Taushiyah

Surat Wasiat Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauriy kepada Abbad bin Abbad Ar-Romliy

Wasiat para salaf adalah wasiat yang amat berkesan dalam sanubari, karena ia lahir dari renungan yang mendalam terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, lalu diterapkan pada realita dan kehidupan nyata manusia.
Sentuhan-sentuhan nasihat para salaf bagaikan sentuhan sutra yang amat halus. Arahan dan nasihat mereka yang tulus menembus relung hati setiap pencari kebaikan dan kebenaran.
Tergetar hati ini rasanya jika mereka menyampaikan wejangan-wejangan yang mengobati yang sakit, menghibur yang lara, dan menguatkan jiwa yang lemah.
Salah seorang diantara salaf yang bernama SUFYAN BIN SA’ID ATS-TSAURIY -rahimahullah- pernah mengirim sebuah surat wasiat kepada sahabatnya yang bernama Abbad bin Abbad Al-Khowwash Ar-Romliy Al-Arsuqiy -rahimahullah-.
Isi surat itu amat menyentuh hati dan merupakan nasihat yang dibutuhkan oleh setiap muslim dalam menjalani kehidupan dunia ini.
Berikut isi surat Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauriy kepada Abbad bin Abbad Ar-Romliy :

Stop Bermain Ketapel [Hukum Bermain Ketapel]

Oleh: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. -hafizhahullah-   Di sebuah perumahan, kami pernah terhenti karena melihat beberapa bocah cilik yang menggenggam ketapel yang mereka gunakan dalam bermain. Kami pun menasihati bahwa bermain ketapel telah dilarang oleh Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-. Alasannya, mereka buat ketapel demi membidik burung dan lainnya. Sesekali mereka arahkan kepada temannya…
Read More

Hadits Palsu Mengusap Mata dengan Dua Ibu Jari di Kala Mendengar Adzan

Oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. -hafizhahullah- Mungkin anda pernah menyaksikan sebagian jamaah yang datang ke masjid yang mengusap kedua kelopak matanya dengan ibu jarinya, saat mendengarkan mu’adzdzin mengucapkan, “Asyhadu anna Muhammadar Rasululloh.” Para pembaca yang budiman, satu diantara bid’ah yang tersebar di masyarakat, mengusap kedua  mata dengan dua ibu jari telunjuk, saat mendengar mu’adzdzin…
Read More

Noda-noda Kesyirikan dalam Dunia Pertogelan

Oleh: Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. -hafizhahullah-   Syirik alias kemusyrikan adalah menyekutukan Allah dalam sifat-sifat-Nya dan hak-Nya (ibadah), seperti berdoa kepada selain Allah, sholat kepada Syaikh Abdul Qodir Al-Jailaniy. Termasuk kesyirikan, seseorang mengaku tahu perkara ghaib, sehingga ia pun melakukan peramalan dan perdukunan. Pertogelan alias perjudian adalah perkara yang menyeret kepada keburukan, sedikit demi sedikit….
Read More

Judi Gelap ‘Togel’, Hukumnya dalam Agama

Mungkin anda biasa dikagetkan dengan adanya kiriman SMS berupa ajakan bermain “TOGEL”.
Banyak orang yang tak mengetahui hakikat togel dan mengira bahwa itu hanya sekedar permainan lomba atau sayembara yang boleh-boleh saja.
Tapi nyatanya ia adalah judi underground alias judi gelap yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Walaupun belakangan ini, sebagian bandar judi mulai berani menampakkan taringnya.
Dengan melihat asal kata dan sejarahnya, togel merupakan singkatan dari dua kata dalam bahasa Jawa : toto gelap, artinya judi gelap.
Disebut judi gelap, karena dilakukan secara tersembunyi oleh sebagian orang yang saling mengerti dan terlibat dalam permainan judi tersebut.
Perjudian ini sebenarnya sudah lama ada. Namun ia semakin marak dan digandrungi oleh masyarakat dangkal ilmu di Nusantara, sejak terhapusnya perjudian lain yang kita kenal dahulu dengan nama “SDSB” (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah).
Ketika judi ini (SDSB) terhapus pada awal tahun 1990 M, merekapun tak kehabisan akal busuk sampai tumbuhlah istilah togel yang sedikit demi sedikit merambah dalam masyarakat Indonesia raya pada kebanyakan daerah.
Di sebagian kesempatan, beberapa orang telah meminta kepada kami agar menjelaskan bahaya dan hukum togel bagi dunia dan akhirat seseorang, sehingga perlu kiranya kita menyinggung sebagian dalil wahyu tentang haramnya perjudian.

Akhir Sebuah Perjalanan

Berakhirnya tahun, hendaknya menjadi ibrah (pelajaran) dan bahan renungan bagi kaum beriman bahwa segala sesuatu yang ada di dunia memiliki awal dan akhir.
Tumbuhan yang ada di sekitar kita, muncul berupa tunas sampai ia menjadi pohon yang besar, menjulang dan lebar. Akhirnya, ia punah tertelan bumi.
Bangunan yang bermula dengan susunan bebatuan dan lainnya sampai ia berwujud rumah atau yang lainnya. Akhirnya zaman berlalu sedikit demi sedikit sampai bangunan itu mengalami perubahan dan kerusakan hingga ia runtuh!!
Lihatlah kaum Tsamud yang dahulu memiliki kehebatan dan kejayaan dalam arsitektur sampai mereka membuat bangunan rumah megah di gunung-gunung kokoh!!! Namun semuanya berujung dengan kehancuran!!!!

