<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Markaz Dakwah untuk Bimbingan dan Taklim &#187; natal</title>
	<atom:link href="https://markazdakwah.or.id/tag/natal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://markazdakwah.or.id</link>
	<description>www.markazdakwah.or.id</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Apr 2019 07:54:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Jangan Ucapkan Selamat Natal</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/jangan-ucapkan-selamat-natal/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/jangan-ucapkan-selamat-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2016 11:23:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Ucapkan Selamat Natal]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3003</guid>
		<description><![CDATA[Mengucapkan selamat Natal bukanlah adab "berbagi kebahagiaan" sebagaimana yang diucapkan oleh salah seorang kiyai yang ditokohkan di Indonesia ini, karena mengucapkan "Selamat Natal" adalah bentuk tasyabbuh (penyerupaan) terhadap orang kafir yang diharamkan dan menghancurkan prinsip al-Wala' wal Bara' dalam akidah Islam.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Mengucapkan selamat Natal bukanlah adab &#8220;berbagi kebahagiaan&#8221; sebagaimana yang diucapkan oleh salah seorang kiyai yang ditokohkan di Indonesia ini, karena mengucapkan &#8220;Selamat Natal&#8221; adalah bentuk tasyabbuh (penyerupaan) terhadap orang kafir yang diharamkan dan menghancurkan prinsip al-Wala&#8217; wal Bara&#8217; dalam akidah Islam.</p>
<p>Allah Ta&#8217;aala berfirman:</p>
<p>ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ ﴿١﴾ ﻟَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ ﻣَﺎ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ ﴿٢﴾ ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧﺘُﻢْ ﻋَﺎﺑِﺪُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ ﴿٣﴾ ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﻋَﺎﺑِﺪٌ ﻣَّﺎ ﻋَﺒَﺪﺗُّﻢْ ﴿٤﴾ ﻭَﻟَﺎ ﺃَﻧﺘُﻢْ ﻋَﺎﺑِﺪُﻭﻥَ ﻣَﺎ ﺃَﻋْﺒُﺪُ ﴿٥﴾ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨُﻜُﻢْ ﻭَﻟِﻲَ ﺩِﻳﻦِ ﴿٦ ﴾</p>
<p>Artinya:<br />
Katakanlah: &#8220;Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”</p>
<p>Al-Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata tentang surah al-Kafiruun di atas:</p>
<p>&#8221; ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺴﻮﺭﺓ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺒﺮﺍﺀﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻌﻤﻠﻪ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻮﻥ، ﻭﻫﻲ ﺁﻣﺮﺓ ﺑﺎﻹﺧﻼﺹ ﻓﻴﻪ، ﻓﻘﻮﻟﻪ : } ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ { ﺷﻤﻞ ﻛﻞ ﻛﺎﻓﺮ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﺍﻷﺭﺽ . ‏[ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺍﺑﻦ ﻛﺜﻴﺮ ‏( 8/507 ‏) ﻃﺒﻌﺔ ﺩﺍﺭ ﻃﻴﺒﺔ ].</p>
<p>&#8220;Surah ini adalah surah al-Baraah (berlepas diri) dari amalan yang diamalkan kaum musyrikin, dan surah ini memerintahkan keikhlasan didalamnya, firman-Nya: &#8220;wahai orang-orang kafir&#8221; mencakup seluruh orang kafir yang ada di permukaan bumi&#8230;.&#8221; [Tafsir Ibnu Katsir: 8/507]</p>
<p>Terdapat tiga pendapat tentang sebab turunnya (asbabun nuzul) surah ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Jauziy dalam kitab Zaadul Masiir, di mana ketiga pendapat tersebut mengisyaratkan tentang ajakan pengikraran atau mengiyakan sesembahan selain Allah (ajakan kepada selain agama Islam) dan bukan tentang penyatuan agama, membenarkan agama selain Islam tidak mengharuskan adanya penyatuan agama, dengan kata lain; walaupun seorang hamba tidak menyatukan antara agama Islam dengan selainnya, akan tetapi ia mengikrar(mengiyakan) selain agama Islam, maka ia masuk dalam cakupan surah ini. Dengan turunnya surah ini, Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam diperintahkan untuk berlepas diri dari agama dan sesembahan kafir Quraisy dan surah ini tidak khusus untuk kaum kafir Quraisy, berdasarkan kaidah tafsir yang disebutkan oleh para ulama:</p>
<p>ﺍﻟﻌﺒﺮﺓ ﺑﻌﻤﻮﻡ ﺍﻟﻠﻔﻆ ﻻ ﺑﺨﺼﻮﺹ ﺍﻟﺴﺒﺐ</p>
<p>&#8220;Parameternya adalah keumuman lafadz dan bukan kekhususan sebab&#8221;.</p>
<p>Oleh karenanya, para ulama menggunakan firman Allah Ta&#8217;aala:</p>
<p>( ﻭَﻣَﺎ ﺁﺗَﺎﻛُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻓَﺨُﺬُﻭﻩُ ﻭَﻣَﺎ ﻧَﻬَﺎﻛُﻢْ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﺎﻧْﺘَﻬُﻮﺍ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌِﻘَﺎﺏِ )</p>
<p>&#8220;Apa saja yang didatangkan oleh Rasulullah maka ambillah ia, dan apa saja yang ia larang berhentilah takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah itu sangat keras siksaan-Nya.&#8221; (al-Hasyr: 7)<br />
Sebagai dalil tentang wajibnya mentaati Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya -termasuk perbuatan bid&#8217;ah-, walaupun sebab turun ayat tersebut adalah tentang al-Faiy.</p>
<p>Juga firman Allah Ta&#8217;aala:</p>
<p>( ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻠْﻘُﻮﺍ ﺑِﺄَﻳْﺪِﻳﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻬْﻠُﻜَﺔِ )</p>
<p>&#8220;Janganlah kalian melemparkan diri-diri kalian ke dalam kebinasaan.&#8221; (Al-Baqarah: 195)<br />
Sebagai dalil untuk melarang perbuatan bunuh diri atau segala bentuk perbuatan yang akan mencelakakan diri sendiri, walaupun kebinasaan yang dimaksud dalam ayat ini adalah meninggal jihad<br />
dan tidak menginfakkan harta di jalan Allah.</p>
<p>Demikian pula firman Allah Ta&#8217;aala:</p>
<p>&#8220;( ﺇِﻥّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﺄْﻣُﺮُﻛُﻢْ ﺃَﻥْ ﺗُﺆَﺩُّﻭﺍ ﺍﻷﻣَﺎﻧَﺎﺕِ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻬَﺎ )</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Alah memerintahkan kalian untuk menyerahkan amanah kepada ahlinya&#8221;<br />
Dijadikan dalil tentang wajibnya menunaikan amanah secara umum.</p>
<p>Ayat ini turun tentang Utsman bin Thalhah pada waktu ditaklukkannya kota Makkah (Fathu Makkah) tatkala Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengambil kunci Ka&#8217;bah darinya, setelah keluar dari Ka&#8217;bah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam membaca ayat di atas dan menyerahkan kunci itu kepada Utsman bin Thalhah. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 2/340]</p>
<p>Apakah seorang muslim tidak diperbolehkan berdalil dengan ayat ini tentang wajibnya menunaikan amanah? Lalu dikatakan sebagai &#8220;Jaka Sembung Bawa Golok&#8221; Hanya karena disebabkan turunnya ayat di atas tentang kisah Utsman bin Thalhah pada saat penaklukan kota Makkah(Fathu Makkah)?<br />
