<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Markaz Dakwah untuk Bimbingan dan Taklim &#187; Kesabaran</title>
	<atom:link href="https://markazdakwah.or.id/tag/kesabaran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://markazdakwah.or.id</link>
	<description>www.markazdakwah.or.id</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Apr 2019 07:54:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Berkaca dari Musibah</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/berkaca-dari-musibah/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/berkaca-dari-musibah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Oct 2017 08:09:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Berkaca dari Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[bersabar]]></category>
		<category><![CDATA[ingat Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[peringatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3936</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa&#8217;izah, Lc. -hafizhahullah- &#160; Saat ini, musim kemarau panjang melanda. Berita musibah datang silih berganti. Angin kencang, tanah longsor, kekeringan dan si jago merah yang kian merajalela.Hampir setiap hari terjadi kebakaran, baik di perkotaan, maupun di hutan. Rasa was-was dan khawatir pun kian menghantui jiwa. Tatkala sengatan matahari yang begitu panas membuat rumput-rumput menjadikering kerontang sehingga sepuntung api rokok saja, mampu menghanguskan berhektar-hektar kebun dan hutan. Akibatnya, banyak... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/berkaca-dari-musibah/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><b>Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa&#8217;izah, Lc. -hafizhahullah-</b></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saat ini, musim kemarau panjang melanda. Berita musibah datang silih berganti. Angin kencang, tanah longsor, kekeringan dan si jago merah yang kian merajalela.Hampir setiap hari terjadi kebakaran, baik di perkotaan, maupun di hutan. Rasa was-was dan khawatir pun kian menghantui jiwa.</p>
<p>Tatkala sengatan matahari yang begitu panas membuat rumput-rumput menjadikering kerontang sehingga sepuntung api rokok saja, mampu menghanguskan berhektar-hektar kebun dan hutan.</p>
<p>Akibatnya, banyak kerugian dan kesedihan terjadi. Semoga segala keadaan ini dapat dipahami sebagai suatu <strong>peringatan </strong>bagi kaum mukminin dan manusia seluruhnya untuk menerimanya dengan jiwa yang lapang dan hati yang sabar sebagai suatu ketentuan dari-Nya.</p>
<p>Allah -Subhana wa ta&#8217;ala- berfirman,</p>
<p><strong>{نَحْنُ جَعَلْنَاهَا تَذْكِرَةً وَمَتَاعًا لِلْمُقْوِينَ } [الواقعة: 73]</strong></p>
<p>”<em>Kami jadikan api itu untuk <strong>peringatan</strong> dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir.” </em><strong>(QS. Al-Waqi’ah: 73)</strong></p>
<p><strong>Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thobariy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata<em>,</em></p>
<p><strong>&#8220;نحن جعلنا النار تذكرة لكم تذكرون بها نار جهنّم، فتعتبرون وتتعظون بها.&#8221; اهـ من تفسير الطبري = جامع البيان ت شاكر (23/ 144)</strong></p>
<p><em>“</em><em>(</em><em>Maksudnya</em><em>)</em><em>, Kami jadikan api itu sebagai peringatan bagi kalian yang kalian bisa mengingat dengannya api neraka Jahannam</em><em>. Karena itu,</em><em> perhatikanlah dan saling menasehatilah dengannya” </em>[Lihat <strong><em>Jami&#8217; Al-Bayan</em></strong> (23/144) cet. Mu&#8217;assasah Ar-Risalah, <em>tahqiq </em>Ahmad bin Muhammad Syakir, 1420 H]</p>
<p>Oleh karenanya, Rasulullah &#8211;<em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>&#8211; pernah mengingatkan para sahabatnya tentang api yang ada di dunia dalam sabdanya,</p>
<p><strong>نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً قَالَ فُضِّلَتْ عَلَيْهِنَّ بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا</strong></p>
<p><em>&#8220;Api kalian (di dunia ini) merupakan bagian dari tujuh puluh bagian api neraka jahannam&#8221;. Ditanyakan kepada Beliau; &#8220;Wahai Rasulullah, satu bagian itu saja sudah cukup (untuk menyiksa pelaku maksiat)?&#8221; Beliau bersabda: &#8220;Ditambahkan atasnya dengan enam puluh sembilan kali lipat yang sama panasnya&#8221;.</em> [HR. Al-Bukhari dalam<strong><em> Kitab Bad&#8217;il Kholq</em></strong> (no. 3265)]</p>
<p>Pembaca yang budiman, marilah kita merenungi kejadian-kejadian yang terjadi dan mengintropeksi diri kita masing-masing.</p>
<p>Jika kita mau melihat dengan pandangan yang jujur, maka kita akan menyadari begitu banyaknya kekurangan dan pelanggaran yang kita  lakukan, baik terhadap hak Allah, maupun hak para makhluk.</p>
<p>Begitu banyak kezholiman yang terjadi pada diri hamba sendiri dan orang lain. Manusia telah tersesat jauh dari jalan Allah dan tuntunan Rasul-Nya &#8211;<em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>&#8211; sampai tidak mengenal lagi halal dan haram.</p>
<p>Tercampurnya antara yang hak dan yang batil sehingga yang benar dianggap batil dan yang batil dianggap benar. Oleh karenanya, Allah &#8211;<em>Azza wa jalla</em>&#8211; menurunkan musibah demi musibah agar kita sadar dan paham tentang kesalahan kita serta mau kembali bertaubat kepada-Nya.</p>
<p>Allah &#8211;<em>Subhana wa ta&#8217;ala</em>&#8211; berfirman,</p>
<p><strong>{قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ } [الأنعام: 65]</strong></p>
<p><em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Dia-lah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu, atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti agar mereka memahami(nya)&#8221;.</em><em> </em><strong>(QS. Al-An’am: 65 )</strong></p>
<p>Jabir bin Abdillah &#8211;<em>radiyallahu</em> <em>&#8216;anhu</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong>لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ: (قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَى أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ) قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : أَعُوذُ بِوَجْهِكَ, قَالَ: (أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ)، قَالَ: أَعُوذُ بِوَجْهِكَ, (أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ)، قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : هَذَا أَهْوَنُ</strong></p>
<p><em>&#8220;Ketika ayat ini turun, “Katakanlah, Dialah Yang Berkuasa untuk mengirimkan azab</em><em> (siksaan)</em><em> kepadamu, dari atas </em><em>kalian</em><em>”</em></p>
<p><em>Beliau bersabda: &#8220;Aku berlindung dengan wajah Allah yang mulia&#8221;.</em></p>