Saatnya Wanita Tinggal di Rumah

Ketika kami dalam sebuah perjalanan, mata kami tertuju pada sebuah baliho yang besar dengan sebuah pesan yang aneh.
Di baliho tersebut terpampang gambar seorang wanita yang tersenyum manis berslogan “saatnya wanita memimpin!!”.
Hal ini membuat hati kami merasa sedih dan khawatir. Sebab slogan ini mendorong para wanita untuk keluar dari rumahnya dan berikut bekerja, bahkan menjadi pemimpin!!!
Akibatnya, mereka akan jatuh dalam ikhtilath (campur baur) dengan kaum lelaki.
Ini akan mengantarkan kita kepada suatu kerugian dan menghilangkan keberuntungan dunia-akhirat!!!!

Mengakhiri Sholat dengan Satu Kali Salam

Sholat pada umumnya di akhiri dengan dua kali salam. Namun ada sebuah perkara yang tidak diketahui oleh mayoritas kaum muslimin bahwa disana ada sejumlah ulama ulama yang menyatakan bolehnya mengucapkan satu kali salam dalam mengakhiri sholat yang kita tunaikan, baik itu berupa sholat wajib, maupun sholat sunnah.
Mengakhiri sholat dengan dua kali salam itulah yang paling masyhur di kalangan para ulama dan kaum muslimin berdasarkan sejumlah riwayat dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-.
Dari Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu anhu- berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ الْأَيْمَنِ وَعَنْ يَسَارِهِ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ حَتَّى يُرَى بَيَاضُ خَدِّهِ الْأَيْسَرِ
“Dahulu Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- melakukan salam ke kanan: “Assalam alaikum warohmatulloh”, sampai terlihat putih pipi beliau yang kanan, dan ke sebelah kiri: “Assalam alaikum warohmatulloh”, sampai terlihat putih pipi beliau yang kiri”. [HR. An-Nasa’iy dalam Sunan-nya (no. 1325). Dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Irwa’ Al-Gholil (no. 950)]

Khutbah Jum’at: Kekhususan Ibadah Shalat

Wahai hamba-hamba Allah, shalat lima waktu merupakan rukun kedua dari rukun-rukun Islam. (Shalat) merupakan tiang agama, memiliki kedudukan yang sangat penting, dan Allah Maha Tahu segala sesuatu. Shalat lima waktu yang telah Allah fardhukan kepada hamba-hamba-Nya lima kali dalam sehari semalam merupakan amal ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah yang sangat agung.
Shalat fardhu lima waktu memiliki kekhususan yang tidaklah sama dengan semua ibadah lainnya. Di antaranya:
– Shalat merupakan wasiat terakhir yang Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sampaikan untuk umatnya di akhir hidup beliau.
– Shalat merupakan sebab yang membuat amalan menjadi baik.
– Shalat merupakan sebab terhentinya perkara mungkar dan terwujudnya akhlak mulia.
– Shalat lima waktu juga bisa menggugurkan dosa-dosa serta berbagai kesalahan yang pernah dilakukan.

Al-Qur’an dan Sunnah, Perahu Penyelamat dari gelombang Kesesatan dan Kejahilan

Al-Kitab dan Sunnah adalah wahyu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad sebagai pedoman dan petunjuk serta bimbingan bagi umat Islam dalam mengarungi kehidupan dunia sampai mereka berjumpa dengan Allah -Azza wa Jalla-.
Al-Kitab dan Sunnah kini mulai ditinggalkan dan ditelantarkan oleh kaum muslimin, dimana mereka mengambil pedoman-pedoman lain, berupa ucapan manusia yang tak ma’shum.
Mereka lebih senang mengambil dan mengadopsi ucapan para syaikh dan guru mereka, tanpa memperhatikan benar-tidaknya!! Bahkan seringkali kebatilannya telah jelas dan nyata di depan mata, namun mereka tetap mengikutinya. Seakan-akan ucapan para guru dan syaikh setara dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-!!!
Lebih para dari semua itu, sebagian kalangan yang menganggap dirinya sebagai golongan intelektual, dipermainkan oleh kaum kafir yang meniupkan dan menyebarkan asumsi bahwa undang-undang buatan Belanda, Perancis, Amerika, dan sekutunya adalah lebih baik dibandingkan undang-undang dan syariat Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Subhanallah, adakah manusia lebih baik dibandingkan Penciptanya, yaitu Allah -Azza wa Jalla-? Jelas tidak mungkin semua hal lebih baik daripada wahyu yang turun dari Allah!!
Ini kenyataan sebagian manusia-manusia muslim yang meninggalkan Al-Kitab (Al-Qur’an).
Itulah yang dikeluhkan oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- sebagaimana yang diabadikan di dalam Al-Qur’an,
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُورًا [الفرقان/30]
“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan”. (QS. Al-Furqon : 30)