<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Markaz Dakwah untuk Bimbingan dan Taklim &#187; dunia</title>
	<atom:link href="https://markazdakwah.or.id/tag/dunia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://markazdakwah.or.id</link>
	<description>www.markazdakwah.or.id</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Apr 2019 07:54:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Safari Dakwah: Tauhid Kunci Kebahagiaan Dunia dan Akhirat &#8211; Sulawesi Tenggara</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/safari-dakwah-tauhid-kunci-kebahagiaan-dunia-dan-akhirat-sulawesi-tenggara/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/safari-dakwah-tauhid-kunci-kebahagiaan-dunia-dan-akhirat-sulawesi-tenggara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jan 2018 01:25:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Info Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh Akbar]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[DUNIA DAN AKHIRAT]]></category>
		<category><![CDATA[kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kebahagiaan Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid Kunci Kebahagiaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=4146</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah Dengan hanya Mengharap Rahmat Allah Hadirilah SAFARI DAKWAH SULAWESI TENGGARA Bersama: Al-Ustadz MUSTHOFA AL-BUTHONY (Pimpinan Ponpes Ibnu Sirin, Tegal, Jawa Tengah) KOTA BAUBAU Senin, 27 Rabiuts Tsani 1439 H / 15 Januari 2018 1. Masjid Dakwatul Haq &#8211; Wangkanapi Ba&#8217;da Ashar- Selesai &#8220;TAUHID KUNCI KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT&#8221; 2. Masjid Asbabussalam &#8211; Bataraguru Ba&#8217;da... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/safari-dakwah-tauhid-kunci-kebahagiaan-dunia-dan-akhirat-sulawesi-tenggara/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah<br />
Dengan hanya Mengharap Rahmat Allah<br />
Hadirilah</p>
<p>SAFARI DAKWAH SULAWESI TENGGARA</p>
<p>Bersama:<br />
Al-Ustadz MUSTHOFA AL-BUTHONY<br />
(Pimpinan Ponpes Ibnu Sirin, Tegal, Jawa Tengah)</p>
<p>KOTA BAUBAU</p>
<p>Senin, 27 Rabiuts Tsani 1439 H / 15 Januari 2018</p>
<p>1. Masjid Dakwatul Haq &#8211; Wangkanapi<br />
Ba&#8217;da Ashar- Selesai<br />
&#8220;TAUHID KUNCI KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT&#8221;<br />
2. Masjid Asbabussalam &#8211; Bataraguru<br />
Ba&#8217;da Magrib &#8211; Isya<br />
&#8220;TAFSIR SURAH AL-ASHR&#8221;</p>
<p>Selasa, 28 Rabiuts Tsani 149 H / 16 Januari 2018</p>
<p>1. Masjid Nurul Haq &#8211; Tomba<br />
Ba&#8217;da Dzuhur &#8211; Selesai<br />
&#8221; TAFSIR SURAH AL-FATIHAH &#8221;</p>
<p>2. Masjid Islamic Centre Kota Baubau<br />
Ba&#8217;da Ashar &#8211; Selesai<br />
&#8221; 5 PERKARA YANG MEMBINASAKAN &#8221;<br />
&#8220;Barang siapa yang menempuh sebuah jalan untuk menuntut ilmu,<br />
Allah akan mudahkan untuknya jalan menuju SURGA&#8221;<br />
(HR. Muslim, no. 2699)<br />
Jazzakumullahu Khayran</p>
<p>Wa Baarakallahu Fiikum</p>
<p>penyelenggara:<br />
Yayasan Pendidikan Islam (YPI) An-Nashihah Buton<br />
Info: 085240675726 mukmin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/safari-dakwah-tauhid-kunci-kebahagiaan-dunia-dan-akhirat-sulawesi-tenggara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Nikmat Penghimpun Dunia</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/tiga-nikmat-penghimpun-dunia/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/tiga-nikmat-penghimpun-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Dec 2017 03:20:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat]]></category>
		<category><![CDATA[penghimpun dunia]]></category>
		<category><![CDATA[tiga nikmat penghimpun dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=4098</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa&#8217;izah, Lc. hafizhahullah Terkadang manusia menilai bahwa kekayaan dunia adalah banyaknya harta benda dan barang-barang dunia, sehingga yang tinggi dan bahagia dalam pandangan mereka adalah mereka yang menghimpun sebagian kekayaan harta benda, dan kedudukan duniawi yang tinggi di tengah manusia. Mereka tidak sadar bahwa hakikat kekayaan dunia, bukanlah pada semua itu.... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/tiga-nikmat-penghimpun-dunia/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="font-weight: 400;"><em><strong>Oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa&#8217;izah, Lc. </strong></em><em>hafizhahullah</em></p>
<p style="font-weight: 400;">Terkadang manusia menilai bahwa kekayaan dunia adalah banyaknya harta benda dan barang-barang dunia, sehingga yang tinggi dan bahagia dalam pandangan mereka adalah <strong>mereka yang menghimpun sebagian kekayaan harta benda</strong>, dan kedudukan duniawi yang tinggi di tengah manusia.</p>
<p style="font-weight: 400;">Mereka tidak sadar bahwa hakikat kekayaan dunia, bukanlah pada semua itu.</p>
<p style="font-weight: 400;">Di dalam sebuah hadits, Rasulullah –<em>shollallohu alaihi wa sallam- </em>bersabda,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>«مَنْ أصْبَحَ مِنْكُمْ آمِناً في سربِهِ، مُعَافَىً في جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيرِهَا» . رواه الترمذي، وقال: (حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ) .</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Barangsiapa yang diantara kalian merasakan keamanan dalam jiwanya, diberi kesehatan pada jasadnya, dan di sisinya ada makanan seharinya, maka seakan-akan dunia dengan segala isinya telah dihimpun untuknya.” </em>[HR. At-Tirmidziy dalam <strong><em>Sunan</em></strong>-nya (no. 2346). Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 2318)]</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Al-Imam Zainuddin Abdur Ro’uf bin Tajiddin Al-Haddadiy Al-Munawiy</strong> –rahimahullah- berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;يعني : من جمع الله له بين عافية بدنه وأمن قلبه حيث توجه وكفاف عيشه بقوت يومه وسلامة أهله فقد جمع الله له جميع النعم التي من ملك الدنيا لم يحصل على غيرها فينبغي أن لا يستقبل يومه ذلك إلا بشكرها بأن يصرفها في طاعة المنعم لا في معصية ولا يفتر عن ذكره.&#8221; اهـ من فيض القدير (6/ 68)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Maksudnya, barangsiapa yang Allah kumpulkan baginya antara kesehatan badan, keamanan hati kemana pun ia mengarah (pergi), dan tercukupi kehidupannya dengan adanya makanan sehari, serta keselamatan keluarga, maka sungguh Allah kumpulkan baginya seluruh kenikmatan yang barangsiapa yang menguasai dunia itu, maka ia tidak akan lagi meraih yang lainnya.</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>Karena itu, sepantasnya ia tidak menghadapi harinya itu, kecuali ia mensyukurinya, dengan menyalurkannya dalam ketaatan kepada (Allah) Yang Memberi nikmat, bukan (menyalurkannya) dalam kemaksiatan, dan tidak pula berhenti mengingat-Nya.” </em> [Lihat <strong><em>Faidhul Qodir</em></strong>(6/68)]</p>
<p style="font-weight: 400;">Di dalam hadits ini, diterangkan bahwa ada tiga kenikmatan yang menjadi pengumpul dunia bagi seorang hamba mukmin : rasa aman dalam jiwa dan raga, kesehatan jasad, dan rezki berupa makanan dalam sehari.</p>
<p style="font-weight: 400;">Nikmat aman adalah diantara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada sebagian hamba-Nya, dan sebagian yang lain tidak diberikan keamanan itu baginya.</p>
<p style="font-weight: 400;">Nikmat keamanan akan terasa amat berharga saat keamanan itu tercabut dari sisi manusia.</p>
<h3>Ketika itu, mereka mengalami ketakutan, huru-hara, kacau-balau, ketegangan, peperangan, dan lainnya</h3>
<p style="font-weight: 400;">Keamanan dan kedamaian adalah nikmat yang teramat besar. Manusia dalam meraihnya, rela mengeluarkan dan mengorbankan apa saja yang ia miliki.</p>
