Tanya:
Bismillah
Bisakah menghadiri pernikahan orang awwam?
Bagaimana kalau pernikahannya ada unsur bid’ahnya, seperti barazanji dan mengandung unsur kesyirikan seperti baca-baca?
Kemudian di luar dari makanan baca-baca dan barazanji, apakah tetap halal untuk dimakan?
Jawab:
Menghadiri pernikahan yang mengandung kemungkaran yang tampak merupakan perkara terlarang dalam agama.
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,
” إذا دعي إلى وليمة , فيها معصية , كالخمر , والزمر , والعود ونحوه , وأمكنه الإنكار , وإزالة المنكر , لزمه الحضور والإنكار ; لأنه يؤدي فرضين ; إجابة أخيه المسلم , وإزالة المنكر . وإن لم يقدر على الإنكار , لم يحضر . وإن لم يعلم بالمنكر حتى حضر , أزاله , فإن لم يقدر انصرف . ونحو هذا قال الشافعي ” اهـ .
“Jika seseorang diundang untuk menghadiri walimah (resepsi) yang di dalamnya terdapat maksiat, seperti khamr, seruling, stik, dan sejenisnya, sedang ia mampu mengingkari dan menghilangkan kemungkaran itu, maka ia harus hadir dan mengingkari hal itu. Karena, (dengan kehadirannya), ia telah menunaikan dua kewajiban: memenuhi undangan saudaranya yang muslim.
Jika tidak mampu mengingkari hal itu, ia tidak boleh menghadiri (walimah) tersebut.
Jika ia tidak mengetahui kemungkaran itu sampai ia menghadiri (walimah), jika tidak mampu (mengingkari), maka ia pulang.
Semacam pendapat inilah yang dinyatakan oleh Asy-Syafi’iy.”
[Lihatlah Al-Mughniy 8/110 karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy]
Kumpulan ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad- Da`imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta` pernah ditanya tentang menghadiri acara pernikahan yang di dalamnya terdapat kemungkaran, seperti musik dan selainnya. Nah, apakah boleh menghadirinya ataukah haram demi memuliakan pengantin?
إذا كانت حفلات الزواج خالية من المنكرات، كاختلاط الرجال بالنساء، والغناء الماجن، أو كانت إذا حضرت غيرت ما فيها من منكرات- جاز لها أن تحضر للمشاركة في السرور، بل الحضور واجب إن كان هناك منكر تقوى على إزالته، أما إن كان في الحفلات منكرات لا تقوى على إنكارها فيحرم عليها أن تحضرها؛ لعموم قوله تعالى: { وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ } (1) وقوله تعالى: { وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ } (2) وللأحاديث الواردة في ذم الغناء والمعازف.
“Jika pesta pernikahan bersih dari kemungkaran, seperti bercampur baurnya laki-laki dengan para perempuan, nyanyian gila, atau jika hadir, ia bisa mengubah suatu kemungkaran yang ada di dalamnya, maka ia boleh hadir demi turut serta dalam kebahagiaan. Bahkan menghadirinya adalah wajib jika di sana ada kemungkaran yang ia kuat (mampu) menghilangkannya.
Adapun jika di dalam pesta itu terdapat kemungkaran-kemungkaran yang tidak mampu ia ingkari, maka dia haram menghadiri pesta itu berdasarkan keumuman firman Allah Ta’ala,
وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ
“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa’at.” [Al-An’aam: 70]
Juga berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” [Luqman: 6]
dan juga berdasarkan hadits-hadits yang datang dalam mencela nyanyian dan musik.”
[Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta` 19/135-137]
Susunan Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta` yang mengeluarkan fatwa ini:
– Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Baz
– Wakil Ketua: Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi
– Anggota: Abdullah bin Ghudayyan
– Anggota: Abdullah bin Qu’ud rahimahumullah
Wallahu Ta’ala A’lam
Ustadz Abdul Qodir, Lc.







