang yang ingin mengaqiqah anaknya sekaligus ber-<em>udh-hiyyah</em> karena pelaksanaan aqiqah tersebut bertepatan dengan ‘Idul Adha dan hari-hari Tasyriq, apakah <em>udh-hiyyah</em>-nya telah mencukupi aqiqahnya?</p>
<p>Ada dua pendapat di kalangan ulama:</p>
<p><strong>Pendapat pertama</strong> adalah bahwa <em>udh-hiyyah</em> telah mencukupi aqiqah. Demikian pendapat Al-Hasan Al-Bashry, Muhammad bin Sîrîn, Qatâdah, dan Hisyâm, juga merupakan madzhab Hanafiyyah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.</p>
<p><strong>Pendapat kedua</strong> adalah bahwa <em>udh-hiyyah</em> tidaklah mencukupi aqiqah, tetapi ada sembelihan tersendiri untuk aqiqah. Ini adalah pendapat orang-orang Malikiyyah dan Syâfi’iyyah serta riwayat lain dari Imam Ahmad.</p>
<p>Yang lebih kuat dari dua pendapat di atas adalah pendapat kedua karena aqiqah dan <em>udh-hiyyah</em> mempunyai sebab pensyariatan yang berbeda dan maksud-maksud pensyariatan yang berbeda, sedang dua ibadah boleh digabung dalam sebuah niat dan pelaksanaan bila ada keserupaan antara keduanya.</p>
<p><em>Wallâhu A’lam</em>.</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftnref1">[1]</a> Akan datang <em>takhrîj</em>-nya.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftnref2">[2]</a> Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dâwud, At-Timidzy, Ad-Dâraquthny, Ath-Thahâwy, Al-Hakim, Al-Baihaqy, dan selain mereka. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albâny <em>rahimahullâh</em> dalam <em>Irwâ’ul Ghalîl</em> no. 1138. Terdapat penyebutan kata <em>mimbar</em> dalam konteks riwayat dari beberapa rujukan di atas, tetapi penyebutan tersebut adalah <em>syâdz</em> ‘ganjil, lemah’ sebagaimana keterangan Al-Albâny dalam <em>Silsilah Al-Ahâdîts Adh-Dha’îfah</em> 2/379-380.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftnref3">[3]</a> Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy. Sanadnya dishahihkan oleh Ibnu Hajar, dalam <em>At-Talkhish</em>, dan Al-Albâny, dalam <em>Irwâ’ul Ghalîl</em> 4/355.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftnref4">[4]</a> Dalam <em>Fathul Bâry</em>, Ibnu Hajar menyebut bahwa ucapan Ibnu Umar ini diriwayatkan secara bersambung oleh Hammâd bin Salamah dalam <em>Mushannaf</em>-nya dengan sanad yang <em>jayyid</em> ‘baik’.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftnref5">[5]</a> <em>Al-Muhalla</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftnref6">[6]</a> <em>Al-Hâwy</em> 19/85.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftnref7">[7]</a> Diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah <em>radhiyallâhu ‘anhâ</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftnref8">[8]</a> Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry, Muslim, An-Nasâ`iy dan Ibnu Mâjah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html#_ftnref9">[9]</a> <em>Majmû’ Al-Fatâwâ</em> 26/305.</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html">http://dzulqarnain.net/hukum-tentang-berqurban.html</a></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/hukum-tentang-berqurban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Definisi Berqurban</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/definisi-berqurban/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/definisi-berqurban/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Aug 2017 02:55:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Berqurban]]></category>
		<category><![CDATA[Definisi Berqurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3647</guid>
		<description><![CDATA[Dalam bahasa Arab, qurban disebut dengan udh-hiyyah (أُضْحِيَّةٌ), yang huruf hamzah-nya didhammah dan huruf ya`-nya ditasydid, atau idh-hiyyah (إِضْحِيَّةٌ), yang huruf hamzah-nya dikasrah, dan bentuk jamaknya disebut dengan nama adhâhiyy (أَضَاحِيّ), yang huruf ya`-nya ditasydid. Selain itu, qurban, dari segi bahasa Arab, juga disebut dengan nama dhahiyyah (ضَحِيَّةٌ) yang huruf dhad-nya difathah dan huruf ya`-nya ditasydid, dan bentuk jamaknya disebut dengan dhahâyâ (ضَحَايَا). Ada pula penyebutan keempat, yaitu dengan nama adh-hâh (أَضْحَاةٌ) yang... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/definisi-berqurban/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam bahasa Arab, qurban disebut dengan <em>udh-hiy</em><em>y</em><em>ah</em> (<strong>أُضْحِيَّةٌ</strong>), yang huruf <em>hamzah</em>-nya didhammah dan huruf <em>ya`</em>-nya ditasydid, atau <em>idh-hiyyah</em> (إِ<strong>ضْحِيَّةٌ</strong>), yang huruf <em>hamzah</em>-nya dikasrah, dan bentuk jamaknya disebut dengan nama <em>a</em><em>dh</em><em>â</em><em>hi</em><em>yy</em> (<strong>أَضَاحِيّ</strong>), yang huruf <em>ya`</em>-nya ditasydid. Selain itu, qurban, dari segi bahasa Arab, juga disebut dengan nama <em>dhahiyyah</em> (<strong>ضَحِيَّةٌ</strong>) yang huruf <em>dhad</em>-nya difathah dan huruf <em>ya`</em>-nya ditasydid, dan bentuk jamaknya disebut dengan <em>dhahâyâ</em> (<strong>ضَحَايَا</strong>).</p>
