<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Markaz Dakwah untuk Bimbingan dan Taklim &#187; Sahabat</title>
	<atom:link href="https://markazdakwah.or.id/tag/sahabat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://markazdakwah.or.id</link>
	<description>www.markazdakwah.or.id</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Apr 2019 07:54:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>“Jangan Mencela Para Sahabat !!”</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/jangan-mencela-para-sahabat/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/jangan-mencela-para-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2018 05:32:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Mencela]]></category>
		<category><![CDATA[Jangan Mencela Para Sahabat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Para Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat rasulullah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=4258</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. &#8211;hafizhahullah&#8211; Para sahabat Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- merupakan generasi terbaik yang dipilih oleh Allah -Subhanahu wa Ta’ala- untuk menemani Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam memperjuangkan, dan menyebarkan Islam. Jasa mereka kepada Islam dan kaum muslimin amat besar. Namun sangat disayangkan, pada hari ini muncul generasi yang jelek berusaha merendahkan para sahabat, menghina mereka, bahkan menganggap mereka... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/jangan-mencela-para-sahabat/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="font-weight: 400;"><strong>Oleh: </strong><strong>Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. </strong><strong>&#8211;<em>hafizhahullah</em>&#8211;</strong></p>
<p style="font-weight: 400;">
<p style="font-weight: 400;">Para sahabat Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam- </em>merupakan generasi terbaik yang dipilih oleh Allah <em>-Subhanahu wa Ta’ala-</em> untuk menemani Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam- </em>dalam memperjuangkan, dan menyebarkan Islam. Jasa mereka kepada Islam dan kaum muslimin amat besar.</p>
<p style="font-weight: 400;">Namun sangat disayangkan, pada hari ini muncul generasi yang jelek berusaha merendahkan para sahabat, menghina mereka, bahkan menganggap mereka munafiq dan kafir, <em>na’udzu billah.</em></p>
<p style="font-weight: 400;">Usaha merendahkan dan mencela sahabat, muncul dengan berbagai macamnya.</p>
<p style="font-weight: 400;">Ada yang menghina sahabat dengan alasan <strong><em>“Studi Kritis Sejarah Islam”</em></strong>, atau<strong><em>“Pembelaan Terhadap Ahlul Bait”</em></strong>, dan berbagai macam slogan yang berakhir pada satu muara, yaitu mencela sahabat Nabi<em> -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- </em>.</p>
<p style="font-weight: 400;">Parahnya lagi, jika usaha busuk ini diusung oleh para mahasiswa muslim.</p>
<p style="font-weight: 400;">Ini tentunya menyalahi adab dan aqidah ahlus sunnah yang memerintahkan kita memuliakan sahabat, memujinya, mendoakan kebaikan baginya, dan menahan lisan dan hati dari benci kepada mereka.</p>
<p style="font-weight: 400;">
<p style="font-weight: 400;">Mencela sahabat, apalagi sampai menganggapnya munafik, dan telah berbuat makar, atau mengkafirkannya adalah merupakan <strong>perkara yang berbahaya bagi aqidah seorang muslim.</strong></p>
<p style="font-weight: 400;">Seorang muslim harus membersihkan lisan dan hatinya dari kata-kata yang tidak layak, sifat benci dan dendam kepada para sahabat <em>-radhiyallahu anhum ajma’in</em>-, apakah ia dari kalangan orang-orang terdahulu masuk Islam ataukah belakangan.</p>
<p style="font-weight: 400;">Yang jelas ia adalah sahabat Nabi-<em>shollallahu alaihi wasallam-</em>, maka kita harus beradab dan sopan kepada mereka dalam berkata dan bersikap.</p>
<p style="font-weight: 400;">Cinta para sahabat Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em>, baik itu ahlul bait maupun bukan merupakan tanda keimanan seseorang, dan membenci mereka adalah tanda nifaq.</p>
<p style="font-weight: 400;">Al-Imam Al-Bukhary &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,<em> <strong>“Bab Tanda Keimanan Adalah Cinta Kepada Orang-Orang Anshar”</strong></em>.</p>