<p style="font-weight: 400;">Allah –azza wa jalla- mengingatkan hal ini di dalam firman-Nya,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>{لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ (1) إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ (2) فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (3) الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (4)} [قريش: 1 &#8211; 4]</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,  (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.  Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah Ini (Ka&#8217;bah),  Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” </em><strong>(QS. Quroisy : 1-4)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Al-Imam Abul Laits Nashr bin Muhammad As-Samarqondiy Al-Hanafiy </strong><em>–rahimahullah- </em>berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;رب هذا البيت، كفاهم مؤونة الخوف والجوع، فليألفوا العبادة، كما ألفوا رحلة الشتاء والصيف وقال الزجاج: كانوا يترحلون في الشتاء إلى الشام، وفي الصيف إلى اليمن.&#8221; اهـ من بحر العلوم (3/ 623)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Pemilik rumah ini (Allah) telah mencukupi mereka beban rasa takut dan lapar. Lantaran itu, hendaknya mereka membiasakan diri beribadah (kepada Allah saja, tanpa yang lainnya), sebagaimana mereka membiasakan diri dalam melakukan perjalanan dagang di musim dingin dan panas.</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>Az-Zajjaj berkata, ‘Dulu mereka melakukan perjalanan di musim dingin ke negeri Syam dan di musim panas ke negeri Yaman.” </em>[Lihat Bahr Al-‘Ulum ()]</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Orang-orang Quraisy biasa mengadakan perjalanan terutama untuk berdagang ke negeri Syam pada musim panas dan ke negeri Yaman pada musim dingin.</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Dalam perjalanan itu mereka mendapat jaminan keamanan dari penguasa-penguasa dari negeri-negeri yang dilaluinya.</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Ini adalah suatu nikmat yang amat besar dari Tuhan mereka. Oleh karena itu, sewajarnyalah mereka menyembah Allah yang telah memberikan nikmat itu kepada mereka.</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Nikmat keamanan ini terasa besar nilainya bagi mereka yang mengalami rasa takut dan tertimpa huru-hara.</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Inilah sebabnya Nabi Ibrahim –alaihish sholatu was salam- pernah berdoa meminta kepada Allah nikmat aman ini, sebagaimana yang abadikan dalam firman Allah –azza wa jalla-,</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>{وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ (35) رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (36) } [إبراهيم: 35 &#8211; </strong><strong>36</strong><strong>]</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: &#8220;Ya Tuhanku, jadikanlah negeri </em><em>i</em><em>ni (Mekah), <strong>negeri yang aman</strong>, dan jauhkanlah Aku beserta anak</em><em>-anak</em><em>ku dari menyembah berhala-berhala.</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>Ya Tuhanku, Sesungguhnya berhala-berhala itu Telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, Maka barangsiapa yang mengikutiku, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, Maka Sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” </em><strong>(QS. Ibrahim : )</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Al-Imam Mujahid bin Jabr Al-Makkiy </strong>–rahimahullah- berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;أجاب الله، جل ذكره، دعوة إبراهيم في ولده، فلم يعبد أحد منهم صنماً.&#8221; اهـ من الهداية الى بلوغ النهاية (5/ 3823)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Allah –jalla dzikruh- mengabulkan doa Ibrahim pada anak-anaknya. Karenanya, tidak ada seorangpun diantara mereka yang menyembah berhala.”</em></p>
<p style="font-weight: 400;"> Di dalam ayat ini, Ibrahim meminta dua hal yang urgen dan amat signifikan dalam kehidupan : nikmat aman dan penjagaan bagi keimanan dan tauhid beliau dan anak-anaknya.</p>
<p style="font-weight: 400;">Ibrahim –alaihish –sholatu was salam- meminta agar anak-anaknya dijaga dari kesyirikan berupa penyembahan berhala, sebab kesyirikan merupakan sebab utama yang merusak iman, dan bila iman rusak, maka ia akan menjadi sebab hilangnya rasa aman dalam kehidupan.</p>
<p style="font-weight: 400;">Mufassir Jazirah Arab, <strong>Al-Imam Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diy</strong><em> –rahimahullah- </em>berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;ذلك بسبب ما اتخذوا من دونه من الأنداد والأصنام، التي اتخذوها على حسب أهوائهم وإرادتهم الفاسدة، من غير حجة ولا برهان، وانقطعوا من ولاية الواحد الرحمن، فمن ثم كان المشرك مرعوبا من المؤمنين، لا يعتمد على ركن وثيق، وليس له ملجأ عند كل شدة وضيق، هذا حاله في الدنيا، وأما في الآخرة فأشد وأعظم.&#8221; اهـ تيسير الكريم الرحمن (ص: 152)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Yang demikian itu (yakni, lahirnya rasa takut), disebabkan oleh sesuatu yang mereka angkat dari selain Allah berupa sekutu-sekutu (bagi Allah dalam ibadah), dan berhala-berhala yang mereka angkat berdasarkan hawa nafsu mereka dan keinginan mereka yang rusak, tanpa ada hujjah dan keterangan, dan mereka pun terputus dari pengurusan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Penyayang.</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>Dari sanalah, seorang musyrik menjadi takut kepada orang-orang yang beriman. Sebab, ia (si musyrik) tidak bertumpa pada pilar yang kokoh dan ia tidak memiliki tempat berlindung pada setiap kesusahan dan kesempitan hidup. Inilah keadaannya seorang musyrik di dunia. Adapun di akhirat, maka keadaannya lebih susah dan besar.” </em>[Lihat <em><strong>Taisir Al-Karim Ar-Rahman</strong></em>, hlm. 152]</p>
<p style="font-weight: 400;">Semua ini menujukkan bahwa kesyirikan (menduakan Allah) dalam ibadah menjadi sebab utama munculnya rasa takut dalam hati seorang manusia yang melakukan ke-<em>syirik</em>-an.</p>
<p style="font-weight: 400;">Lihatlah kaum musyrikin dahulu yang menyembah jin-jin dan makhluk halus yang mereka agungkan. Mereka senantiasa dirongrong oleh rasa takut yang berlebihan, sehingga mendorong mereka untuk melakukan ritual ibadah dan persembahan-persembahan kepada makhluk yang mereka sembah dan ibadahi. Mereka pun membuat berbagai macam sesajen dan sembelihan yang dibisikkan oleh para setan yang mendorong mereka dalam berbuat kesyirikan.</p>
<p style="font-weight: 400;">Allah –azza wa jalla- menyinggung hal ini dalam firman-Nya,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>{وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا (6)} [الجن: 6]</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia <strong>meminta perlindungan</strong> kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” </em><strong>(QS. Al-Jin : 6)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;">Meminta perlindungan kepada jin dari marabahaya merupakan satu diantara warna kesyirikan yang dikutuk dalam Islam.</p>
<p style="font-weight: 400;">Ia adalah kebiasaan kaum jihilah yang merebak di kalangan mereka, karena kosongnya jiwa mereka dari tauhid (mengesakan Allah) dalam ibadah.</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Abul Faroj Abdur Rahman Ibnul Jauziy</strong> <em>–rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;</strong><strong>الرجل في الجاهلية كان إذا سافر فأمسى في قفر من الأرض قال: أعوذ بِسِّيدِ هذا الوادي من شَرِّ سُفَهَاءِ قومه، فيبيت في جِوارٍ منهم حتى يصبح.&#8221; زاد المسير في علم التفسير (4/ 347)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Seorang musyrik di masa jahiliah, bila ia bersafar, lalu di sore hari ia berada di suatu tempat yang sunyi lengang, maka ia berdoa (kepada jin), “Aku berlindung kepada pemilik lembah ini (yakni, jin) dari keburukan jin-jin buruk yang bodoh.” Lalu si musyrik ini pun bermalam di tempat itu dalam perlindungan jin (menurut persangkaannya) sampai datang waktu pagi.” </em>[Lihat<strong><em>Zadul Masir</em></strong>, (4/347)]</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>P</strong><strong>erhatikanlah kaum musyrikin ini, </strong><strong>mereka minta perlindungan kepada jin yang mereka anggap </strong><strong>k</strong><strong>uasa di tempat itu.</strong></p>
<p style="font-weight: 400;">Jiwa mereka selalu takut kepada jin-jin dan makhluk halus, karena kosongnya jiwa mereka dari pengagungan kepada Allah, Pemilik alam semesta.</p>
<p style="font-weight: 400;">Mereka lebih besar rasa takutnya kepada jin-jin itu disbanding rasa takutnya kepada Allah –azza wa jalla- yang melarang mereka dari kesyirikan, dan sebaliknya memerintahkan mereka untuk men-tauhid-kan (mengesakan Allah) dalam semua ibadah yang mereka kerjakan!</p>
