<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Markaz Dakwah untuk Bimbingan dan Taklim &#187; Sepuluh Hari Dzulhijjah</title>
	<atom:link href="https://markazdakwah.or.id/tag/sepuluh-hari-dzulhijjah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://markazdakwah.or.id</link>
	<description>www.markazdakwah.or.id</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Apr 2019 07:54:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Keutamaan Sepuluh Hari Dzulhijjah</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/keutamaan-sepuluh-hari-dzulhijjah-2/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/keutamaan-sepuluh-hari-dzulhijjah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Aug 2017 08:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Dzulhijjah]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Dzulhijjah]]></category>
		<category><![CDATA[Keutamaan Sepuluh Hari Dzulhijjah]]></category>
		<category><![CDATA[Sepuluh Hari Dzulhijjah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3713</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Al-Qur`an Al-Karim, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, وَالْفَجْرِ. وَلَيَالٍ عَشْرٍ “Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” [Al-Fajr: 1-2] Setelah menyebutkan sejumlah ucapan ulama tafsir tentang ayat di atas, seorang mufassir ternama, lbnu Jarir rahimahullâh, dalam Tafsir-nya, menyimpulkan bahwa “malam yang sepuluh” tersebut adalah malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan para ulama tafsir tentang hal tersebut.[1] Ibnu Katsir rahimahullâh juga menguatkan hal tersebut sembari berkata, “Yang... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/keutamaan-sepuluh-hari-dzulhijjah-2/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam Al-Qur`an Al-Karim, Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL"><strong>وَالْفَجْرِ</strong><strong>.</strong><strong> وَلَيَالٍ عَشْرٍ</strong></p>
<p><em>“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.”</em> [<strong>Al-Fajr: 1-2</strong>]</p>
<p>Setelah menyebutkan sejumlah ucapan ulama tafsir tentang ayat di atas, seorang mufassir ternama, lbnu Jarir <em>rahimahullâh</em>, dalam <em>Tafsir</em>-nya, menyimpulkan bahwa <em>“malam yang sepuluh”</em> tersebut adalah malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan para ulama tafsir tentang hal tersebut.<a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Ibnu Katsir <em>rahimahullâh</em> juga menguatkan hal tersebut sembari berkata, “Yang dimaksud dengan <em>“malam yang sepuluh”</em> adalah sepuluh Dzulhijjah sebagaimana perkataan Ibnu ‘Abbâs, Ibnu Az-­Zubair, Mujahid, dan ulama salaf (terdahulu) dan khalaf (belakangan) selain mereka ….”</p>
<p>Allah <em>Subhânahû wa Ta’âlâ</em> berfirman pula,</p>
<p dir="RTL"><strong>وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ</strong><strong>.</strong><strong>لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ</strong></p>
<p><em>“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan ….”</em> [<strong>Al-Hajj: 27-28</strong>]</p>
<p>Menurut lbnu Katsir <em>rahimahullâh</em>, yang dimaksud dengan <em>“hari-hari yang telah ditentukan”</em> dalam ayat di atas adalah sepuluh hari Dzulhijjah. Beliau menukil hal tersebut dari Ibnu ‘Abbâs, Abu Musa Al-Asy’ary <em>radhiyallâhu ‘anhumâ</em>, Mujâhid, Qatâdah, ‘Athâ`, Sa’îd bin Jubair, Al-Hasan, Adh-Dhahhâk, ‘Athâ` Al-Khurasâny, dan lbrahim An-Nakha’iy, serta merupakan pendapat Madzhab Asy-Syâfi’iy dan yang masyhur dari Ahmad –semoga Allah merahmati mereka seluruhnya-.</p>
<p>Berdasarkan keterangan-keterangan dari dua ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa sepuluh hari Dzulhijjah merupakan hari-hari yang memiliki fadhilah yang sangat besar bagi kaum muslimin.</p>
