<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Markaz Dakwah untuk Bimbingan dan Taklim &#187; Sujud Sahwi</title>
	<atom:link href="https://markazdakwah.or.id/tag/sujud-sahwi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://markazdakwah.or.id</link>
	<description>www.markazdakwah.or.id</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Apr 2019 07:54:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Meluruskan Sejumlah Kekeliruan dalam Sujud Sahwi</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/meluruskan-sejumlah-kekeliruan-dalam-sujud-sahwi/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/meluruskan-sejumlah-kekeliruan-dalam-sujud-sahwi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Apr 2017 08:01:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kekeliruan dalam Sujud Sahwi]]></category>
		<category><![CDATA[Meluruskan Sejumlah Kekeliruan dalam Sujud Sahwi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahwi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejumlah Kekeliruan dalam Sujud Sahwi]]></category>
		<category><![CDATA[Sujud Sahwi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3358</guid>
		<description><![CDATA[Kesalahan demi kesalahan sering kali kita saksikan saat sujud sahwi. Hal ini tentunya kita perlu cermati dengan baik, agar kita tidak jatuh di dalamnya.]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div>Ust. Abdul Qodir Abu Fa&#8217;izah, Lc.  <i>-hafizhahullah-</i></div>
<div></div>
<div>
<p>Kesalahan demi kesalahan sering kali kita saksikan saat sujud sahwi. Hal ini tentunya kita perlu cermati dengan baik, agar kita tidak jatuh di dalamnya.</p>
<p>Berikut beberapa buah kesalahan dalam sujud sahwi :<br />
&#8211; <strong>Salah Menempatkan Sujud Sahwi</strong></p>
<p>Sujud sahwi merupakan salah satu perkara yang harus dipahami oleh orang-orang yang melaksanakan sholat, khususnya imam dan orang-orang yang berada di belakangnya.</p>
<p>Sujud sahwi dilakukan saat kita <em>sahwi </em>(lupa) terhadap sesuatu diantara kewajiban dan rukun sholat.</p>
<p>Tentang sujud sahwi ini, banyak orang yang keliru dalam menempatkannya.</p>
<p>Sebagian orang ada yang melakukan sujud sahwi setelah sholat. <strong>Maksudnya</strong>, semua sujud <em>sahwi</em>-nya, ia lakukan setelah keluar dari sholat dan usai salam.</p>
<p>Kelompok lain, ada yang melakukan sujud sahwi sebelum salam sehingga tak pernah ia lakukan sujud sahwi setelah salam.</p>
<p>Ini tentu keliru, sebab sunnah Nabi &#8211;<em>Shallallahu alaihi wa sallam- </em>menunjukkan bahwa sujud sahwi terkadang sebelum salam dan terkadang usai salam, tergantung dari kondisi lupa seorang imam.</p>
<p>Karenanya, perlu anda mengetahui rincian berikut:</p>
<ol>
<li><strong>a) </strong>Bila ia lupa dalam sholat tentang jumlah rakaat, namun ia bisa menguatkan salah satunya, maka sempurnakan rakaatnya bila kurang, lalu salam. Usai salam, lakukan sujud sahwi dan salam lagi.</li>
</ol>
<p>Begitu pula bila ia lupa, tapi setelah itu ia mampu mengingat dan menguatkan jumlah rakaatnya, namun rakaat sholatnya tak ada yang kurang, maka ia salam, lalu sujud sahwi dan salam lagi.</p>
<ol>
