Keduanya memiliki perbedaan dalam ucapan dan perbuatan. Seorang mukmin ucapannya sedikit, sedang amal dan ketaatannya banyak. Karena, ia paham bahwa semuanya akan dihisab, dan banyak manusia yang celaka gara-gara lisannya. Adapun orang munafik, ucapannya tidak terkontrol sehingga ia pun semaunya saja berucap, walaupun ucapan-ucapannya membahayakan dan membinasakan dirinya.
Pembesar generasi tabi’ut tabi’in, Al-Imam Al-Hafizh Abu Amer Abdur Rahman bin Amer Ad-Dimasyqiy, dikenal dengan nama “Al-Auza`iy” (wafat pada 157 H) rahimahullah berkata,
إِنَّ المُؤْمِنَ يَقُوْلُ قَلِيْلاً، وَيَعمَلُ كَثِيْراً، وَإِنَّ المُنَافِقَ يَتَكَلَّمُ كَثِيْراً، وَيَعْمَلُ قَلِيْلاً.
“Sesungguhnya seorang mukmin akan berucap sedikit, tetapi beramal banyak. Sesungguhnya orang munafik banyak bicara, tetapi sedikit beramal.”
[Atsar riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya` 6/142, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa 35/206, Al-Ashbahaniy dalam At-Targhib wat Tarhib 1/130/no. 131]
Orang yang beriman memiliki rasa takut kepada Allah yang amat tinggi, membuat dirinya tidak akan mengucapkan sesuatu yang membuat Allah tidak ridha. Sementara itu, orang munafik tidak memiliki rasa takut dan pengagungan kepada Allah. Tidak heran bila ia bebas berucap dan berbuat.
Al-Ustadz Abdul Qodir, Lc.