<p><em>Lalu Beliau membaca “atau dari bawah kakimu”</em></p>
<p><em>Beliau bersabda: &#8220;Aku berlindung dengan wajah Allah yang mulia&#8221;..</em></p>
<p><em>Dan ketika membaca: “atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu kepada keganasan sebahagian yang lain.”</em></p>
<p><em>Beliau bersabda : &#8220;Ini lebih ringan&#8221;.</em> [HR. <strong>Al-Bukhariy</strong> dalam <strong><em>Kitab At-Tafsir </em></strong>(no. 4628)]</p>
<p>Pembaca yang budiman, seluruh musibah-musibah yang terjadi pada diri kita merupakan tanda-tanda kebesaran Allah &#8211;<em>Subhana wa ta&#8217;ala</em>&#8211; dan takdir yang telah ditetapkan oleh-Nya.</p>
<p>Hal itu diturunkan agar manusia itu takut dan sadar akan kelemahan dirinya, ketika ia membangkang dan durhaka kepada perintah Rabb-Nya yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Allah <em>-Azza Wa Jalla- </em>berfirman,</p>
<p><strong>{وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا } [الإسراء: 59]</strong></p>
<p><em> </em><em>“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu, melainkan untuk menakuti”.</em> <strong>(QS. Al-Isra’: 59)</strong><br />
<strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Qatadah bin Di&#8217;amah As-Sadusiy </strong>–<em>rahimahullah-</em> berkata, <em>&#8220;Sesungguhnya Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menakut-nakuti manusia dengan tanda-tanda kekuasaan yang Dia kehendaki, agar mereka mengambil pelajaran, ingat dan kembali (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala)&#8221;.</em>[ Lihat <strong><em>Tafsir Ibnu Katsir</em></strong> (5/91), cet. Dar Thoibah, 1420 H]</p>
<p>Hendaknya seorang mukmin merasa takut dan mengintrospeksi diri masing-masing, ketika musibah datang.</p>
<p><strong>Seorang mukmin harus bersabar dan mengharapkan pahala atas musibah tersebut, bukannya justru berusaha mencari kambing hitam dan berburuk sangka kepada orang lain</strong>, kecuali jika memang ada bukti dan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan, maka hal itu tidaklah mengapa.</p>
<p>Bila tak ada bukti, maka hindarilah buruk sangka dan mencari-cari kambing hitam. Ketahuilah bahwa seluruh musibah yang terjadi telah tertulis di Lauhul Mahfuzh sebelum diciptakannya makhluk.</p>
<p>Tak ada guna kita berputus asa dan saling salah menyalahkan atau curiga mencurigai. Tugas kita adalah bersabar, menghindari perkara yang mendatangkan musibah serta memohon perlindungan kepada-Nya.</p>
<p>Allah &#8211;<em>Tabaaraka wa ta&#8217;ala-</em> berfirman,</p>
<p><strong>{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)} [الحديد: 22، 23]</strong></p>
<p><em>“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,”<strong> </strong></em><strong>(QS. Al-Hadid: 22-23)</strong><br />
<strong><br />
</strong></p>
<p>Segala peristiwa dan sebabnya (berupa kebakaran, banjir, longsor, kemarau dan lainnya) telah tertulis di sisi Allah sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.</p>
<p>Rasulullah <em>-Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam- </em>bersabda,</p>
<p><strong>كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ</strong></p>
<p><em>&#8220;Allah telah menetapkan ketentuan-ketentuan (takdir bagi setiap makhluk) lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.&#8221; </em>[HR. Muslim dalam<strong><em>Kitab Al-Qodar </em></strong>(no. 2653)]</p>
<p>Seorang tabi&#8217;in, <strong>Abu Abdillah Ikrimah Al-Madaniy</strong> <em>-rahimahullah-</em> berkata,</p>
<p><strong>&#8220;لَيْسَ أَحَدٌ إِلَّا وَهُوَ يَفْرَحُ وَيَحْزَنُ، وَلَكِنِ اجْعَلُوا الفَرَح شُكْرًا وَالْحُزْنَ صَبْرًا.&#8221; اهـ من تفسير ابن كثير ت سلامة (8/ 27)</strong></p>
<p><em>“Tidak ada seorang pun, melainkan ia merasakan senang dan sedih. Karenanya, jadikanlah kesenangan itu sebagai kesyukuran dan kesedihan sebagai kesabaran”</em>[Lihat <strong><em>Tafsir Ibnu Katsir</em></strong> (8/27) karya Al-Hafizh Abul Fidaa&#8217; Ibnu Katsir, <em>tahqiq</em>Sami bin Muhammad Salamah, Dar Thoibah, 1420 H]</p>
<p>Tidaklah ada suatu musibah pada jiwa, harta dan anak yang terjadi, melainkan atas<em>qadha</em> dan <em>qadar</em> Allah -Azza wa jalla-. Jika seorang hamba beriman bahwa musibah itu berasal dari Allah, lalu ia rela dengannya dan memasrahkan urusannya pada-Nya, maka ia mendapatkan pahala yang besar dan mulia, baik di dunia, maupun di akhirat.</p>
<p>Allah akan menunjuki hatinya sehingga ia merasa tenang dan tidak panik ketika mendapat musibah dan dikaruniai keteguhan saat datangnya musibah serta melakukan tuntutan kesabaran. Karenanya, ia memperoleh pahala yang disegerakan bersamaan dengan pahala yang disimpan Allah baginya pada hari pembalasan nanti.[Lihat <strong><em>Taisir Al-Karim Ar-Rahman</em></strong> (hal. 867) cet. Maktabah An-Nubalaa&#8217;].</p>
<p>Allah <em>-Jalla Wa &#8216;Alaa-</em> berfirman,</p>
<p><strong>{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} [التغابن: 11]</strong></p>
<p><em>“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.</em> <strong>(QS. At-Taghabun: 11)</strong></p>
<p>Alangkah indahnya ucapan Ibnu Nashiriddin Ad-Dimasyqi &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; ,</p>
<p><em>Maha suci Dzat yang menguji manusia</em></p>
<p><em>Dia mencintai mereka</em><em>,</em><em> sedangkan bala diberikan</em></p>
<p><em>Maka sabarlah dengan musibah dan ridho-lah</em></p>
<p><em>Hal itu akan menjadi obatnya</em></p>
<p><em>Pasrahlah kepada Allah terhadap apa yang ditaqdirkan-Nya</em></p>
<p><em>Dan Allah berbuat sekehendak-Nya.</em>[Lihat <strong><em>Bardul Akbad ‘Inda Faqdi Aulad</em></strong>(hal. 11)]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semoga risalah ini bisa memberi manfaat kepada para pembaca dan bisa meningkatkan keimanan kita terhadap takdir yang telah ditetapkan Allah <em>-Subhana wa ta&#8217;ala-</em> .</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/10/berkaca-dari-musibah.html">https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/10/berkaca-dari-musibah.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/berkaca-dari-musibah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penawar Musibah</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/penawar-musibah/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/penawar-musibah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2017 01:33:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[Penawar Musibah]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3047</guid>
		<description><![CDATA[Setiap manusia pasti mengalami musibah, baik ia muda, maupun tua. Musibah dan ujian terkadang menimpa hati, jasad dan harta benda.

