Archive

Khutbah Jum’at: Kekhususan Ibadah Shalat

Wahai hamba-hamba Allah, shalat lima waktu merupakan rukun kedua dari rukun-rukun Islam. (Shalat) merupakan tiang agama, memiliki kedudukan yang sangat penting, dan Allah Maha Tahu segala sesuatu. Shalat lima waktu yang telah Allah fardhukan kepada hamba-hamba-Nya lima kali dalam sehari semalam merupakan amal ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah yang sangat agung.
Shalat fardhu lima waktu memiliki kekhususan yang tidaklah sama dengan semua ibadah lainnya. Di antaranya:
– Shalat merupakan wasiat terakhir yang Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sampaikan untuk umatnya di akhir hidup beliau.
– Shalat merupakan sebab yang membuat amalan menjadi baik.
– Shalat merupakan sebab terhentinya perkara mungkar dan terwujudnya akhlak mulia.
– Shalat lima waktu juga bisa menggugurkan dosa-dosa serta berbagai kesalahan yang pernah dilakukan.

Al-Qur’an dan Sunnah, Perahu Penyelamat dari gelombang Kesesatan dan Kejahilan

Al-Kitab dan Sunnah adalah wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad sebagai pedoman dan petunjuk serta bimbingan bagi umat Islam dalam mengarungi kehidupan dunia sampai mereka berjumpa dengan Allah -Azza wa Jalla-.
Al-Kitab dan Sunnah kini mulai ditinggalkan dan ditelantarkan oleh kaum muslimin, dimana mereka mengambil pedoman-pedoman lain, berupa ucapan manusia yang tak ma’shum.
Mereka lebih senang mengambil dan mengadopsi ucapan para syaikh dan guru mereka, tanpa memperhatikan benar-tidaknya!! Bahkan seringkali kebatilannya telah jelas dan nyata di depan mata, namun mereka tetap mengikutinya. Seakan-akan ucapan para guru dan syaikh setara dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-!!!
Lebih para dari semua itu, sebagian kalangan yang menganggap dirinya sebagai golongan intelektual, dipermainkan oleh kaum kafir yang meniupkan dan menyebarkan asumsi bahwa undang-undang buatan Belanda, Perancis, Amerika, dan sekutunya adalah lebih baik dibandingkan undang-undang dan syariat Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Subhanallah, adakah manusia lebih baik dibandingkan Penciptanya, yaitu Allah -Azza wa Jalla-? Jelas tidak mungkin semua hal lebih baik daripada wahyu yang turun dari Allah!!
Ini kenyataan sebagian manusia-manusia muslim yang meninggalkan Al-Kitab (Al-Qur’an).
Itulah yang dikeluhkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana yang diabadikan di dalam Al-Qur’an,
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُورًا [الفرقان/30]
“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. Al-Furqon : 30)

Tabligh Akbar: Kaidah dan Benteng Keamanan di Tengah Badai Hoax dan Fitnah – Jawa Tengah

Hadirilah… TABLIGH AKBAR Bersama: Al Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi (Pengasuh Ma’had As Sunnah Makassar) Tema: Kaidah dan Benteng Keamanan di Tengah Badai Hoax dan Fitnah Hari/Tanggal: Ahad, 22 Jumadil Ula 1438H 19 Februari 2017 M Waktu: Pukul 08.30 – 11.30 Tempat: Masjid Al Aqsho Klaten, Jawa Tengah Siaran Langsung: Radio Almadinah 96.0 FM www.almadinah.or.id Radio…
Read More

Kajian Islam Ilmiah: Tafsir Qisharul Mufashshal – Surakarta

Hadirilah Kajian Islam Ilmiah 2 Hari Bersama: Al Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi (Pengasuh Ma’had As Sunnah Makassar) Tema: Tafsir Qisharul Mufashshal (Surat-surat Pendek) (Surah Adh-Dhuha hingga An-Naas) Hari/Tanggal: Jum’at – Sabtu 20 – 21 Jumadil Ula 1438H 17 – 18 Februari 2017 Waktu: Pukul 09.00 – 21.00 Tempat: Masjid Al Umar Windan baru, Gumpang, Kartasura…
Read More