<li><strong>b) </strong>Bila ia lupa jumlah rakaat, namun ia ragu tentang jumlahnya dan tak mampu menentukan dengan pasti jumlahnya, maka ia membangun sholatnya di atas bilangan rakaat terendah, misalnya: lupa antara tiga dan empat rakaat, maka ia memilih tiga rakaat, lalu menambah satu rakaat lagi, lalu sujud sahwi sebelum salam.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>c) </strong>Bila ia lupa terhadap satu diantara kewajiban sholat –misalnya, tasyahhud pertama-, maka ia sujud sahwi sebelum salam.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>d) </strong>Bila ia sholat dengan jumlah rakaat yang kurang atau lebih, maka ia sujud sahwi usai salam dari sholat, lalu salam lagi.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>e) </strong>Bila ia meninggalkan salah satu rukun sholat (misalnya, bacaan Surah Al-Fatihah, rukuk, sujud dan lainnya), sedang ia berada di rakaat berikutnya, maka ia anggap batal rakaat yang kehilangan rukunnya, dan hendaknya ia menambah satu rakaat lagi lalu sujud sahwi dan salam.</li>
</ol>
<ol>
<li><strong>f) </strong>Bila rukunnya yang terlupa baru teringat usai sholat, maka tambahlah satu rakaat dan salamlah, lalu sujud sahwi dan salam lagi.</li>
</ol>
<p>Rincian permasalahan ini berserta dalil-dalilnya, anda bisa rujuk dalam <strong><em>Majmu&#8217; Al-Fataawa</em></strong> (23/24) oleh Syaikul Islam, <strong><em>Al-Qoul Al-Mubin </em></strong>(hal. 144) oleh Masyhur Hasan Alu Salman dan <strong><em>Fiqh As-Sunnah li An-Nisaa&#8217;</em></strong> (hal. 165-167) oleh Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim.</p>
<p>Insya Allah, pembahasan sujud sahwi ini beserta dalil-dalilnya akan kami ulas lagi pada kesempatan lain.</p>
<p>Karenanya, kami tak bawakan dalil-dalil, tapi makna dan kandungannya saja.</p>
<p>Selain itu, karena terbatasnya jumlah halaman bulletin mungil ini.</p>
<p>&#8211;  <strong>Meninggalkan Sujud Sahwi Saat Lupa Melakukannya</strong></p>
<p>Diantara kekeliruan jama&#8217;ah sholat yang biasa kita saksikan, mereka meninggalkan sujud sahwi bila mereka lupa melakukannya, apalagi jika mereka sudah bercakap-cakap, lalu diingatkan, maka imam enggan dan tak mau lagi sujud sahwi. Padahal wajib bagi mereka sujud sahwi!!</p>
<p>Al-Imam Asy-Syafi&#8217;iy dan Al-Imam Ahmad dalam salah satu penjelasannya menyatakan bahwa orang yang lupa tetap bersujud, walaupun ia sudah keluar dari masjid dan menjauh darinya.</p>
<p>Ulama Negeri Syam, Al-Imam Abul Abbas Taqiyyuddin Ahmad bin Abdil Halim Ad-Dimasyqiy &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong><em>&#8220;وَهَذَا هُوَ الْأَظْهَرُ فَإِنَّ تَحْدِيدَ ذَلِكَ بِالْمَكَانِ أَوْ بِزَمَانِ لَا أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرْعِ لَا سِيَّمَا إذَا كَانَ الزَّمَانُ غَيْرَ مَضْبُوطٍ فَطُولُ الْفَصْلِ وَقِصَرُهُ لَيْسَ لَهُ حَدٌّ مَعْرُوفٌ فِي عَادَاتِ النَّاسِ لِيَرْجِعَ إلَيْهِ وَلَمْ يَدُلَّ عَلَى ذَلِكَ دَلِيلٌ شَرْعِيٌّ.&#8221; اهـ من مجموع الفتاوى ( ط: دار الوفاء &#8211; تحقيق أنور الباز ) &#8211; (23 / 43)</em></strong></p>
<p><em>&#8220;Inilah pendapat yang terkuat. Karena pembatasan sujud sahwi dengan tempat atau waktu adalah perkara yang tak memiliki dasar dalam syariat. Terlebih lagi bila waktu tidak teringat. Jadi, panjang-pendeknya pemisah tidaklah memiliki batasan yang dikenal menurut kebiasaan manusia untuk dijadikan rujukan; tak ada dalil syar&#8217;i yang menunjukkan hal itu. </em>[Lihat <strong><em>Majmu&#8217; Al-Fataawa</em></strong> (23/43), cet. Darul Wafaa&#8217;]</p>
<p>Apa yang beliau nyatakan adalah pendapat yang benar, sebab Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah sholat zhuhur dua rakaat karena lupa, dan terjadi interval cukup lama antara beliau dan para sahabatnya.</p>
