Mutiara Salaf 28: Muhasabah Jiwa saat Mengarungi Lautan Hidup

Mutiara Salaf 28 Muhasabah Jiwa saat Mengarungi Lautan Hidup

 

Muhasabah (melakukan perhitungan) terhadap jiwa adalah perkara penting. Kehidupan ini laksana lautan yang banyak rintangan dan ombaknya. Terkadang perahu kehidupan berjalan mulus, tetapi terkadang pula diterpa gelombang dan tiupan angin. Seorang hamba ibarat nakhoda yang harus selalu memperhatikan perahunya. Setiap hari, ia harus memeriksa perahunya, adakah sesuatu yang rusak dan bocor.

Demikianlah seorang hamba di dunia harus selalu memeriksa amal dan perbuatannya di dunia, adakah maksiat dan dosa yang merusak amalannya, lalu seberapa besarkah kerusakannya jika memang ada.

Al-Muwaffaq Abu Muhammad Abdul Lathif bin Yusuf Al-Maushiliy -rahimahullah- berkata,

يَنْبَغِيْ أَنْ تُحَاسِبَ نَفْسَكَ كُلَّّ لَيْلَةٍ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى مَنَامِكَ، وَتَنْظُرَ مَا اكْتَسَبْتَ فِيْ يَوْمِكَ مِنْ حَسَنَةٍ، فَتَشْكُرَ اللهَ عَلَيْهَا، وَمَا اكْتَسَبْتَ مِنْ سَيِّئَةٍ، فَتَسْتَغْفِرَ اللهَ مِنْهَا، وَتَقْلَعُ عَنْهَا. وَتُرَتِّبَ فِيْ نَفْسِكَ مَا تَعْمَلُهُ فِيْ غَدِكَ مِنَ الْحَسَنَاتِ، وَتَسْأَلَ اللهَ الإِعَانَةَ عَلَى ذَلِكَ

“Sepantasnya engkau muhasabah (hisab) dirimu setiap malam bila engkau berangkat ke pembaringanmu. Engkau memerhatikan sesuatu yang telah engkau usahakan dalam harimu berupa kebaikan, lalu engkau pun bersyukur kepada Allah atasnya; dan (engkau memerhatikan) sesuatu yang telah engkau usahakan berupa keburukan, lalu engkau pun memohon ampunan kepada Allah atasnya, engkau meninggalkan keburukan itu, dan engkau merencanakan bagi dirimu sesuatu yang akan engkau kerjakan pada hari esokmu berupa kebaikan-kebaikan, serta mohonlah pertolongan kepada Allah atas hal itu.”
[Lihat Tarikh Al-Islam wa Wafayat Masyahir Al-A’lam 45/355 oleh Al-Imam Adz-Dzahabiy]

Seorang hamba yang berakal seyogianya selalu takut dan mawas diri tentang keadaan dirinya. Jangan sampai engkau tertipu dengan amalan shalihmu, serta ternyata kesalahan dan dosa-dosamu menggunung dan mengalahkan timbangan kebaikanmu. Takutlah engkau dengan ketertipuan seperti ini dan teteskanlah air matamu sebelum engkau menyesal dan menundukkan pandangan kehinaan di hadapan Allah -Tabaraka wa Ta’ala-.

Al-Ustadz Abdul Qodir, Lc.

Leave a Reply