<p>Selain itu, bila kita memperhatikan berbagai ibadah yang disyariatkan pada sepuluh hari Dzulhijjah ini, akan tampak dengan jelas berbagai keistimewaan sepuluh hari tersebut. Al-­Hafizh Ibnu Hajar <em>rahimahullâh</em> berkata, “Yang tampak adalah bahwa keistimewaan sepuluh hari Dzulhijjah adalah karena (hari-hari itu merupakan) tempat berkumpulnya pokok-pokok ibadah, yaitu shalat, puasa, shadaqah dan haji, yang hal tersebut tidaklah terjadi pada (hari-hari) lain.”<a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftn2">[2]</a></p>
<p>Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> juga telah menjelaskan keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Hal tersebut dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbâs <em>radhiyallâhu ‘anhumâ</em> bahwa Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="RTL"> <strong>مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ. فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَلاَ الْجِهَادُ فِيْ سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ</strong></p>
<p><em>“Tiada suatu hari pun yang amal shalih pada hari-hari itu lebih dicintai oleh Allah daripada sepuluh hari ini. (Para shahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tidak pula (dilebihi oleh) jihad di jalan Allah?’ Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘(Ya), tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun dari hal tersebut.’.”</em> <a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Hadits di atas merupakan hadits pokok yang menjelaskan keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijjah yang mengandung beberapa pelajaran, di antaranya:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, menunjukkan keutamaan beramal kebaikan pada sepuluh hari awal Dzulhijjah sehingga keutamaan beramal pada hari-hari tersebut tidak terkalahkan oleh amalan apapun pada selain hari-hari itu, termasuk amalan jihad di jalan Allah yang tidak mengakibatkan seseorang mati syahid karenanya. Oleh karena itulah, para ulama salaf sangat mengagungkan hari-hari Dzulhijjah ini.</p>
<p>Abu Utsman An-Nahdy<a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftn4">[4]</a> <em>rahimahullâh</em> berkata, “Sesungguhnya mereka (shahabat dan tabi’in) mengagungkan tiga sepuluh: sepuluh (hari) terakhir dari Ramadhan, sepuluh (hari) awal dari Dzulhijjah, dan sepuluh (hari) awal dari Muharram.”<a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftn5">[5]</a> Oleh karena itu, ini adalah suatu nikmat dan anugerah Allah kepada kaum muslimin agar mereka memanfaatkan sepuluh hari Dzulhijjah tersebut dengan sebaik mungkin.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, keterangan bahwa amalan shalih pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah lebih utama daripada amalan shalih yang bukan pada hari-hari tersebut menunjukkan bahwa segala amalan shalih pada sepuluh hari tersebut pahalanya dilipatgandakan.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, frasa “amal shalih” yang dimaksud adalah sebuah konteks umum yang meliputi segala jenis amalan shalih, baik amalan shalih yang syariat dan tuntunannya dalam bulan Dzulhijjah telah tetap, seperti pelaksanaan haji, puasa ‘Arafah, hari An-Nahr (‘Idul Adha), berqurban, berpuasa, dan memperbanyak takbir, maupun amalan shalih yang merupakan hal yang disyariatkan atas setiap muslim pada segala keadaan, seperti ibadah-ibadah wajib, ibadah sunnah, shalat malam, membaca Al-Qur`an, menyambung silaturahmi, dan berbakti kepada orang tua.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, dalam hal memperbandingkan antara sepuluh hari awal Dzulhijjah dan sepuluh malam akhir Ramadhan, terjadi silang pendapat di kalangan ulama tentang yang paling utama antara keduanya.</p>