<p>Dengarkan penuturan Abu Hurairah &#8211;<em>radhiyallahu anhu</em>&#8211; saat beliau berkata,</p>
<p><strong>عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى خَشَبَةٍ فِي مُقَدَّمِ الْمَسْجِدِ وَوَضَعَ يَدَهُ (يَدَيْهِ) عَلَيْهَا وَفِي الْقَوْمِ يَوْمَئِذٍ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَهَابَا أَنْ يُكَلِّمَاهُ وَخَرَجَ سَرَعَانُ النَّاسِ فَقَالُوا </strong><strong>قَصُرَتِ الصَّلَاة</strong><strong>ُ وَفِي الْقَوْمِ رَجُلٌ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُوهُ ذَا الْيَدَيْنِ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللهِ أَنَسِيتَ أَمْ قَصُرَتْ فَقَالَ لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تَقْصُرْ قَالُوا بَلْ نَسِيتَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ صَدَقَ ذُو الْيَدَيْنِ فَقَامَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ ثُمَّ وَضَعَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ</strong></p>
<p><em>&#8220;Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah sholat Zhuhur bersama kami sebanyak <strong>dua rakaat</strong>, lalu salam. Kemudian beliau bangkit menuju batang kayu di depan masjid seraya meletakkan tangannya pada kayu itu. Sementara di tengah kaum hari itu, ada Abu Bakar dan Umar. Tapi mereka berdua segan untuk membicarai beliau dan keluarlah (dari masjid) orang-orang bergegas dari kalangan manusia (yakni, orang-orang yang berhajat). Di tengah manusia terdapat seorang lelaki yang dinamai oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dengan &#8220;Dzul Yadain&#8221;. Lelaki itu berkata, &#8220;Wahai Nabiyyullah, apakah anda lupa ataukah memang sholat di-qoshor (dikurangi)&#8221;. Beliau menjawab, &#8220;Aku tak lupa dan sholat tak di-qoshor!!&#8221;. Mereka berkata, &#8220;Bahkan anda memang lupa, wahai Rasulullah&#8221;. Beliau bersabda, &#8220;Dzul Yadain benar&#8221;. Beliau pun bangkit seraya sholat dua rakaat, lalu salam, lalu bertakbir seraya bersujud seperti sujud (sebelumnya)nya atau lebih panjang lagi. Kemudian beliau mengangkat kepalanya sambil bertakbir, lalu beliau melakukan seperti sujudnya tadi atau lebih panjang lagi. Kemudian beliau mengangkat kepalanya sambil bertakbir&#8221;. </em>[HR. Al-Bukhoriy dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (no. 6051)]</p>
<p>Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa beliau salam setelah usai sujud dua kali dalam sujud sahwinya. Hadits di atas menguatkan pendapat <strong>Abul Abbas Taqiyyudin Ahmad bin Abdil Halim Ad-Dimasyqiy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; bahwa walaupun jarak dan interval antara sholat dan sujud sahwi adalah lama, maka tetap disyariatkan sujud sahwi. <em>Wallahu A&#8217;lam bish showab.</em></p>
<p>&#8211;<strong>Mewajibkan Sujud Sahwi Tanpa Dalil</strong></p>
<p>Sebagian orang ada yang mewajibkan sujud sahwi dalam beberapa kondisi yang tidak ditopang oleh dalil shohih dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.</p>
<p>Diantara mereka ada yang mewajibkan sujud sahwi di saat imam lupa membaca qunut rawatib, yaitu qunut yang rutin dilakukan oleh sebagian orang.</p>
<p>Mereka memandang bahwa qunut shubuh tersebut hukumnya wajib sehingga sujud sahwi pun wajib dikerjakan saat meninggalkan qunut shubuh.</p>
<p>Ini jelas keliru!! Pertama, tak ada dalil yang shohih dari Nabi &#8211;<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>&#8211; bahwa beliau selalu qunut setiap shubuh.</p>
