Sebab Allah Menyesatkan Hamba

Sebab Allah menyesatkan hamba

Tanya:
Assalamualaikum warohmatullohi wa barokaatuh.
Mau nanya. Apakah Alloh -azza wa jalla- menciptakan manusia, kemudian ada yang Dia sesatkan dan ada juga yang Dia beri petunjuk?
Jika ia, kenapa demikian? Bukankah Alloh -azza wa jalla- Maha pengasih lagi Maha penyayang?
Adakah sebabnya sehingga Alloh menyesatkan hamba-Nya?
Terus apakah Alloh azza wa jalla juga memberi jebakan kepada hambanya-Nya berupa kelapangan rezeki, sementara hamba-Nya tersebut masih bergelimang dengan maksiat?
Masa Alloh menjebak hamba-Nya? Bukankah Alloh -azza wa jalla- dengan nama-Nya yg Husnah tidak akan mendzolimi hamba-Nya?
Demikian pertanyaan saya. Agar kiranya untuk dijawab dengan maksud biar saya lebih paham dan tidak menyimpang dalam mengenal Alloh dan kehendak-Nya. Jazaakallohu khoiran katsiran

+6282293391xxx

 

 
Jawab:
Wa’alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala nabiyyina wa’ala alihi washahbihi ajma’in.

1. Yang Anda tanyakan adalah perkara taqdir. Pertama, Anda harus meyakini bahwa takdir adalah perkara ghaib yang tersembunyi. Tidak ada di antara kita yang mengetahui kesudahan dirinya, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.

2. Takdir memiliki empat tingkatan:
a. Seorang hamba harus meyakini bahwa mengetahui segala sesuatu yang akan ada.
b. Hamba harus mengimani bahwa segala yang akan ada telah dituliskan dan ditetapkan oleh Allah lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.
c. Hamba harus meyakini bahwa segala sesuatu yang ditakdirkan ada adalah berdasarkan kehendak Allah.
d. Hamba harus mengimani bahwa Allah menciptakan dan mengadakan segala sesuatu yang Allah takdirkan, sesuai dengan yang telah Allah ‘Azza wa Jalla ketahui, tulis, dan kehendaki.

3. Segala sesuatu yang Allah ciptakan, adakan, dan lakukan pasti akan terjadi. Sebaliknya, segala sesuatu yang Allah tidak kehendaki pasti tidak akan terjadi.

4. Segala sesuatu yang Allah ciptakan, adakan, dan lakukan, semua hal itu memiliki hikmah yang seringkali tidak diketahui oleh makhluk. Misalnya: seseorang disesatkan dari kebenaran karena adanya hikmah yang mengharuskan terjadinya hal itu.

5. Allah menciptakan manusia dengan dibekali berbagai hal yang dapat membantunya untuk memahami dan membedakan antara kebenaran dan kesesatan. Hanya saja, Allah terkadang menyesatkan sebagian hamba-Nya karena suatu hikmah dan sebab tertentu.

6. Allah memberikan kehendak, pilihan, dan kemampuan kepada manusia dalam melakukan sesuatu. Dengan hal itu, ia dapat membedakan antara yang baik dan buruk serta antara kebenaran dan kesesatan. Hanya saja, terkadang Allah menyesatkan manusia dari jalan kebenaran karena adanya hikmah di sisi Allah yang hanya Allah saja yang ketahui.

Yang jelas bahwa Allah tidak menyesatkannya begitu saja tanpa ada sebab yang melatarinya. Oleh karena itu, saat Allah menyesatkan hamba-Nya, Dia telah berbuat adil, tidak menzhalimi hamba-Nya, kecuali hamba itulah yang menzhalimi dirinya sendiri.