"Lantas apa penawar musibah-musibah itu?"]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa&#8217;izah, Lc. -hafizhahullah-</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setiap manusia pasti mengalami musibah, baik ia muda, maupun tua. Musibah dan ujian terkadang menimpa hati, jasad dan harta benda.</p>
<p>Seorang pedagang mengalami kerugian. Seorang ibu kematian anak atau suami. Seorang bapak kehilangan anak atau istri. Seorang pejabat dan pegawai atau pekerja kehilangan kedudukan dan pekerjaan. Seorang yang mengalami kecelakaan. Seorang petani gagal panen.</p>
<p>Semua ini adalah musibah yang muncul dari ketentuan (takdir) Allah -Subhanahu wa Ta&#8217;ala- sebagian ujian bagi keimanan bagi para hamba.</p>
<p>Mungkin diantara kita bertanya, <em>&#8220;Lantas apa penawar musibah-musibah itu?&#8221;</em></p>
<p><strong>Jawabnya</strong>, seorang hamba ridho dan rela terhadap takdir (ketentuan) Allah berupa musibah yang menimpa dirinya.</p>
<p><strong>Itulah kesabaran.</strong> Lalu kesabaran itu diiringi oleh <em>ihtisab </em>(mencari pahala) di sisi Allah -Azza wa Jalla-.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Orang yang melakukan langkah seperti ini akan selalu mendapat petunjuk dan bimbingan Allah -Ta&#8217;ala-.</p>
<p>Allah <em>Robbul Izzah</em> berfirman,</p>
<p><strong>مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  [التغابن : 11]</strong></p>
<p><em>&#8220;Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa <strong>yang beriman</strong> kepada Allah, niscaya dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu&#8221;.</em> <strong>(QS. At-Taghabun : 11)</strong></p>
<p>Siapa yang dimaksud dengan <strong>&#8220;orang yang beriman&#8221;</strong> dalam ayat ini?</p>
<p>Ulama tabi&#8217;in, Alqomah bin Qois Al-Kufiy &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata saat menjawab pertanyaan seperti ini,</p>
<p><strong>هُوَ الرَّجُلُ تُصِيْبُهُ الْمُصِيْبَةُ، فَيَعْلَمُ أَنَّهَا مِنْ عِنْدِ اللهِ، فَيُسَلِّمُ ذَلِكَ وَيَرْضَى</strong></p>
<p><em>&#8220;Dia adalah seorang yang ditimpa musibah. Lalu menyadari bahwa musibah itu dari sisi Allah sehingga ia pun menerimanya (dengan lapang dada) dan ridho&#8221;. </em>[HR. Ath-Thobariy dalam <strong><em>Jami&#8217; Al-Bayan</em></strong> (23/421), Al-Baihaqiy dalam <strong><em>Syu&#8217;abul Iman</em></strong> (no. 9976), dan Al-Qodhi Abu Ishaq Al-Malikiy dalam <strong><em>Ahkam Al-Qur&#8217;an </em></strong>(hal. 223) dengan sanad yang shohih]</p>
<p>Ketika tertimpa musibah kematian –misalnya-, maka seorang mukmin tidaklah menampakkan keluh kesah dan sikap protesnya di hadapan Allah, akibat musibah yang menimpa orang yang ia cintai.</p>
<p>Sikap protes dan keluh kesah semacam ini seakan ia adalah bentuk pengingkaran atas Allah <em>-Azza wa Jalla-.</em></p>
<p>Rasulullah &#8211;<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>&#8211; bersabda,</p>
<p><strong><em>اثْنَتَانِ فِى النَّاسِ هُمَا بِهِمْ كُفْرٌ : الطَّعْنُ فِى النَّسَبِ، وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ</em></strong></p>
<p><em>&#8220;Dua perkara yang ada di kalangan manusia; keduanya merupakan pengingkaran: yaitu mencerca nasab dan meratapi mayat&#8221;. </em>[HR. Muslim dalam <strong><em>Kitabul Iman</em></strong> (no. 67)]</p>
<p>Meratapi mayat di hari berkabung, bukanlah kebiasaan kaum beriman, bahkan merupakan kebiasaan kaum jahiliah.</p>
<p>Kaum beriman hanyalah bersedih di hari seperti itu, dengan linangan air mata dan iringan doa serta harapan semoga si mayat mendapatkan tempat yang baik di sisi Allah dan ada pengganti yang baik baginya di dunia, berupa keluarga dan keturunan yang sholih senantiasa mendoakan kebaikan dan ampunan baginya.</p>
<p>Adapun sikap meronta-ronta, merobek baju, memukul anggota badan serta meraung-raung, sambil mengenang jasa baik si mayat, maka semua ini kebiasaan buruk kaum jahiliah.</p>
<p>Itulah sebabnya Nabi &#8211;<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>&#8211; mengingkari hal itu dalam sabdanya,</p>
<p><strong><em>لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ</em></strong></p>
<p><em>&#8220;Bukan dari golongan kami, orang yang memukul wajahnya, merobek kerah bajunya dan menyeru dengan seruan jahiliah&#8221;.</em> [HR. Al-Bukhoriy dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (1297), dan Muslim dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (103)]</p>
<p><strong>Al-Imam Al-Mubarokfuriy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; menerangkan makna &#8220;seruan jahiliah&#8221; seraya berkata,</p>
<p><strong><em>&#8220;يعني قال عند البكاء ما لا يجوز شرعا مما يقول به أهل الجاهلية.&#8221; اهـ من تحفة الأحوذي &#8211; (4 / 69)</em></strong></p>
<p><em>&#8220;Maksudnya, ia mengucapkan –di saat menangis- sesuatu yang tak boleh dalam syariat berupa perkara yang biasa diucapkan oleh kaum jahiliah&#8221;.</em>[Lihat <strong><em>Tuhfah Al-Ahwadziy</em></strong> *(4/69), cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah]</p>
<p>Itulah musibah kematian, seorang harus bersabar menghadapinya.</p>
<p>Demikian pula musibah kehilangan harta benda atau Allah menurunkan musibah atas dirinya berupa penyakit, kecelakaan, kebakaran rumah, bagkrutnya usaha dan lainnya.</p>
<p>Sebagian orang saat mendapat musibah-musibah seperti ini, ia berburuk sangka kepada Allah &#8211;<em>Azza wa Jalla</em>-.</p>
<p>Ia mengira bahwa dengan musibah itu berarti Allah tak menyayanginya.</p>
<p>Sebaliknya, ia menyangka bila ia bersenang-senang dengan berbagai macam kenikmatan duniawi yang ia gunakan bermaksiat. Dia dibiarkan sehat dan bebas dalam kehidupan ini, tanpa ada bencana dan musibah yang menimpa dirinya. Akhirnya, ia pun menyangka bahwa dirinya dicintai oleh Allah.</p>
<p>Padahal ia adalah munusia yang buruk, ditunda balasan buruknya di akhirat, bukan di dunia.</p>
<p>Rasulullah &#8211;<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>&#8211; bersabda,</p>
<p><strong><em>إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ القِيَامَةِ</em></strong></p>
<p><em>&#8220;Bila Allah menginginkan kebaikan pada diri hamba-Nya, maka Allah menyegerakan musibah baginya di dunia. Jika Allah menginginkan keburukan pada diri hamba-Nya, maka Allah menangguhkannya, karena dosanya, sampai ia membawa dosanya pada hari kiamat&#8221;. </em>[HR. At-Tirmidziy dalam <strong><em>Sunan</em></strong>-nya (no. 2396). Hadits ini di-<em>hasan</em>-kan oleh Al-Albaniy dalam <strong><em>Ash-Shohihah</em></strong> (1220)]</p>