<p>Adapun hadits Anas &#8211;<em>radhiyallahu anhu</em>&#8211; yang berbunyi,</p>
<p><strong>مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا</strong></p>
<p><em>“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- senantiasa melakukan qunut di waktu sholat fajar (shubuh) sampai beliau meninggal dunia”.</em> [HR. Abdur Rozzaq dalam <strong><em>Al-Mushonnaf </em></strong>(3/110), Ibnu Abi Syaibah dalam <strong><em>al-Mushonnaf</em></strong> (2/312), Ahmad dalam <strong><em>Al-Musnad</em></strong> (3/162), dan lainnya]</p>
<p>Hadits ini <strong><em>dho&#8217;if </em></strong>(lemah) diantara rawinya ada yang bernama<strong>Isa bin Maahaan</strong> yang dikenal dengan <strong>“Abu Ja’far Ar-Roziy” </strong>dari Anas bin Malik &#8211;<em>radhiyallahu anhu</em>-.</p>
<p>Hadits ini <strong>tidak shohih</strong> alias <strong>dho’if (lemah)</strong>, karena Abu Ja’far Ar-Roziy adalah seorang rawi yang jelek hafalannya, kacau dan sering salah dalam meriwayatkan hadits sehingga ia sering meriwayatkan hadits-hadits yang <em>munkar</em>, seperti hadits qunut ini!!</p>
<p>Para ahli hadits tak berhujjah dengan hadits-hadits yang ia riwayatkan secara bersendirian. Hadits ini dilemahkan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam <strong><em>Adh-Dho’ifah</em></strong> (no. 1238).</p>
<p>Jadi, hadits ini tak boleh dijadikan hujjah dalam menetapkan sunnahnya qunut shubuh, apalagi wajibnya. Bahkan sebagian ulama memandang bahwa qunut rutin setiap shubuh sesuatu yang tak disyariatkan. [Lihat<strong>Nashbur Rooyah</strong> (8/460) oleh Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf Az-Zaila&#8217;iy]</p>
<p>Para pembaca yang budiman, termasuk kesalahan, sebagian orang bila mengetahui imamnya membaca surah tambahan setelah Al-Fatihah dalam rakaat ketiga atau keempat, maka ada diantara mereka yang mengharuskan imam sujud sahwi.</p>
<p>Orang ini keliru, sedang imamnya benar. <strong>Pertama</strong>, imam tak lupa. <strong>Kedua</strong>, imam lakukan demikian karena mengikuti sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.</p>
<p>Abu Said Al-Khudriy &#8211;<em>radhiyallahu anhu</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong>أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقْرَأُ فِى صَلاَةِ الظُّهْرِ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ قَدْرَ ثَلاَثِينَ آيَةً وَفِى الأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ خَمْسَ عَشَرَةَ آيَةً أَوْ قَالَ نِصْفَ ذَلِكَ وَفِى الْعَصْرِ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ قَدْرَ قِرَاءَةِ خَمْسَ عَشْرَةَ آيَةً وَفِى الأُخْرَيَيْنِ قَدْرَ نِصْفِ ذَلِكَ</strong><strong>.</strong></p>
<p><em>&#8220;Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dulu membaca dalam Sholat Zhuhur, pada dua rakaat pertama; pada setiap rakaat itu sekitar 30 ayat dan pada dua rakaat terakhir sekitar 15 ayat atau setengahnya. Di dalam sholat Ashar, pada dua rakaat pertama; setiap rakaatnya sekitar 15 ayat dan pada dua rakaat terakhir sekitar setengahnya&#8221;. </em>[HR. Muslim dalam <strong><em>Kitab Ash-Sholah</em></strong>(no. 452)]</p>
<p><strong>Al-Imam Abu Ja&#8217;far Ath-Thohawiy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><em>&#8220;Di dalam hadits terdapat sesuatu yang menunjukkan bahwa dahulu Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- membaca surah tambahan atas Al-Fatihah yang berjumlah tujuh ayat, bukan lebih, pada dua rakaat terakhir Sholat Zhuhur dan Ashar&#8221;. </em>[Lihat Syarh Musykil Al-Atsar (12/51), dengan <em>tahqiq </em>Al-Arna&#8217;uth, cet. Mu&#8217;assasah Ar-Risalah, 1415 H]<br />