Tabligh Akbar: Islam Datang Membawa Kemanan Bagi Masyarakat, Bangsa, dan Negara – Mamuju

Bismillah .. Dengan Mengharap Ridho Allah Azzawajalla HADIRILAH TABLIGH AKBAR AHLUSSUNNAH MAMUJU TENGAH AHAD, 12 Februari 2017 M / 16 Jumadil Ula 1438 H SESI 1 TEMA : ISLAM DATANG MEMBAWA KEAMANAN BAGI MASYARAKAT, BANGSA DAN NEGARA WAKTU : PUKUL 09.00 – SEBELEUM SHOLAT DHUHUR TEMPAT : MASJID RAYA TOPOYO BERSAMA : AL USTADZ KHIDIR…
Read More

Imam Perempuan Berbalik ke Makmum Setelah Salam

Tanya: Seorang perempuan yang menjadi imam shalat, apakah setelah salam disyariatkan berbalik ke makmum sebagaimana imam laki-laki? Jawab: Perempuan menjadi imam dalam shalat berjamaah ada dua kaifiyah: Pertama, boleh seperti laki-laki: imam maju di depan, sedang makmum berada di belakang. Karena, asalnya adalah tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hukum-hukum shalat. Kedua, telah…
Read More

Kajian Islam Ilmiah: Dosa Memutus Hubungan Kerabat – Surabaya

JANGAN LUPA HARI AHAD, إن شآء الله … Bismillah … MARI BERKUMPUL DALAM MAJELIS ILMU AGAMA. Dengan mengharapkan ridho Allah ta’ala, Hadirilah Kajian Islam Ilmiah Rutin bersama : Al Ustadz KHOLIFUL HADI حفظه اللّٰه تعالى ( Alumni Darul Hadits Yaman & Pengajar PP Darul Atsar Gresik ) Yang إن شآء الله pada hari : Ahad,…
Read More

Mutiara Salaf 67: Harga Sebuah Dunia

Dunia adalah sesuatu yang indah. Keindahannya kadang melalaikan manusia dari tujuan penciptaannya berupa ibadah dan ketaatan kepada Allah. Kecintaan kepada dunia seringkali membuat sebagian manusia menjadi serakah dalam mengejarnya sampai dunia menjauhkannya dari kebaikan dan ketaatan, serta melanggar keharaman dalam agama. Dunia pun jika sudah menguasai hati sesorang hamba, maka dunia akan mengubahnya menjadi manusia…
Read More

Daurah Islam Ilmiah: Menelusuri Jejak-Jejak Dajjal – Semarang

…BAGIAN DARI TAMAN – TAMAN SURGA… DAURAH ISLAM ILMIAH بسم الله الرحمن الرحيم السلام عليكم ورحمة الله وبركاته Hadirilah… ⁠⁠⁠ DAURAH ISLAM ILMIAH SABTU – AHAD 8-9 Jumadil Ula 1438 H | 4-5 Februari 2017 M In syaa Allah : ⁠⁠⁠ Tempat : Masjid Al Barokah Jl. Tegalsari Raya no 41 Semarang (Depan Alfamart) Bersama…
Read More

