Marah yang bukan karena Allah, melainkan karena urusan dunia yang sepele, adalah sifat tercela. Saking tercelanya, si pelaku akan hancur adab dan etikanya.
Abul Fath Al-Bustiy rahimahullah berkata,
مَنْ أَطَاعَ غَضَبَهُ، أَضَاعَ أَدَبَهُ
“Siapa saja yang memperturutkan amarahnya, ia akan menyia-nyiakan adabnya (etikanya).”
[Lihatlah Qira Adh-Dha’if 4/348 karya Ibnu Abid Dun-ya, cet. Adhwa’ As-Salaf]
Al-Ustadz Abdul Qodir, Lc.