Lantaran hal itu, hamba tidak boleh bertanya dan menggugat Allah atas segala yang Allah lakukan, sebab Dia pasti melakukannya dengan penuh hikmah dan keadilan tanpa menzhalimi hamba-Nya sedikit pun.
Allah -Tabaroka wa Ta’ala- berfirman,

لاَ يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” [Al-Anbiya` : 23]

Allah adalah pemutus segala urusan yang tak ada seorang pun yang berhak menggugat dan mengubah keputusan-Nya karena keagungan Allah, kemuliaan, kebesaran, dan hikmah-Nya, serta keadilan dan kelembutan-Nya. Sebaliknya, Allah Tabaraka wa Ta’ala-lah yang berhak menanyai para hamba-Nya tentang segala sesuatu yang mereka perbuat di dunia berupa kebaikan atau keburukan.
Semuanya Allah akan mintai pertanggungjawabannya di akhirat.
[Tafsir Ibni Katsir 5/337]

Inilah beberapa jawaban global atas pertanyaan anda. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kami dan Anda.
Seputar perkara taqdir ini, silakan kembali kepada kitab-kitab ulama kita, semisal Syifa’ul Alil karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah karya Ibnu Abil ‘Izz, Syaikh Shalih Alusy, Syaikh Al-Fauzan, dan lain-lain.

Adapun jawaban rinci untuk pertanyaan anda adalah -biidznillah-:
1. Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan manusia, kemudian di antaranya ada yang Dia sesatkan, tetapi ada juga yang Dia beri petunjuk.

2. Allah Ta’ala menyesatkan sebagian hamba-Nya karena suatu sebab dan hikmah yang ada di sisi Allah. Yang jelas, bahwa Allah menyesatkan bukan karena tanpa sebab dan hikmah. Selain Allah Maha Pengasih lagi Penyayang, Allah juga Maha Perkasa lagi Memiliki Pembalasan. Selain Allah memiliki surga yang di dalamnya ada kenikmatan abadi, Allah juga memiliki neraka yang di dalamnya terdapat berbagai jenis siksaan dan malapetaka.

3. Allah menyesatkan seorang hamba karena ada sebab dan hikmah.

4. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ ، فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika Anda melihat Allah memberikan kepada seorang hamba sesuatu yang ia sukai berupa dunia atas maksiat-maksiatnya, sesungguhnya hal itu hanyalah istidraj ‘seretan’.”
[HR. Ahmad dalam Al-Musnad 4/145 dari Uqbah bin Amir. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shahihah no. 413]

Jadi, seorang hamba terkadang semakin diberikan keinginan-keinginan dunianya di atas maksiatnya agar ia semakin terseret kepada keburukan.

5. Lalu, mengapa Allah membiarkannya? Jawabannya adalah bahwa Allah membiarkannya berada di atas maksiatnya agar ia menjadi penduduk neraka karena suatu sebab dan hikmah yang hanya Allah saja yang tahu.

6. Allah menghukum seorang hamba karena suatu sebab dan hikmah di sisi Allah. Jadi, Allah menghukumnya bukan tanpa sebab dan hikmah. Inilah keadilan dan sifat hikmah pada diri Allah.

Hikmah berarti meletakkan sesuatu pada tempatnya masing-masing yang cocok baginya. Kalau Allah menghukum seorang hamba, berarti hukuman itu sudah cocok dan pas Allah letakkan pada si hamba itu karena suatu sebab dan hikmah. Dari sinilah, sehingga Allah Tabaraka wa Ta’ala tidak boleh kita sifati dengan “kezhaliman”.

Tidak ada sesuatu yang terjadi di dunia, kecuali pasti ada sebab dan hikmahnya. Misalnya, musibah berupa penyakit AIDS yang diberikan kepada manusia adalah karena perbuatan mesumnya. Hikmahnya adalah agar manusia tersebut sadar dan mau meninggalkan perbuatan buruknya, serta hikmah lainnya.

Demikian jawaban ringkas dari kami. Semoga bermanfaat bagi saudara dalam memahami perkara takdir dan semoga Allah selalu menyertai Anda dengan hidayah-Nya. Apa-apa yang benar dari penjelasan ini, itulah kebenaran yang selama ini kami yakini dan kami ambil dari para ulama kita berdasarkan Al-Qur`an dan Sunnah ala fahmis salaf. Jika saja ada kekeliruan, hal itu lahir dari kekurangan ilmu kami.

 

Ustadz Abdul Qodir, Lc.

 

Leave a Reply