Dari Jabalah bin Haritsah, ia berkata: Aku berkata: wahai Rasulullah ajarkanlah kepadaku sesuatu ketika aku hendak tidur, beliau menjawab: &#8220;Jika engkau ingin ke tempat pembaringanmu(kasur), maka ucapkanlah: ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ hingga engkau selesai membacanya, sesunguhnya ia merupakan baraah (berlepas diri) dari kesyirika.&#8221; [HR. Ahmad dalam al-Musnad (20924), ath-Thabaraniy dalam al-Kubra (2150) dan al-Ausath (900) dan (2042), dishahihkan oleh al-Albaniy dalam Shahih al-Jaami&#8217; (292)]</p>
<p>Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memahami surah al-Kafirun dan mengajarkannya kepada shahabatnya ketika hendak tidur.<br />
Apakah pantas seorang muslim melarang seseorang membaca surah al-Kafirun sebelum tidur lalu mengatakan perbuatan itu adalah &#8220;Jaka Sembung Bawa Golok&#8221; Karena sababun nuzul surah tersebut ditujukan kepada kafir Quraisy?</p>
<p>Mengucapkan &#8220;Selamat Natal&#8221; mengandung legitimasi terhadap peribadahan orang-orang Nashara kepada selain Allah, hal ini dapat diketahui jika ditinjau dari sisi sejarah permulaan perayaan Natal. Apakah mungkin bagi seorang muslim yang hanya menyembah Allah Ta&#8217;aala mengiyakan dan mengucapkan selamat serta &#8220;berbagai bahagia&#8221; atas penyembahan selain Allah?</p>
<p>Oleh karena itu, tidak mengherankan jika para Shahabat radhiyallahu &#8216;anhu seperti Umar bin al-Khattab sangat tegas terhadap orang-orang kafir.</p>
<p>Dari Simak bin Harb, ia berkata:</p>
<p>&#8221; ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﻋِﻴَﺎﺿًﺎ ﺍﻷَﺷْﻌَﺮِﻱَّ، ﺃَﻥَّ ﺃَﺑَﺎ ﻣُﻮﺳَﻰ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭَﻓَﺪَ ﺇِﻟَﻰ ﻋُﻤَﺮَ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ، ﻭَﻣَﻌَﻪُ ﻛَﺎﺗَﺐٌ ﻧَﺼْﺮَﺍﻧِﻲُّ، ﻓَﺄَﻋْﺠَﺐَ ﻋُﻤَﺮَ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻣَﺎ ﺭَﺃَﻯ ﻣِﻦْ ﺣِﻔْﻈِﻪِ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : &#8221; ﻗُﻞْ ﻟِﻜَﺎﺗِﺒِﻚَ ﻳَﻘْﺮَﺃْ ﻟَﻨَﺎ ﻛِﺘَﺎﺑًﺎ &#8221; ، ﻗَﺎﻝَ : ﺇِﻧَّﻪُ ﻧَﺼْﺮَﺍﻧِﻲٌّ، ﻻ ﻳَﺪْﺧُﻞُ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪَ، ﻓَﺎﻧْﺘَﻬَﺮَﻩُ ﻋُﻤَﺮُ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﻭَﻫَﻢَّ ﺑِﻪِ، ﻭَﻗَﺎﻝَ : &#8221; ﻻ ﺗُﻜْﺮِﻣُﻮﻫُﻢْ ﺇِﺫْ ﺃَﻫَﺎﻧَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠﻪُ، ﻭَﻻ ﺗُﺪْﻧُﻮﻫُﻢْ ﺇِﺫْ ﺃَﻗْﺼَﺎﻫُﻢُ ﺍﻟﻠﻪُ، ﻭَﻻ ﺗَﺄْﺗَﻤِﻨُﻮﻫُﻢْ ﺇِﺫْ ﺧَﻮَّﻧَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ .&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mendengar Iyadh al-Asy&#8217;ariy (berkata), sesungguhnya Abu Musa radhiyallahu &#8216;anhu bertamu kepada Umar bin al-Khattab radhiyallahu &#8216;anhu bersama seorang penulis Nashraniy, maka Umar radhiyallahu &#8216;anhu pun takjub dari apa yang ia lihat berupa hafalannya, beliau berkata: katakan kepada sang penulismu ini agar ia membaca kitab untuk kita, ia Abu Musa menjawab: sungguh ia adalah seorang Nashraniy, dia tidak masuk ke dalam masjid, maka Umar pun menghardiknya lalu bangkit seraya berkata: janganlah kalian memuliakan mereka karena Allah telah menghinakan mereka, dan janganlah kalian mendekatkan mereka karena Allah telah menjauhkan mereka, dan janganlah kalian mengangap mereka sebagai orang yang amanah karena Allah telah menganggap mereka sebagai para pengkhianat.&#8221; [Sunan al-Kubra al-Baihaqiy: 10/216 (20409)]</p>
<p>Maka sangatlah tidak pantas jika seorang muslim yang tidak mengucapkan &#8220;Selamat Natal&#8221; berdasarkan surah al-Kafiruun dianggap sebagai &#8220;Jaka Sembung Bawa Golok&#8221; sebagaimana pernyataan aneh &#8220;sang kiyai&#8221;, dan bisa jadi pemahaman aneh dari sang kiyai ini merupakan akibat dari ucapannya yang suka &#8220;ngegoblokin&#8221; orang lain.</p>
<p>Berita Shahih yang Benar-Benar Terjadi</p>
<p>Penyerupaan sebagian kaum Muslimin terhadap orang kafir merupakan kabar shahih yang telah disampaikan oleh Nabi -shallallahu alaihi wa sallam- sejak dahulu.<br />
Dari Abu Said radhiyallahu &#8216;anhu , sesungguhnya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>ﻟﺘﺘّﺒِﻌُﻦ ﺳَﻨَﻦَ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻗﺒﻠَﻜﻢ ﺷِﺒﺮﺍً ﺑﺸِﺒﺮٍ ﻭﺫِﺭﺍﻋﺎً ﺑﺬِﺭﺍﻉ، ﺣﺘّﻰ ﻟﻮ ﺳَﻠَﻜﻮﺍ ﺟُﺤﺮَ ﺿَﺐٍّ ﻟَﺴَﻠﻜﺘُﻤﻮﻩُ . ﻗﻠﻨﺎ : ﻳﺎﺭﺳﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪ، ﺍﻟﻴﻬﻮﺩَ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭَﻯ ؟ ﻗﺎﻝ : ﻓﻤَﻦ ‏) ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ‏( 3381 ‏) ﻭﻣﺴﻠﻢ ‏( 6732 )</p>
<p>&#8220;Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti sunnah-sunnah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pun akan ikut memasukinya,&#8221; kami berkata: wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksud adalah Yahudi dan Nashara? Beliau menjawab: &#8220;siapa lagi kalau bukan mereka.&#8221; [HR. al-Bukhariy no. 3381 dan Muslim no.6732]</p>
<p>Dari Ibnu Abbas radhiyallahu &#8216;anhuma di akhir hadits:</p>
<p>( ﻭﺣﺘﻰ ﻟﻮ ﺃﻥ ﺃﺣﺪﻫﻢ ﺟﺎﻣﻊ ﺍﻣﺮﺃﺗﻪ ﺑﺎﻟﻄﺮﻳﻖ ﻟﻔﻌﻠﺘﻤﻮﻩ ‏)<br />
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻤﻨﺎﻭﻱ : ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺻﺤﻴﺢ . ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻷﺣﻮﺫﻱ 6/342</p>
<p>&#8220;Dan sampai-sampai jika salah seorang dari mereka menggauli istrinya di jalanan kalian pun akan mengikutinya.&#8221;<br />
Al-Munawiy berkata: &#8220;Sanadnya shahih.&#8221; [Tuhfah al-Ahwadziy: 6/342]</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan:</p>
<p>&#8221; ﻫﺬﺍ ﺧﺮﺝ ﻣﺨﺮﺝ ﺍﻟﺨﺒﺮ ﻋﻦ ﻭﻗﻮﻉ ﺫﻟﻚ ﻭﺍﻟﺬﻡ ﻟﻤﻦ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﻛﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻳﺨﺒﺮ ﻋﻤﺎ ﻳﻔﻌﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺑﻴﻦ ﻳﺪﻱ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﻣﻦ ﺍﻷﺷﺮﺍﻁ ﻭﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺔ &#8221;</p>
<p>&#8220;(Hadits) ini merupakan kabar yang terjadi dan celaan bagi siapa saja yang melakukannya, sebagaimana beliau mengabarkan tentang perkara yang dilakukan oleh manusia sebelum hari kiamat berupa tanda-tanda (hari kiamat) dan perkara-perkara yang haram.&#8221; [Faidhul Qadir: 5/262]</p>
<p>Al-Imam an-Nawawiy rahimahullah berkata:</p>