<p style="font-weight: 400;">Setelah itu Al-Bukhary membawakan sebuah hadits dari Anas <em>-radhiyallahu ‘anhu-</em>dari Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-</em>, beliau bersabda,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>آيَةُ الْمُنَافِقِ بُغْضُ  اْلأَنْصَارِ وَآيَةُ الْمُؤْمِنِ حُبُّ اْلأَنْصَارِ</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Tanda kemunafiqan itu adalah membenci orang-orang Anshar dan tanda keimanan itu adalah mencintai orang-orang Anshar”.</em> [Lihat <strong><em>Shahih</em></strong> <strong><em>Al-Bukhoriy</em></strong>(1/14/17)]</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Al-Imam Abu Bakr As-Suyuthiy</strong><em> -rahimahullah- </em>berkata ketika menafsirkan hadits di atas,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;الآية هي العلامة ومعنى هذه الأحاديث أن من عرف مرتبة الأنصار وما كان منهم في نصرة دين الإسلام والسعي في إظهاره وإيواء المسلمين وقيامهم في مهمات دين الإسلام حق القيام محبهم النبي صلى الله عليه وسلم وحبه إياهم وبذلهم أموالهم وأنفسهم بين يديه وقتالهم ومعاداتهم سائر الناس إيثارا للإسلام وعرف من علي ابن أبي طالب رضي الله عنه قربه من رسول الله صلى الله عليه وسلم وحب النبي صلى الله عليه وسلم له وما كان منه في نصرة الإسلام وسوابقه فيه ثم أحب الأنصار وعليا لهذا &#8211; كان ذلك من دلائل صحة إيمانه وصدقه في إسلامه لسروره بظهور الإسلام والقيام بما يرضي الله سبحانه وتعالى ورسوله صلى الله عليه وسلم ومن أبغضهم كان بضد ذلك واستدل به على نفاقه وفساد سريرته.&#8221; اهـ من الديباج على صحيح مسلم بن الحجاج (1/ 92)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Tanda-tanda orang beriman adalah mencintai orang-orang Anshar. Karena, siapa saja yang mengerti martabat mereka dan apa yang mereka persembahkan berupa pertolongan terhadap agama Islam, jerih-payah mereka memenangkannya, menampung para sahabat (muhajirin,pen), cinta mereka kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, pengorbanan jiwa dan harta mereka di depan Nabi -Shollallahu &#8216;alaihi wasallam-, permusuhan mereka terhadap semua orang (kafir) karena mengutamakan Islam dan mencintainya. Semua itu merupakan tanda kebenaran imannya, dan jujurnya dia dalam berislam. Barangsiapa yang membenci mereka di balik semua pengorbanan itu, maka itu merupakan tanda rusak dan busuknya niat orang ini”.</em> [Lihat <strong><em>Ad-Dibaj</em></strong> <strong><em>ala Shohih Muslim Ibnil Hajjaj</em></strong> (1/92)]</p>
<p style="font-weight: 400;">Nabi <em>-Shollallahu &#8216;alaihi wasallam-</em> bersabda saat melarang keras mencela para sahabat dengan menerangkan martabat mereka,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَلَوْا أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Andaikan seorang di antara kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, niscaya infaq itu tak mampu mencapai satu mud infaq mereka, dan tidak pula setengahnya”</em>. [HR.Al-Bukhary dalam <strong><em>Shahih</em></strong>-nya (no. 3470), Muslim dalam <strong><em>Shahih</em></strong>-nya (no. 2541)].</p>
<p style="font-weight: 400;">Dari dua hadits ini dan hadits lainnya yang semakna, Ahlis Sunnah menetapkan suatu aqidah: <strong><em>“Wajibnya mencintai para sahabat Nabi -Shollallahu &#8216;alaihi wasallam- dan tidak mencela mereka, bahkan memuliakan mereka serta membersihkan hati dan lisan dari membicarakan permasalahan di antara para sahabat, mencela, merendahkan dan menghina para sahabat”</em></strong>.</p>
<p style="font-weight: 400;">Sebab merekalah yang memperjuangkan Islam dan menyebarkannya dengan mengorbankan harta dan jiwa mereka sampai kita juga bisa merasakan nikmat Islam.</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</strong> <em>-rahimahullah- </em>berkata, <em>“Di antara prinsip Ahlus Sunnah, selamatnya hati dan lisan mereka dari sahabat Rasulullah shollallahu alaihi wasallam- dan berlepas diri dari jalan hidupnya orang-orang <strong>Rofidhoh</strong> yang membenci dan mencela para sahabat. Mereka (Ahlussunnah) menahan diri dari perselisihan yang terjadi di antara mereka, dan berkata:</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><strong><em>[‘Sesungguhnya atsar-atsar yang teriwayatkan mengenai kejelekan para sahabat, di antaranya ada berita dusta, ada juga yang sudah ditambahi dan dikurangi, serta diubah dari semestinya’].</em></strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>Para sahabat lebih dahulu berislam, dan memiliki keutamaan-keutamaan yang mengharuskan diampuninya dosa yang ada pada dari mereka, apabila ada. Sehingga mereka diampuni dari segala kekeliruan yang tidak diampuni bagi orang setelah mereka. Lalu jika ada dosa pada salah seorang di antara mereka, maka mereka (tentunya) akan bertaubat darinya, atau ia melakukan kebaikan yang bisa menghapuskan dosanya atau diampuni dosanya karena keutamaan dahulunya masuk Islam, atau karena syafa’at Nabi Muhammad -shollallahu ‘alaihi wasallam- kepada mereka, yangmana mereka adalah orang yang lebih berhak mendapatkan syafa’atnya, ataukah ia ditimpakan suatu bala’ di dunia yang bisa menghapuskan dosanya. Jika ini hubungannya dengan dosa yang nyata, maka bagaimana lagi dengan perkara yang mereka di dalamnya berijtihad? Jika mereka benar, maka mereka mendapatkan dua pahala. Jika keliru, maka mereka mendapat satu pahala, sedangkan kesalahannya terampuni”</em>.[Lihat <strong><em>Syarah Al-Aqidah Al-Wasithiyyah</em></strong>(hal. 139-152) karya Syaikh Shaleh Al-Fauzan, dengan sedikit perubahan tanpa merusak dan mengubah makna].</p>
