Di antara tanda dan sifat orang-orang yang merugi adalah menolak kebenaran, walaupun kebenaran itu telah jelas baginya. Ia menolak dengan mencari pembenaran dalam rangka mempertahankan pendapatnya yang ia sangka benar. Namun, hakikatnya pendapat yang ia pegangi adalah batil. Bahkan, seringkali ia bangga dan takjub dengan pendapatnya. Sesekali ia menyalahkan ulama lain dan merendahkan ulama tersebut dengan gelar-gelar buruk untuk menjatuhkan mereka dan mengangkat dirinya yang hina.
Abul Qosim Abdah bin Abi Lubabah Al-Bazzaz Al-Asadiy Al-Kufiy (tabi’in tsiqah, wafat pada 127 H) rahimahullah berkata,
إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ لَجُوجًا مُمَارِيًا مُعْجَبًا بِرَأْيِهِ فَقَدْ تَمَّتْ خَسَارَتُهُ
“Apabila engkau melihat seseorang yang keras kepala, suka debat, lagi takjub (bangga) dengan pendapatnya, maka telah sempurnalah kerugiannya (kebinasaannya).”
[Atsar riwayat Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa 14/422 & 37/388 dan Adz-Dzahabiy dalam Tarikh Al-Islam 8/172]
Sungguh sebuah kerugian bagi seorang hamba bila ia ngeyel dan keras kepala, suka berdebat, dan bangga dengan pendapatnya sendiri dalam rangka menolak kebenaran yang ada pada pihak lain.
Al-Ustadz Abdul Qodir, Lc.