<p>&#8221; ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﺎﻟﺸﺒﺮ ﻭﺍﻟﺬﺭﺍﻉ ﻭﺟﺤﺮ ﺍﻟﻀﺐ ﺍﻟﺘﻤﺜﻴﻞ ﺑﺸﺪﺓ ﺍﻟﻤﻮﺍﻓﻘﺔ ﻟﻬﻢ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺍﻟﻤﻮﺍﻓﻘﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﻲ ﻭﺍﻟﻤﺨﺎﻟﻔﺎﺕ ﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﻔﺮ، ﻭﻓﻲ ﻫﺬﺍ ﻣﻌﺠﺰﺓ ﻇﺎﻫﺮﺓ ﻟﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ ﻓﻘﺪ ﻭﻗﻊ ﻣﺎ ﺃﺧﺒﺮ ﺑﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ &#8220;. ﺷﺮﺡ ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ 16/189</p>
<p>&#8220;Yang diinginkan dengan sejengkal, sehasta dan lubang biawak adalah sebagai bentuk contoh tentang parahnya kecocokan terhadap mereka (Yahudi dan Nashara), dan yang diinginkan adalah bentuk kecocokan dalam maksiat-maksiat dan pelanggaran-pelanggaran bukan dalam kekafiran, dan dalam hal ini terdapat mukjizat yang tampak bagi Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan sungguh apa yang beliau -shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kabarkan telah terjadi.&#8221; [Syarh Shahih Muslim: 16/189]</p>
<p>Al-Imam Ibnu Katsir -rahimahullah-<br />
berkata:</p>
<p>&#8221; ﻭﺍﻟﻤﻘﺼﻮﺩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺧﺒﺎﺭ ﻋﻤﺎ ﻳﻘﻊ ﻣﻦ ﺍﻷﻗﻮﺍﻝ ﻭﺍﻷﻓﻌﺎﻝ ﺍﻟﻤﻨﻬﻲ ﻋﻨﻬﺎ ﺷﺮﻋﺎ ﻣﻤﺎ ﻳﺸﺎﺑﻪ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻗﺒﻠﻨﺎ ﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﻳﻨﻬﻴﺎﻥ ﻋﻦ ﻣﺸﺎﺑﻬﺘﻬﻢ ﻓﻲ ﺃﻗﻮﺍﻟﻬﻢ ﻭﺃﻓﻌﺎﻟﻬﻢ ﺣﺘﻰ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻗﺼﺪ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﺧﻴﺮﺍ ﻟﻜﻨﻪ ﺗﺸﺒﻪ ﻓﻔﻌﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﻓﻌﻠﻬﻢ &#8220;. ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ ﻭﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺔ 2/142</p>
<p>&#8220;Dan yang dimaksudkan dari berita-berita tentang apa yang terjadi berupa beberapa ucapan dan perbuatan yang dilarang secara syariat dari perkara yang menyerupai Ahli Kitab sebelum kita (kaum Muslimin) adalah; Allah dan Rasul-Nya melarang dari menyerupai mereka (Yahudi dan Nashara) dalam ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan mereka, walaupun seorang Mukmin bermaksud baik akan tetapi ia telah menyerupai (mereka), maka perbuatannya secara lahiriyyah adalah (sama dengan) perbuatan mereka (Yahudi dan Nashara).&#8221; [al-Bidayah wa an-Nihayah: 2/142]</p>
<p>Ibnul Haaj rahimahullah berkata:</p>
<p>&#8221; ﻻ ﻳﺤﻞ ﻟﻤﺴﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﺒﻴﻊ ﻧﺼﺮﺍﻧﻴﺎً ﺷﻴﺌﺎً ﻣﻦ ﻣﺼﻠﺤﺔ ﻋﻴﺪﻩ ﻻ ﻟﺤﻤﺎً ﻭﻻ ﺃﺩﻣﺎً ﻭﻻ ﺛﻮﺑﺎً ﻭﻻ ﻳﻌﺎﺭﻭﻥ ﺷﻴﺌﺎً ﻭﻟﻮ ﺩﺍﺑﺔ ﺇﺫ ﻫﻮ ﻣﻌﺎﻭﻧﺔ ﻟﻬﻢ ﻋﻠﻰ ﻛﻔﺮﻫﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﻭﻻﺓ ﺍﻷﻣﺮ ﻣﻨﻊ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ .&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak halal bagi seorang Muslim untuk menjual sesuatu untuk seorang Nashrani (Kristen) yang (mengandung) mashlahat bagi hari rayanya(Natal), baik berupa daging, roti dan baju. Dan janganlah ia meminjamkan sesuatu walaupun (hanya sebuah)kendaraan, karena itu adalah bentuk tolong-menolong dengan mereka(Nashara) di atas kekufuran mereka, dan wajib bagi penguasa untuk melarang kaum Muslimin dari (melakukan) perkara tersebut.&#8221; [Fataawa Ibnu Hajar al-Haitamiy: 4/238]</p>
<p>Ibnul Qayyim -rahimahullah- mengatakan:</p>
<p>&#8221; ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﺸﻌﺎﺋﺮ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﺍﻟﻤﺨﺘﺼﺔ ﺑﻪ ﻓﺤﺮﺍﻡ ﺑﺎﻻﺗﻔﺎﻕ، ﻣﺜﻞ ﺃﻥ ﻳﻬﻨﺌﻬﻢ ﺑﺄﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻭﺻﻮﻣﻬﻢ، ﻓﻴﻘﻮﻝ : ﻋﻴﺪ ﻣﺒﺎﺭﻙ ﻋﻠﻴﻚ، ﺃﻭ ﺗﻬﻨﺄ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻭﻧﺤﻮﻩ، ﻓﻬﺬﺍ ﺇﻥ ﺳﻠﻢ ﻗﺎﺋﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻔﺮ ﻓﻬﻮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺤﺮﻣﺎﺕ، ﻭﻫﻮ ﺑﻤﻨﺰﻟﺔ ﺃﻥ ﻳﻬﻨﺌﻪ ﺑﺴﺠﻮﺩﻩ ﻟﻠﺼﻠﻴﺐ، ﺑﻞ ﺫﻟﻚ ﺃﻋﻈﻢ ﺇﺛﻤﺎً ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﺃﺷﺪ ﻣﻘﺘﺎً ﻣﻦ ﺍﻟﺘﻬﻨﺌﺔ ﺑﺸﺮﺏ ﺍﻟﺨﻤﺮ ﻭﻗﺘﻞ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻭﺍﺭﺗﻜﺎﺏ ﺍﻟﻔﺮﺝ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﻭﻧﺤﻮﻩ .<br />
ﻭﻛﺜﻴﺮ ﻣﻤَﻦ ﻻ ﻗﺪﺭ ﻟﻠﺪﻳﻦ ﻋﻨﺪﻩ ﻳﻘﻊ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ، ﻭﻻ ﻳﺪﺭﻱ ﻗﺒﺢ ﻣﺎ ﻓﻌﻞ، ﻓﻤﻦ ﻫﻨﺄ ﻋﺒﺪﺍً ﺑﻤﻌﺼﻴﺔ ﺃﻭ ﺑﺪﻋﺔ ﺃﻭ ﻛﻔﺮ ﻓﻘﺪ ﺗﻌﺮﺽ ﻟﻤﻘﺖ ﺍﻟﻠّﻪ ﻭﺳﺨﻄﻪ، ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻮﺭﻉ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺘﺠﻨﺒﻮﻥ ﺗﻬﻨﺌﺔ ﺍﻟﻈﻠﻤﺔ ﺑﺎﻟﻮﻻﻳﺎﺕ، ﻭﺗﻬﻨﺌﺔ ﺍﻟﺠﻬﺎﻝ ﺑﻤﻨﺼﺐ ﺍﻟﻘﻀﺎﺀ ﻭﺍﻟﺘﺪﺭﻳﺲ ﻭﺍﻹﻓﺘﺎﺀ ﺗﺠﻨﺒﺎً ﻟﻤﻘﺖ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺳﻘﻮﻃﻬﻢ ﻣﻦ ﻋﻴﻨﻪ ﻭﺇﻥ ﺑُﻠﻲ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺑﺬﻟﻚ ﻓﺘﻌﺎﻃﺎﻩ ﺩﻓﻌﺎً ﻟﺸﺮ ﻳﺘﻮﻗﻌﻪ ﻣﻨﻬﻢ ﻓﻤﺸﻰ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﻭﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﺇﻻ ﺧﻴﺮﺍً، ﻭﺩﻋﺎ ﻟﻬﻢ ﺑﺎﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻭﺍﻟﺘﺴﺪﻳﺪ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ ﺑﺬﻟﻚ، ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ .&#8221;</p>
<p>&#8220;Adapun mengucapkan tahniah (selamat) terhadap syi&#8217;ar-syi&#8217;ar khusus kekafiran adalah haram berdasarkan kesepakatan (ulama), seperti seorang yang mengucapkan tahniah(selamat) bagi mereka untuk hari raya dan puasa mereka, maka ia pun mengatakan &#8216;hari raya yang berberkah bagimu&#8217;, atau ia mengucapkan tahniah pada hari raya tersebut dan yang semisal dengannya. Maka dalam hal ini, walaupun pelakunya selamat dari kekufuran akan tetapi ia termasuk perkara-perkara yang diharamkan. Posisinya sama seperti ia memberikan ucapan tahniah (ucapan selamat) bagi orang kafir karena sujudnya terhadap Salib, bahkan hal itu termasuk dosa terbesar dan kemurkaan di sisi Allah daripada tahniah (ucapan selamat) terhadap minum khamer, pembunuhan, perzinahan dan yang semisal dengannya. Dan kebanyakan dari orang-orang yang tidak memiliki kemampuan dalam agama terjerumus dalam perkara itu dan ia tidak mengetahui kejelekan perbuatannya, barangsiapa yang mengucapkan tahniah kepada seorang hamba dengan maksiat, bid&#8217;ah atau kekafiran maka ia telah menjerumuskan (dirinya) dalam kemarahan dan kemurkaan Allah. Dan sungguh dahulu orang-orang yang wara&#8217; menjauhi ucapan tahniah bagi orang-orang dzalim yang meraih kekuasaan, (dan mereka menjauhi) ucapan tahniah bagi orang-orang bodoh yang meraih kedudukan sebagai hakim, pengajar dan muftiy dalam rangka menjauh dari kemurkaan Allah dan jatuhnya mereka dari mata Allah. Jika seseorang diuji dengannya dan ia pun melakukannya dalam rangka menghindari kejelekan yang ia prediksikan dari mereka(orang-orang kafir), maka ia berjalan bersama mereka dan tidak mengucapkan (sesuatu) melainkan kebaikan, dan ia mendoakan taufiq dan jalan yang lurus bagi mereka, maka tidak mengapa dengan hal tersebut. Wallahu waliyyut taufiq.&#8221; [Ahkaam Ahlidz Dzimmah: 1/441]</p>