<p style="font-weight: 400;">Itulah hukuman kaum yang mengotori dan mencampuradukkan keimanan dan tauhidnya dengan amalan-amalan kesyirikan yang dimurkai Allah.</p>
<p style="font-weight: 400;">Allah –tabaroka wa ta’la- berfirman,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>{الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (82)} [الأنعام: 82]</strong></p>
<p style="font-weight: 400;">“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”<strong>(QS. Al-An’am : 82)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;">Ayat ini menerangkan kepada anda bahwa siapa yang menjaga kemurnian iman dan tauhidnya dari noda-noda kesyirikan, bid’ah, dan dosa-dosa, maka ia akan mendapatkan <strong>keamanan</strong> yang sempurna dan diberi anugerah besar berupa <strong>hidayah</strong> menuju jalan keselamatan menuju surga.</p>
<p style="font-weight: 400;">Al-Imam Abul Muzhoffar Manshur bin Muhammad As-Sam’aniy –rahimahullah- berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;</strong><strong>وَمَعْنَاهُ: الَّذين آمنُوا، وَلم يخلطوا إِيمَانهم بشرك، هَذَا هُوَ قَول أبي بكر، وَعلي، وَحُذَيْفَة، وسلمان أَن المُرَاد بالظلم الشّرك، وَقد صَحَّ بِرِوَايَة ابْن مَسْعُود: &#8221; أَنه لما نزلت هَذِه الْآيَة؛ شقّ ذَلِك على الصَّحَابَة، وَقَالُوا: أَيّنَا لم يظلم نَفسه؟ ! فَقَالَ: لَيْسَ الْأَمر كَمَا تظنون، إِنَّمَا الظُّلم هَاهُنَا بِمَعْنى الشّرك.&#8221; اهـ من تفسير السمعاني (2/ 121)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Maknanya : “orang-orang yang beriman, dalam kondisi mereka tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kesyirikan&#8230;”</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>Ini adalah pendapat Abu Bakar, Ali, Hudzaifah, dan Salman bahwa yang dimaksud dengan “kezaliman” adalah kesyirikan.</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>Sungguh sebuah hadits shohih pada riwayat Ibnu Mas’ud bahwa tatkala ayat itu turun, maka hal itu menjadi berat bagi para sahabat, dan mereka bertanya, “Siapakah diantara kami yang tidak menzalimi dirinya?!</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>Nabi –shollallohu alaihi wa sallam- menjawab, “Bukanlah permasalahannya seperti yang kalian sangka. Hanyalah kezaliman disini (yang terdapat dalam ayat itu) adalah bermakna kesyirikan.” </em> [Lihat <strong><em>Tafsir A-Sam’aniy</em></strong>(2/121), cet. Dar Al-Wathon, 1418 H]</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>الذين صدَّقوا الله وأخلصُوا له العبادة، ولم يخلطوا عبادتهم إياه وتصديقهم له بظلم = يعني: بشرك = ولم يشركوا في عبادته شيئًا، ثم جعلوا عبادتهم لله خالصًا، أحقّ بالأمن من عقابه</strong><strong>.&#8221; اهـ من </strong><strong>تفسير الطبري = جامع البيان ت شاكر (11/ 492)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Orang-orang yang membenarkan Allah, dan memurnikan ibadahnya kepada Allah saja, dalam keadaan mereka tidak mencampurbaurkan ibadah mereka kepada Allah dan pembenaran mereka kepada-Nya dengan kezaliman, yakni dengan kesyirikan; mereka tidak menyekutukan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Allah, lalu mereka jadikan ibadah mereka kepada Allah, murni hanya untuk Allah.</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>Mereka inilah yang berhak mendapatkan keamanan dari siksaan-Nya.” </em>[Lihat <strong><em>Jami’ Al-Bayan </em></strong>(11/492), cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1420 H]</p>
<p style="font-weight: 400;">Para pembaca yang budiman, perkara kedua yang menjadi sebab seseorang meraup kenikmatan yang melebihi kenikmatan dunia adalah <strong>nikmat kesehatan jasad</strong>.</p>
<p style="font-weight: 400;">Setiap orang akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa tatkala ia diberi nikmat kesehatan jasad. Rasa nikmatnya melebihi segala nikmat dunia.</p>
<p style="font-weight: 400;">Tidak ada yang dapat merasakan dan menghargai nilai kesehatan, melainkan mereka yang telah dicabut kesehatannya.</p>
<p style="font-weight: 400;">Sebuah nikmat besar berupa mata yang sehat, susah dihargai dengan kenikmatan apapun di dunia ini.</p>
<p style="font-weight: 400;">Manusia rela mengeluarkan apapun dari harta bendanya untuk menjaga dan merawat matanya. Ia rela membayar biaya operasi matanya saat terganggu kesehatan dan kenormalannya. Berapapun biayanya, ia berusaha menjaga kesehatan matanya.</p>
<p style="font-weight: 400;">Nikmat kesehatan mata dan anggota-anggota badan lainnya, wajib kita jaga dan syukuri dengan menggunakannya untuk perkara-perkara yang halal dan dicintai oleh Allah –tabaroka wa ta’ala-.</p>
<p style="font-weight: 400;">Andaikata seorang hamba dililit kemiskinan, maka hakikatnya ia tetap kaya. Karena, kesehatan jasadnya merupakan nikmat yang tiada taranya.</p>
<p style="font-weight: 400;">Ghossan berkata, ‘Sebagian sahabat-sahabat kami dari kalangan penduduk Bashrah menceritakan kepada kami,</p>
<p style="font-weight: 400;">حَدَّثَنِي بَعْضُ، أَصْحَابِنَا مِنَ الْبَصْرِيِّينَ قَالَ:</p>
<p style="font-weight: 400;">&#8220;جَاءَ رَجُلٌ إِلَى يُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ فَشَكَى إِلَيْهِ ضِيقًا مِنْ حَالِهِ وَمَعَاشِهِ، وَاغْتِمَامًا مِنْهُ بِذَلِكَ،</p>
<p style="font-weight: 400;">فَقَالَ لَهُ يُونُسُ: أَيَسُرُّكَ بِبَصَرِكَ هَذَا الَّذِي تُبْصِرُ بِهِ مِائَةُ أَلْفٍ؟ قَالَ: لَا،</p>
<p style="font-weight: 400;">قَالَ: فَسَمْعُكَ الَّذِي تَسْمَعُ بِهِ يَسُرُّكَ بِهِ مِائَةُ أَلْفٍ؟ قَالَ: لَا،</p>
<p style="font-weight: 400;">قَالَ: فَلِسَانُكَ الَّذِي تَنْطِقُ بِهِ مِائَةُ أَلْفٍ؟ قَالَ: لَا،</p>
<p style="font-weight: 400;">قَالَ: فَفُؤَادُكَ الَّذِي تَعْقِلُ بِهِ مِائَةُ أَلْفٍ؟ قَالَ: لَا،</p>
<p style="font-weight: 400;">قَالَ: فَيَدَاكَ يَسُرُّكَ بِهِمَا مِائَةُ أَلْفٍ؟ قَالَ: لَا؟</p>
<p style="font-weight: 400;">قَالَ: فَرِجْلَاكَ؟</p>
<p style="font-weight: 400;">قَالَ: فَذَكَّرَهُ نِعَمَ اللهِ عَلَيْهِ، فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ يُونُسُ، قَالَ: أَرَى لَكَ مِئِينَ أُلُوفًا، وَأَنْتَ تَشْكُو الْحَاجَةَ.&#8221; أخرجه أبو نعيم في حلية الأولياء وطبقات الأصفياء (3/ 22)</p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Seorang laki-laki pernah dating kepada Yunus bin Ubaid, seraya mengadukan kepada Yunus tentang kesempitan keadaan dan kehidupannya, serta gundah gulananya lantaran hal itu.</em></p>
<p style="font-weight: 400;">Yunus berkata kepadanya, “Apakah menggembirakan dirimu uang sebanyak 100 ribu sebagai ganti bagi matamu yang kamu gunakan untuk melihat?</p>
<p style="font-weight: 400;">Laki-laki itu menjawab, “Tidak.”</p>
<p style="font-weight: 400;">Yunus berkata kepadanya, “Apakah menggembirakan dirimu uang sebanyak 100 ribu sebagai ganti bagi pendengaranmu yang kamu gunakan untuk mendengar?</p>
<p style="font-weight: 400;">Laki-laki itu menjawab, “Tidak.”</p>
<p style="font-weight: 400;">Yunus berkata kepadanya, “Apakah menggembirakan dirimu uang sebanyak 100 ribu sebagai ganti bagi lisanmu yang kamu gunakan untuk berbicara?</p>
<p style="font-weight: 400;">Laki-laki itu menjawab, “Tidak.”</p>
<p style="font-weight: 400;">Yunus berkata kepadanya, “Apakah menggembirakan dirimu uang sebanyak 100 ribu sebagai ganti bagi hatimu yang kamu gunakan untuk berpikir?</p>
<p style="font-weight: 400;">Laki-laki itu menjawab, “Tidak.”</p>
<p style="font-weight: 400;">Yunus berkata kepadanya, “Apakah menggembirakan dirimu uang sebanyak 100 ribu sebagai ganti bagi kedua tanganmu?</p>
<p style="font-weight: 400;">Laki-laki itu menjawab, “Tidak.”</p>
<p style="font-weight: 400;">Yunus berkata kepadanya, “Apakah menggembirakan dirimu uang sebanyak 100 ribu sebagai ganti bagi kedua kakimu?</p>
<p style="font-weight: 400;">Kata rawi, “Kemudian Yunus mengingatkannya tentang nikmat-nikmat Allah atas laki-laki itu, lalu Yunus menghadap kepada orang itu, seraya berkata, “Aku lihat kamu memiliki ratusan ribu dinar, sementara itu kamu masih mengeluhkan hajat-hajatmu.” [Atsar Riwayat Abu Nu’aim Al-Ashbahaniy dalam <strong><em>Hilyah Al-Auliya’ wa Thobaqot Al-Ashfiya’</em></strong> (3/22)]</p>
<p style="font-weight: 400;">Nikmat sehat ini sering kali disia-siakan oleh kebanyakan manusia, apalagi di zaman ini. Mereka lupa dan lalai dari menggunakannya dalam amal-amal sholih, sebagaimana halnya waktu-waktu mereka dilalaikan dari amal-amal sholih, bahkan tidak jarang mereka isi dengan dosa dan maksiat.</p>
