Mutiara Salaf 27: Lebih baik Menjadi Ekor dalam Kebenaran daripada Menjadi Bos dalam Kebatilan

Mutiara Salaf 27 Lebih baik Menjadi Ekor dalam Kebenaran daripada Menjadi Bos dalam Kebatilan

Kepemimpinan bukanlah segalanya bagi para pencinta kebenaran. Kepemimpinan hanyalah bagian dari dunia yang hina. Seorang hamba memiliki tujuan mulia, yaitu mengagungkan kebenaran, tanpa memedulikan bahwa dirinya berada di depan atau di belakang, bahwa ia dimuliakan atau dihinakan. Tugasnya hanyalah menyampaikan kebenaran dengan sebaik-baik cara dan mengikuti konsekuensi kebenaran. Sehingga, jika ia pun ditinggalkan oleh semua manusia karena teguhnya ia mengikuti kebenaran, hal itu tidaklah membuatnya berkecil hati.

Ma’mar bin Rasyid Al-Azdy rahimahullah berkata,

قُلْتُ لِحَمَادٍ : كُنْتَ رَأْسًا وَكُنْتَ إِمَامًا فِيْ أَصْحَابِكَ، فَخَالَفْتَهُمْ فَصِرْتَ تَابِعًا، قَالَ: إِنِّيْ أَنْ أَكُوْنَ تَابِعًا فِي الْحَقِّ خَيْرٌ مِنْ أَنْ أَكُوْنَ رَأْسًا فِي الْبَاطِلِ

“Saya berkata kepada Hammad, ‘Dahulu engkau adalah kepala dan pemimpin di kalangan sahabat-sahabatmu. Namun, kemudian engkau menyalahi mereka. (Apa) karena itu engkau pun menjadi pengikut?’
Hammad menjawab, ‘Sungguh Saya menjadi pengikut dalam kebenaran adalah lebih baik dibandingkan Saya menjadi pemimpin dalam kebatilan.’.”
[HR. Ali bin Al-Ja’ad dalam Al-Musnad no. 357]

Apalah gunanya seorang manusia yang diikuti oleh sejuta fans dan pengikut jika menyelisihi kebenaran. Dirinya mulia di mata manusia, tetapi hina di sisi para pencinta kebenaran, bahkan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

Al-Ustadz Abdul Qodir, Lc.

Leave a Reply