<p>Dalam hadits yang lain Nabi shallallahu alaihi melarang untuk menyerupai kaum Majusi.<br />
Dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>&#8221; ﺟُﺰُّﻭﺍ ﺍﻟﺸَّﻮَﺍﺭِﺏَ ﻭَﺃَﺭْﺧُﻮﺍ ﺍﻟﻠِّﺤَﻰ . ﺧَﺎﻟِﻔُﻮﺍ ﺍﻟْﻤَﺠُﻮﺱَ &#8221; .</p>
<p>&#8220;Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot. Selisihilah orang-orang Majusi.&#8221; [HR. Muslim no.556]</p>
<p>Al-Hafidz Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata:</p>
<p>&#8221; ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ ﻳﺤﺐ ﻣﻮﺍﻓﻘﺔ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻓﻴﻤﺎ ﻟﻢ ﻳﺆﻣﺮ ﻓﻴﻪ ﺑﺸﻲﺀ ﻭﻻﺳﻴﻤﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻓﻴﻤﺎ ﻳﺨﺎﻟﻒ ﻓﻴﻪ ﺃﻫﻞ ﺍﻷﻭﺛﺎﻥ، ﻓﻠﻤﺎ ﻓﺘﺤﺖ ﻣﻜﺔ ﻭﺍﺷﺘﻬﺮ ﺃﻣﺮ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺃﺣﺐ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﺃﻳﻀﺎً ﻛﻤﺎ ﺛﺒﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ &#8220;. ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ 4/771</p>
<p>&#8220;Dahulu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam suka menyerupai Ahli Kitab pada perkara yang beliau tidak diperintahkan didalamnya terlebih lagi dalam perkara yang terdapat penyelisihan terhadap penyembah berhala, tatkala kota Makkah telah ditaklukkan dan Islam telah dikenal, maka beliau pun suka untuk menyelisihi Ahli Kitab sebagaimana yang valid (keterangannya) dalam as-Shahih.&#8221; [Fathul Baari: 4/771]</p>
<p>Juga sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:</p>
<p>( ﻏَﻴِّﺮﻭﺍ ﺍﻟﺸَّﻴْﺐَ، ﻭﻻ ﺗَﺸَﺒﻬﻮﺍ ﺑﺎﻟﻴَﻬُﻮﺩِ ﻭﺍﻟﻨﺼَﺎﺭَﻯ )</p>
<p>&#8220;Gantilah (warna) uban, dan janganlah kalian menyerupai Yahudi dan Nashara.&#8221; [HR. Ahmad (8611), Abu Ya&#8217;laa (5981), at-Tirmidziy (1753) dan ia berkata: &#8220;Hasan shahih.&#8221;</p>
<p>Dalam hadits yang lain Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:<br />
( ﻣﻦ ﺗَﺸَﺒَّﻪ ﺑﻘﻮﻡٍ ﻓﻬﻮ ﻣﻨﻬﻢ )</p>
<p>&#8220;Barangsiapa yang menyerupai satu kaum, maka ia termasuk dari golongan mereka.&#8221;<br />
[HR. Ahmad (5106), Abu Daud (3040), dan hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: ini afalah sanad yanh jayyid (Iqtidha Shirath al-Mustaqim: 1/240), al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: &#8220;diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang Hasan.&#8221; (Fathul Baari: 11/443),<br />
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:</p>
<p>&#8221; ﺃﻗﻞُّ ﺃﺣﻮﺍﻟِﻪِ ﺃﻥْ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﺗﺤﺮﻳﻢَ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ . ﻭﺇﻥْ ﻛﺎﻥَ ﻇﺎﻫﺮُﻩُ ﻳﻘﺘﻀﻲ ﻛﻔﺮَ ﺍﻟﻤﺘﺸﺒِّﻪِ ﺑﻬﻢْ &#8221;</p>
<p>Kondisi paling ringan hadits ini mengandung konsekwensi haramnya tasyabbuh, walaupun lahiriyyah hadits ini berkonsekwensi kufurnya orang yang melakukan tasyabbuh kepada mereka(orang-orang kafir).&#8221; [Lihat Kitab al-Furu': 1/348, Kasysyaaf al-Qinaa': 1/246, Syarh Muntahaa al-Iraadaat: 1/149]</p>
<p>Ibnul Qayyim berkata:</p>
<p>&#8221; ﻭﺳﺮ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺸﺎﺑﻬﺔ ﻓﻲ ﺍﻟـﻬَﺪْﻱ ﺍﻟﻈﺎﻫِﺮِ ﺫﺭﻳﻌﺔٌ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻮﺍﻓﻘﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺼﺪ ﻭﺍﻟﻌﻤﻠـ &#8221; ﺇﻋﻼﻡ ﺍﻟﻤﻮﻗﻌﻴﻦ 2/107</p>
<p>&#8220;Rahasia dari hal tersebut, sesungguhnya penyerupaan dalam penampilan lahiriyyah adalah perantara menuju kepada kecocokan pada tujuan dan amalan.&#8221; [I&#8217;laam al-Muwaqqi&#8217;in: 2/107]</p>
<p>Al-Imam Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata:</p>
<p>&#8221; ﻓﻠﻴﺲ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﺘﺸﺒﻪ ﺑﻬﻢ ﻻ ﻓﻲ ﺃﻋﻴﺎﺩﻫﻢ ﻭﻻ ﻣﻮﺍﺳﻤﻬﻢ ﻭﻻ ﻓﻲ ﻋﺒﺎﺩﺍﺗﻬﻢ ﻷﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺷﺮﻑ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﺔ ﺑﺨﺎﺗﻢ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﺍﻟﺬﻱ ﺷﺮﻉ ﻟﻪ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ ﺍﻟﻘﻮﻳﻢ ﺍﻟﺸﺎﻣﻞ ﺍﻟﻜﺎﻣﻞ ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﻮﺳﻰ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﺍﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﻧﺰﻟﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺘﻮﺭﺍﺓ ﻭﻋﻴﺴﻰ ﺑﻦ ﻣﺮﻳﻢ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﻧﺰﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻹﻧﺠﻴﻞ ﺣﻴﻴﻦ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻬﻤﺎ ﺷﺮﻉ ﻣﺘﺒﻊ ﺑﻞ ﻟﻮ ﻛﺎﻧﺎ ﻣﻮﺟﻮﺩﻳﻦ ﺑﻞ ﻭﻛﻞ ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ ﻟﻤﺎ ﺳﺎﻍ ﻟﻮﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻏﻴﺮ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺍﻟﻤﻄﻬﺮﺓ ﺍﻟﻤﺸﺮﻓﺔ ﺍﻟﻤﻜﺮﻣﺔ ﺍﻟﻤﻌﻈﻤﺔ ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻗﺪ ﻣَﻦَّ ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺑﺄﻥ ﺟﻌﻠﻨﺎ ﻣﻦ ﺃﺗﺒﺎﻉ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻜﻴﻒ ﻳﻠﻴﻖ ﺑﻨﺎ ﺃﻥ ﻧﺘﺸﺒﻪ ﺑﻘﻮﻡ ﻗﺪ ﺿﻠﻮﺍ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ ﻭﺃﺿﻠﻮﺍ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻭﺿﻠﻮﺍ ﻋﻦ ﺳﻮﺍﺀ ﺍﻟﺴﺒﻴﻞ ﻗﺪ ﺑﺪﻟﻮﺍ ﺩﻳﻨﻬﻢ ﻭﺣﺮﻓﻮﻩ ﻭﺃﻭﻟﻮﻩ ﺣﺘﻰ ﺻﺎﺭ ﻛﺄﻧﻪ ﻏﻴﺮ ﻣﺎ ﺷﺮﻉ ﻟﻬﻢ ﺃﻭﻻ ﺛﻢ ﻫﻮ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﻛﻠﻪ ﻣﻨﺴﻮﺥ ﻭﺍﻟﺘﻤﺴﻚ ﺑﺎﻟﻤﻨﺴﻮﺥ ﺣﺮﺍﻡ ﻻ ﻳﻘﺒﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﻨﻪ ﻗﻠﻴﻼ ﻭﻻ ﻛﺜﻴﺮﺍ ﻭﻻ ﻓﺮﻕ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻦ ﺍﻟﺬﻱ ﻟﻢ ﻳﺸﺮﻉ ﺑﺎﻟﻜﻠﻴﺔ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻳﻬﺪﻱ ﻣﻦ ﻳﺸﺎﺀ ﺇﻟﻰ ﺻﺮﺍﻁ ﻣﺴﺘﻘﻴﻢ .&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk menyerupai mereka baik dalam perayaan dan musim-musim mereka, dan tidak pula pada ibadah mereka, karena Allah Ta&#8217;aala telah memuliakan umat ini dengan penutup para Nabi dengan mensyariatkan baginya agama agung yang lurus, universal nan sempurna yang jika seandainya (Nabi) Musa bin Imron yang diturunkan atasnya (kitab) Taurat dan (Nabi) Isa bin Maryam yang diturunkan atasnya (kitab) Injil masih hidup, maka tidak ada bagi mereka berdua syariat yang bisa diikuti, bahkan jika mereka berdua atau seluruh para Nabi berada (di zaman Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam) maka pasti tidak diperbolehkan bagi salah seorang dari mereka berada di atas selain syariat (Islam) yang suci, mulia nan agung ini. Maka jika Allah memberikan nikmat atas kita dengan menjadikan kita sebagai pengikut Muhammad shalallahu alaihi wa sallam, maka pantaskah kita menyerupai satu kaum yang dahulunya telah tersesat dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari jalan yang lurus, mereka telah mengganti agama mereka, merubah dan menyelewengkannya, sehingga agama mereka seakan-akan menjadi agama yang tidak disyariatkan bagi mereka sebelumnya. Dan kemudian setelah itu (agama mereka) dihapus, sedangkan berpegang teguh dengan (agama) yang dihapus adalah haram, Allah tidak akan menerima darinya sedikit atau banyak, dan Allah tidak membedakan antara perkara tersebut dengan perkara yang tidak disyariatkan secara total, dan Allah memberikan hidayah bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya menuju jalan yang lurus.&#8221; [al-Bidayah wa an-Nihayah: 2/142]</p>