<p>Bila seseorang mukmin yang berusaha taat kepada Allah, lalu ia diberi ujian berupa bala&#8217;, maka semua itu adalah tanda bahwa ia adalah orang yang dicintai oleh Tuhan-nya, bukan dibenci!! Sebab seorang mukmin bila ia bersabar dan ridho terhadap takdir Allah berupa bala&#8217; yang menimpa dirinya, maka ia akan mendapatkan balasan yang besar, <em>insya Allah.</em></p>
<p>Rasulullah &#8211;<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>&#8211; bersabda,</p>
<p><strong><em>إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلاَءِ ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ</em></strong></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya besarnya balasan seiring dengan besarnya bala&#8217;. Sesungguhnya Allah bila mencintai suatu kaum, maka Allah akan memberinya bala&#8217;. Karenanya, barangsiapa yang ridho, maka ia akan mendapatkan keridhoan dan barangsiapa yang murka, maka ia akan mendapatkan kemurkaan&#8221;.</em> [HR. At-Tirmidziy (2396) dan Ibnu Majah (4031). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam <strong><em>Ash-Shohihah </em></strong>(no. 146)]</p>
<p><strong>Syaikh Muhammad Nashir Al-Arna&#8217;uth</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong><em>و هذا الحديث يدل على أمر زائد على ما سبق و هو أن البلاء إنما يكون خيرا ، و أن صاحبه يكون محبوبا عند الله تعالى ، إذا صبر على بلاء الله تعالى ، و رضي بقضاء الله عز و جل .&#8221; اهـ من سلسلة الأحاديث الصحيحة &#8211; (1 / 145)</em></strong></p>
<p><em>&#8220;Hadits ini menunjukkan tentang suatu perkara tambahan atas penjelasan telah lewat, yaitu bahwa bala&#8217; akan menjadi kebaikan dan bahwa pelakunya dicintai di sisi Allah -Ta&#8217;ala-, bila ia bersabar atas bala&#8217; yang Allah turunkan serta ridho terhadap ketentuan Allah -Azza wa Jalla-&#8220;. </em>[Lihat <strong><em>Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah</em></strong> (1/145)]</p>
<p>Semua musibah akan terasa ringan bagi seorang mukmin, bila ia menyadari bahwa semua itu adalah takdir dan ketentuan Allah, Sang Maha Pencipta alam semesta.</p>
<p>Dari situ, ia bersabar dan ridho terhadap segala bala&#8217; dan musibah yang ia rasakan. Inilah penawar musibah.</p>
<p><strong>Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa&#8217;diy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong><em>فإن العبد متى علم أن المصيبة بإذن الله ، وأن الله أتم الحكمة في تقديرها ، وله النعمة السابغة في تقديرها على العبد رضي بقضاء الله وسلم لأمره وصبر على المكاره ، تقربا إلى الله ، ورجاء لثوابه ، وخوفا من عقابه ، واغتناما لأفضل الأخلاق ، فاطمأن قلبه وقوي إيمانه وتوحيده .&#8221; اهـ من القول السديد شرح كتاب التوحيد &#8211; (ص / 128)</em></strong></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya seorang hamba kapan saja ia tahu bahwa musibah berdasarkan izin Allah dan bahwa Allah telah menyempurnakan hikmah-Nya dalam menakdirkan musibah, -sedang Dia memiliki nikmat yang sempurna saat menakdirkannya atas hamba-Nya-, maka seorang hamba akan ridho terhadap ketentuan Allah dan menerima ketetapan-Nya serta bersabar atas hal-hal yang dibenci demi mendekatkan diri kepada Allah, mengharapkan pahala-Nya, takut terhadap hukuman-Nya dan menggunakan akhlak terbaik (yakni, bersabar). Akhirnya, hatinya akan tenang, iman dan tauhidnya semakin kuat&#8221;. </em>[Lihat <strong><em>Al-Qoul As-Sadid</em></strong>(hal. 128)]</p>
<p>Itulah penawar musibah yang mampu menjadikan musibah sebagai kebaikan yang membentuk diri kaum beriman sebagai manusia terbaik di sisi Allah.</p>
<p>Itulah sebabnya para nabi menjadi manusia terbaik, sebab mereka banyak mendapatkan musibah dan tantangan saat mereka berdakwah di jalan Allah. Tapi beratnya rintangan, ditepis dengan kesabaran.</p>
<p>Rasulullah &#8211;<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>&#8211; bersabda,</p>
<p><strong><em>إِنَّ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءَ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ</em></strong></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya diantara manusia yang paling keras bala&#8217;-nya adalah para nabi, lalu orang-orang setelahnya, lalu orang-orang setelahnya, lalu orang-orang setelahnya&#8221;.</em> [HR. Ahmad dalam <strong><em>Al-Musnad </em></strong>(6/369). Syu&#8217;aib Al-Arna&#8217;uth menyatakan hadits ini <em>shohih</em> dalam <strong><em>Takhrijul Musnad</em></strong>(no. 27079)]</p>
<p>Semoga Allah &#8211;<em>Azza wa Jalla</em>&#8211; menjadikan kita orang-orang yang berbalut kesabaran dan keridhoan atas segala ketentuan-Nya.</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/01/penawar-musibah.html#more">https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/01/penawar-musibah.html#more</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/penawar-musibah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nasihat Penting Engkau Baca Wahai Saudaraku sebelum 4 November 2016</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/nasihat-penting-engkau-baca-wahai-saudaraku-sebelum-4-november-2016/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/nasihat-penting-engkau-baca-wahai-saudaraku-sebelum-4-november-2016/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2016 08:33:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[4 November 2016]]></category>
		<category><![CDATA[bersabar]]></category>
		<category><![CDATA[Demonstrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat penting]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[sebelum 4 November 2016]]></category>
		<category><![CDATA[Wahai Saudaraku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=2835</guid>
		<description><![CDATA[Jika kita memperhatikan kondisi dakwah saat ini, maka kita akan menyaksikan pemandangan yang aneh dan menakjubkan, namun menyedihkan. Banyak da'i yang turun di kancah dakwah dengan semangat yang menggebu-gebu. Tujuan mereka tentunya mulia, yaitu meninggikan kalimat Allah. Namun dengan cara yang salah!!]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><b>oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa&#8217;izah -hafizhahullah-</b></p>
<p><b>&#8220;Andaikan Mereka Bersabar&#8221;<br />
</b></p>
<p>Jika kita memperhatikan kondisi dakwah saat ini, maka kita akan menyaksikan pemandangan yang aneh dan menakjubkan, namun menyedihkan. Banyak da&#8217;i yang turun di kancah dakwah dengan semangat yang menggebu-gebu. Tujuan mereka tentunya mulia, yaitu meninggikan kalimat Allah. N<strong>amun dengan cara yang salah!!</strong></p>