<p style="font-weight: 400;">Orang Rafidhah yang disebut oleh Syaikhul Islam, mereka adalah berasal dari orang-orang majusi yang mengaku masuk Islam dengan tujuan merusak Islam dari dalam.</p>
<p style="font-weight: 400;">Mereka berkedok dengan pembelaan bagi Ahlul Bait dalam rangka mencela, bahkan mereka mengafirkan para sabahat Nabi <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam- </em>agar Islam hancur.</p>
<p style="font-weight: 400;">Sekarang <strong>Rofidhoh</strong> (baca:<strong>Syi’ah</strong>) bermarkas di Iran. Karenanya, kami ingatkan kaum muslimin agar berhati-hati terhadap mereka dan jauhkan anak-anak kita dari mereka, jangan sampai di sekolahkan di negeri mereka (khususnya, di Qum, Iran), hanya karena diiming-imingi dengan dunia dan gelar, sementara ia rela mengorbankan aqidah. <em>Na’udzu billah minal khudzlan</em>.</p>
<p style="font-weight: 400;">Hal ini perlu kami jelaskan, karena orang-orang Rafidhah (terkenal dengan sebutan Syi’ah), belakangan ini banyak merasuki dunia kampus, dan sebagian oragnisasi dakwah.</p>
<p style="font-weight: 400;">Selain itu, mereka memakai senjata  <strong>“<em>nikah mut’ah” </em></strong>(nikah kontrak/nikah tanpa wali). Banyak mahasiswa yang terpengaruh dengan mereka karenanya. Apalagi nikah mut’ah dibumbui dengan janji-janji pahala dan keutamaan yang mereka ada-ada.</p>
<p style="font-weight: 400;">Ketahuilah, mereka adalah kaum yang memiliki niat busuk dalam mencela sahabat Nabi kita <em>-Shollallahu ‘alaihi wasallam-.</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Al-Imam Muhammad bin Al-Husain Al-Ajury</strong> <em>-rahimahullah- </em>berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;يَنْبَغِي لِمَنْ تَدَبَّرَ مَا رَسَمْنَاهُ مِنْ فَضَائِلِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفَضَائِلِ أَهْلِ بَيْتِهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ أَنْ يُحِبَّهُمْ وَيَتَرَحَّمَ عَلَيْهِمْ وَيَسْتَغْفِرَ لَهُمْ , وَيَتَوَسَّلَ إِلَى اللَّهِ الْكَرِيمِ بِهِمْ وَيَشْكُرَ اللَّهَ الْعَظِيمَ إِذْ وَفَّقَهُ لِهَذَا , وَلَا يَذْكُرَ مَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ وَلَا يَنْقُرَ عَنْهُ وَلَا يَبْحَثَ.&#8221; الشريعة للآجري (5/ 2485)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Seyogyanya bagi orang yang mau mentadabburi apa yang telah kami torehkan berupa keutamaan-keutaan para sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- dan keluarga beliau -radhiyallahu anhum ajma’in- agar mencintai mereka, mendoakan rahmat bagi mereka, memohonkan ampunan bagi mereka, mencari jalan kepada Allah untuk mereka, juga bersyukur kepada Allah karena ia diberi taufiq (petunjuk) kepada hal ini, serta tidak menyebutkan perselisihan yang terjadi di antara mereka, dan mengorek-ngoreknya, dan tidak pula mencari-carinya”.</em>[Lihat<strong><em>Asy-Syari’ah</em></strong> (hal. 2485), karya Al-Imam Al-Ajurriy.]</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Oleh karena itu, tak wajar jika seorang muslim menyebarkan hadits yang berisi kisah celaan kepada Tsa’labah bin Hathib, yang di dalamnya terdapat pelecehan bagi beliau. </strong>Karena, itu termasuk perkara yang dilarang Ahlus Sunnah, kecuali jika kita sebutkan hadits itu demi menjelaskan kelemahan dan kepalsuannya, maka tidak mengapa. Bahkan bisa mendapatkan pahala karena membela kehormatan sahabat Nabi <em>-Shollallahu alaihi wa sallam-</em>.</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Al-Imam An-Naqid Abu Zur’ah Ar-Rozy</strong> <em>-rahimahullah-</em> berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>«إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ , وَذَلِكَ أَنَّ الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ عِنْدَنَا حَقٌّ , وَالْقُرْآنَ حَقٌّ , وَإِنَّمَا أَدَّى إِلَيْنَا هَذَا الْقُرْآنَ وَالسُّنَنَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ , وَإِنَّمَا يُرِيدُونَ أَنْ يُجَرِّحُوا شُهُودَنَا لِيُبْطِلُوا الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ , وَالْجَرْحُ بِهِمْ أَوْلَى وَهُمْ زَنَادِقَةٌ» اهـ من الكفاية في علم الرواية للخطيب البغدادي (ص: 49)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Apabila engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam-, maka ketahui bahwa orang itu zindiq. Karena Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- di sisi kami benar, dan Al-Qur’an adalah kebenaran. Sedangkan yang menyampaikan Al-Qur’an ini kepada kami adalah para sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam-. Mereka (para pencela tersebut) hanyalah berkeinginan untuk menjatuhkan saksi-saksi kami agar mereka bisa membatalkan Al-Kitab dan As-Sunnah. Padahal celaan itu lebih pantas bagi mereka, sedang mereka adalah orang-orang zindiq</em>”. [Lihat <strong><em>Al-Kifayah</em></strong> (hal. 49), karya Al-Khathib Al-Baghdadiy]</p>