<p>As-Shan&#8217;aniy rahimahullah berkata:</p>
<p>&#8221; ﻭﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺩﺍﻝ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﻦ ﺗﺸﺒﻪ ﺑﺎﻟﻔﺴﺎﻕ ﻛﺎﻥ ﻣﻨﻬﻢ ﺃﻭ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ ﻓﻲ ﺃﻱ ﺷﻲﺀ ﻣﻤﺎ ﻳﺨﺘﺼﻮﻥ ﺑﻪ ﻣﻦ ﻣﻠﺒﻮﺱ ﺃﻭ ﻣﺮﻛﻮﺏ ﺃﻭ ﻫﻴﺌﺔ، ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻓﺈﺫﺍ ﺗﺸﺒﻪ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﺯﻱ ﻭﺍﻋﺘﻘﺪ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺬﻟﻚ ﻣﺜﻠﻪ ﻛﻔﺮ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﻌﺘﻘﺪ ﻓﻔﻴﻪ ﺧﻼﻑ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ : ﻳﻜﻔﺮ ﻭﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ : ﻻ ﻳﻜﻔﺮ ﻭﻟﻜﻦ ﻳﺆﺩﺑـ .&#8221;</p>
<p>&#8220;Hadits ini menunjukkan bahwasanya barangsiapa yang menyerupai orang-orang fasik, orang-orang kafir atau ahli bid&#8217;ah, maka ia termasuk bagian dari mereka, pada semua perkara yang merupakan kekhususan mereka berupa pakaian, kendaraan dan penampilan. Mereka (para ulama) mengatakan; jika ia menyerupai orang-orang kafir dalam penampilan (berpakaian) dan ia meyakini dengan hal itu ia sama sepertinya maka ia telah kafir, dan jika seandainya ia tidak meyakini demikian, maka didalamnya (terjadi) perselisihan di kalangan fuqaha, di antara mereka ada yang berpendapat: ia menjadi kafir dan ini merupakan lahiriyah hadits (ini), dan sebagian mereka berpendapat: ia tidak kafir akan tetapi dihukum.&#8221; [Subulus Salam: 4/175]</p>
<p>Akhir kata, hendaknya seorang muslim berhati-hati dari para penyeru kesesatan yang dikhawatir oleh Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam sabdanya:</p>
<p>« ﺃَﻥَّ ﺃَﺧْﻮَﻑَ ﻣَﺎ ﺃَﺧَﺎﻑُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺍﻷَﺋِﻤَّﺔُ ﺍﻟْﻤُﻀِﻠُّﻮﻥَ ‏» ‏( ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ‏[ 26213 ‏] ، ﻭﺍﻟﻄﻴﺎﻟﺴﻲ ﻓﻲ ﻣﺴﻨﺪﻩ ‏[ 1057 ]</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya yang aku khawatirkan atas kalian adalah para imam (tokoh-tokoh) yang menyesatkan&#8221; [HR. Ahmad no.26213, ath-Thayalisiy dalam Musnadnya no. 1057]<br />
Demikian sekelumit dari penjelasan para ulama besar dalam Islam yang tentunya mereka lebih pintar dan memhami ilmu Islam yang luhur, walaupun mereka tidak memiliki gelar PROFESOR DOKTOR.</p>
<p>Bandung, 22 Desember 2015</p>
<p>Ustadz Abu Zakariyya At-Tawawy</p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p>markazdakwah.or.id<br />
Facebook/Twitter/Instagram/Telegram:<br />
@markazdakwahbt</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/jangan-ucapkan-selamat-natal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Ucapan Selamat Natal dan Natal Bareng</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/hukum-ucapan-selamat-natal-dan-natal-bareng/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/hukum-ucapan-selamat-natal-dan-natal-bareng/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2015 03:39:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum natal]]></category>
		<category><![CDATA[hukum ucapan selamat natal]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=2050</guid>
		<description><![CDATA[Hukum Ucapan Selamat Natal dan Natal Bareng oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah- [Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa, Sulsel] Di suatu majelis, seorang teman menyampaikan suatu berita yang menyayat hati. Pasalnya, ia menemukan suatu berita tentang keikutsertaan sebuah partai besar bernama PKB dalam perayaan natal bersama kaum Nasrani (Kristen). Suatu hari sejak mendengar berita... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/hukum-ucapan-selamat-natal-dan-natal-bareng/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p dir="LTR" align="center">Hukum Ucapan Selamat Natal dan Natal Bareng</p>
<p dir="LTR" align="center">oleh : Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah -hafizhahullah-<br />
[Pengasuh Ponpes Al-Ihsan Gowa, Sulsel]</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Di suatu majelis, seorang teman menyampaikan suatu berita yang menyayat hati. Pasalnya, ia menemukan suatu berita tentang keikutsertaan sebuah partai besar bernama <b>PKB</b> dalam perayaan natal bersama kaum Nasrani (Kristen).</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Suatu hari sejak mendengar berita itu, hati kami risau dengan berita itu. Akhirnya, kami coba berselancar di dunia maya untuk mencari tahu kebenaran berita itu. Ternyata sebuah foto dirilis dalam sebuah situs resmi umat Kristiani (Nasrani alias Kristen) bahwa <b>PKB</b> akan melaksanakan Natal bareng dengan kaum kafir. Subhanallah, sungguh ini adalah sebuah ide gila dan persatuan terlaknat!!</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">PKB yang dideklarasikan oleh lima Kyai NU (<b>Nahdlatul Ulama</b>) 23 Juli 1998 M, kini bukan hanya berbasa basi mengucapi selamat natal, namun justru menyelenggarakan perayaan natal.</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Spanduk yang terpampang di jalan raya, dapat dibaca jelas. <b>Sungguh aneh, </b>perayaan kaum kafir, namun diadakan oleh partai PKB yang didirikan oleh para kyai NU itu dilaksanakan di <b>Graha Bethel Jl Ahmad Yani Kav 65, Cempaka Putih (By Pass) Jakarta Pusat</b>, Kamis 05 Des 2013 pukul 18.30, dengan menghadirkan Pendeta Gilbert Lumoindong, S.Th sebagai pembicara dalam acara itu!!<a title="" href="file:///C:/Users/user/Downloads/Hukum%20Ucapan%20Selamat%20Natal2.doc#_ftn1">[1]</a></p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Spanduk ini dirilis secara resmi oleh sebuah situs umat Kristiani sebagaimana yang anda dapat lihat di dunia maya<a title="" href="file:///C:/Users/user/Downloads/Hukum%20Ucapan%20Selamat%20Natal2.doc#_ftn2">[2]</a>. Dengan momen ini, kaum Kristen senang kegirangan, ternyata partai yang mengusung nama ulama Islam, dapat mereka pecundangi dalam menyebar misi Kristenisasi. Sadar atau tidak, kaum muslimin telah dibodohi!!</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Setelah kami berhasil menemukan foto yang diisyaratkan oleh teman tadi, <i>waduh </i>mata kami diserang lagi oleh berita lain tentang <b>Natalan Bareng</b> ini.</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Dirilis dalam situs resmi UIN Makassar suatu berita tertanggal 20 Desember 2013 M : <i>“Perayaan natal yang digelar oleh PLN kali ini, ada nuansa yang beda dari perayaan-perayaan sebelumnya, </i><i>yaitu kehadiran mahasiswa Jurusan Perbandingan Agama Prodi Sosiologi Agama (SA) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar yang diundang oleh Panitia untuk turut merayakan natal bersama ummat Kristen”</i><a title="" href="file:///C:/Users/user/Downloads/Hukum%20Ucapan%20Selamat%20Natal2.doc#_ftn3">[3]</a>.<br />