<strong>Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata, <em>&#8220;Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa surah tambahan atas Al-Fatihah pada dua rakaat terakhir merupakan sunnah. Pendapat inilah yang dipijaki oleh sejumlah sahabat, diantaranya Abu Bakar Ash-Shiddiq -radhiyallahu anhu- dan pendapat Imam Asy-Syafi&#8217;iy, baik dalam sholat Zhuhur atau selainnya. Pendapat ini dipegangi diantara ulama belakangan, seperti Abul Hasanat Al-Luknawiy dalam <strong>At-Ta&#8217;liq Al-Mumajjad ala Muwaththo&#8217; Muhammad (hal. 102). </strong>Beliau berkata, &#8220;Sebagian sahabat kami melakukan sesuatu yang aneh dimana mereka mewajibkan sujud sahwi karena membaca surah tambahan pada dua rakaat terakhir. Para pen-syarah <strong>Al-Maniyyah</strong>, Ibrahim Al-Halabiy, Ibnu Amir Hajj dan lainnya telah membantah keanehan ini dengan sebaik-baiknya. Tak diragukan lagi bahwa orang yang berpendapat aneh seperti itu, belum sampai kepadanya hadits itu. Andai hadits itu sampai kepadanya, maka pasti ia tak akan menyatakan hal itu&#8221;. </em>[Lihat<strong><em>Shifah Ash-Sholah</em></strong> (hal. 113)]</p>
</div>
<p>Sumber:<br />
<a href="https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/04/meluruskan-sejumlah-kekeliruan-dalam-sujud-sahwi.html#more">https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/04/meluruskan-sejumlah-kekeliruan-dalam-sujud-sahwi.html#more</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/meluruskan-sejumlah-kekeliruan-dalam-sujud-sahwi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seonggok Kekeliruan dalam Sujud Sahwi</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/seonggok-kekeliruan-dalam-sujud-sahwi/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/seonggok-kekeliruan-dalam-sujud-sahwi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Apr 2017 08:15:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Kekeliruan dalam Sujud Sahwi]]></category>
		<category><![CDATA[Seonggok Kekeliruan dalam Sujud Sahwi]]></category>
		<category><![CDATA[Sujud Sahwi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=3324</guid>
		<description><![CDATA[Sujud sahwi adalah sujud yang kita lakukan saat lupa dalam sholat. Kelupaan seperti ini sering kali menyebabkan keraguan tentang jumlah rakaat, kewajiban-kewajiban sholat atau bahkan mungkin rukun-rukun sholat.
Seringkali kita menyaksikan ada orang sholat yang khusyuk di awalnya, lalu setan membuat hatinya sibuk berpikir dan menerawang kesana-kemari, sampai terkadang kita melihatnya sholat Ashar dengan jumlah lima rakaat.
Sebagian orang salah dalam menyikapinya. Diantara mereka, ada yang langsung pergi, dan tidak melakukan sujud sahwi. Lebih para lagi, bila ia mengulangi sholatnya dan menganggap sholat sebelumnya adalah tidak sah!
Selain itu, ada sebagian orang melakukan beberapa perkara yang tak ada sangkut pautnya dengan sujud sahwi. Dalam artian, ia melakukan hal-hal yang tak ada sunnahnya (contohnya) dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya -radhiyallahu anhum-.
Semua ini tentunya mendorong kami untuk sedikit membahas beberapa bentuk kesalahan saat melakukan sujud sahwi.
