Kehidupan dunia seringkali menipu kebanyakan orang sehingga ia pun menjadikan keberhasilan dunia (berupa banyaknya harta, tingginya kedudukan, dan banyaknya pengikut) sebagai tolok ukur kemuliaan seorang manusia, tanpa menoleh kepada kebaikan agama seseorang lagi.
Abul Khathhab Qatadah bin Di’amah bin Qatadah As-Sadusiy Al-Bashriy (tabi’in tsiqah tsabt, 60-110-an h) -rahimahullah- berkata,
يَا ابْنَ آدَمَ، لاَ تَعْتَبِرِ النَّاسَ بِأَمْوَالِهِمْ وَلاَ أَوْلاَدِهِمْ، وَلَكِنِ اعْتَبِرْهُمْ بِالإِيْمَانِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ
“Wahai anak cucu Adam, janganlah mengukur manusia berdasarkan harta benda dan anak-anaknya. Akan tetapi, ukurlah mereka berdasarkan keimanan dan amalan shalih.”
[Atsar riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya` 2/336]
Ukuran baik tidaknya seorang hamba bukanlah kembali kepada keberhasilan dunianya. Akan tetapi, lihatlah kepada ketaatan ia kepada Allah dan jauhnya ia dari maksiat.
Al-Ustadz Abdul Qodir, Lc.