<p>Ada pula penyebutan keempat, yaitu dengan nama <em>adh-hâh</em> (أَ<strong>ضْحَاةٌ</strong>) yang huruf <em>hamzah</em>-nya difathah, sementara bentuk jamaknya disebut dengan <em>adh-hâ</em> (<strong>أَضْحَي</strong>) yang terkenal untuk penyebutan ‘Idul Adha.</p>
<p>Dari sisi bahasa, simpulannya adalah bahwa ada empat penggunaan kata untuk hewan qurban:</p>
<ol>
<li><em>Udh-hiy</em><em>y</em><em>ah</em> (<strong>أُضْحِيَّةٌ</strong>)</li>
<li><em>Idh-hiyyah</em> (إِ<strong>ضْحِيَّةٌ</strong>)</li>
<li><em>Dhahiyyah</em> (<strong>ضَحِيَّةٌ</strong>)</li>
<li><em>Adh-hâh</em> (أَ<strong>ضْحَاةٌ</strong>)</li>
</ol>
<p>Demikian simpulan dari buku-buku ahli bahasa.</p>
<p>Namun, Ibnu ‘Âbidîn<a title="" href="http://dzulqarnain.net/definisi-berqurban.html#_ftn1">[1]</a> menyebutkan bahwa ada delapan penggunaan kata terhadap hewan qurban:</p>
<ol>
<li><em>Udh-hiy</em><em>y</em><em>ah</em><em> </em>(<strong>أُضْحِيَّةٌ</strong>),</li>
<li><em>Udh-hiyah</em> (<strong>أُضْحِيَةٌ</strong>), dengan huruf <em>ya`</em> tanpa tasydid,</li>
<li><em>Idh-hiyyah </em>(إِ<strong>ضْحِيَّةٌ</strong>),</li>
<li><em>Idh-hiyah </em>(إِ<strong>ضْحِيَةٌ</strong>), dengan huruf <em>ya`</em> tanpa tasydid,</li>
<li><em>Dhahiyyah</em> (<strong>ضَحِيَّةٌ</strong>),</li>
<li><em>Dhihiyyah</em> (<strong>ضِحِيَّةٌ</strong>), dengan huruf <em>dhad</em> dikasrah,</li>
<li><em>Adh-hâh</em><em> </em>(أَ<strong>ضْحَاةٌ</strong>), dan</li>
<li><em>Idh-hâh</em><em> </em>(إِ<strong>ضْحَاةٌ</strong>), dengan huruf <em>hamzah</em> dikasrah.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ahli bahasa Arab menyebut dua makna terhadap beberapa penyebutan qurban di atas:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, kambing yang disembelih pada waktu Dhuha, yaitu bermula dari naiknya siang hingga sebelum matahari tergelincir.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, kambing yang disembelih pada hari raya ‘Idul Adha.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Adapun secara istilah, <em>udh-hiyyah</em> adalah hewan yang disembelih pada hari-hari Nahr dalam rangka bertaqarrub kepada Allah berdasarkan syarat-syarat tertentu.</p>
<p>Ada beberapa jenis sembelihan yang tidak tergolong ke dalam definisi di atas:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, hewan yang disembelih bukan untuk bertaqarrub, seperti hewan yang disembelih untuk dijual, dimakan, atau untuk menjamu tamu.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, sembelihan dengan niat untuk bertaqarrub, tetapi bukan pada hari Nahr.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, hewan yang disembelih dengan niat aqiqah, haji tamattu’ atau qiran, dan untuk meninggalkan kewajiban atau melanggar larangan saat penunaian ibadah haji.</p>
<p>Seluruh jenis yang tersebut tidaklah terhitung sebagai <em>udh-hiyyah</em>.<a title="" href="http://dzulqarnain.net/definisi-berqurban.html#_ftn2">[2]</a></p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="http://dzulqarnain.net/definisi-berqurban.html#_ftnref1">[1]</a> Dalam <em>Hasyiah</em> beliau terhadap <em>Ad-Durr Al-Mukhtar</em> 9/452. Beliau menyebutkan dari buku Asy-Syaranbilâliyah.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="http://dzulqarnain.net/definisi-berqurban.html#_ftnref2">[2]</a> Definisi <em>udh-hiyyah</em> di atas berasal dari <em>Al-Majmû’ Syarh Al-Muhadzdzab</em> 8/352, <em>Fathul Bâry</em> 10/3, dan <em>Al-Mausû’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah</em> 5/74. Dalam <em>Al-Mausû’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah</em>, disebutkan rujukan definisi bahasa Arab dari kitab <em>Al-Qamûs</em> dan syarahnya, <em>Lisânul ‘Arab</em>, <em>Al-Mishbâh Al-Munîr</em>, dan <em>Mu’jam Al-Wasîth</em>, serta rujukan definisi istilah dari kitab <em>Syarh Al-Minhaj Al-Hasyiah Al-Bujairamy</em> 4/294 dan <em>Ad-Durr Al-Mukhtâr bi Hasyiah Ibnu ‘Âbidîn</em> 5/111.</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="http://dzulqarnain.net/definisi-berqurban.html">http://dzulqarnain.net/definisi-berqurban.html</a></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/definisi-berqurban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