<p style="font-weight: 400;">Mencela sahabat adalah tanda dan sebab seseorang ditutup hatinya sampai ia menjadi munafik atau kafir. Mencela para sahabat tidaklah sama mencela orang selainnya, sebab mencela mereka memberikan efek buruk bagi dakwah dan Islam.</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Al-Imam Ahmad bin Hambal </strong>&#8211;<em>rahimahullah-</em> berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8221; مَنْ شَتَمَ أَخَافُ عَلَيْهِ الْكُفْرَ مِثْلَ الرَّوَافِضِ، ثُمَّ قَالَ: مَنْ شَتَمَ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا نَأْمَنُ أَنْ يَكُونَ قَدْ مَرَقَ عَنِ الدِّينِ &#8221; اهـ من السنة لأبي بكر بن الخلال (3/ 493)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Barangsiapa mencela (sahabat), maka aku takutkan kekufuran atas dirinya, seperti orang-orang Rofidhoh.”</em></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>Lalu beliau berkata lagi, “Barangsiapa yang mencela para sahabat Rasulullah–shollallahu alaihi wasallam- , maka kami tak merasa aman atas dirinya dari keluarnya ia dari agama”.</em> [Lihat <strong><em>As-Sunnah</em></strong> (3/439) karya Al-Khollal]</p>
<p style="font-weight: 400;">Seorang muslim haram hukumnya mencela sahabat Rasulullah –alaihish sholatu was salam- dan wajib mencintai mereka. Namun dalam mencintai mereka tidak boleh berlebihan.</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thohawy</strong> <em>-rahimahullah-</em> berkata dalam menjelaskan aqidah Ahlussunnah,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>(وَنُحِبُّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَا نُفَرِّطُ فِي حُبِّ أَحَدٍ مِنْهُمْ، وَلَا نَتَبَرَّأُ مِنْ أَحَدٍ مِنْهُمْ. وَنُبْغِضُ مَنْ يُبْغِضُهُمْ، وَبِغَيْرِ الْخَيْرِ يَذْكُرُهُمْ. وَلَا نَذْكُرُهُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ. وَحُبُّهُمْ دِينٌ وَإِيمَانٌ وَإِحْسَانٌ، وَبُغْضُهُمْ كُفْرٌ وَنِفَاقٌ وَطُغْيَانٌ) اهـ من شرح العقيدة الطحاوية_ت : الأرناؤوط (2/ 689)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Kami mencintai para sahabat Rasulullah  -shollallahu alaihi wasallam-, tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang di antara mereka,dan tidak berlepas diri dari salah seorang di antara mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan menyebutnya bukan dalam kebaikan. Kita tidak menyebut para sahabat, kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, keimanan, dan kebaikan. Sedang membenci mereka merupakan kekufuran, kemunafikan, dan pelampauan batas”</em>. [Lihat <strong><em>Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah</em></strong> (hal. 689), karya Ibnu Abil Izz Al-Hanafy.]</p>
<p style="font-weight: 400;">Ahlus Sunnah biasa dinamai “Al-Jama’ah”. Mereka memiliki ciri yang dikenal pada mereka berupa kecintaan kepada para sahabat. Mereka juga menetapkan bahwa manusia yang paling utama setelah para nabi dan rasul adalah Abu Bakar, lalu Umar, lalu Utsman, dan berikut Ali bin Tholib.</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Al-Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit Al-Kufiy </strong><em>-rahimahullah-</em> berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8220;الْجَمَاعَة أن تفضل أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعَلِيًّا وَعُثْمَانَ وَلا تَنْتَقِصَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ _صلى الله عَلَيْهِ وَسلم_.&#8221; اهـ من الانتقاء في فضائل الثلاثة الأئمة الفقهاء (ص: 163)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Al-Jama’ah: Engkau mengutamakan Abu Bakar, Umar , Ali, dan Utsman, dan engkau tidak mencela salah seorang diantara sahabat Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- “</em>. [Lihat <strong><em>Al-Intiqo’ fi fadho’il Ats-Tsalatsah Al-A’immah</em></strong> (hal. 163), karya Ibnu Abdil Barr, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah]</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Imam Darul Hijrah, Malik bin Anas</strong> <em>-rahimahullah-</em> berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>&#8221; الَّذِي يَشْتِمُ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ لَهُ سَهْمٌ، أَوْ قَالَ: نَصِيبٌ فِي الْإِسْلَامِ &#8221; اهـ من السنة لأبي بكر بن الخلال (3/ 493)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Orang yang mencela para sahabat Nabi -shollallahu alaihi wasallam- tidak memiliki saham-atau ia berkata:- bagian dalam Islam”.</em> [Lihat <strong><em>As-Sunnah</em></strong> (3/493) karya Al-Khollal]</p>
<p style="font-weight: 400;">Ketika kita melihat kekurangan pada diri sebagian sahabat, atau mereka melakukan suatu perkara yang kita anggap sebuah pelanggaran, maka hendaknya kita memohonkan ampunan bagi mereka, berbaik sangka serta membersihkan hati dan lisan kita dari mencela mereka.</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>Al-Imam Al-Humaidy </strong><em>-rahimahullah-</em> berkata,</p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>أصول السنة للحميدي (ص: 6)</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><strong>فلم يؤمر  إلا بالإستغفارٍ لهم، فمن يسبهم أو ينقصهم أو أحداً منهم , فليس على السُنَّة، وليس له في الفئ حق</strong></p>