<p style="font-weight: 400;">Rasulullah –shollallohu alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>«نِعْمَتَانِ مَغبونٌ فيهما كَثيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ، وَالفَرَاغُ» . رواه. البخاري.</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Dua nikmat yang kebanyakan manusia merugi padanya : kesehatan dan waktu kosong.” </em>[HR. Al-Bukhoriy dalam<strong><em>Shohih</em></strong>-nya (6412)]</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Al-Imam Muhammad Abdur Rahman Al-Mubarokfuriy </strong><em>–rahimahullah- </em>berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;لَا يَعْرِفُ قَدْرَ هَاتَيْنِ النِّعْمَتَيْنِ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ حَيْثُ لَا يَكْسِبُونَ فِيهِمَا مِنَ الْأَعْمَالِ كِفَايَةَ مَا يَحْتَاجُونَ إِلَيْهِ فِي مَعَادِهِمْ فَيَنْدَمُونَ عَلَى تَضْيِيعِ أَعْمَارِهِمْ عِنْدَ زَوَالِهَا وَلَا يَنْفَعُهُمُ الندم.&#8221; اهـ من تحفة الأحوذي (6/ 485)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Kebanyakan manusia tidak mengenal nilai dua nikmat ini, dimana mereka tidak mengusahakan untuk keduanya sesuatu berupa amalan-amalan yang mencukupi sesuatu yang mereka butuhkan di negeri akhirat mereka. Lantaran itu, mereka menyesal karena menyia-nyiakan umur mereka, saat umur mereka telah habis, sementara penyesalan tidak lagi bermanfaat bagi mereka.” </em>[Lihat<strong><em>Tuhfah Al-Ahwadziy</em></strong> (6/485)]</p>
<p style="font-weight: 400;">Waktu-waktu yang kosong dan umur yang lengang dari kebaikan, akan menjadi sebab penyesalan dan tangisan bagi seorang hamba pada Hari Akhir.</p>
<p style="font-weight: 400;">Allah –ta’ala- berfirman,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>{يَوْمَ يَجْمَعُكُمْ لِيَوْمِ الْجَمْعِ ذَلِكَ يَوْمُ التَّغَابُنِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ} [التغابن: 9]</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“(Ingatlah) hari (dimana) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan. Itulah hari kerugian. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.” </em> <strong>[QS. At-Taghobun : 9]</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Al-Imam Ibnu Jauziy Ad-Dimasyqiy </strong><em>–rahimahullah-,</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;</strong><strong>قَدْ يَكُونُ الْإِنْسَانُ صَحِيحًا وَلَا يَكُونُ مُتَفَرِّغًا لِشُغْلِهِ بِالْمَعَاشِ وَقَدْ يَكُونُ مُسْتَغْنِيًا وَلَا يَكُونُ صَحِيحًا فَإِذَا اجْتَمَعَا فَغَلَبَ عَلَيْهِ الْكَسَلُ عَنِ الطَّاعَةِ فَهُوَ الْمَغْبُونُ وَتَمَامُ ذَلِكَ أَنَّ الدُّنْيَا مَزْرَعَةُ الْآخِرَةِ وَفِيهَا التِّجَارَةُ الَّتِي يَظْهَرُ رِبْحُهَا فِي الْآخِرَةِ فَمَنِ اسْتَعْمَلَ فَرَاغَهُ وَصِحَّتَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ فَهُوَ الْمَغْبُوطُ وَمَنِ اسْتَعْمَلَهُمَا فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ فَهُوَ الْمَغْبُونُ لِأَنَّ الْفَرَاغَ يَعْقُبُهُ الشُّغْلُ وَالصِّحَّةُ يَعْقُبُهَا السَّقَمُ.&#8221; اهـ من فتح الباري لابن حجر (11/ 230)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Terkadang seorang manusia sehat, namun ia tidak fokus (dalam beramal sholih), disebabkan kesibukannya dengan kehidupan dunia. Terkadang pula ia diberi kekayaan, namun ia tidak sehat.</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>Jika kedua hal itu (kesehatan dan kelowongan waktu) terkumpul (pada diri seorang manusia), lalu ia dikuasai oleh rasa malas dari (mengerjakan) ketaatan, maka ia adalah orang yang merugi.</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>Kesempurnaan hal itu bahwa dunia adalah ladang akhirat, dan di dunia terdapat perdagangan yang akan tampak keuntungannya di akhirat.</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>S</em><em>i</em><em>apa </em><em>saja </em><em>yang menggunakan waktu lowongnya dan kesehatannya dalam ketaatan kepada Allah, maka ia adalah seorang “maghbuth” </em><em>(yang diidam-idamkan).</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>Barangsiapa yang menggunakannya dalam maksiat, maka ia adalah seorang “maghbun” (merugi). Sebab, waktu lowong (kosong) akan diiringi oleh kesibukan, dan kesehatan diiringi oleh sakit.” </em>[Lihat <strong><em>Fathul Bari</em></strong> (11/230) karya Ibnu Hajar]</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Kesehatan dan waktu lowong adalah dua modal pokok seorang manusia yang melakukan bisnis dan perniagaan akhirat.</strong></p>
<p style="font-weight: 400;">Siapa yang menggunakannya dalam ketaatan dan menjauhkannya dari dosa dan maksiat, maka ia akan mendapatkan buah manis berupa surga. Itulah keberuntungan yang hakiki.</p>
<p style="font-weight: 400;">Sebaliknya, siapa yang menggunakan dua modal pokok itu dalam dosa dan maksiat, maka sungguh ia akan mendapatkan kerugian dalam perniagaan dan bisnis akhiratnya. Sebab, ia akan memetik buah pahit berupa api neraka yang menyala-nyala.</p>
<p style="font-weight: 400;">Para pembaca yang budiman, nikmat ketiga yang akan menghimpun kebahagiaan dunia adalah anugerah berupa makanan dan minuman, sekalipun pas-pasan.</p>
<p style="font-weight: 400;">Bahan makanan itu mencukupi untuk diri dan keluarganya dalam sehari. Bagaimana susahnya, jika seorang hamba masih diberi rezki berupa bahan makanan yang menguatkan dirinya di atas ketaatan kepada Allah –azza wa jalla-, maka ia sungguh di atas kebahagiaan.</p>
<p style="font-weight: 400;">Alangkah banyaknya manusia yang diberi kesehatan dan rasa aman, namun ia tidak diberi rezki berupa makanan dan minuman, entah karena kefakirannya, atau tidak adanya bahan makanan, atau entah karena mahalnya, sehingga tidak terjangkau.</p>
<p style="font-weight: 400;">Jika seseorang mengalami kelaparan, maka banyak jalan-jalan kebaikan yang tidak mampu ia lakukan, karena hilangnya tenaga.</p>
<p style="font-weight: 400;">Inilah hikmahnya Rasulullah –shollallohu alaihi wa sallam- pernah berdoa begini dalam rangka berlindung dari rasa lapar yang menghalangi dari kebaikan,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;اللهمَ إني أعوذُ بكَ عن الجُوع, فإنه بِئسَ الضَّجيعُ، وأعوذُ بكَ مِن الخِيانَة، فإنها بئسَتِ البِطَانَةُ&#8221; </strong><strong> </strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa lapar. Karena, lapar itu adalah seburuk-buruk teman tidur, dan aku berlindung kepada-Mu dari khianat. Karena, khianat itu adalah seburuk-buruk teman pengiring.” </em> [HR. Abu Dawud dalam <strong><em>Sunan</em></strong>-nya (1547) dan Ibnu Majah dalam <strong><em>Sunan</em></strong>-nya (3354). Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam dalam<strong><em>Shohih Al-Jami’ </em></strong>(1283)]</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Al-Imam Abdullah bin Umar Al-Baidhowiy</strong> –<em>rahimahullah-</em> berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;</strong><strong>استعاذ منه لأنه يمنع استراحة البدن, ويحلل المواد المحمودة بلا بدل, ويشوش الدماغ, ويثير الأفكار الفاسدة, والخيالات الباطلة, ويضعف البدن عن القيام بوظائف الطاعات.&#8221; اهـ من تحفة الأبرار شرح مصابيح السنة (2/ 107)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Beliau (yakni, Nabi –alahish sholatu was salam-) memohon perlindungan (kepada Allah) dari rasa lapar. Sebab, rasa lapar akan menghalangi istirahatnya badan, mengolah bahan-bahan makanan tanpa ganti, mengganggu pikiran, dan memancing pikiran-pikiran rusak dan khayalan-khayalan batil, serta melemahkan badan dari mengerjakan tugas-tugas ketaatan.”  </em> [Lihat<strong><em>Tuhfah Al-Abror</em></strong> (2/107), karya Al-Baidhowiy, <em>tahqiq</em>Nuruddin Tholib<em>, </em>cet. Wuzaroh Al-Auqof wa Asy-Syu’un Al-Islamiyyah bi Al-Kuwait, 1433 H]</p>
<p style="font-weight: 400;">Sebuah keberuntungan besar di kala seorang muslim diberi rezki yang pas-pasan, namun ia syukuri dengan menggunakannya dalam rangka menguatkan diri dalam ketaatan, lalu ia ridho dengan pembagian rezki yang dapatkan setelah ia berusaha meraih dengan jalan yang halal.</p>
<p style="font-weight: 400;">Rasulullah –shollallohu alaihi wa sallam- bersabda,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>«قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ»</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Sungguh beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezki yang pas-pasan, dan diberi qona’ah </em>(rasa puas) terhadap rezki yang Allah berikan kepadanya.” [HR. Muslim dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (no. 1054)]</p>