Demikian yang dirilis dalam situs resmi UIN Makassar, sebuah perguruan tinggi yang dianggap mengusung misi Islam. Namun mahasiswa dari perguruan tinggi ini amat berani melanggar perkara yang tidak berani dilanggar oleh kaum awam pada umumnya. Inikah Islam?! Jelas bukan Islam, bahkan ia merupakan sebab yang menyukseskan misi Kristenisasi.</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Ini adalah musibah besar bagi umat Islam, mahasiswa “Islam” kini mengajak umat Islam untuk bernatal bersama!! Subhanallah, sungguh ini adalah kemungkaran besar!!</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Para pembaca yang budiman, dua fenomena tragis lagi miris ini telah memaksa kami menurunkan sebuah fatwa tentang hal ini. Sengaja kami pilihkan fatwa ulama Islam, agar kita mengetahui bahwa pengingkaran kami, bukanlah dibangun di atas prasangka, bahkan telah ditopang oleh penjelasan dan keterangan ulama kita. Sedang ucapan dan fatwa mereka tentunya berdiri di atas dalil-dalil syariat!!</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Kali ini kami akan menurunkan sebuah fatwa resmi dari seorang terkenal di Timur Tengah, beliau dikenal dengan nama <b>Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin </b>-rahimahullah- (wafat 1421 H).</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Seorang penanya pernah melayang suatu pertanyaan kepada beliau, seraya berkata,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: justify;">حكم تهنئة الكفار بعيد الكريسمس؟ وكيف نرد عليهم إذا هنئونا به؟ وهل يجوز الذهاب إلى أماكن الحفلات التي يقيمونها بهذه المناسبة؟ وهل يأثم الإنسان إذا فعل شيئا مما ذكر بغير قصد؟ وإنما فعله إما مجاملة أو حياء أو إحراجا أو غير ذلك من الأسباب؟ وهل يجوز التشبه بهم في ذلك؟</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">“Apa hukumnya mengucapkan, “Selamat Natal” (“Happy Christmas”) kepada orang- orang Kafir?  Bagaimana pula menjawab mereka bila mereka mengucapkannya kepada kita?  Apakah boleh pergi ke tempat-tempat pesta yang mereka mengadakan dalam momen sepeti ini (yakni, dalam momen Natal)?  Apakah seseorang berdosa, bila melakukan sesuatu dari yang disebutkan tadi tanpa maksud yang sebenarnya. Dia melakukannya hanya untuk berbasa-basi, malu, nggak enak perasaan atau sebab- sebab lainnya?  Apakah boleh menyerupai mereka di dalam hal itu?”</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Usai mendengarkan pertanyaan ini, Syaikh<b> Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin </b>-rahimahullah- berkata,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: justify;"><b>تهنئة الكفار بعيد الكريسمس أو غيره من أعيادهم الدينية حرام بالاتفاق، كما نقل ذلك ابن القيم -رحمه الله- في كتابه “أحكام أهل الذمة”، حيث قال: “وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم، فيقول: عيد مبارك عليك، أو تهنأ بهذا العيد ونحوه، فهذا إن سلم قائله من الكفر، فهو من المحرمات، وهو بمنزلة أن تهنئه بسجوده للصليب، بل ذلك أعظم إثما عند الله، وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس، وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك، ولا يدري قبح ما فعل، فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه”. انتهى كلامه رحمه الله.</b></p>
<p dir="RTL" style="text-align: justify;"><b>وإنما كانت تهنئة الكفار بأعيادهم الدينية حراما، وبهذه المثابة التي ذكرها ابن القيم؛ لأن فيها إقرارا لما هم عليه من شعائر الكفر، ورضا به لهم، وإن كان هو لا يرضى بهذا الكفر لنفسه، لكن يحرم على المسلم أن يرضى بشعائر الكفر، أو يهنئ بها غيره؛ لأن الله تعالى لا يرضى بذلك، كما قال الله تعالى: { إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ } . وقال تعالى: { الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا } .</b></p>
<p dir="RTL" style="text-align: justify;"><b>وتهنئتهم بذلك حرام سواء كانوا مشاركين للشخص في العمل أم لا. وإذا هنئونا بأعيادهم، فإننا لا نجيبهم على ذلك؛ لأنها ليست بأعياد لنا، ولأنها أعياد لا يرضاها الله تعالى؛ لأنها إما مبتدعة في دينهم، وإما مشروعة، لكن نسخت بدين الإسلام الذي بعث الله به محمدا -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إلى جميع الخلق، وقال فيه: { وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ } .</b></p>
<p dir="RTL" style="text-align: justify;"><b>وإجابة المسلم دعوتهم بهذه المناسبة حرام؛ لأن هذا أعظم من تهنئتهم بها، لما في ذلك من مشاركتهم فيها.</b></p>
<p dir="RTL" style="text-align: justify;"><b>وكذلك يحرم على المسلمين التشبه بالكفار بإقامة الحفلات بهذه المناسبة، أو تبادل الهدايا أو توزيع الحلوى، أو أطباق الطعام، أو تعطيل الأعمال ونحو ذلك، لقول النبي -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: « من تشبه بقوم فهو منهم » . قال شيخ الإسلام ابن تيمية في كتابه: (اقتضاء الصراط المستقيم مخالفة أصحاب الجحيم): “مشابهتهم في بعض أعيادهم توجب سرور قلوبهم، بما هم عليه من الباطل، وربما أطمعهم ذلك في انتهاز الفرص واستذلال الضعفاء”. انتهى كلامه رحمه الله.</b></p>
<p dir="RTL" style="text-align: justify;"><b>ومن فعل شيئا من ذلك فهو آثم سواء فعله مجاملة، أو توددا، أو حياء أو لغير ذلك من الأسباب؛ لأنه من المداهنة في دين الله، ومن أسباب تقوية نفوس الكفار وفخرهم بدينهم.</b></p>