Diantara bentuk kesalahan-kesalahan itu:]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <strong>Ust. Abdul Qodir Abu Fa&#8217;izah, Lc. </strong><em>-hafizhahullah-</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>Sujud sahwi</em></strong> adalah sujud yang kita lakukan saat lupa dalam sholat. Kelupaan seperti ini sering kali menyebabkan keraguan tentang jumlah rakaat, kewajiban-kewajiban sholat atau bahkan mungkin rukun-rukun sholat.</p>
<p>Seringkali kita menyaksikan ada orang sholat yang khusyuk di awalnya, lalu setan membuat hatinya sibuk berpikir dan menerawang kesana-kemari, sampai terkadang kita melihatnya sholat Ashar dengan jumlah lima rakaat.</p>
<p>Sebagian orang salah dalam menyikapinya. Diantara mereka, ada yang langsung pergi, dan tidak melakukan sujud sahwi. Lebih para lagi, bila ia mengulangi sholatnya dan menganggap sholat sebelumnya adalah tidak sah!</p>
<p>Selain itu, ada sebagian orang melakukan beberapa perkara yang tak ada sangkut pautnya dengan sujud sahwi. <strong>Dalam artian,</strong> ia melakukan hal-hal yang tak ada sunnahnya (contohnya) dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya <em>-radhiyallahu anhum-.</em></p>
<p>Semua ini tentunya mendorong kami untuk sedikit membahas beberapa bentuk kesalahan saat melakukan sujud sahwi.</p>
<p>Diantara bentuk kesalahan-kesalahan itu:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>ÿ <strong><em> Membaca Dzikir yang tidak Ada Contohnya</em></strong></p>
<p>Diantara kekeliruan kaum awam dalam melakukan sujud sahwi, sebagian diantara mereka ada yang membaca beberapa dzikir yang menurutnya dibaca saat bersujud untuk sujud sahwi, seperti:</p>
<p><strong>سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَسْهُوْ وَلاَ يَنَامُ</strong></p>
<p>Artinya, <em>&#8220;Maha Suci (Allah) Yang tak pernah lupa dan tidak pula tidur&#8221;.</em></p>
<p>Dzikir ini tak memiliki landasan dalam Al-Qur&#8217;an dan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-. Dia hanyalah buatan orang-orang jahil yang mereka ada-adakan menurut hawa nafsunya.</p>
<p><strong>Syaikh Muhammad bin Ahmad Asy-Syuqoiriy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong><em>&#8220;ولم يحفظ عنه ( [ صلى الله عليه وسلم ] ) ذكر خاص لسجود السهو ، بل أذكاره كسائر___ أذكار سجود الصلوات . وأما ما يقال من أنه يقول فيه : سبحان من  لا يسهو ولا ينام ، فلم يفعله النبي ( [ صلى الله عليه وسلم ] ) ولا أصحابه ، ولم يدل عليه دليل  من السنة البتة ، وإنما هو منام رآه بعض كبار مخرفي الصوفية فلا تلتفتوا  إليه ، وخذوا دينكم من كتب السنة الصحيحة وما عداه فردوه إلى قائله ،  ثم إثبات هذا في المؤلفات . وجعله ديناً وشرعاً ضلال كبير وفساد عريض.&#8221; اهـ من السنن والمبتدعات &#8211; (1 / 74_75)</em></strong></p>
<p><em>&#8220;Tak ada terhafal dari beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- suatu dzikir khusus bagi sujud sahwi, bahkan dzikir-dzikirnya seperti dzikir-dzikir sujud pada umumnya. Adapun dzikir yang konon kabarnya dibaca dalam sujud sahwi berikut:</em></p>
<p><strong>سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَسْهُوْ وَلاَ يَنَامُ</strong></p>
<p><em>Dzikir ini tak pernah dilakukan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya serta tidak ditunjukkan oleh dalil dari Sunnah sama sekali. Dzikir itu hanyalah berasal dari mimpi yang dilihat oleh sebagian pembesar orang-orang yang tak beres dari kalangan sufi. Karenanya, janganlah menoleh kepadanya dan ambillah agama kalian dari kitab-kitab Sunnah yang shohih. Ada pun selainnya, maka kembalikanlah kepada pengucapnya. Kemudian menetapkan dzikir ini dalam tulisan-tulisan dan menjadikannya sebagai agama dan syariat merupakan kesesatan yang besar dan kerusakan yang parah&#8221;.</em> [Lihat <strong><em>As-Sunan wal Mubtada&#8217;at Al-Muta&#8217;alliqoh bi Al-Adzkar wa Ash-Sholawat</em></strong>(hal. 74-75) karya Asy-Syuqoiriy, dengan <em>tahqiq </em>Muhammad Kholil Harros, cet. Dar Al-Fikr]</p>