Menyoal Aksi Boikot dan Hukumnya di Mata Para Ahlul ‘Ilmi

Di zaman ini, muncul sebuah aksi yang seringkali membawa kerugian bagi masyarakat dan bangsa. Aksi itu mereka namai dengan “AKSI BOIKOT”.
Aksi boikot ini seringkali dilakukan oleh sekelompok organisasi atau ormas saat mereka tersinggung oleh pernyataan sebagian, maka para pelaku aksi boikot ini pun melancarkan aksinya dengan menggerakkan massa dan memobilisasi mereka dalam memboikot produk atau usaha orang yang mereka benci dan sentiment kepadanya.
Aksi ini tentunya bukan seringan dan semudah dalam pikiran sebagian orang, karena akan menelurkan berbagai macam kerugian, kerusakan dan kemunduran bagi masyarakat.
Bayangkan saja jika mereka memboikot sebuah perusahaan yang mempekerjakan ribuan masyarakat muslim, dan barang yang mereka boikot adalah kebutuhan pokok masyarakat.
Akibatnya, anda bisa perkirakan bahwa aksi itu akan banyak menyebabkan terjadinya pengangguran, dan manusia akan mengalami kesempitan hidup karena kebutuhan pokoknya terhalang dengan aksi boikot.
Jika pengangguran merebak, tentunya akan melahirkan banyak mengalami kesusahan hidup, karena sehabis berhenti dari pekerjaan semula, dalam mencari pekerjaan baru, tidak segampang membalikkan telapak tangan, apalagi di perkotaan.
Sebagian orang yang sempit pikiran dan tipis iman, terkadang menempuh jalan-jalan pintas yang membahayakan diri dan masyarakatnya. Mereka pun melakukan pencurian, perampokan, pembegalan, pembunuhan, pemaksaan, atau menjual kehormatan. Wal ‘iyadzu billahi min dzalik.
Sisi lain, terkadang jika aksi boikot ini didalangi oleh para aktifis Islam, akan memberikan kesan buruk kepada Islam bahwa Islam mendatangkan kesempitan bagi masyarakat. Padahal itu hanyalah aksi personal dan pribadi atau kelompok, bukan mewakili Islam!!
Adanya aksi-aksi boikot serampangan ini jelas banyak melahirkan dampak negative bagi perekonomian masyarakat.
Karena itu, ulama kita mewanti-wanti kaum muslimin agar jangan serampangan dan ikut-ikutan melakukan aksi boikot ini, tanpa ada arahan dan komando dari pemerintah.
Ini merupakan sikap ceroboh. Aksi boikot yang serampangan dan ceroboh seperti ini juga dahulu pernah dilakukan oleh sekte sesat Syi-ah-Rofidhoh.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- mengisahkan aksi boikot kaum Syi’ah yang ceroboh dan serampangan atas masyakat Ahlus Sunnah,
“وَأَمَّا سَائِرُ حَمَاقَاتِهِمْ فَكَثِيرَةٌ جِدًّا: مِثْلَ كَوْنِ بَعْضِهِمْ لَا يَشْرَبُ مِنْ نَهْرٍ حَفَرَهُ يَزِيدُ مَعَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَالَّذِينَ مَعَهُ كَانُوا يَشْرَبُونَ مِنْ آبَارٍ، وَأَنْهَارٍ حَفَرَهَا الْكُفَّارُ، وَبَعْضُهُمْ لَا يَأْكُلُ مِنَ التُّوتِ الشَّامِيِّ، وَمَعْلُومٌ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَمَنْ مَعَهُ كَانُوا يَأْكُلُونَ مِمَّا يُجْلَبُ مِنْ بِلَادِ الْكُفَّارِ مِنَ الْجُبْنِ، وَيَلْبَسُونَ مَا تَنْسِجُهُ الْكُفَّارُ، بَلْ غَالِبُ ثِيَابِهِمْ كَانَتْ مِنْ نَسْجِ الْكُفَّارِ.” اهــ من منهاج السنة النبوية (1/ 38)
“Adapun kebodohan-kebodohan mereka (Syi’ah) yang lainnya, maka (jumlahnya) amat banyak, seperti : sebagian mereka ada yang tidak mau minum dari sungai yang digali oleh Kholifah Yazid.
Padahal Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dan orang-orang yang bersama beliau, dulu minum dari sumur-sumur dan sungai-sungai yang digali oleh orang-orang kafir
Sebagian dari mereka (Syi’ah), ada yang tidak mau makan dari buah-buahan dari negeri Syam. Sementara sudah dimaklumi bahwa Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dan orang-orang yang bersama beliau, dulu memakan sesuatu yang diimpor dari negara-negara kafir berupa keju, dan mereka juga menggunakan pakaian yang ditenun oleh orang-orang kafir. Bahkan mayoritas pakaian mereka berasal dari tenunan (produk) kaum kafir. [Lihat Minhajus Sunnah (1/38)]