<p style="font-weight: 400;">Apa yang dimaksud dengan “rezki yang pas-pasan”?</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Al-Imam Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawiy </strong>rahimahullah- berkata dalam menjelaskannya,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;الْكَفَافُ الْكِفَايَةُ بِلَا زِيَادَةٍ وَلَا نَقْصٍ وَفِيهِ فَضِيلَةُ هَذِهِ الْأَوْصَافِ.&#8221; اهـ من شرح </strong><strong>صحيح</strong><strong> مسلم (7/ 145) للنووي</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Pas-pasan : cukup, tanpa ada kelebihan dan kekurangan. Di dalam hadits itu terdapat fadhilah (keutamaan) sifat-sifat ini.” </em> [Lihat Syarh Shohih Muslim (7/145)]</p>
<p style="font-weight: 400;">Harta yang pas-pasan adalah harta yang tidak berlebihan sampai menyebabkan seorang hamba terlalaikan dengannya dari ketaatan dan ibadah, dan juga harta itu tidak kurang sampai menyebabkan seorang hamba menjadi hina dan rendah di hadapan manusia. Akhirnya, ia pun meminta-minta dan menengadahkan tangannya di depan manusia.</p>
<p style="font-weight: 400;">Para pembaca yang budiman, kebahagiaan bukanlah terbatas pada kekayaan harta benda. Tapi hakikat kebahagiaan itu adalah diberinya seorang hamba rasa aman, kesehatan jasad dan kekuatan yang cukup dalam beribadah dan taat kepada Allah.</p>
<p style="font-weight: 400;">Siapa saja yang diberi kenikmatan-kenikmatan ini –sekalipun ia miskin-, maka sungguh ia termasuk orang-orang yang berbahagia, dan diberi sebuah anugerah besar yang melebihi dunia beserta isinya.</p>
<p style="font-weight: 400;">Faishol bin Abdil Aziz Alu Mubarok Al-Huroimiliy –rahimahullah- berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;</strong><strong>فإذا كان المسلم آمنًا في محله، صحيحًا</strong><strong>،</strong><strong> عنده من القوت ما يكفه عن سؤال الناس، فهو في نعمة عظيمة.&#8221; اهـ</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Jika seorang muslim merasakan keamanan di kampungnya, sehat, dan di sisinya ada makanan yang menghalanginya dari meminta-minta, maka ia berada dalam kenikmatan yang amat besar.” </em>[Lihat <strong><em>Tathriz Ar-Riyadh</em></strong> (hlm. 341)]</p>
<p style="font-weight: 400;">Inilah tiga nikmat penghimpun dunia bagi seorang. Siapa pun yang mendapatkan tiga nikmat ini, maka hendaknya ia memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>========</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Tulisan ini rampung di rumah kami –semoga Allah memberkahi penghuninya-, Kompleks Perumahan Tanwirus Sunnah, Jalan Musholla, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa, Sulsel.</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>22 Muharrom 1439 H/13 Oktober 2017</strong></p>
<p style="font-weight: 400;">Sumber:<br />
<a href="https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/12/tiga-nikmat-penghimpun-dunia.html#more">https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/12/tiga-nikmat-penghimpun-dunia.html#more</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/tiga-nikmat-penghimpun-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Audio] Khutbah Jum&#8217;at Ulama: Empat Musuh Manusia di Dunia &#8211; Makassar</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/audio-khutbah-jumat-ulama-empat-musuh-manusia-di-dunia-makassar/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/audio-khutbah-jumat-ulama-empat-musuh-manusia-di-dunia-makassar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Jul 2017 08:52:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Unduhan]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Empat Musuh Manusia di Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Manusia di Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Musuh Manusia di Dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3583</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, Silakan unduh Khutbah Jum&#8217;at Syaikh 27 Syawal 1438H/21 Juli 2017 oleh Syaikh Muhammad Abdullah Bamusa di Masjid Luqmanul Hakim Antang Makassar, diterjemahkan oleh Ustadz Muhammad Malik Al-Buthony. semoga bermanfaat. Empat Musuh Manusia di Dunia &#160; bit.ly/TAUAMKS #TAUAMKS2017]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, Silakan unduh Khutbah Jum&#8217;at Syaikh 27 Syawal 1438H/21 Juli 2017 oleh Syaikh Muhammad Abdullah Bamusa di Masjid Luqmanul Hakim Antang Makassar, diterjemahkan oleh Ustadz Muhammad Malik Al-Buthony. semoga bermanfaat.</p>
<p><a href="http://bit.ly/2v3zHQX">Empat Musuh Manusia di Dunia</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>bit.ly/TAUAMKS<br />
#TAUAMKS2017</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/audio-khutbah-jumat-ulama-empat-musuh-manusia-di-dunia-makassar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara Salaf 67: Harga Sebuah Dunia</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-67-harga-sebuah-dunia/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-67-harga-sebuah-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2017 02:07:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Harga Sebuah Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Sebuah Dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3128</guid>
		<description><![CDATA[Dunia adalah sesuatu yang indah. Keindahannya kadang melalaikan manusia dari tujuan penciptaannya berupa ibadah dan ketaatan kepada Allah. Kecintaan kepada dunia seringkali membuat sebagian manusia menjadi serakah dalam mengejarnya sampai dunia menjauhkannya dari kebaikan dan ketaatan, serta melanggar keharaman dalam agama. Dunia pun jika sudah menguasai hati sesorang hamba, maka dunia akan mengubahnya menjadi manusia... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-67-harga-sebuah-dunia/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dunia adalah sesuatu yang indah. Keindahannya kadang melalaikan manusia dari tujuan penciptaannya berupa ibadah dan ketaatan kepada Allah.</p>
<p>Kecintaan kepada dunia seringkali membuat sebagian manusia menjadi serakah dalam mengejarnya sampai dunia menjauhkannya dari kebaikan dan ketaatan, serta melanggar keharaman dalam agama.</p>
<p>Dunia pun jika sudah menguasai hati sesorang hamba, maka dunia akan mengubahnya menjadi manusia kikir yang tidak ingin mengulurkan tangannya dalam bersedekah kepada fakir dan miskin.</p>
<p>Ia lebih rela menghabiskan harta bendanya untuk bersenang-senang dalam perkara yang tidak membuahkan pahala. Parahnya lagi, bila hamburkan uangnya dalam maksiat.</p>
<p>Orang seperti ini tidak mengerti hakikat dunia yang melalaikannya. Ia tidak mengerti bagaimana caranya membelanjakan dan menyalurkan harta bendanya untuk kehidupan akhirat yang abadi.</p>
<p>Padahal apa yang kita infakkan di jalan-jalan kebaikan, semuanya akan menjadi tabungan pahala kita di akhirat yang akan berguna dan abadi di sisi Allah -Tabaroka wa Ta&#8217;ala-.</p>
<p>Adapun harta benda yang kita tumpuk dan kita habiskan tanpa digunakan untuk sedekah dan kebaikan ukhrawi yang abadi, maka semua itu tidak akan bermanfaat sedikit pun, bahkan ia akan habis dan diwarisi oleh keluarga kita.</p>
<p>Malik bin Dinar Al-Bashriy rahimahullah berkata,</p>
<p>لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى، وَاْلآخِرَةُ مِنْ خَزْفٍ يَبْقَى، لَكَانَ الْوَاجِبُ أَنْ يُؤْثَرَ خَزْفٌ يَبْقَى، عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى. قَالَ: فَكَيْفَ وَاْلآخِرَةُ مِنْ ذَهَبٍ يَبْقَى، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزْفٍ يَفْنَى.</p>
<p>&#8220;Andaikan dunia terbuat dari emas yang fana (tidak abadi), sedangkan akhirat terbuat dari tanah tembikar yang abadi, maka kewajiban (seorang hamba) adalah mengutamakan tanah tembikar yang abadi di atas emas yang fana.<br />
Nah, bagaimana lagi halnya (bila) akhirat (surga) itu terbuat dari emas, sedangkan dunia terbuat dari tanah tembikar yang fana.&#8221;<br />
[Al-Jâmi&#8217; Li Ahkâm Al-Qur`ân 20/24 karya Al-Qurthubiy]</p>
<p>Subhanallah, alangkah benarnya yang beliau katakan. Dunia bagaimanapun banyaknya jika bukan untuk membangun istana di akhirat, maka dunia itu tiada harganya sedikit pun.</p>