<p>Begitu tingginya semangat mereka dalam berdakwah, sehingga terkadang mereka keluar dari rel syariat yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta.</p>
<p>Mereka menggunakan segala cara, tanpa adanya kontrol, dengan alasan <strong>&#8220;Niat kami kan baik, kami mau jihad…mau dakwah!!&#8221;</strong></p>
<p>Oleh karena itu, sebagian orang, ada yang punya niat baik mau mendirikan <em>khilafah Islamiyah</em> dan menerapkan syari&#8217;at, tapi dengan cara yang salah sehingga <strong>melakukan pemboman disana-sini, mau melakukan kudeta atau DEMONSTRASI, mengafirkan penguasa MUSLIM, dan mencelanya!! </strong></p>
<p><strong>Ini semua adalah bentuk ketidaksabaran dalam berdakwah di jalan Allah!!!</strong></p>
<p>Padahal bersabar dalam berdakwah di jalan Allah adalah suatu suatu kewajiban yang besar yang harus dimiliki oleh para da&#8217;i.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada imamnya para da&#8217;i, yaitu Nabi <em>-Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-</em>,</p>
<p><strong>وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ (127) إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ (128) [النحل : 127 ، 128]</strong></p>
<p><em>&#8220;Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.&#8221;</em> (QS.<strong>An-Nahl</strong>  :127-128 )</p>
<p>Para pegiat dakwah alias da&#8217;i amatlah butuh dengankesabaran demi mencontoh Nabi <em>-Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-</em> dalam ber-<em>amar ma&#8217;ruf</em> dan <em>nahi mungkar</em>.</p>
<p>Ajarilah kaum muslimin tentang Al-Qur&#8217;an dan Sunnah berdasar pemahaman salaf, dengan telaten dan sabar.</p>
<p>Jangan terburu-buru mau melihat hasil, atau berputus asa saat melihat musuh-musuh Islam berjaya sehingga kalian (para da&#8217;i) pun berbuat serampangan, dan keluar dari rel syari&#8217;at.</p>
<p><strong>Umair bin Habib Al-Anshoriy</strong> <em>-radhiyallahu &#8216;anhu</em>&#8211; berkata, <em>Jika seorang diantara kalian ingin memerintahkan yang ma&#8217;ruf, dan melarang dari kemungkaran, maka hendaklah ia menempatkan dirinya di atas kesabaran terhadap segala cobaan, dan meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah. Karena barangsiapa yang meyakini (akan mendapatkan) pahala dari Allah, maka ia tak akan merasakan cobaan apapun&#8221;. </em>[HR. Ibnu Abid Dunya dalam <strong><em>Al-Hilm</em></strong> (1/30)]</p>
<p>Pembaca yang budiman, <strong>sabar itu seperti namanya; pahit rasanya, namun hasilnya manis seperti madu.</strong></p>
<p>Allah <em>-Ta&#8217;ala-</em> telah menjelaskan kepada kita bahwa Dia pasti akan memberi ujian serta cobaan kepada para hamba-Nya.</p>
<p>Terlebih lagi ujian itu akan menimpa para da&#8217;i yang berdakwah di jalan-Nya untuk membedakan antara dai yang jujur dan yang pendusta, mukmin dengan munafiq, orang yang sabar dan orang yang tidak sabar.</p>
<p>Ini merupakan sunnatullah bagi hamba-hamba-Nya. Allah <em>-Ta&#8217;ala-</em> berfirman,</p>
<p><strong>أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3) [العنكبوت : 2 ، 3]</strong></p>
<p><em>&#8220;Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, &#8220;Kami telah beriman&#8221;, sedang mereka tidak diuji lagi?  Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta&#8221;. </em>(QS. <strong>Al-Ankabuut</strong>: 2-3).</p>
<p>Dakwah di jalan Allah amat panjang perjalanannya, serta penuh dengan kesulitan, dan penderitaan. Karena da&#8217;i di jalan Allah menghendaki manusia untuk meninggalkan hawa nafsu dan syahwatnya, serta tunduk pada aturan-aturan-Nya, menegakkan hukum-hukum-Nya, dan mengamalkan syariat-syariat-Nya.</p>
<p>Kemudian pasti disana ada musuh-musuh dakwah yang tidak menghendaki demikian. <strong>Maka tidak ada jalan keluar bagi para da&#8217;i</strong> <strong>dan kaum muslimin</strong> dari makar musuh mereka, kecuali dengan <strong>memohon pertolongan yang disertai dengan usaha, dan kesabaran.</strong></p>
<p>Karena sabar bagaikan pedang yang tajam, kendaraan yang tidak menggelincirkan dan cahaya yang tidak pernah padam.</p>
<p><strong>Kesabaran adalah tanda kuatnya iman seseorang.</strong>Sebab ia terpancar dari keyakinan kuat seseorang terhadap taqdir yang telah ditetapkan oleh Allah.</p>
<p><strong>Al-Mughiroh bin Amir</strong> <em>-rahimahullah-</em> berkata,</p>
<p><strong>الشُّكْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالصَّبْرُ نِصْفُ اْلإِيْمَانِ وَالْيَقِيْنُ اْلإِيْمَانُ كُلُّهُ</strong></p>
<p><em>&#8220;Syukur adalah separuh iman, dan sabar adalah separuh iman, dan yakin adalah seluruh iman&#8221;.</em> [HR. Ibnu Abid Dunya dalam <strong><em>Asy-Syukr</em></strong> (1/24)]</p>
<p>Oleh karena itu, Rasulullah <em>-Shollallahu &#8216;alaihi wasallam-</em>memerintahkan kepada para sahabatnya untuk bersabar dalam menegakkan agama Allah <em>-Ta&#8217;ala-</em> , ketika mendapatkan siksaan, dan kekejaman kaum musyrikin di Mekah.</p>
<p><strong>Abu Abdillah Khabbab bin Al-Aratt</strong> <em>-radhiyallahu &#8216;anhu</em>&#8211; berkata, <em>&#8220;Kami pernah mengadu kepada Rasulullah -Shollallahu &#8216;alaihi wasallam-, sedangkan [beliau berbantalkan surbannya] di bawah naungan Ka&#8217;bah, [sedangkan kami baru saja bertemu dengan orang-orang musyrik yang menyiksa kami dengan siksaan yang sangat berat], seraya kami berkata, &#8220;</em><strong><em>Apakah engkau tidak memintakan pertolongan buat kami?</em></strong><em> Apakah engkau tidak mendo&#8217;akan (kemenangan) bagi kami?&#8221;</em></p>
<p><em>Beliau bersabda,</em></p>
<p><strong>قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي اْلأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيْهَا ثُمَّ يُؤْتَى بِالْمِنْشَارِ فَيُوْضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ نِصْفَيْنِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيْدِ مَا دُوْنَ لَحْمِهِ وَعَظْمِهِ، مَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ, وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا اْلأَمْرُ حَتَّى يَسِيْرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُوْنَ</strong></p>
<p><em>&#8220;Sungguh orang-orang sebelum kalian ada yang ditanam hidup-hidup. Ada juga yang digergaji dari atas kepalanya, sehingga tubuhnya terbelah menjadi dua. </em></p>
<p><em>Ada</em><em> pula orang yang disisir dengan sisir besi yang mengenai daging dan tulangnya tetapi yang demikian itu tidak menggoyahkan mereka dari agamanya. </em></p>