<p style="font-weight: 400;"><em>“Seseorang tidaklah diperintah kecuali untuk memohonkan ampunan bagi mereka (sahabat). Barangsiapa yang mencela mereka atau meremehkan mereka atau salah seorang dari mereka, maka ia bukanlah di atas sunnah, dan ia tidak memiliki bagian dari fa’i (rampasan perang)”.</em> [Lihat <strong><em>Ushul As-Sunnah</em></strong>, hal. 6, karya Al-Humaidy]</p>
<p style="font-weight: 400;">Inilah beberapa pernyataan dari para ulama Ahlussunnah tentang orang yang mencela sahabat.</p>
<p style="font-weight: 400;">Lantaran itu, janganlah anda tertipu dengan sebagian orang yang berusaha mencela para sahabat, sekalipun dengan istilah dan slogan <strong><em>“Studi Kritis Terhadap Sejarah Hidup Para Sahabat”</em></strong>.</p>
<p style="font-weight: 400;">Karena, hal ini bukanlah jalannya Ahlus Sunnah, bahkan jalannya orang-orang Rofidhoh, dan orientalis yang <strong>ingin meruntuhkan Islam</strong> dengan jalan mencela dan merendahkan para sahabat.</p>
<p style="font-weight: 400;">Kenapa? Karena dengan mencela mereka, otomatis akan menolak riwayat-riwayat yang disampaikan oleh para sahabat berupa hadits-hadits Nabi<em> -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. </em>Sedang ajaran dan syariat Islam, terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits.</p>
<p style="font-weight: 400;">Ahlus Sunnah menjauhkan diri dari mengorek-ngorek kesalahan para sahabat dan menghukumi mereka.</p>
<p style="font-weight: 400;">Para sahabat <em>-radhiyallahu anhum- </em>adalah suatu kaum yang telah mempersembahkan amal sholeh dan jihad dalam membela Islam.</p>
<p style="font-weight: 400;">Bahkan para sahabat Rasulullah –alaihish sholatu was salam-  telah menghabiskan waktunya, mengorbankan harta dan tenaganya dalam membela Nabi &#8211;<em>shollallahu alaihi wasallam-</em>,<em> </em>Islam dan menyebarkannya sehingga sampai kepada kita.</p>
<p style="font-weight: 400;">Mereka telah banyak berusaha dan berkorban untuk Islam.  Lalu apa yang kita persembahkan untuk Islam, sehingga kita merasa lebih hebat dibandingkan sahabat dan malah justru mau menghakimi mereka yang telah lama meninggal.</p>
<p style="font-weight: 400;">Lalu apa manfaat yang kalian peroleh dalam mengkritisi sejarah hidup para sahabat?</p>
<p style="font-weight: 400;"><em>Wallahi</em>, tiada lain kecuali kerugian yang akan kalian petik di dunia dan akhirat.<em>Nas’alullahal afiyah wassalamah minal khudzlan !</em></p>
<p style="font-weight: 400;">
<p style="font-weight: 400;">Sumber:<br />
<a href="https://abufaizah75.blogspot.co.id/2018/03/jangan-mencela-para-sahabat.html">https://abufaizah75.blogspot.co.id/2018/03/jangan-mencela-para-sahabat.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/jangan-mencela-para-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Heroik Para Sahabat  &#8216;Singa-singa Padang Pasir&#8217;</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/kisah-heroik-para-sahabat-singa-singa-padang-pasir/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/kisah-heroik-para-sahabat-singa-singa-padang-pasir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2016 03:34:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Heroik Para Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah Heroik Para Sahabat 'Singa-singa Padang Pasir']]></category>
		<category><![CDATA[padang pasir]]></category>
		<category><![CDATA[Para Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Singa-singa Padang Pasir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=2983</guid>
		<description><![CDATA[Kisah heroik para sahabat Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- telah mengisi lembaran-lembaran sejarah indah Islam. Para sahabat memiliki keberanian luar biasa dalam menghadapi musuh, laksana singa-singa padang pasir yang tidak gentar kepada musuh apapun. Mereka adalah kaum yang mencari syahadah (kedudukan mati syahid) di jalan Allah demi mengangkat martabat agama Allah.
Tak ada dalam kamus hidup mereka, melainkan Mati Syahid, atau Hidup Mulia di atas Islam, yang kemudian disederhanakan oleh kaum muslimin Indonesia dengan semboyan "Merdeka atau Mati", yakni merdeka di atas Islam atau mati syahid di tangan musuh kafir Belanda dengan ganjaran surga di sisi Allah -Tabaroka wa Ta'ala-.
Para sahabat -radhiyallahu anhum- berjihad tanpa kenal capek dan gentar, mereka senantiasa siap menghadapi kaum kafir yang tak mau tunduk kepada agama Allah (Islam).
Cerita indah dari kehidupan para pahlawan dan pembawa panji Islam telah menghiasi lukisan sejarah manusia.
Mereka telah melakukan perubahan dalam segala sisi, mulai dari akhlaq manusia, ilmu, ibadah dan lainnya. Semua berkat perjuangan para sahabat -radhiyallahu anhum-.