<p>Sebaliknya, dunia bagaimanapun sedikitnya jika kita manfaatkan dan infakkan untuk akhirat kita, maka ia jauh lebih mulia dibandingkan emas yang sebesar dunia.</p>
<p>Ustadz Abdul Qodir, Lc.<br />
www.abufaizah75.blogspot.com<br />
www.fb.com/abu.faizah03</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-67-harga-sebuah-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fatwa Para Ulama Sunnah yang Menjelaskan Hukum Demonstrasi di Berbagai Belahan Dunia</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/fatwa-para-ulama-sunnah-yang-menjelaskan-hukum-demonstrasi-di-berbagai-belahan-dunia/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/fatwa-para-ulama-sunnah-yang-menjelaskan-hukum-demonstrasi-di-berbagai-belahan-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Nov 2016 02:21:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Belahan Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Demonstrasi di Berbagai Belahan Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Para Ulama Sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Fatwa Para Ulama Sunnah yang Menjelaskan Hukum Demonstrasi di Berbagai Belahan Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum Demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[ulama sunnah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=2844</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini kami sengaja turunkan, karena sebagian pihak mengklaim bahwa fatwa ulama yang mengharamkannya, hanya berkaitan kasus demo di Saudi, seperti yang diklaim pihak Wahdah Islamiyah.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa&#8217;izah</strong><em> -hafizhahullah-</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demonstrasi merupakan musibah yang merebak di berbagai belahan bumi, baik dilakukan oleh kaum kafir, maupun kaum muslimin.</p>
<p>Banyaknya demonstrasi yang terjadi menyebabkan banyak pihak yang melayangkan surat dan pertanyaan kepada para ulama besar Ahlus Sunnah di Timur Tengah.</p>
<p>Penting kiranya kami nukilkan beberapa fatwa para ulama besar kita tentang hukum demonstrasi yang terjadi di berbagai belahan dunia tersebut.</p>
<p>Tulisan ini kami sengaja turunkan, karena sebagian pihak mengklaim bahwa fatwa ulama yang mengharamkannya, hanya berkaitan kasus demo di Saudi, seperti yang diklaim pihak <strong><em>Wahdah Islamiyah</em></strong>.</p>
<p>Padahal pada realitanya, demo hampir bisa dibilang tidak ada demo terjadi di Saudi, kecuali 1-2 kali saja. Damai demo itu pun langsung diingkari oleh para ulama Saudi. &lt;http://www.islamtoday.net/albasheer/artshow-12-147145.htm&gt;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Justru di luar Saudi yang lebih banyak, makanya penanya kebanyakannya dari luar Saudi, atau pertanyaannya tentang kasus demo di luar Saudi.</p>
<p>Para pembaca yang budiman, berikut nukilan fatwa para ulama sunnah tentang haramnya demonstrasi (baik damai, apalagi kacau) :</p>
<p><strong>Syaikh Abdul Aziz Ibn Baz</strong> <em>–rahimahullah- </em>berkata, <em>“Aku tidak memandang bahwa demonya para wanita ataupun demonya para laki-laki termasuk solusi. Akan tetapi itu merupakan musibah, dan termasuk sebab kejelekan, termasuk sebab dizhaliminya sebagian orang, dengan cara yang tak benar. Akan tetapi cara-cara yang syar’i adalah <strong>menyurat, menasihati berda’wah kepada kebaikan dengan cara damai. Demikianlah yang ditempuh para ulama, </strong>demikianlah para sahabat Nabi –Shallallahu alaih wasallam- dan para pengikut mereka dalam kebaikan: dengan cara menyurat, berbicara langsung dengan orang yang berbuat salah, dengan pemerintah, dan penguasa dengan menghubunginya, menasihatinya, dan menyuratinya tanpa membeberkannya di atas mimbar dan lainnya!! Katanya: Pemerintah melakukan begini, akhirnya begini, Wallahul Musta’an“.</em></p>
<p>Beliau juga berkata: <em>“Dikategorikan dalam masalah ini apa yang dilakukan oleh sebagian orang berupa demo yang menimbulkan keburukan yang besar bagi para da’i. Maka karnaval dan teriak-teriakan bukanlah merupakan jalan untuk memperbaiki dan da’wah<a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6479688433065898056#_ftn1" name="_ftnref1"><strong>[1]</strong></a>. Jalan yang benar (dalam menasihati pemerintah,pent.) adalah dengan cara berziarah dan menyurat dengan cara yang baik”</em>.<a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6479688433065898056#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p><strong>Fadhilah Asy-Syaikh Al-Allamah Sholeh bin Ghoshun <em>-rahimahullah- </em></strong>berkata ketika menjelaskan hukum demo,<em>“Jadi seorang da’i, orang yang memerintahkan kebaikan, dan melarang dari kemungkaran, wajiblah bagi dirinya untuk menghiasi dirinya dengan kesabaran, mengharapkan pahala dan ganjaran (di sisi Allah), menanggung segala sesuatu yang ia dengarkan atau terkadang ia dicemooh dalam dakwahnya. Adapun seorang da’I menempuh cara kekerasan, atau dia -wal’iyadzu billah- menempuh cara dengan menyakiti manusia, mengganggu orang, atau menempuh cara perselisihan dan pertengkaran, dan memecah belah kesatuan. <strong>Ini merupakan perkara-perkara setan</strong>. <strong>Dia adalah prinsip dakwah Khawarij. Inilah prinsip dakwah Khawarij !!</strong> Mereka itulah yang mengingkari kemungkaran dengan senjata, mengingkari sesuatu perkara-perkara yang mereka anggap tidak boleh dan menyelisihi keyakinan mereka dengan cara perang, menumpahkan darah, mengkafirkan orang, dan beberapa perkara lain. Maka bedakanlah antara dakwah para sahabat Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- dan Salafush Sholeh dengan dakwah Khawarij dan orang yang menempuh manhaj (jalan hidup) mereka, dan menjalani jalan mereka. Dakwahnya para sahabat dengan cara hikmah, nasehat, menjelaskan kebenaran, dengan penuh kesabaran, dengan berhias kesabaran, dan mencari pahala dan ganjaran. Sedangkan dakwah Khawarij dengan cara membunuh manusia, menumpahkan darah mereka, mengkafirkan mereka, memecah-belah kesatuan, dan merobak-robek barisan kaum muslimin. Ini adalah perbuatan-perbuatan keji dan bid’ah. Sepantasnya orang-orang yang mengajak kepada perkara-perkara seperti ini dijauhkan dan dijauhi, diburuk-sangkai. Mereka itu telah memecah-belah kesatuan kaum muslimin. Padahal Persatuan itu merupakan rahmat,sedangkan perpecahan merupakan sengsara dan adzab-wal’iyaadzu billah-. Andai suatu penduduk negara di atas kebaikan, bersatu di atas satu kata, niscaya mereka akan memiliki kharisma dan wibawa. Akan tetapi penduduk negara kita sekarang sudah berkelompok-kelompok dan terkotak-kotak. Mereka telah sobek, berselisih, musuh dari kalangan mereka masuk ke tengah-tengah mereka, dari sebagian mereka atas sebagian yang lainnya. Ini merupakan cara bid’ah, dan keji. Merupakan jalan seperti  yang telah berlalu keterangannya, datang dari orang-orang yang mau memecah-belah kesatuan, dan orang-orang yang telah membunuh Amirul Mukminin Ali-radhiyallahu anhu- dan orang-orang yang bersama beliau dari kalangan sahabat, peserta bai’at Ridhwan. Mereka telah membunuh beliau sedang mereka menginginkan “kebaikan”!! Sedang mereka itu adalah pemimpin kerusakan, pemimpin bid’ah,dan pemimpin perpecahan. Mereka itulah yang memecah-belah persatuan kaum muslimin, dan melemahkan barisan kaum muslimin. Demikian juga sampai orang-orang yang berpendapat bolehnya, mengadopsinya, dan menganggapnya baik. Maka orang seperti ini jelek aqidahnya, dan harus dijauhi.Aku tahu-wa’iyaadzu billah- bahwa ada seorang yang disiapkan untuk membahayakan ummatnya dan teman-teman majelisnya, serta orang-orang yang ada disekitarnya. Nasihat yang haq, hendaknya seorang muslim menjadi seorang bekerja, membangun, mengajak kepada kebaikan, dan mencari kebaikan sebenar-benarnya. Dia harus mengucapkan kebenaran, berdakwah dengan cara yang benar dan lembut, berbaik sangka terhadap saudaranya, serta mengetahui bahwa kesempurnaan merupakan sesuatu yang sulit diraih, bahwasanya yang ma’shum adalah  Nabi-Shollallahu alaihi wasallam- , dan andaikan para pemerintah tsb hilang/pergi, maka tak akan datang orang yang lebih bagus dibandingkan mereka. Andaikan semua orang yang ada hilang/pergi-sama saja diantara mereka ada pemerintah, penanggung jawab, atau para penuntut, atau rakyat. Andaikan ini semuanya pergi/hilang-rakyat negara mana saja-, niscaya akan datang pemimpin yang lebih jelek darinya !! Karena tak akan datang suatu masa kecuali yang berikutnya lebih buruk. Jadi, orang yang menginginkan agar orang sampai pada derajat kesempurnaan, atau menjadi orang-orang yang ma’shum dari segala kesalahan dan kejelekan. Orang (yang berpemikiran) macam ini adalah orang sesat. Mereka ini adalah orang-orang Khawarij. Mereka inilah yang memecah-belah persatuan manusia dan menyakiti mereka. Ini merupakan tujuan orang-orang yang memusuhi Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan berbagai bid’ah dari kalangan orang Rofidhoh, Khawarij, Mu’tazilah, dan seluruh jenis pelaku kejelekan dan bid’ah”.</em> [Lihat <strong><em>Majallah Safinah An-Najaah</em></strong><em>,</em>edisi 2, Januari 1997 M.]</p>