<p><strong><em>Demi Allah, Allah pasti akan memenangkan agama ini </em></strong><em>hingga seseorang yang berjalan dari Shan&#8217;a sampai Hadramaut tidak ada yang ia takuti kecuali Allah, dan serigala yang akan menerkam kambingnya. </em><strong><em>Akan tetapi kalian sangat tergesa-gesa</em></strong><em>&#8220;.</em> [HR. Al-Bukhariy (3612, &amp; 6943)]</p>
<p><strong>Alangkah baiknya kita simak nasihat agung dari Seorang ulama&#8217; Salafiy,</strong> <strong>Syaikh Al-Utsaimin </strong><em>-rahimahullah-</em> saat berkata menjelaskan hadits ini,</p>
<p><em>&#8220;Dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya bersabar terhadap gangguan musuh-musuh kaum muslimin. Jika seorang sabar, maka ia akan menang!! <strong>Kewajiban seseorang adalah menghadapi sesuatu  yang ia dapatkan berupa gangguan orang-orang kafir dengan </strong></em><strong><em>kesabaran</em></strong><strong><em>, mengharapkan pahala, dan menunggu kelapangan (kemenangan).</em></strong></p>
<p><em>Seseorang jangan menyangka masalah ini akan berakhir dengan cepat dan mudah. Terkadang Allah menguji orang-orang mukmin dengan orang-orang kafir yang menyakiti mereka, bahkan barangkali membunuh kaum mukminin sebagaimana mereka telah membunuh para nabi.</em></p>
<p><em>Orang-orang Yahudi dari Bani Isra&#8217;il telah membunuh para nabi yang lebih mulia dibandingkan para dai, dan kaum msulimin. </em></p>
<p><em>Seorang harus </em><strong><em>bersabar</em></strong><em>, dan menunggu kelapangan, serta tidak bosan, dan tidak berkeluh kesah, bahkan ia tetap tegar laksana batu. Akibat baik adalah milik orang-orang bertaqwa; Allah akan bersama orang-orang yang </em><strong><em>bersabar</em></strong><em>. </em></p>
<p><em>Jika seorang muslim mau bersabar, dan tegar, serta mau menempuh jalan-jalan yang menyampaikan kepada tujuan dengan cara teratur (baik), tapi <u>bukan dengan cara berbuat keributan, bukan mengajak, dan membangkitkan (emosi) massa.</u></em></p>
<p><em>Karena musuh-musuh kaum muslimin dari kalangan orang-orang kafir, dan munafiq berjalan di atas rencana-rencana yang hebat, dan kokoh, dan merealisasikan tujuan mereka. </em></p>
<p><strong><em>Adapun orang-orang <u>picik</u> yang diombang-ambingkan oleh perasaan</em></strong><em>, sehingga bergejolak (marah), dan bangkit. Karena, terkadang akan luput sesuatu yang banyak dari mereka, bahkan terjadi dari mereka ketergelinciran yang <u>merusak sesuatu yang mereka dahulu telah bangun</u>, jika mereka sungguh pernah membangun sesuatu. </em></p>
<p><em>Tapi seorang mukmin harus </em><strong><em>bersabar</em></strong><em>, dan tenang; ia berbuat, tenang, dan menenangkan diri, serta membuat rencana secara rapi&#8221;. </em>[Lihat <strong><em>Syarh Riyadh As-Sholihin</em></strong> (1/104-105)]</p>
<p>Jika kita memperhatikan hadits Rasulullah <em>-Shollallahu &#8216;alaihi wasallam-</em> ini dengan baik dan juga nasihat Syaikh Al-Utsaimin &#8211;<em>rahimahullah</em>-, maka kita akan menemukan pelajaran yang sangat agung dan berharga, bahwa begitu besarnya ujian yang didapatkan para sahabat nabi <em>-Shollallahu &#8216;alaihi wasallam-</em> berupa gangguan dan siksaan kaum musyrikin dalam berpegang teguh dalam agama Allah <em>-Ta&#8217;ala-</em>.</p>
<p><strong>Walau demikian, Rasulullah <em>-Shollallahu &#8216;alaihi wasallam-</em> tetap memerintahkan mereka untuk</strong><strong><em>bersabar</em></strong><strong> dan tidak tergesa-gesa, sambil mencari solusi yang tepat.</strong></p>
<p>Sebaliknya, Jika kita bandingkan dengan kondisi kaum muslimin pada hari ini, sungguh jauh berbeda.</p>
<p>Tatkala mereka tidak mau bersabar, malah bersikap tergesa-gesa sehingga bukan hasil baik yang diraih, namun kehancuran dan kebinasaan.</p>
<p>Jika kita mau melihat ke belakang, ada sebagian kaum muslimin yang tidak bersabar dan picik. Mereka melakukan DEMONSTRASI –walaupun mereka sebut aksi damai-, namun hakikatnya aksi itu adalah sikap konyol dan kekanak-kanakan dan tanda bahwa mereka tidaklah bersabar!</p>
<p>Mungkin anda memiliki seorang anak kecil di rumah saat ia tidak diberi apa yang ia minta, maka dengan segera ia marah, merengek-rengek, bahkan membentak dan mengancam anda selaku orang tuanya. Padahal boleh jadi anda menunda permintaannya, karena sesuatu yang anda pertimbangkan tentang kemaslahatan atau madhorot dirinya, ataukah madhorot orang lain yang ada di sekitar anda.</p>
<p>Demikianlah perumpamaan para demonstran yang tidak menyadari akan kedudukan diri, sifat bijak yang perlu ditempuh, dan akibat dari perbuatan mereka yang akan merembes dan mengenai orang banyak. <strong>ANDAIKAN MEREKA MAU BERSABAR</strong>, maka pasti urusannya tidak akan serumit apa yang mereka lakukan berupa demonstrasi yang akan mengurangi atau menghilangkan martabat pemerintahnya yang muslim, serta menyebabkan banyak kerusakan dan kerugian bagi negara dan bangsa.</p>
<p><strong>Andaikan mereka mau bersabar</strong>, bertakwa, dan mengerjakan yang diperintahkan Rabb-nya, niscaya akan berikan pertolongan-Nya.</p>
<p>Karena Nabi &#8211;<em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-</em>  bersabda,</p>
<p><strong>وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ, وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ, وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا</strong></p>
<p><em>&#8220;Ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran; kelonggaran bersama kesusahan, dan bersama kesulitan ada kemudahan&#8221;.</em>[HR. HR. Ahmad dalam <strong><em>Al-Musnad</em></strong> (1/307), Al-Hakim dalam <strong><em>Al-Mustadrok</em> </strong>(6303 &amp; 6304), Ath-Thobroniy dalam <strong><em>Al-Kabir</em></strong> (11560), Abd bin Humaid dalam <strong>Al-Musnad</strong>(636). Hadits ini di-<em>shohih</em>-kan Al-Arna&#8217;uth dalam <strong><em>Takhrij Al-Musnad</em></strong> (no. 2804)]</p>
<p>Jadi, kesabaran merupakan senjata yang ampuh bagi kaum muslimin pada hari ini. <strong>Janganlah hanya karena melihat sebagian saudara-saudara kita yang tertindas oleh orang-orang kafir </strong>atau <strong>si kafir menghina agama, </strong>sehingga membuat kita gelap mata, membabi buta dan menghancurkan disana-sini serta membuat kerusakan di muka bumi. Janganlah hal seperti ini membuat kita kehilangan hikmah. Ikutilah petunjuk Al-Qur&#8217;an dan Sunnah, serta jalan para salaf.</p>