Para pembaca yang budiman, kali ini kami akan mengajak anda meneguk manisnya sejarah mereka dengan menukil kisah kepahlawanan mereka sebagaimana yang dinukil oleh sejarawan Islam,]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa&#8217;izah -hafizhahullah-</p>
<p>Kisah heroik para sahabat Rasulullah &#8211;<em>Shallallahu alaihi wa sallam-</em> telah mengisi lembaran-lembaran sejarah indah Islam. Para sahabat memiliki keberanian luar biasa dalam menghadapi musuh, laksana singa-singa padang pasir yang tidak gentar kepada musuh apapun. Mereka adalah kaum yang mencari <em>syahadah </em>(kedudukan mati syahid) di jalan Allah <strong>demi mengangkat martabat agama Allah.</strong></p>
<p>Tak ada dalam kamus hidup mereka, melainkan <em>Mati Syahid</em>, atau <em>Hidup Mulia</em> di atas Islam, yang kemudian disederhanakan oleh kaum muslimin Indonesia dengan semboyan &#8220;Merdeka atau Mati&#8221;, yakni merdeka di atas Islam atau mati syahid di tangan musuh kafir Belanda dengan ganjaran surga di sisi Allah -Tabaroka wa Ta&#8217;ala-.</p>
<p>Para sahabat &#8211;<em>radhiyallahu anhum</em>&#8211; berjihad tanpa kenal capek dan gentar, mereka senantiasa siap menghadapi kaum kafir yang tak mau tunduk kepada agama Allah (Islam).</p>
<p>Cerita indah dari kehidupan para pahlawan dan pembawa panji Islam telah menghiasi lukisan sejarah manusia.</p>
<p><strong>Mereka telah melakukan perubahan </strong>dalam segala sisi, mulai dari akhlaq manusia, ilmu, ibadah dan lainnya. Semua berkat perjuangan para sahabat &#8211;<em>radhiyallahu anhum</em>-.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Para pembaca yang budiman, kali ini kami akan mengajak anda meneguk manisnya sejarah mereka dengan menukil kisah kepahlawanan mereka sebagaimana yang dinukil oleh sejarawan Islam,</p>
<p><strong>Al-Imam al-Hafizh Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; dalam kitabnya yang berjudul <em>&#8220;Al-Bidayah wa an-Nihayah&#8221;</em> (9/621-623) seputar <strong>Perang Qodasiyyah:</strong></p>
<p>Di zaman itu, kaum muslimin melakukan penyerangan terhadap kerajaan Majusi (Persia) yang kala itu dipimpim oleh <strong>Raja Yazdajir.</strong></p>
<p>Sang Raja mengirim seorang panglima perang mereka yang bernama Rustum.</p>
<p>Adapun kaum muslimin saat itu dipimpin oleh <strong>Amirul Mukminin Umar bin Al-Khoththob</strong> &#8211;<em>radhiyallahu anhu</em>-. Beliau saat itu mengirim bala tentara yang dipimpin oleh <strong>Sa&#8217;ad bin Abi Waqqosh</strong>, salah seorang calon penghuni surga &#8211;<em>radhiyallahu anhu-.</em></p>
<p>Sekarang mari kita dengarkan kisah selengkapnya:</p>
<p>Tatkala dua pasukan akan berhadapan, maka Rustum mengirim pesan kepada Sa&#8217;ad &#8211;<em>radhiyallahu anhu</em>-,</p>
<p><em>&#8220;Tolong kirim seorang yang cerdik kepadaku karena ada suatu hal yang aku akan tanyakan kepadanya&#8221;.</em> Akhirnya, Sa&#8217;ad mengutus <strong>Al-Mughiroh bin Syu&#8217;bah</strong> &#8211;<em>radhiyallahu anhu-.</em></p>
<p>Ketika Al-Mughiroh datang kepadanya, mulailah <strong>Rustum</strong> berkata kepadanya, <em>&#8220;Sesungguhnya kalian adalah tetangga kami. Kami telah berbuat baik kepada kalian dan menahan gangguan dari kalian. Karenanya, kembalilah ke negeri kalian. Kami tak akan menghalangi para pedagang kalian dari memasuki negeri kami&#8221;.</em></p>
<p>Sahabat Al-Mughiroh bin Syu&#8217;bah Ats-Tasqofiy &#8211;<em>radhiyallahu anhu</em>&#8211; menjawab,</p>
<p><strong>إِنَّا لَيْسَ طَلَبُنَا الدُّنْيَا، وَإِنَّمَا هَمُّنَا وَطَلَبُنَا الْآخِرَةُ، وَقَدْ بَعَثَ اللَّهُ إِلَيْنَا رَسُولًا قَالَ لَهُ: إِنِّي قَدْ سَلَّطْتُ هَذِهِ الطَّائِفَةَ عَلَى مَنْ لَمْ يَدِنْ بِدِينِي، فَأَنَا مُنْتَقِمٌ بِهِمْ مِنْهُمْ، وَأَجْعَلُ لَهُمُ الْغَلَبَةَ مَا دَامُوا مُقِرِّينَ بِهِ، وَهُوَ دِينُ الْحَقِّ لَا يَرْغَبُ عَنْهُ أَحَدٌ إِلَّا ذَلَّ، وَلَا يَعْتَصِمُ بِهِ إِلَّا عَزَّ.</strong></p>
<p><em>&#8220;Sesungguh bukanlah tujuan kami adalah dunia!! Hanyalah tujuan dan cita-cita kami adalah akhirat!!! Sungguh Allah telah mengutus kepada kami seorang Rasul; Allah berpesan kepadanya, &#8220;Sungguh Aku telah kuasakan (tolong) kelompok ini (yakni, kaum muslimin) atas orang-orang yang tak mau menganut agama-Ku. Akulah yang akan menghukum mereka dengan perantaraan kaum muslimin dan akan Aku berikan kemenangan bagi mereka selama mereka mengakui agama ini, yaitu agama kebenaran; tak ada yang benci kepadanya kecuali ia akan terhina dan tak ada yang berlindung dengannya, kecuali ia akan mulia&#8221;.</em></p>
<p>Rustum bertanya, <em>&#8220;Agama apa itu?&#8221;</em></p>
<p><strong>Al-Mughiroh bin Syu&#8217;bah</strong> &#8211;<em>radhiyallahu anhu</em>&#8211; menjawab,</p>