<p>Diantara metode yang paling buruk dalam menasihati penguasa, keluar ke jalan-jalan berkonvoi dalam rangka berdemo, apakah disertai kekacauan, ataukah, tidak!!</p>
<p>Dengarkan<strong> Al-Faqih Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin</strong> <em>-rahimahullah-</em> berkata,<em>  “Demonstrasi merupakan <strong>perkara baru</strong> yang tidak pernah dikenal di zaman Nabi –shollallahu alaih wasallam- , dan tidak pula di zaman Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin dan para sahabat-radhiyallah anhum-. Kemudian di dalamnya juga terdapat kerusuhan, dan huru-hara yang menjadikannya terlarang, dimana juga terjadi di dalamnya pemecahan kaca-kaca, pintu-pintu dan lainnya. Juga terjadi ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita, antara anak muda dengan orang tua , serta perkara-perkara yang semacamnya, berupa kerusakan dan kemungkaran.<strong>Adapun masalah menekan dan mendesak pemerintah, maka jika pemerintahnya muslim, cukuplah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya –</strong>Shollallahu alaih wasallam-<strong> sebagai pengingat baginya. Ini merupakan sebaik-baik perkara (baca:nasihat) yang disodorkan kepada seorang muslim. </strong>Jika pemerintahnya kafir, maka jelas mereka (orang-orang kafir) itu tidak mau mempedulikan para demonstran. Boleh jadi Pemerintah kafir itu akan bersikap ramah dan baik di depan para demonstran, sekalipun di batinnya tersembunyi kejelekan. <strong>Karenanya, </strong>kami memandang bahwa demo merupakan perkaara munkar. <strong>Adapun ucapan (baca: alasan) mereka: “Inikan demo yang damai (tak ada kerusuhan,pent.)!!”, </strong>maka boleh jadi demonya damai di awalnya atau awal kalinya, kemudian berubah jadi demo perusakan. Aku nasihatkan kepada para pemuda agar mereka mengikuti jalan hidupnya para Salaf. Karena Allah telah memuji orang-orang Muhajirin  dan Anshor; Allah telah memuji orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan ”.</em> [Lihat Buletin<em> <strong>Silsilah Ad-Difa’ anis Sunnah (7): “Aqwaal ‘Ulama’ As-Sunnah fil Muzhaharat wa maa Yatarattab Alaih min Mafasid ‘Azhimah”, </strong></em>(hal.2-3), cet. Maktabah Al-Furqon, UEA]</p>
<p>Alangkah benarnya apa yang dikatakan beliau bahwa demo &#8211;<strong>walaupun tanpa kerusuhan</strong>&#8211; merupakan perkara baru dan bid’ah. Bid’ahnya orang-orang Khawarij. Anggaplah demo itu damai, akan tetapi itu merupakan sarana dalam menyebarkan aib penguasa, karena dengan keluarnya seseorang ke jalan-jalan untuk demo, akan memberikan opini bahwa mereka akan pergi mengeritik, dan membongkar aib, dan kekurangan penguasa. Membeberkan aib penguasa muslim merupakan metode lama yang dipergunakan oleh kaum Khawarij yang suka memberontak.</p>
<p><strong>Al-Hafizh Ibn Hajar Al-Asqolany </strong>– <em>rahimahullah-</em> berkata dalam menjelaskan hakekat orang-orang <strong><em>Al-Qo’adiyyah</em></strong>(salah satu kelompok <em>Khawarij</em>), <em>“<strong>Al-Qo’adiyyah</strong>: adalah kelompok Khawarij yang tidak memandang (harusnya) memerangi (pemerintah). Bahkan mereka hanya mengingkari pemerintah yang zholim sesuai kemampuan, mereka mengajak kepada pendapat mereka, dan juga mereka menghias-hiasi &#8211;disamping hal tsb&#8211; untuk memberontak, serta mengira itu baik”</em>[ Lihat <strong><em>At-Tahdzib </em></strong> (8/114) sebagaimana dalam <strong><em>Lamm Ad-Durr Al-Mantsur</em></strong> (hal.60) karya Jamal Ibn Furoihan Al-Haritsy, cet. Dar Al-Minhaj, Mesir.]</p>
<p>Dalam kitabnya yang lain,<strong> Al-Hafizh </strong><em>–rahimahullah-</em>berkata<strong>, </strong><em>”<strong>Al-Qo’adiyyah</strong>: adalah orang-orang yang menghias-hiasi pemberontakan atas pemerintah, sekalipun mereka tidak melakukan (pemberontakan itu) secara langsung”.</em> [ Lihat <strong><em>Hadyus Sari </em></strong>(459) yang dinukil dari <strong><em>Lamm Ad-Durr Al-Mantsur, </em></strong>hal.60, cet. Dar Al-Minhaj.]</p>
<p>Jadi, tugas <strong><em>Al-Qo’adiyyah</em></strong> dahulu sama persis dengan tugas sebagian orang yang membakar semangat pemuda-pemuda untuk membangkang, dan tidak taat kepada pemerintah, bahkan terkadang mengarahkan mereka kepada pemberontakan fisik lewat ajang demonstrasi. <strong>Ini adalah tercela dalam pandangan ulama’ Ahlus Sunnah berdasarkan dalil-dalil, baik naqli, maupun aqli.</strong></p>
<p>Melakukan demo merupakan bentuk pemberontakan non-senjata yang akan mengantarkan kepada pemberontakan senjata, dan fisik. Demo bukanlah perkara yang remeh, yang orang boleh berijtihad di dalamnya, sebab ia merupakan bentuk <em>khuruj alal hukkam</em>(pemberontakan kepada penguasa). Sedang memberontak kepada penguasa muslim adalah perkara yang menyelisihi aqidahnya salaf. Pemberontakan sekecil apapun, itu terlarang; walaupun menghasung orang dengan ucapan dalam melawan pemerintahnya !!</p>
<p><strong>Terakhir kami nasihatkan</strong> kepada orang yang suka demo –seperti YWI dan lainnya- dan juga orang yang menghasung mereka kepada hal itu dengan mengutip ucapan Penulis <strong><em>BSDS</em></strong>, Mut&#8217;ab Al-Ashimi, <em>&#8220;Cara mengkritik seperti ini adalah perbuatan dosa dan keluar dari manhaj pertengahan (Al-Wasithiyyah) dalam mengkritik dan menghukumi orang lain. Dan ini bukanlah termasuk akhlak Salafus Shalih dalam persoalan etika menasihati saudara mereka yang berakidah Ahlus Sunnah&#8221;.</em>[Lihat <strong><em>BSDS</em></strong> (hal.47)]</p>
<p>Kami juga nasihati Penulis, dan orang yang simpati kepadanya dengan ucapan Penulis sendiri dalam <strong><em>BSDS</em></strong>(hal.38) saat ia menasihati salafiyyun secara zholim, <em>&#8220;Jadilah kalian dai-dai –bukan pengaku-aku (saya salafi.-pent.)—yang mengajak kepada salaf yang sebenarnya. Yaitu perkataan dan perbuatan yang sesuai dengan pandangan Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah tanpa ada sikap ifrath dan tafrith.<a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6479688433065898056#_ftn3" name="_ftnref3"><strong>[3]</strong></a>Dan jangan mengajak kepada salaf hanya perkataan tanpa ada amalan&#8221;.</em></p>
<p>والدعاوى ما لم يقيموا عليها         بينات أبناؤها أدعياء</p>
<p><em>&#8220;Semua pengakuan, tanpa ada bukti. </em></p>
<p><em>Adalah omong kosong&#8221;. </em>[Lihat <strong><em>BSDS</em></strong> (hal.39)]</p>
<p><strong>Inilah salah satu sebab Syaikh Abdul Aziz bin Baaz mengirim surat ke Amir Nayif bin Abdul Aziz di Riyadh agar kedua orang ini (Safar Al-Hawaliy, dan Salman Al-Audah) diberhentikan dari aktivitas dakwah</strong>karena memiliki pernyataan-pernyataan yang menyelisihi aqidah salaf, seperti membakar semangat para pemuda untuk memberontak.<a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6479688433065898056#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p><a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6479688433065898056#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Beda dengan yang dinyatakan oleh Safar Al-Hawali, katanya demo adalah uslub da’wah. Maka perhatikan. Dan jangan dikatakan: “Diakan ulama’ boleh saja ia berbuat dan berkata semaunya sebab itukan ijtihad dia. Kalau benar dapat dua pahala, kalau salah, dapat satu”. Ini merupakan tipuan Iblis, sebab demo merupakan salah satu bentuk <em>khuruj alal hukkam. </em>Sedang permasalahan <em>khuruj</em> termasuk masalah aqidah yang salaf sudah sepakat haramnya. Lagian Safar bukan ulama.</p>
<p><a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6479688433065898056#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> Lihat Buletin <strong><em>Silsilah Ad-Difa’</em></strong> (7),hal.1-2</p>
