Manusia telah digolongkan oleh Allah Tabaraka wa Ta’ala ke dalam beberapa ragam jenis dan tipe yang saling berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.
Ini merupakan takdir dan ketentuan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba-Nya agar menjadi bahan renungan bagi mereka tentang di posisi manakah ia diletakkan? Orang yang berakal tentunya ingin dituntunkan ke dalam posisi terbaik.
Abul Abbas Abdullah bin Harun Ar-Rasyid bin Muhammad Al-Mahdiy Al-Abbasiy rahimahullah berkata,
النَّاسُ ثَلاَثَةٌ: رَجُلٌ مِنْهُم مِثْلُ الغِذَاءِ، لاَبُدَّ مِنْهُ، وَمِنْهُم كَالدَّوَاءِ يُحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي حَالِ المَرَضِ، وَمِنْهُم كَالدَّاءِ مَكْرُوهٌ عَلَى كُلِّ حَالٍ.
“Manusia itu ada tiga. Seorang di antara mereka laksana makanan, yang harus ada. Di antaranya pula ada yang ibarat obat. Ia dibutuhkan di saat sakit. Namun, di antara mereka lagi, ada yang seperti penyakit. Dia dibenci dalam segala keadaan.”
[Lihatlah Siyar A’lam An-Nubala` 10/282, Tarikh Al-Khulafa` hal. 275, dan Samthun Nujum Al-Awaliy 2/214 oleh Abdul Malik bin Husain Al-‘Ishamiy]
Golongan pertama adalah golongan para nabi, dan ulama, yang ilmunya senantiasa dibutuhkan oleh manusia dalam segala keadaannya.
Ustadz Abdul Qodir, Lc.