<p>Dzikir ini merupakan dzikir yang tak ada tuntunannya dari Nabi &#8211;<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>-.</p>
<p>Lantaran itu, Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; memasukkannya ke dalam golongan kalimat-kalimat yang terlarang dibaca saat sujud sahwi.</p>
<p>Sebab, ibadah harus dibangun di atas dalil, bukan berdasarkan rekaan dan mimpi atau perasaan.</p>
<p>Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong><em>&#8220;لا يصح تقييد هذا التسبيح في سجود السهو.&#8221; اهـ من معجم المناهي اللفظية &#8211; (1 / 263)</em></strong></p>
<p><em>&#8220;Tidak benar mengkhususkan tasbih ini dalam sujud sahwi&#8221;.</em>[Lihat <strong><em>Mu&#8217;jam Al-Manahi Al-Lafzhiyyah</em></strong> (1/263)]</p>
<p>ÿ <strong><em> Salah Sangka tentang Sebab Terjadinya Kelupaan Imam</em></strong></p>
<p>Kesalahan lain dalam sujud sahwi, sebagian orang menyangka sebab lupanya imam dalam sholat atau kacaunya hafalan imam, karena sebagian makmum tidak beres dalam bersuci dan wudhu&#8217;-nya.</p>
<p>Mereka dalam keyakinan ini, bersandar kepada sebuah hadits <em>dho&#8217;if</em>  &#8216;lemah&#8217; di bawah ini:</p>
<p>Dari Syabib bin Rouh dari seorang sahabat Nabi <em>-Shallallahu alaihi wa sallam-</em> bahwa Nabi <em>-Shallallahu alaihi wa sallam</em>&#8211; sholat Shubuh sambil membaca Surah Ar-Ruum, lalu bacaan beliau kacau. Tatkala usai sholat, maka beliau bersabda,</p>
<p><strong>مَا بَالُ أَقْوَامٍ يُصَلُّونَ مَعَنَا لَا يُحْسِنُونَ الطُّهُورَ فَإِنَّمَا يَلْبِسُ عَلَيْنَا الْقُرْآنَ أُولَئِكَ</strong></p>
<p><em>&#8220;Kenapa ada beberapa orang yang sholat bersama kami, sedang ia tidak memperbaiki wudhu&#8217;-nya? Hanyalah yang mengacaukan bacaan Al-Qur&#8217;an kami adalah mereka&#8221;.</em> [HR. An-Nasa&#8217;iy dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (no. 947), Al-Baihaqiy dalam <strong><em>As-Sunan Al-Kubro </em></strong>(no. 1019) dan Abu Nu&#8217;aim dalam <strong><em>Ma&#8217;rifah Ash-Shohabah</em></strong> (no.7227)]</p>
<p>Di dalam hadits terdapat rawi yang bernama Syabib bin Nu&#8217;aim Abu Rouh Asy-Syamiy.</p>
<p>Ibnul Qoththon berkata, <em>&#8220;Tak dikenal &#8216;adalah-nya (keistiqomahannya)&#8221;.</em></p>
<p>Disana juga terdapat <em>illah</em> (penyakit) lain bagi hadits ini. [Lihat penjelasannya dalam <strong><em>Takhrij Al-Misykah</em></strong> (no. 295) dan <strong><em>Tamam Al-Minnah </em></strong>(hal. 180) karya Syaikh Al-Albaniy]</p>
<p>Selain itu, redaksi hadits ini juga menyelisihi firman Allah -Azza wa Jalla-,</p>
<p><strong>وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا [فصلت : 46]</strong></p>
<p><em>&#8220;Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri&#8221;.</em> <strong>(QS. Fushshilat : 46)</strong></p>
<p>ÿ <strong><em> Hukum Sujud Sahwi</em></strong></p>
<p>Ketika imam meninggalkan sebuah kewajiban atau rukun sholat, maka wajib baginya sujud sahwi.</p>
<p>Demikian pula bila ia mengurangi dan menambahi bilangan rakaat atau ragu dalam sholatnya tentang bilangan rakaatnya, maka ia juga wajib melakukan sujud sahwi.</p>
<p>Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa sujud sahwi hanya mustahab, tidak wajib. <strong>Ini adalah pendapat yang lemah!!</strong></p>
<p>Pendapat yang kuat bahwa ia wajib, bukan mustahab!!! Sebab Nabi &#8211;<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>&#8211; telah memerintahkannya dan melaziminya setiap kali ada sesuatu yang mengharuskan sujud sahwi.</p>
<p>Rasulullah &#8211;<em>Shallallahu alaihi wa sallam</em>&#8211; bersabda,</p>