<p><a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6479688433065898056#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Alhamdulillah, prinsip berilmu yang diiringi dengan amalan, tanpa ada ifrath dan tafrith merupakan perkara yang amat dijaga oleh salafiyyun dari zaman Nabi -Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-  sampai zaman sekarang, bukan seperti yang dituduhkan secara keji oleh Penulis <strong><em>BSDS. </em></strong><em>Nas&#8217;alullahal afiyah was salamah min su&#8217;izh zhonni bil mu&#8217;minin na laisa fihim.</em></p>
<p><a href="https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6479688433065898056#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> Tentang surat Syaikh bin Baaz ini, lihat kopian naskah aslinya dalam <strong><em>Madarik An-Nazhor</em></strong> (hal. 431) karya Syaikh Abdul Malik bin Ahmad bin Al-Mubarok Romadhoniy Al-Jaza&#8217;iriy, cet. Dar Sabil Al-Mu&#8217;minin, 1418 H.</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="https://abufaizah75.blogspot.co.id/2016/11/fatwa-para-ulama-sunnah-yang.html">https://abufaizah75.blogspot.co.id/2016/11/fatwa-para-ulama-sunnah-yang.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/fatwa-para-ulama-sunnah-yang-menjelaskan-hukum-demonstrasi-di-berbagai-belahan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara Salaf 60: Tiga Golongan Manusia dalam Kehidupan Dunia</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-60-tiga-golongan-manusia-dalam-kehidupan-dunia/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-60-tiga-golongan-manusia-dalam-kehidupan-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Sep 2016 05:10:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Kehidupan Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Tiga Golongan Manusia dalam Kehidupan Dunia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=2609</guid>
		<description><![CDATA[Manusia telah digolongkan oleh Allah Tabaraka wa Ta&#8217;ala ke dalam beberapa ragam jenis dan tipe yang saling berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Ini merupakan takdir dan ketentuan dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala bagi para hamba-Nya agar menjadi bahan renungan bagi mereka tentang di posisi manakah ia diletakkan? Orang yang berakal tentunya ingin dituntunkan... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-60-tiga-golongan-manusia-dalam-kehidupan-dunia/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Manusia telah digolongkan oleh Allah Tabaraka wa Ta&#8217;ala ke dalam beberapa ragam jenis dan tipe yang saling berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.<br />
Ini merupakan takdir dan ketentuan dari Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala bagi para hamba-Nya agar menjadi bahan renungan bagi mereka tentang di posisi manakah ia diletakkan? Orang yang berakal tentunya ingin dituntunkan ke dalam posisi terbaik.</p>
<p>Abul Abbas Abdullah bin Harun Ar-Rasyid bin Muhammad Al-Mahdiy Al-Abbasiy rahimahullah berkata,</p>
<p>النَّاسُ ثَلاَثَةٌ: رَجُلٌ مِنْهُم مِثْلُ الغِذَاءِ، لاَبُدَّ مِنْهُ، وَمِنْهُم كَالدَّوَاءِ يُحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي حَالِ المَرَضِ، وَمِنْهُم كَالدَّاءِ مَكْرُوهٌ عَلَى كُلِّ حَالٍ.</p>
<p>&#8220;Manusia itu ada tiga. Seorang di antara mereka laksana makanan, yang harus ada. Di antaranya pula ada yang ibarat obat. Ia dibutuhkan di saat sakit. Namun, di antara mereka lagi, ada yang seperti penyakit. Dia dibenci dalam segala keadaan.&#8221;<br />
[Lihatlah Siyar A&#8217;lam An-Nubala` 10/282, Tarikh Al-Khulafa` hal. 275, dan Samthun Nujum Al-Awaliy 2/214 oleh Abdul Malik bin Husain Al-&#8216;Ishamiy]</p>
<p>Golongan pertama adalah golongan para nabi, dan ulama, yang ilmunya senantiasa dibutuhkan oleh manusia dalam segala keadaannya.</p>
<p>Ustadz Abdul Qodir, Lc.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-60-tiga-golongan-manusia-dalam-kehidupan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mawa`izh Ash-Shahabah 3: Dunia Itu Fana</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/mawaizh-ash-shahabah-3-dunia-itu-fana/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/mawaizh-ash-shahabah-3-dunia-itu-fana/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Dec 2015 03:13:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[dunia itu fana]]></category>
		<category><![CDATA[fana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=2027</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat yang mulia, Utsman bin Affan radhiallahu anhu, menuturkan suatu nasihat mendalam, إِنَّ اللَّهَ أَعْطَاكُمْ الدُّنْيَا لِتَطْلُبُوْا بِهَا الآخِرَةَ وَلَمْ يُعْطِكُمُوْهَا لِتَرْكَنُوْهَا إِلَيْهَا إِنَّ الدُّنْيَا تَفْنَى وَإِنَّ الآخِرَةَ تَبْقَى لَا تُبْطِرَنَّكُمْ وَلَا تَشْغَلَنَّكُمْ عَنْ الْبَاقِيَةِ “sesungguhnya Allah hanyalah memberikan kalian dunia agar dengan (dunia itu) kalian mencari akhirat. Allah tidaklah memberikan (dunia) kepada kalian agar... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/mawaizh-ash-shahabah-3-dunia-itu-fana/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Sahabat yang mulia, Utsman bin Affan radhiallahu anhu, menuturkan suatu nasihat mendalam,</p>
<p>إِنَّ اللَّهَ أَعْطَاكُمْ الدُّنْيَا لِتَطْلُبُوْا بِهَا الآخِرَةَ وَلَمْ يُعْطِكُمُوْهَا لِتَرْكَنُوْهَا إِلَيْهَا إِنَّ الدُّنْيَا تَفْنَى وَإِنَّ الآخِرَةَ تَبْقَى لَا تُبْطِرَنَّكُمْ وَلَا تَشْغَلَنَّكُمْ عَنْ الْبَاقِيَةِ</p>
<p>“sesungguhnya Allah hanyalah memberikan kalian dunia agar dengan (dunia itu) kalian mencari akhirat. Allah tidaklah memberikan (dunia) kepada kalian agar menjadikan kalian condong kepadanya. Sungguh dunia itu fana, dan sungguh akhiratlah yang kekal, maka janganlah yang fana itu membuat kalian sombong dan menyibukkan kalian dari sesuatu yang kekal.&#8221;<br />
[Al-Bidayah Wan Nihayah 8/241]</p>
<p>Ustadz Ady Abu Imron</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/mawaizh-ash-shahabah-3-dunia-itu-fana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara Salaf 8: Dunia itu Sedikit</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-8-dunia-itu-sedikit/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-8-dunia-itu-sedikit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2015 03:02:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[dunia itu sedikit]]></category>
		<category><![CDATA[sedikit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=789</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Dunia, jika ingin dihargai dengan kenikmatan surga, amatlah sedikit nilai dan harganya. Oleh karena itu, belilah dan bebaskanlah dirimu dengan ibadah dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Ibnus Sammak Al-Ijliy rahimahullah berkata, الدُّنْيَا كُلُّهَا قَلِيْلٌ، وَالَّذِي بَقِيَ مِنْهَا قَلِيْلٌ، وَالَّذِي لَكَ مِنَ البَاقِي قَلِيْلٌ، وَلَمْ يَبْقَ مِنْ قَلِيْلِكَ إِلاَّ قَلِيْلٌ، وَقَدْ أَصْبَحتَ فِي... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-8-dunia-itu-sedikit/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Dunia, jika ingin dihargai dengan kenikmatan surga, amatlah sedikit nilai dan harganya. Oleh karena itu, belilah dan bebaskanlah dirimu dengan ibadah dan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Ibnus Sammak Al-Ijliy rahimahullah berkata,</p>
<p>الدُّنْيَا كُلُّهَا قَلِيْلٌ، وَالَّذِي بَقِيَ مِنْهَا قَلِيْلٌ، وَالَّذِي لَكَ مِنَ البَاقِي قَلِيْلٌ، وَلَمْ يَبْقَ مِنْ قَلِيْلِكَ إِلاَّ قَلِيْلٌ، وَقَدْ أَصْبَحتَ فِي دَارِ العَزَاءِ، وَغَداً تَصِيْرُ إِلَى دَارِ الجَزَاءِ، فَاشْتَرِ نَفْسَكَ، لَعَلَّكَ تَنجُو</p>
<p>&#8220;Dunia seluruhnya adalah sedikit. Sesuatu yang tersisa dari dunia adalah sedikit. Sesuatu yang engkau miliki dari yang tersisa adalah sedikit. Tidak lagi tersisa dari yang sedikit engkau miliki, kecuali sedikit. Engkau telah berada di negeri (yang penuh dengan) kesusahan, dan esok engkau akan menuju negeri pembalasan. Oleh karena itu, belilah dirimu. Semoga saja engkau bisa selamat.&#8221;<br />
[Lihatlah Siyar A&#8217;lam An-Nubala&#8217; 8/330]</p>
<p>Al-Ustadz Abdul Qodir, Lc.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-8-dunia-itu-sedikit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