<p>Ibnul Qayyim menukil dari gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullâh</em>, bahwa Syaikhul Islam menyatakan, “<em>Fashlul khithâb</em> ‘pendapat yang menuntaskan perselisihan’ adalah bahwa malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan lebih utama daripada malam-malam sepuluh (hari) awal Dzulhijjah karena Rasulullah <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em> bersungguh-sungguh dalam hal menunaikan ibadah pada malam-malam tersebut dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan terhadap malam-malam lain, sedangkan hari-hari sepuluh awal Dzulhijjah lebih utama daripada hari-hari sepuluh terakhir Ramadhan berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbâs ini dan sabda Nabi <em>shallallâhu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>‘Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari An-Nahr’</em><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftn6">[6]</a> serta keutamaan yang datang dalam hari ‘Arafah<a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftn7">[7]</a>.”<a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Demikian pula keterangan Al-Mubarakfury <em>rahimahullâh</em> <a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftn9">[9]</a>.</p>
<p>Dari Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim <em>rahimahullâh</em> juga menukil jawaban yang semakna, dengan redaksi yang lebih ringkas, sembari menyifatkan jawaban itu sebagai jawaban yang sangat memuaskan lagi mencukupi. Beliau juga menyatakan bahwa siapa saja yang menjawab bukan dengan rincian beliau, ia tidak mungkin membawakan argumen yang benar.<a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Namun, Ibnu Rajab <em>rahimahullâh</em> memandang bahwa pendapat di atas adalah pendapat yang jauh dari kebenaran. Bagi beliau, hadits-hadits tentang lebih utamanya sepuluh hari awal Dzulhijjah berlaku umum untuk malam dan siang hari<a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftn11">[11]</a>.</p>
<p><em>Wallâhu A’lam</em>.</p>
<div><br clear="all" /></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftnref1">[1]</a> <em>Jâmi’ul Bayân</em> 12/559.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftnref2">[2]</a> <em>Fathul Bâry</em> 2/460.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftnref3">[3]</a> Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry no. 969, Abu Dâwud no. 2438, At-Tirmidzy no. 756 (lafazh hadits adalah milik beliau), dan Ibnu Mâjah no. 1727.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftnref4">[4]</a> Beliau adalah Abdurrahman bin Mull, salah seorang ulama tabi’in yang wafat pada tahun 95 H.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftnref5">[5]</a> Diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr Al-Marwazy dalam <em>Ash-Shalâh</em>sebagaimana dalam <em>Ad-Durr Al-Mandzûr</em> 8/502 karya As-Suyuthy. Baca pulalah <em>Lathâ’if Al-Ma’ârif</em> hal. 31 karya Ibnu Rajab (cet. Maktabah Ar-Riyadh Al-Haditsiyah).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftnref6">[6]</a> <em>Takhrîj</em>-nya akan disebutkan.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftnref7">[7]</a> hadits tentang keutamaan hari ‘Arafah akan disebutkan.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftnref8">[8]</a> Demikian nash ucapan Ibnu Taimiyah yang dinukil oleh muridnya, Ibnul Qayyim, dalam <em>Tahdzîb As-Sunan</em> 6/315.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftnref9">[9]</a> Bacalah kitab beliau, <em>Tuhfatul Ahwâdzy</em>, pada penjelasan hadits no. 506 dari <em>Sunan At-Tirmidzy</em> (<em>Abwâb Ash-Shiyâm Bab fi Amal fi Ayyâm At-Tasyrîq</em>).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftnref10">[10]</a> Bacalah <em>Badâ`i’ul Fawâ`id</em> 3/683.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="file:///D:/Dzulqarnain.Net/Tulisan/Materi%20Pilihan/Mendulang%20Pahala%20di%20Bulan%20Dzulhijjah/Keutamaan%20Sepuluh%20Hari%20Dzulhijjah.doc#_ftnref11">[11]</a> Bacalah keterangan beliau dalam <em>Lathâ`if Al-Ma’ârif</em> hal. 282.</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="http://dzulqarnain.net/keutamaan-sepuluh-hari-dzulhijjah.html">http://dzulqarnain.net/keutamaan-sepuluh-hari-dzulhijjah.html</a></p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/keutamaan-sepuluh-hari-dzulhijjah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