<p><strong>Sebab dari dahulu orang-orang kafir dan kaum munafiqin sangat besar kebencian dan permusuhannya terhadap kaum muslimin.</strong> Musuh-musuh Islam sejak lama telah membenci dan mencaci maki Allah, Rasul-Nya, dan Kitab-Nya. Tapi apakah para ulama sunnah melakukan langkah-langkah gegabah mendahului pemerintahnya dan tidak lagi menghargainya?!</p>
<p>Tengoklah orang-orang beriman dahulu, mereka disiksa dan ditindas, bahkan para nabi dan rasul pun dibunuh dan dibantai oleh orang-orang kafir.</p>
<p>Bacalah firman Allah <em>-Ta&#8217;ala-</em> ketika mengingkari orang-orang yahudi yang membunuh para nabi,</p>
<h4 style="text-align: left;"><strong>قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنْبِيَاءَ اللَّهِ مِنْ قَبْلُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ</strong></h4>
<p><em>&#8220;Katakanlah: &#8220;Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?&#8221;</em> (QS.<strong> Al-Baqarah</strong> :91 ).</p>
<p><strong>Abdullah bin Mas&#8217;ud</strong> <em>-radhiyallahu &#8216;anhu- </em>berkata,</p>
<p><strong>كَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِيْ نَبِيًّا مِنَ اْلأَنْبِيَاءِ ضَرَبَهُ قَوْمُهُ فَأَدْمَوْهُ وَهُوَ يَمْسَحُ الدَّمَ عَنْ وَجْهِهِ وَيَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ</strong></p>
<p><em>&#8220;Seakan akan saya melihat Nabi -Shollallahu &#8216;alaihi wasallam- sewaktu menceritakan salah seorang dari nabi-nabi ketika dipukuli oleh kaumnya sehingga berlumuran darah dan ia mengusap darah dari wajahnya sambil berdo&#8217;a : &#8220;Wahai Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui </em>[HR. Bukhariy dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (3290), dan Muslim dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (1792)].</p>
<p>Walaupun siksaan dan cobaan yang dialami oleh para nabi dan rasul serta orang-orang beriman dahulu sangat berat, namun mereka tetap <strong>bersabar</strong> hingga datangnya pertolongan dari Allah.</p>
<p>Mereka tidak meronta-ronta, dan membabi buta, lalu mengadakan kerusakan tanpa memikirkan akibat buruknya.</p>
<p><strong>Mereka tidaklah keluar ke jalan-jalan melakukan demonstrasi,</strong> bahkan mereka bersabar sesuai perintah Allah, sambil mencari solusi yang syar&#8217;i!!</p>
<p>Allah <em>-Ta&#8217;ala-</em> berfirman,</p>
<p><strong>وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ  [الأنعام : 34]</strong></p>
<p><em>&#8220;Dan Sesungguhnya Telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. dan Sesungguhnya Telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu</em>.&#8221; (QS. <strong>Al-An&#8217;am</strong> :34 ).</p>
<p>Maka janganlah heran, ketika melihat kondisi kaum muslimin pada hari ini yang semakin mundur dan terbelakang.</p>
<p>Tidak lain disebabkan oleh dosa-dosa mereka, dan <strong>tidak bersabar</strong> serta <strong>bersikap tergesa-gesa</strong>!!!</p>
<p>Allah <em>-Ta&#8217;ala-</em> berfirman,</p>
<p><strong>وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ  [الشورى : 30]</strong></p>
<p><em>&#8220;Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)&#8221;. </em>(QS. <strong>Asy-Syuraa</strong> : 30).</p>
<p>Salah satu musibah yang harus direnungi oleh kaum muslimin di Jakarta, munculnya seorang kafir yang memimpin mereka.</p>
<p>Si kafir ini memimpin kaum muslimin dan mengetahui serta menentukan segala urusan mereka. Ini merupakan musibah besar.</p>
<p>Sebab, terangkatnya kafir itu jadi pemimpin akan memberikan jalan baginya untuk menekan Islam, melecehkannya, mempersempit dan menghalangi jalannya perkembangan Islam di wilayah kekuasaannya, dan sebaliknya akan memberikan angin segar bagi agama kekafirannya.</p>
<p>Allah -Azza wa Jalla- berfirman,</p>
<p><strong><em>وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ [الأنعام : 129]</em></strong></p>
<p><em>&#8216;&#8221;Dan Demikianlah kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.&#8221; </em><strong>(QS. Al-An&#8217;aam: ) </strong></p>
<p><strong>Al-Imam Mahmud Syukri Al-Alusiy </strong><em>-rahimahullah- </em>berkata saat menerangkan ayat di atas,</p>
<p>روح المعاني &#8211; (8 / 27)</p>
<p>واستدل به على أن الرعية إذا كانوا ظالمين فالله تعالى يسلط عليهم ظالما مثلهم</p>
<p><em>&#8220;Hadits ini dijadikan dalil bahwa rakyat bila mereka adalah orang-orang yang zholim, maka Allah -Ta&#8217;ala- akan menguasakan atas mereka seorang (pemimpin) yang zholim semisal mereka.&#8221;</em>[Lihat <strong><em>Ruh Al-Ma&#8217;ani</em></strong> (8/27)]</p>
<p><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Al-Harroniy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata saat menjelaskan <u>hilangnya sebagian kebaikan</u> dari kaum muslimin dengan berubahnya khilafah menuju kerajaan,</p>
<p><strong><em>وَقَدْ ذَكَرْت فِي غَيْرِ هَذَا الْمَوْضِعِ أَنَّ مَصِيرَ الْأَمْرِ إلَى الْمُلُوكِ وَنُوَّابِهِمْ مِنْ الْوُلَاةِ ؛ وَالْقُضَاةِ وَالْأُمَرَاءِ لَيْسَ لِنَقْصِ فِيهِمْ فَقَطْ بَلْ لِنَقْصِ فِي الرَّاعِي وَالرَّعِيَّةِ جَمِيعًا ؛ فَإِنَّهُ &#8221; كَمَا تَكُونُونَ : يُوَلَّى عَلَيْكُمْ</em></strong><strong><em> &#8220;</em></strong></p>
<p><em>&#8220;Sungguh aku telah menyebutkan di tempat lain bahwa berubahnya urusan (khilafah) menjadi raja-raja dan wakilnya dari kalangan pemerintah, hakim dan umaro&#8217;, bukanlah karena kekurangan pada mereka saja, bahkan karena kekurangan pada diri pemerintah dan rakyat sekaligus. Karena, sesuai keadaaan kalian, maka diangkatlah (seorang pemimpin yang sesuai keadaan kalian) atas kalian.&#8221; </em>[Lihat <strong><em>Majmu&#8217; Al-Fatawa</em></strong> (35/20)]</p>
<p>Jadi, munculnya pemimpin zhalim atau kafir, mungkin karena banyak diantara kita yang perbuatannya mirip dengan kaum kafir. Lihat saja kaum muslimin ramai dalam memperingati hari raya kaum kafir (semisal perayaan tahun baru masehi yang merupakan siyiar penyembahan kaum pagan Romawi).</p>
<p>Kita saksikan kaum muslimin membuat perayaan-perayaan yang menyerupai kaum kafir, pakaian, gaya hidup, cara bermuamalah, semua mirip dengan perbuatan kaum kafir, bahkan ada diantara mereka sudah hampir tak bisa dibedakan dari kaum kafir!! Disinilah pentingnya kaum muslimin mengembalikan manusia kepada ilmu wahyu.</p>
<p>Tinggal kesiapan kita membangun agama Allah -Tabaroka wa Ta&#8217;ala- dari yang terkecil sampai yang besar, dari aqidah sampai semua urusan agama.</p>
<p>Andaikan mereka (para dai) bersabar dalam membangun aqidah umat, akhlak, dan muamalah mereka, maka yakin kejayaan  dan kemenangan itu ada pada umat Islam. Setelah itu, tidak akan mungkin kita akan dipimpin dan dilecehkan oleh si kafir!!</p>