<p dir="RTL" style="text-align: justify;"><b>والله المسئول أن يعز المسلمين بدينهم، ويرزقهم الثبات عليه، وينصرهم على أعدائهم، إنه قوي عزيز.</b></p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">“Mengucapkan “Selamat Natal” (“Happy Christmas”), atau perayaan keagamaan mereka lainnya kepada orang-orang Kafir adalah haram hukumnya menurut iitifaq’ (kesepakatan para ulama, sebagaimana dinukil dari Ibnul Qayyim –rahimahullah- di dalam <i>kitabnya “Ahkâm Ahl adz-Dzimmah”,</i> beliau berkata<b>,”Adapun mengucapkan selamat berkenaan dengan syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi mereka, maka itu adalah haram menurut kesepakatan para ulama, </b>seperti mengucapkan selamat terhadap hari-hari besar mereka dan puasa mereka, sembari mengucapkan, “Semoga hari raya anda diberkahi bagi anda” atau anda yang diberikan ucapan selamat berkenaan dengan perayaan hari besarnya itu dan semisalnya.  Perbuatan ini, kalaupun orang yang mengucapkannya dapat selamat dari kekafiran, maka perbuatan ini tidak akan selamat dari hal-hal yang diharamkan. Ucapan semacam ini setara dengan engkau ucapkan selamat dengan sebab sujudnya ia kepada salib. Bahkan hal itu (selamat hari raya) lebih besar  dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dibanding memberikan ucapan selamat atas minum-minum khamar, membunuh jiwa, melakukan zina dan sebagainya.  Banyak sekali orang yang nilai keimanan di sisinya,  terjatuh ke dalam hal itu. Sementara itu, dia tidak mengerti keburukan sesuatu yang ia perbuat. Jadi, barangsiapa yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba karena melakukan suatu maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka berarti dia akan menghadapi kemurkaan Allah dan Kemarahan-Nya”<a title="" href="file:///C:/Users/user/Downloads/Hukum%20Ucapan%20Selamat%20Natal2.doc#_ftn4">[4]</a>. <b>Ucapan Ibnul Qoyyim -rahimahullah- telah selesai.</b><b> </b></p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;"> <b><i> </i></b><i></i></p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir berkenaan dengan perayaan hari-hari besar keagamaan mereka adalah haram dan kedudukannya seperti ini (seperti) yang telah disebutkan oleh Ibnul Qoyyim -rahimahullah-. Karena, di dalamnya terdapat persetujuan terhadap syi’ar-syi’ar kekafiran (yang mereka lakukan) dan meridhai hal itu bagi mereka. Walaupun dirinya sendiri tidak ridho (rela) terhadap kekufuran itu, akan tetapi<b>haram bagi seorang Muslim meridhai syi’ar-syi’ar kekufuran atau mengucapkan selamat kepada orang lain berkenaan dengannya</b>, karena Allah Ta’ala tidak meridhai hal itu, sebagaimana yang Allah -Ta’ala- firmankan,</p>
<h2 dir="RTL" style="text-align: justify;">إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلاَ يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ</h2>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu”. (QS. Az-Zumar : 7)</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Allah -Ta’ala- juga berfirman,</p>
<h3 dir="RTL" style="text-align: justify;">الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا</h3>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama kalian”. (QS. Al-Maa’idah : 3)</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Jadi, mengucapkan selamat kepada mereka berkenaan dengan hal itu adalah haram, baik mereka itu rekan-rekan satu pekerjaan dengan seseorang (Muslim) ataupun tidak.</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Bila mereka mengucapkan selamat berkenaan dengan hari-hari besar mereka kepada kita, maka kita tidak boleh menjawabnya karena hari-hari besar itu bukanlah hari-hari besar kita.  Juga karena ia adalah hari besar yang tidak diridhai Allah Ta’ala; baik disebabkan perbuatan mengada-ada ataupun disyari’atkan di dalam agama mereka, akan tetapi hal itu semua telah dihapus oleh Dienul Islam yang dengannya Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam diutus Allah kepada seluruh makhluk.</p>
<blockquote>
<p dir="LTR">Allah Ta’ala berfirman,</p>
<h3 dir="RTL">وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</h3>
<p dir="LTR">“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi”. <b>(QS. Ali Imraan : 85)</b></p>
</blockquote>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Mengucapkan selamat kepada mereka hubungannya hal itu merupakan perkara yang haram, sama saja mereka teman bagi seseorang dalam pekerjaannya ataukah bukan teman.</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Jika mereka mengucapkan selamat kepada kita kaitannya dengan hari-hari besar mereka, maka kita tidak menyambut mereka atas hal itu. Karena, hari-hari itu bukanlah hari raya kita dan ia merupakan hari-hari yang tak diridhoi oleh Allah -Ta’ala-. Sebab, entah hari-hari besar mereka itu bid’ah (diada-adakan) dalam agama mereka, atau entah ia memang disyariatkan, akan tetapi ia telah dihapus dengan (datangnya) agama Islam yang Allah mengutus dengannya Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- kepada seluruh makhluk.</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Penyambutan (kedatangan) seorang muslim terhadap undangan mereka kaitannya dengan momen ini (yakni, hari raya mereka) adalah haram. Karena, sambutan seperti ini lebih besar (dosanya) dibandingkan pengucapan selamat kepada mereka kaitannya dengan hari-hari besar mereka, karena adanya andil (keikutsertaan) bersama mereka dalam hal itu.</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Demikian pula, haram hukumnya bagi kaum muslimin menyerupai orang-orang Kafir, seperti mengadakan pesta-pesta berkenaan dengan hari besar mereka tersebut, saling berbagi hadiah, membagi-bagikan kue, hidangan makanan, meliburkan pekerjaan dan semisalnya, berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-,</p>
<blockquote>
<p dir="RTL"><b>مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ</b><b></b><b></b></p>
<p dir="LTR"><em>“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”</em><a title="" href="file:///C:/Users/user/Downloads/Hukum%20Ucapan%20Selamat%20Natal2.doc#_ftn5"><i><b>[5]</b></i></a><em>.</em></p>
</blockquote>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata di dalam kitabnya <em><b>Iqtidho‘ Ash-Shirath Al-Mustaqim Mukhalafah Ash-hab Al-Jahim</b></em>, ”Menyerupai mereka di dalam sebagian hari-hari besar mereka akan melahirkan rasa senang di hati mereka atas kebatilan yang mereka lakukan. Terkadang hal itu membuat mereka antusias untuk memanfaatkan kesempatan  (momen) dan merendahkan kaum lemah (iman)”<a title="" href="file:///C:/Users/user/Downloads/Hukum%20Ucapan%20Selamat%20Natal2.doc#_ftn6">[6]</a>. <b>Selesai ucapan beliau</b> &#8211;<i>rahimahullah</i>-.</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Barangsiapa yang melakukan sesuatu diantara hal itu, maka dia telah berdosa, sama ia melakukannya karena basa-basi, ingin menarik simpati,  malu, atau sebab- sebab lainnya, karena ia termasuk bentuk menjilat menurut agama Allah dan merupakan sebab penguat hati orang-orang kafir, dan bangga terhadap agama mereka.</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Hanya kepada Allah kita memohon agar Dia memuliakan kaum muslimin dengan agamanya, menganugerahkan kemantapan hati dan memberikan pertolongan kepada muslimin atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">[Sumber Fatwa : <b><i>Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Asy-Syaikh Muhammad Ibn Sholih Al-Utsaimin </i></b>(3/44-46/no. 404), karya Syaikh Al-Utsaimin -rahimahullah-, dengan <i>tartib</i> Fahd bin Nashir As-Sulaiman, cet. Dar Al-Wathon dan Dar Ats-Tsuroyya, 1413 H]</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Para pembaca yang budiman, inilah fatwa dan penjelasan dari seorang ulama rabbani dan penuh kasih. Beliau menjelaskan hukum ucapan selamat Natal dan menghadiri Natal dengan penjelasan ilmiah.</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><b>Kesimpulan</b></li>
