<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Markaz Dakwah untuk Bimbingan dan Taklim &#187; Seorang Hamba</title>
	<atom:link href="https://markazdakwah.or.id/tag/seorang-hamba/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://markazdakwah.or.id</link>
	<description>www.markazdakwah.or.id</description>
	<lastBuildDate>Sat, 20 Apr 2019 07:54:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=4.2.38</generator>
	<item>
		<title>Mutiara Salaf 61: Dua Sebab Kesempurnaan bagi Seorang Hamba</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-61-dua-sebab-kesempurnaan-bagi-seorang-hamba/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-61-dua-sebab-kesempurnaan-bagi-seorang-hamba/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2016 06:25:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[dua sebab kesempurnaan]]></category>
		<category><![CDATA[hamba]]></category>
		<category><![CDATA[kesempurnaan]]></category>
		<category><![CDATA[kesempurnaan bagi seorang hamba]]></category>
		<category><![CDATA[sebab kesempurnaan]]></category>
		<category><![CDATA[sempurna]]></category>
		<category><![CDATA[Seorang Hamba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=2729</guid>
		<description><![CDATA[Hamba tidak akan memetik kesempurnaan di sisi Allah, sampai ada dua sifat mulia pada dirinya. Pertama, ia harus memiliki al-yaqin (yakin akan takdir dan pemberian dari Allah). Dengannya, ia tidaklah mengharapkan apa-apa yang Allah &#8216;Azza wa Jalla berikan dan bagikan kepada orang lain. Seseorang yang memiliki hasrat kuat terhadap harta benda orang lain lambat laun... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-61-dua-sebab-kesempurnaan-bagi-seorang-hamba/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Hamba tidak akan memetik kesempurnaan di sisi Allah, sampai ada dua sifat mulia pada dirinya.<br />
Pertama, ia harus memiliki al-yaqin (yakin akan takdir dan pemberian dari Allah). Dengannya, ia tidaklah mengharapkan apa-apa yang Allah &#8216;Azza wa Jalla berikan dan bagikan kepada orang lain. Seseorang yang memiliki hasrat kuat terhadap harta benda orang lain lambat laun akan menumbuhkan penyakit di dalam hatinya, berupa hasad, dengki, dan marah.</p>
<p>Kedua, seorang hamba saat mendapatkan dari saudaranya gangguan yang menyakiti perasaan dan jasadnya, hendaknya membesarkan jiwa dengan maaf. Niscaya jiwa akan mendapatkan kelapangan.</p>
<p>Ulama tabi&#8217;in, Imam Ayyub bin Kaisan As-Sikhtiyaniy (wafat pada 131 H) rahimahullah berkata,</p>
<p>لاَ يَسْتَوِي الْعَبْدُ أَوْ لاَ يَسُوْدُ الْعَبْدُ حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ خَصْلَتَانِ الْيَأْسُ مِمَّا فِيْ أَيْدِي النَّاسِ وَالتَّغَافُلُ عَمَّا يَكُوْنُ مِنْهُمْ</p>
<p>“Seorang hamba tak akan sempurna atau mulia sampai ada dua perkara pada dirinya: Berputus asa dari sesuatu yang ada di tangan manusia, dan lalai dari sesuatu yang muncul dari mereka”.<br />
[Atsar Riwayat Abu Nu’aim Al-Ashbahaniy dalam Hilyah Al-Auliya` 3/5]</p>
<p>Jika seorang hamba merasa harapannya yakin dan kuat dengan apa-apa yang ada di sisi Allah, ia akan diberikan semangat yang menyala. Sedang sebaik-baik apa-apa yang ada di sisi Allah adalah surga dan menyaksikan keindahan wajah Allah. Ini akan mewariskan kelapangan dan ketenangan jiwa.</p>
<p>Demikian pula, seorang hamba akan merasakan ketenangan jiwa bila ia banyak memberi maaf kepada manusia, apalagi dalam perkara-perkara yang masih dapat ditolerir dalam agama. Ini adalah keutamaan yang Allah &#8216;Azza wa Jalla berikan kepada hamba yang menginginkan derajat yang tinggi di sisi-Nya.</p>
<p>Ustadz Abdul Qodir, Lc.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-61-dua-sebab-kesempurnaan-bagi-seorang-hamba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara Salaf 32: Ikhlas Melahirkan Kecintaan Para Makhluk kepada Seorang Hamba</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-32-ikhlas-melahirkan-kecintaan-para-makhluk-kepada-seorang-hamba/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-32-ikhlas-melahirkan-kecintaan-para-makhluk-kepada-seorang-hamba/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2015 03:10:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ikhlas Melahirkan Kecintaan Para Makhluk]]></category>
		<category><![CDATA[Makhluk]]></category>
		<category><![CDATA[Melahirkan Kecintaan Para Makhluk]]></category>
		<category><![CDATA[Seorang Hamba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=868</guid>