<p><strong> أَمَّا عَمُودُهُ الَّذِي لَا يَصْلُحُ شَيْءٌ مِنْهُ إِلَّا بِهِ، فَشَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَالْإِقْرَارُ بِمَا جَاءَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ</strong></p>
<p><em>&#8220;Adapun pilar-pilarnya yang tak akan baik sesuatu dari agama ini, kecuali dengannya, maka ia adalah persaksian bahwa tak ada sembahan yang haq, melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasul (utusan) Allah serta mengakui semua yang datang dari sisi Allah!!&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Oh, alangkah indahnya agama ini! Apalagi selain itu?&#8221;, </em>tanya Rustum</p>
<p><strong>Al-Mughiroh</strong> &#8211;<em>radhiyallahu anhu</em>&#8211; menjawab,</p>
<p><strong>وَإِخْرَاجُ الْعِبَادِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ</strong></p>
<p><em>&#8220;Mengeluarkan para hamba dari penyembahan terhadap hamba menuju penyembahan kepada Allah&#8221;.</em></p>
<p><em>&#8220;Ini juga bagus&#8221;</em>, tutur Rustum seraya berkata, <em>&#8220;Bagaimana menurut kalian jika kami masuk ke dalam agama kalian, apakah kalian akan pulang (pergi) dari negeri kami?&#8221;</em></p>
<p>Al-Mughiroh menjawab, <em>&#8220;Demi Allah, ya kami tak akan mendekati negeri kalian, kecuali untuk dagang dan suatu hajat&#8221;. </em></p>
<p>&#8220;Ini juga bagus&#8221;, tegas Rustum.</p>
<p>Tatkala Al-Mughiroh &#8211;<em>radhiyallahu anhu</em>&#8211; keluar dari sisinya, maka Rustum mengajak para pemimpin kaumnya untuk berunding tentang Islam.</p>
<p><strong>Mereka amat benci hal itu dan enggan masuk Islam.</strong> Akhirnya, Allah memberikan keburukan dan kehinaan kepada mereka dan sungguh Allah telah melakukan hal itu.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, Sa&#8217;ad &#8211;<em>radhiyallahu anhu</em>&#8211; mengutus lagi utusan lain karena permintaan Rustum, yaitu sahabat <strong>Rib&#8217;iy bin Amir.</strong></p>
<p>Utusan ini pun masuk menemui Rustum. <strong>Sementara itu mereka telah menghiasi majelis Rustum dengan bantal-bantal berhias emas dan permadani sutra.</strong></p>
<p>Dia juga menampakkan permata yaquth, mutiara-mutiara berharga dan perhiasan yang hebat. Rustum mengenakan mahkota dan perlengkapan yang berharga. Waktu itu, ia duduk di tahta emas.</p>
<p>Kemudian masuklah sahabat <strong>Rib&#8217;iy</strong> &#8211;<em>radhiyallahu anhu</em>&#8211; dengan mengenakan pakaian yang kasar bersamanya pedang, perisai dengan menunggangi seekor kuda yang pendek.</p>
<p><strong>Dia terus mengendarai kudanya sampai ia menginjakkan kudanya pada ujung permadani.</strong> Lalu ia turun dari kendaraannya dan menambatnya pada sebagian bantal-bantal tersebut.</p>
<p><strong>Rib&#8217;iy menghadap sambil menyandang pedang, baju besi dan topi baja pada kepalanya.</strong></p>
<p>Mereka (pasukan Persia) berkata, <em>&#8220;Ayo letakkan senjatamu!!&#8221;. </em></p>
<p><em>&#8220;Sebenarnya aku tak mau datang kepada kalian. Hanya saja aku datang saat kalian mengundangku. Jika kalian membiarkan aku demikian, maka aku akan masuk. Tapi jika tidak, maka aku akan kembali!!&#8221;</em></p>
<p>Rustum berkata, <em>&#8220;Mendekatlah kepadanya&#8221;.</em></p>
<p>Lalu menghadaplah <strong>Rib&#8217;iy</strong> &#8211;<em>radhiyallahu anhu</em>&#8211; sambil bertelekan pada tombaknya di atas permadani sehingga robeklah permadani itu.</p>
<p>Mereka bertanya, <em>&#8220;Apa yang menyebabkanmu datang?&#8221;</em></p>
<p><strong>Rib&#8217;iy bin Amir</strong> menjawab,</p>
<p><strong>اللَّهُ ابْتَعَثْنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سِعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ، </strong></p>
<p><strong>فَأَرْسَلَنَا بِدِينِهِ إِلَى خَلْقِهِ لِنَدْعُوَهُمْ إِلَيْهِ، فَمَنْ قَبِلَ ذَلِكَ قَبِلْنَا مِنْهُ وَرَجَعْنَا عَنْهُ، وَمَنْ أَبَى قَاتَلْنَاهُ أَبَدًا حَتَّى نُفْضِيَ إِلَى مَوْعُودِ اللَّهِ</strong></p>
<p><em>&#8220;Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan orang-orang Allah kehendaki dari penyembahan kepada hamba, menuju penyembahan kepada Allah, dan dari kesempitan dunia menuju kelapangannya, dari kelaliman agama-agama menuju keadilan Islam. </em></p>
<p><strong><em>Jadi, Allah mengirim kami dengan membawa agama-Nya kepada seluruh makhluk agar kami mengajak mereka kepadanya.</em></strong></p>
<p><em>Barangsiapa yang menerimanya, maka kamipun menerima hal itu darinya dan kami akan pulang (pergi) darinya. </em></p>
<p><em>Barangsiapa yang enggan (tak mau menerimanya), maka maka kami akan memeranginya selama-lamanya sampai kami tiba pada sesuatu yang  Allah janjikan!!&#8221;</em></p>