</ul>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">Terakhir, kami akan meringkas beberapa buah kesimpulan bagi anda agar mudah memahami isi fatwa di atas:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Tak boleh mengucapkan selamat Natal (“Happy Christmas”), karena ia merupakan ucapan yang menunjukkan ridhonya seseorang kepada kebatilan dan kekafiran yang ada di dalamnya.</li>
<li>Barangsiapa yang ridho dengan kekafiran, maka ia kafir, seperti ridho kepada acara Natal yang di dalamnya disuarakan kekafiran!!</li>
<li>Haram hukumnya ikut serta dalam Natal. Jika ucapan selamat saja tak boleh, maka hadir di dalamnya lebih utama!!</li>
<li>Barangsiapa hadir Natal karena sekedar basa-basi, maka ia akan terkena laknat dan murka Allah!!</li>
<li>Dilarang keras ikut memeriahkan Natal dengan mengadakan pesta-pesta berkenaan dengan hari besar mereka tersebut, saling berbagi hadiah, membagi-bagikan kue, hidangan makanan, meliburkan pekerjaan dan semisalnya.</li>
<li>Jika mereka mengucapkan, “Selamat Natal”, maka kita jangan sambut mereka, apalagi menghadiri acara Natal mereka.</li>
<li>Haram hukumnya melakukan acara Natal, karena ia merupakan acara bid’ah dan ibadah yang tak ada perintahnya dalam Islam, baik di zaman Nabi Isa –alaihis salam-, maupun di zaman Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Catatan:<br />
<a title="" href="file:///C:/Users/user/Downloads/Hukum%20Ucapan%20Selamat%20Natal2.doc#_ftnref1">[1]</a> <b>Gilbert Lumoindong</b> (lahir di <a title="Jakarta" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta">Jakarta</a>, <a title="23 Desember" href="http://id.wikipedia.org/wiki/23_Desember">23 Desember</a> <a title="1966" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1966">1966</a>; umur 47 tahun) merupakan seorang pendeta asal Indonesia. Ia terkenal sebagai salah satu pembawa acara “Penyegaran Rohani Agama Kristen” di RCTI pada tahun 1992-1997.</p>
<div style="text-align: justify;">
<p dir="LTR">Lumoindong pernah mengecap pendidikan di Lembaga Pendidikan Teologi Indonesia dan lulus diploma pada tahun 1990. Ia kemudian melanjutkan studi teologinya di Institut Teologi dan Pendidikan Indonesia. Lumoindong sempat menjadi ketua GO Studio Jakarta pada tahun 1993 sampai 1997, sebelum akhirnya ia memisahkan diri dan mendirikan GL Ministry pada tahun 1998.</p>
<p dir="LTR">Saat ini ia masih aktif sebagai pengkhotbah baik di stasiun TV maupun radio dan memimpin sekitar 8.000 jemaat yang tergabung dalam GBI Flow Fellowship Centre.</p>
<p dir="LTR">Ia termasuk anggota <b>Gereja Bethany Indonesia (GBI), </b>sebuah <a title="Sinode" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sinode">Sinode</a> <a title="Kristen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kristen">Kristen</a> yang berbadan hukum gereja<a title="Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia">Indonesia</a> dan berpusat di <a title="Surabaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Surabaya">Surabaya</a>, <a title="Jawa Timur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur">Jawa Timur</a>. Bethany merupakan salah satu gereja dengan <a title="Teologi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teologi">teologi</a><a title="Karismatik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Karismatik">karismatik</a> dengan denominasi <a title="Pentakostal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pentakostal">Pentakostal</a>. Gereja ini merupakan anggota dari <a title="Persekutuan Injili Indonesia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Persekutuan_Injili_Indonesia">Persekutuan Injili Indonesia</a> (PII)</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p dir="LTR"><a title="" href="file:///C:/Users/user/Downloads/Hukum%20Ucapan%20Selamat%20Natal2.doc#_ftnref2">[2]</a> Lihat dan klik http://www.gbikapernaum.com/news-latest/gbi-news/1044-natal-pkb-2013.html</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p dir="LTR"><a title="" href="file:///C:/Users/user/Downloads/Hukum%20Ucapan%20Selamat%20Natal2.doc#_ftnref3">[3]</a> Lihat http://penelitian.uin-alauddin.ac.id/uin-3239-mahasiswa-sa-natal-bersama-ummat-kristiani.html</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p dir="LTR"><a title="" href="file:///C:/Users/user/Downloads/Hukum%20Ucapan%20Selamat%20Natal2.doc#_ftnref4">[4]</a> Lihat <b><i>Ahkam Ahlidz Dzimmah </i></b>(1/441) oleh Ibnul Qoyyim, cet. Dar Ibni Hazm, 1418 H.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p dir="LTR"><a title="" href="file:///C:/Users/user/Downloads/Hukum%20Ucapan%20Selamat%20Natal2.doc#_ftnref5">[5]</a> HR. Abu Dawud dalam <b><i>Sunan</i></b>-nya (4031), Ahmad dalam<b><i> Al-Musnad </i></b>(5114), Ath-Thobroniy dalam <b><i>Al-Ausath</i></b>(8327), Ibnu Manshur dalam <b><i>As-Sunan</i></b> (2370). Di-<i>hasan</i>-kan oleh Al-Albaniy dalam <b><i>Takhrij Al-Misykah</i></b> (4347)</p>
</div>
<div>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;"><a title="" href="file:///C:/Users/user/Downloads/Hukum%20Ucapan%20Selamat%20Natal2.doc#_ftnref6">[6]</a> Lihat <em><b>Iqtidho‘ Ash-Shirath Al-Mustaqim Mukhalafah Ash-hab Al-Jahim </b></em><em>(hal. 219), cet. Mathba’ah As-Sunnah Al-Muhammadiyyah, Kairo, </em>1369 H.</p>
<p dir="LTR" style="text-align: justify;">
</div>
<p>Sumber: http://pesantren-alihsan.org/hukum-ucapan-selamat-natal-dan-natal-bareng.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/hukum-ucapan-selamat-natal-dan-natal-bareng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