<p>Bagaimana mungkin Allah akan menolong kita apabila masih banyak diantara kita yang masih alergi dengan TAUHID, bahkan dai tauhid dilecehkan dan dijauhi oleh kaum muslimin.</p>
<p>Bagaimana mungkin kita akan diberi pertolongan dan kejayaan oleh Allah -Azza wa Jalla- bila kita masih enggan berpegang teguh dengan sunnnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, bahkan sebaliknya kita malah MENYUBURKAN BID&#8217;AH?!</p>
<p>Bagaimana mungkin kita mendapat pertolongan  dari langit, sementara akhlak dan perilaku kita masih membebek dan meniru kaum kafir, bahkan berbagga dengan kaum kafir dan mengikuti kebiasaan dan syiar mereka?!</p>
<p>Ketahuilah bahwa mengembalikan umat kepada aqidah dan tauhid yang benar adalah perjalanan panjang.</p>
<p>Ingatlah bahwa meneguhkan umat di atas sunnah Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- adalah pekerjaan dan tanggung jawab yang menelan waktu, harta, tenaga, pikiran, bahkan jiwa sekalipun.</p>
<p>Camkan bahwa membangun akhlak umat di bawah lentera wahyu adalah lautan luas yang harus kita arungi demi keselamatan bersama.</p>
<p>Andaikan kalian –wahai para dai- mau bersabar, maka jalan panjang akan terasa pintas, beban berat akan terasa ringan, dan kejayaan akan menghampirimu.</p>
<p>Pinggirkan segala keluh kesah dalam dakwah. Jangan pernah tergesa-gesa dan serampangan bersikap, karena hal itu hanyalah akan mewariskan kerusakan dan perusakan yang esok hari akan menyelimuti kalian penyesalan setelah gerbong berlalu.</p>
<p>Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat dan jalan keluar dari setiap permasalahan itu ada.</p>
<p>Di balik kesempitan ada kelapangan, dan di balik kesulitan ada kemudahan, <strong>jika kita mau bersabar, dan mencari solusinya,</strong> seperti yang dicontohkan oleh Nabi <em>-Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam-  </em>dan para sahabat.</p>
<p>Karena Allah telah menjanjikan semua itu, sedangkan Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.</p>
<p>Allah <em>-Ta&#8217;ala-</em> berfirman,</p>
<p><strong>فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ [غافر : 55]</strong></p>
<p><em>&#8220;Maka bersabarlah kamu karena sesungguhnya janji Allah itu benar dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Robbmu pada waktu petang dan pagi&#8221;.</em>(QS.<strong>Ghofir</strong> :55 ).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Terakhir</strong>, kami ingatkan kepada para dai. Bertaqwalah kalian wahai para dai yang menggiring umat untuk berorasi dan berdemonstrasi. Tanggung jawab umat itu ada di pundak kalian. Darah dan harta mereka jika tumpah dan hilang karena demonstrasi tersebut, maka kalian akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.</p>
<p>Demonstrasi (damai-tidak damai) yang kalian lakukan adalah sebuah madhorot dan kerusakan, minimalnya akan merusak citra presidenmu yang nyata-nyata masih muslim.</p>
<p><strong>((لا ضرر ولاضرار))</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:<br />
https://abufaizah75.blogspot.co.id/2016/11/nasihat-penting-engkau-baca-wahai.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/nasihat-penting-engkau-baca-wahai-saudaraku-sebelum-4-november-2016/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabligh Akbar Ulama: Masjid Ponpes Al-Barokah &#8211; Semarang</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/tabligh-akbar-ulama-masjid-ponpes-al-barokah-semarang/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/tabligh-akbar-ulama-masjid-ponpes-al-barokah-semarang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jul 2016 08:28:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Info Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Tabligh Akbar]]></category>
		<category><![CDATA[Amalanku]]></category>
		<category><![CDATA[Anakku Kaulah Harapanku Kala Terputus Amalanku]]></category>
		<category><![CDATA[Indahnya Kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[Kaulah Harapanku Kala Terputus Amalanku]]></category>
		<category><![CDATA[KAUM MUSLIMIN]]></category>
		<category><![CDATA[Kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[MUSLIMIN]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat Umum Bagi Kaum Muslimin]]></category>
		<category><![CDATA[Terputus Amalanku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=2466</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah&#8230; Hadirilah&#8230;! Tabligh Akbar Ulama Hari Sabtu &#8211; Ahad, 3 &#8211; 4 Dzulqaidah 1437 H / 06 &#8211; 07 Agustus 2016 Bersama: Ulama dari Makkah Arab Saudi Fadhilatusy Syaikh Abdul Hady Al-Umairy, MA Sabtu, 06 Agustus 2016 Tema: &#8220;Wahai Anakku Kaulah Harapanku Kala Terputus Amalanku Waktu: 15.30 &#8211; 20.00 WIB Ahad, 07 Agustus 2016 Tema:... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/tabligh-akbar-ulama-masjid-ponpes-al-barokah-semarang/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah&#8230;</p>
<p>Hadirilah&#8230;!<br />
Tabligh Akbar Ulama</p>
<p>Hari Sabtu &#8211; Ahad, 3 &#8211; 4 Dzulqaidah 1437 H / 06 &#8211; 07 Agustus 2016</p>
<p>Bersama:<br />
Ulama dari Makkah Arab Saudi</p>
<p>Fadhilatusy Syaikh Abdul Hady Al-Umairy, MA</p>
<p>Sabtu, 06 Agustus 2016<br />
Tema: &#8220;Wahai Anakku Kaulah Harapanku Kala Terputus Amalanku<br />
Waktu: 15.30 &#8211; 20.00 WIB</p>
<p>Ahad, 07 Agustus 2016<br />
Tema: &#8220;Nasehat Umum Bagi Kaum Muslimin&#8221;<br />
Waktu: Sesi I: 05.00 &#8211; 06.00 WIB<br />
Sesi II: 16.00 &#8211; 17.30 WIB<br />
Sesi III: 18.00 &#8211; 19.00 WIB</p>
<p>Ahad, 07 Agustus 2016<br />
Tema: &#8220;Indahnya Kesabaran&#8221;<br />
Waktu: 09.00 &#8211; 11.00 WIB<br />
Tempat:<br />
Masjid Ponpes Al-Barokah<br />
Jl. Tegalsari Raya, No. 41 Semarang, Jateng (Depan Alfamart)</p>
<p>Untuk Umum<br />
Muslimin dan Muslimah</p>
<p>Kontak Informasi:<br />
081325888015 (Putra)<br />
081325914002 (Putri)</p>
<p>Live Streaming Radio Al-Barokah Via Website:<br />
www.Majelis-Albarokah.com</p>
<p>Datanglah Dengan Ikhlas Hanya Mengharap Wajah Allah Semata<br />
&#8220;Barang Siapa Menempuh Sebuah Jalan Untuk Menuntut Ilmu, Maka Allah Akan Mudahkan Untuknya Jalan Menuju Surga&#8221; (HR. MUSLIM No. 2699)</p>
<p>Yayasan Islam Al-Barokah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/tabligh-akbar-ulama-masjid-ponpes-al-barokah-semarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
