Dunia adalah tempat mengumpulkan tabungan guna menuju dan menghadapi akhirat, sebuah hari perhitungan yang padanya tidak bermanfaat harta dan anak. Di dalamnya seseorang hanyalah membutuhkan segala perkara yang menuai takwa. Takwa adalah semua bentuk ketaatan kepada Allah dan semua bentuk sikap jauhnya seorang hamba dari maksiat-maksiat yang membuat Allah Tabaraka wa Ta’ala murka.
Ulama tabi’ut-tabi’in, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’iy Al-Muthallibiy (wafat pada 204 H) berujar,
أَنْفَعُ الذَّخَائِرِ التَّقْوَى، وَأَضَرُّهَا العُدْوَانُ
“Simpanan (bekal) yang paling bermanfaat adalah takwa, dan tabungan yang paling membahayakan adalah sikap melampaui batas.”
[Atsar riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya` 9/123. Lihat Siyar A’lam An-Nubala` 10/98]
Sikap melampaui batasan-batasan Allah ‘Azza wa Jalla merupakan tabungan yang membawa kesialan pada hari kiamat. Seseorang yang melampaui batasan-batasan-Nya akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Ustadz Abdul Qodir, Lc.