		<description><![CDATA[Tiada amalan yang paling mulia di sisi Allah -Tabaraka wa Ta&#8217;ala-, kecuali keikhlasan. Dengan keikhlasan, seorang hamba memusatkan hatinya kepada Allah -Azza wa Jalla- sehingga raganya pun dalam beramal dan beribadah hanya semata-mata untuk Allah, Rabbul &#8216;alamin. Siapa saja yang ikhlas dalam ketaatan dan amalan shalihnya, ia akan terbimbing untuk meniti jalan-jalan kebaikan dan tercegah... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-32-ikhlas-melahirkan-kecintaan-para-makhluk-kepada-seorang-hamba/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Tiada amalan yang paling mulia di sisi Allah -Tabaraka wa Ta&#8217;ala-, kecuali keikhlasan. Dengan keikhlasan, seorang hamba memusatkan hatinya kepada Allah -Azza wa Jalla- sehingga raganya pun dalam beramal dan beribadah hanya semata-mata untuk Allah, Rabbul &#8216;alamin.</p>
<p>Siapa saja yang ikhlas dalam ketaatan dan amalan shalihnya, ia akan terbimbing untuk meniti jalan-jalan kebaikan dan tercegah dari kemurkaan Allah -Subhanahu wa Ta&#8217;ala-. Bahkan ia akan mendapatkan kecintaan Allah –Jalla wa &#8216;Ala-. Jika Allah mencintai seorang hamba, Allah akan menggerakkan hati para makhluk-Nya untuk mencintai si hamba tersebut.</p>
<p>Seorang ulama tabi&#8217;in, Abu Bakr Muhammad bin Wasi&#8217; Al-Azdiy Al-Bashriy (wafat 123 H) -rahimahullah- berkata,</p>
<p>إِذَا أَقْبَلَ الْعَبْدُ بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ، أَقْبَلَ اللهُ بِقُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ إِلَيْهِ</p>
<p>&#8220;Bila seorang hamba menghadapkan (memfokuskan) hatinya kepada Allah, Allah akan menghadapkan hati orang-orang beriman kepadanya.&#8221;<br />
[Atsar riwayat Abu Nu&#8217;aim dalam Hilyah Al-Auliya` (2/345)]</p>
<p>Begitulah kiranya jika seorang hamba fokus dalam amalannya kepada Pemilik alam semesta, Dia akan menghadapkan dan menggerakkan hati orang-orang beriman, bahkan seluruh manusia, untuk mencintainya.</p>
<p>Al-Ustadz Abdul Qodir, Lc.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-32-ikhlas-melahirkan-kecintaan-para-makhluk-kepada-seorang-hamba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara Salaf 18: Ciri Ketaqwaan pada Diri Seorang Hamba</title>
		<link>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-18-ciri-ketaqwaan-pada-diri-seorang-hamba/</link>
		<comments>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-18-ciri-ketaqwaan-pada-diri-seorang-hamba/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2015 06:07:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ciri Ketaqwaan]]></category>
		<category><![CDATA[ketaqwaan]]></category>
		<category><![CDATA[Seorang Hamba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://markazdakwah.or.id/?p=822</guid>
		<description><![CDATA[Orang yang bertakwa bukan dinilai pada pengakuan dirinya atau pujian manusia, melainkan dinilai dengan perangai dan sifatnya. Di antara sifat orang yang bertakwa adalah mampu mengontrol hawa nafsunya sehingga ia tidaklah rakus dengan dunia, tidak pula terbawa oleh perasaannya sehingga ia mampu menahan marahnya. Inilah sifat mulia yang ada pada kaum yang bertakwa, para pewaris... <br /><a class="btn read-more" href="https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-18-ciri-ketaqwaan-pada-diri-seorang-hamba/">Read More</a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Orang yang bertakwa bukan dinilai pada pengakuan dirinya atau pujian manusia, melainkan dinilai dengan perangai dan sifatnya. Di antara sifat orang yang bertakwa adalah mampu mengontrol hawa nafsunya sehingga ia tidaklah rakus dengan dunia, tidak pula terbawa oleh perasaannya sehingga ia mampu menahan marahnya.</p>
<p>Inilah sifat mulia yang ada pada kaum yang bertakwa, para pewaris surga yang akan merasakan kenikmatan-kenikmatan surga. Tiada yang mampu mewarisi sifat-sifat ketakwaan, kecuali mereka yang diberi taufik untuk selalu bertaqarrub kepada Allah &#8216;Azza wa Jalla dan membenci perkara-perkara yang Rabbnya, Allah Tabaraka wa Ta&#8217;ala, benci.</p>
<p>Seorang ulama kibar tabi&#8217;in, Imam Bakr bin Abdillah Al-Muzany Abu Abdillah Al-Bashriy (wafat pada 106 H) rahimahullah berkata,</p>
<p>لاَ يَكُوْنُ الرَّجُلُ تَقِيًّا حَتَّى يَكُوْنَ بَطِيْئَ الطَّمْعِ بَطِيْئَ الْغَضَبِ</p>
<p>&#8220;Seseorang tak akan menjadi orang yang bertakwa sampai ia lambat kerakusannya dan lambat marahnya.&#8221; [HR. Abu Nu&#8217;aim dalam Al-Hilyah 2/225]</p>
<p>Oang yang bertakwa selalu mengontrol dirinya dari sifat marah yang tercela karena ia mengerti bahwa sifat marah seringkali menyeret seseorang untuk jauh dari kebaikan dan terjatuh ke dalam dosa. Hamba yang muttaqin senantiasa menghiasi diri dengan sifat qana&#8217;ah (merasa cukup dengan kebaikan dan nikmat yang ia dapatkan dari Allah) sehingga, dengan sifat itu, ia tidak rakus mengejar dunia yang akan melalaikannya dari mengingat Allah, serta ia menunaikan hak dan kewajiban yang ada di pundaknya. Jika mendapatkan nikmat dan anugerah dari Allah, ia gunakan nikmat itu dalam ketaatan, bukan harta dan nikmat itu ditumpuk dan dibangga-banggakan.</p>
<p>Al-Ustadz Abdul Qodir, Lc.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://markazdakwah.or.id/mutiara-salaf-18-ciri-ketaqwaan-pada-diri-seorang-hamba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