<p>&#8220;Apa yang Allah janjikan?&#8221; tanya mereka.</p>
<p>Rib&#8217;iy menjawab, <em>&#8220;yaitu </em><strong><em>surga</em></strong><em> bagi orang yang mati dalam memerangi orang-orang yang enggan dan </em><strong><em>kemenangan</em></strong><em> bagi orang-orang yang masih tetap hidup&#8221;. </em></p>
<p>Rustum berkata, <em>&#8220;Aku telah mendengarkan komentar kalian. Apakah kalian bisa menangguhkan perang ini sampai kami memikirkannya dan kalian pun berpikir?&#8221;</em></p>
<p>Rib&#8217;iy berkata,<em> &#8220;Ya, boleh. Berapa waktu yang kalian inginkan? Sehari atau dua hari?!&#8221;</em></p>
<p><em>&#8220;Bukan, bahkan biarkan kami menyurati dulu para pemikir dan pemimpin kaum kami&#8221;</em>, kata Rustum.</p>
<p><em>&#8220;Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- tak pernah mencontohkan bagi kami untuk memberi penangguhan kepada musuh ketika sudah bertemu dalam waktu lebih dari tiga hari. </em></p>
<p><em>Ayo, pikirkan urusanmu dan urusan mereka dan pilihlah salah satu dari tiga perkara setelah penangguhan itu&#8221;, </em>tegas Rib&#8217;iy &#8211;<em>radhiyallahu anhu-.</em></p>
<p>Rustum bertanya, <em>&#8220;Apakah engkau adalah pimpinan mereka?&#8221; </em></p>
<p>Rib&#8217;iy menjawab, <em>&#8220;Bukan, tapi <strong>kaum muslimin ibarat sebuah jasad, </strong>orang rendah diantara mereka memberikan perlindungan bagi orang-orang yang tinggi diantara mereka&#8221;.</em></p>
<p>Kemudian Rustum rapat bersama dengan para pemimpin kaumnya seraya berkata, <em>&#8220;Apakah kalian pernah melihat yang lebih hebat dan lebih kuat dibanding ucapan lelaki ini?&#8221; </em></p>
<p><strong>Mereka menjawab,</strong> <em>&#8220;Na&#8217;udzu billah, kalau sampai engkau condong kepadanya dan engkau pun mau meninggalkan agamamu lantaran si anjing ini!! Tidakkah engkau lihat bajunya?!&#8221; </em></p>
<p><em>&#8220;Celaka kalian, jangan perhatikan pakaian mereka, tapi perhatikanlah pikiran, ucapan dan jalan hidupnya!! Sesungguhnya orang-orang Arab tidak terlalu memperhatikan soal pakaian dan makanan, namun mereka amat menjaga harkat dan martabat!!&#8221;, </em>tegas Rustum</p>
<p>Inilah percapakan dari para pahlawan Islam yang menunjukkan tentang kehebatan dan keperkasaan mereka.</p>
<p>Jumlah mereka kala itu hanya berkisar tujuh sampai delapan ribu orang, sementara pasukan Persia 30 ribu orang.</p>
<p>Namun karena pertolongan Allah dan semangat mereka yang pantang menyerah. Akhirnya, berhasil menumbangkan pasukan Persia di Perang Qodisiyyah dan setelah itu berhasil merebut Persia.<em> Alhamdulillah ala ni&#8217;matil Islam.</em></p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="568"><strong>Ibrah dan Renungan dari Balik Kisah ini:</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ul>
<li>&amp; Di dalamnya terdapat keterangan tentang <strong>keberanian para sahabat</strong>, khususnya utusan yang datang dengan seorang diri.</li>
</ul>
<ul>
<li>&amp; Para sahabat adalah orang-orang yang <strong>tidak terlalu memandang penampilan lahiriah.</strong> Karenanya, Rib&#8217;iy &#8211;<em>radhiyallahu</em> <em>anhu</em>&#8211; datang dengan pakaian paling seerhana.</li>
</ul>
<ul>
<li>&amp; Seorang muslim tak boleh menampakkan kerendahan dan kehinaan di hadapan kaum kafir.</li>
</ul>
<ul>
<li>&amp; <strong>Kemewahan duniawi</strong> tidaklah memukau para sahabat, sehingga mereka harus mengalah dengan bayaran. Bahkan mereka menolaknya!!</li>
</ul>
<ul>
<li>&amp; Di saat perang disunnahkan mendakwahi kaum kafir agar masuk Islam sebelum mereka diperangi. Tapi ini bagi mereka yang belum mengenal Islam dan belum sampai dakwah kepadanya.</li>
</ul>
<p><strong>Al-Imam Asy-Syafi&#8217;iy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata, &#8220;<em>Tidak boleh memerangi orang kafir yang belum sampai kepadanya dakwah sampai mereka didakwahi. Adapun mereka yang sudah sampai dakwah kepadanya, maka boleh menyerangnya, tanpa didakwahi. Inilah kosekuensi hadits-hadits yang ada&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>Fathul Bari</em></strong> (7/596-597) karya Ibnu Hajar]</p>
<ul>
<li>&amp; Kuatnya para sahabat memegang teguh sunnah Nabi &#8211;<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>&#8211; sampai pun di saat perang dan beliau telah wafat.
<p>Sumber:<br />
<a href="https://abufaizah75.blogspot.co.id/2016/12/kisah-heroik-para-sahabat-singa-singa.html">https://abufaizah75.blogspot.co.id/2016/12/kisah-heroik-para-sahabat-singa-singa.html</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/kisah-heroik-para-sahabat-singa-singa-padang-pasir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