<p><strong>إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي جَاءَ الشَّيْطَانُ فَلَبَسَ عَلَيْهِ حَتَّى لَا يَدْرِيَ كَمْ صَلَّى فَإِذَا وَجَدَ ذَلِكَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ</strong></p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya seorang diantara kalian bila berdiri melaksanakan sholat, maka setan akan datang seraya mengacaukannya sampai ia tak mengetahui berapa rakaat yang ia lakukan. Jika seorang diantara kalian mendapati hal itu, maka hendaklah ia bersujud dua kali, sedang ia duduk&#8221;.</em> [HR. Al-Bukhoriy dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (no. 1232) dan Muslim dalam <strong><em>Shohih</em></strong>-nya (no. 389)]</p>
<p>Seusai membawakan lima hadits semisal ini, <strong>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah</strong> <strong>Ad-Dimasyqiy</strong> &#8211;<em>rahimahullah</em>&#8211; berkata,</p>
<p><strong><em>&#8220;فَهَذِهِ خَمْسَةُ أَحَادِيثَ صَحِيحَةٍ فِيهَا كُلُّهَا يَأْمُرُ السَّاهِيَ بِسَجْدَتَيْ السَّهْوِ&#8230;</em></strong></p>
<p><strong><em>وَهَذَا يَقْتَضِي مُدَاوَمَتَهُ عَلَيْهِمَا وَتَوْكِيدَهُمَا وَأَنَّهُ لَمْ يَدَعْهُمَا فِي السَّهْوِ الْمُقْتَضِي لَهَا قَطُّ وَهَذِهِ دَلَائِلُ بَيِّنَةٌ وَاضِحَةٌ عَلَى وُجُوبِهِمَا وَهُوَ قَوْلُ جُمْهُورِ الْعُلَمَاءِ وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ وَأَحْمَد وَأَبِي حَنِيفَةَ وَلَيْسَ مَعَ مَنْ لَمْ يُوجِبْهُمَا حُجَّةٌ تُقَارِبُ ذَلِكَ.&#8221; اهـ من مجموع الفتاوى ( ط: دار الوفاء &#8211; تحقيق أنور الباز ) &#8211; (23 / 28)</em></strong></p>
<p><em>&#8220;Inilah lima buah hadits shohih. Di dalam semua hadits-hadits tersebut, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- memerintahkan orang yang lupa untuk melakukan sujud sahwi…Ini mengharuskan bahwa Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- melaziminya dan menekankannya. Beliau juga tak meninggalkan sujud sahwi saat lupa yang mengharuskan sujud tersebut. Inilah dalil-dalil yang gamblang lagi jelas tentang wajibnya sujud sahwi. Itu adalah pendapat mayoritas ulama, yaitu madzhabnya Malik, Ahmad, dan Abu Hanifah. Tidak ada pada orang yang tak mewajibkannya suatu hujjah yang menghampiri hal itu&#8221;. </em>[Lihat<strong><em>Majmu&#8217; Al-Fataawa</em></strong> (23/26)]</p>
<p>Inilah beberapa kesalahan yang sering kita saksikan atau dengarkan terjadi di sekitar kita seputar perkara sujud sahwi.</p>
<p>Kesalahan-kesalahan seperti ini terkadang dianggap remeh oleh sebagian orang, padahal masalahnya besar di sisi Allah, sebab ia berkaitan dengan sholat kita yang merupakan ibadah terbesar di hadapan Allah yang harus di dasari dengan ilmu. <strong>Ilmu yang mewariskan <em>mutaba&#8217;ah</em></strong>(keteladanan) kepada Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dalam menunaikan ibadah kepada Allah. Hindarilah semua persangkaan, perasaan, taklid kepada manusia dalam beribadah, utamanya sholat.</p>
<p>Jangan seperti sebagian orang-orang jahil yang hanya beribadah, tanpa didasari oleh ilmu yang menjadi cahaya penerang baginya dalam menapaki jalan-jalan kebaikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ia hanya membebek kepada sesamanya yang jahil. Akhirnya, bukan pahala yang ia dapatkan, bahkan capek, penyesalan dan dosa akibat keteledorannya dalam memperbaiki ibadahnya.</p>
<p>Sumber:<br />
<a href="https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/04/seonggok-kekeliruan-dalam-sujud-sahwi.html#more">https://abufaizah75.blogspot.co.id/2017/04/seonggok-kekeliruan-dalam-sujud-sahwi.html#more</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/seonggok-kekeliruan-dalam-sujud-sahwi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
