Mutiara Salaf 36: Ilustrasi Keikhlasan Para Salaf

Mutiara Salaf 36 Ilustrasi Keikhlasan Para Salaf

 

Salaf adalah mereka yang setia menapaki jalan hidup (sunnah) Nabi shallallahu alaihi wa sallam dari kalangan tiga generasi (para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in)

Para salaf dikenal dengan keikhlasannya dalam beramal dan melakukan ketaatan. Keikhlasan itu laksana baju yang tidak pernah terlepas dari diri mereka.
Pernahkah kalian membayangkan jika seseorang di antara mereka takut kepada Allah dan Hari Kiamat beserta huru-hara di sana? Maka ia (seorang salaf) menitikkan air matanya, tanpa disadari oleh orang yang terdekat dengannya.

Seorang salaf dari kalangan tabi’in, Al-Imam Muhammad bin Wasi’ bin Jabir bin Al-Akhnas bin A’idz bin Kharijah bin Ziyad Al-Azdiy Al-Bashriy (wafat pada 123 H) rahimahullah melukiskan kepada kita kondisi para salaf dalam menjaga keikhlasan amalannya,

لَقَدْ أَدْرَكْتُ رِجَالاً كَانَ الرَّجُلُ يَكُوْنُ رَأْسُهُ مَعَ رَأْسِ امْرَأَتِهِ عَلَى وِسَادَةٍ وَاحِدَةٍ قَدْ بَلَّ مَا تَحْتَ خَدِّهِ مِنْ دُمُوْعِهِ لاَ تَشْعُرُ بِهِ امْرَأَتُهُ، وَلَقَدْ أَدْرَكْتُ رِجَالاً يَقُوْمُ أَحَدُهُمْ فِي الصَّفِّ، فَتَسِيْلُ دُمُوْعُهُ عَلَى خَدِّهِ وَلاَ يَشْعُرُ بِهِ الَّذِيْ إِلَى جَانِبِهِ

“Sungguh aku telah menjumpai para tokoh (yakni para salaf). Seorang di antara mereka kepalanya bersama kepala istrinya di atas sebuah bantal, sementara itu sesuatu yang ada di bawah pipinya telah basah karena air matanya. Istrinya tidak menyadari hal itu. Sungguh aku telah menjumpai para tokoh (yakni para salaf), seorang di antara mereka berdiri dalam shaf, berderailah air matanya pada pipinya, sedang orang yang ada di sampingnya tak menyadari hal itu.”
[Atsar riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya` (2/347)]

Atsar ini merupakan ilustrasi dan gambaran tentang keikhlasan para salaf dan hebatnya mereka dalam menjaga keikhlasannya dalam beramal. Sebisa mungkin mereka berusaha menyembunyikan amalan shalih. Lihatlah, seorang di antara mereka amat takut jika ada yang melihat air matanya berderai, air mata yang bercucuran karena amat takutnya ia kepada Allah Azza wa Jalla.

Al-Ustadz Abdul Qodir, Lc.

Leave a Reply