Taushiyah

Mutiara Salaf 67: Harga Sebuah Dunia

Dunia adalah sesuatu yang indah. Keindahannya kadang melalaikan manusia dari tujuan penciptaannya berupa ibadah dan ketaatan kepada Allah. Kecintaan kepada dunia seringkali membuat sebagian manusia menjadi serakah dalam mengejarnya sampai dunia menjauhkannya dari kebaikan dan ketaatan, serta melanggar keharaman dalam agama. Dunia pun jika sudah menguasai hati sesorang hamba, maka dunia akan mengubahnya menjadi manusia…
Read More

Menyoal Aksi Boikot dan Hukumnya di Mata Para Ahlul ‘Ilmi

Di zaman ini, muncul sebuah aksi yang seringkali membawa kerugian bagi masyarakat dan bangsa. Aksi itu mereka namai dengan “AKSI BOIKOT”.
Aksi boikot ini seringkali dilakukan oleh sekelompok organisasi atau ormas saat mereka tersinggung oleh pernyataan sebagian, maka para pelaku aksi boikot ini pun melancarkan aksinya dengan menggerakkan massa dan memobilisasi mereka dalam memboikot produk atau usaha orang yang mereka benci dan sentiment kepadanya.
Aksi ini tentunya bukan seringan dan semudah dalam pikiran sebagian orang, karena akan menelurkan berbagai macam kerugian, kerusakan dan kemunduran bagi masyarakat.
Bayangkan saja jika mereka memboikot sebuah perusahaan yang mempekerjakan ribuan masyarakat muslim, dan barang yang mereka boikot adalah kebutuhan pokok masyarakat.
Akibatnya, anda bisa perkirakan bahwa aksi itu akan banyak menyebabkan terjadinya pengangguran, dan manusia akan mengalami kesempitan hidup karena kebutuhan pokoknya terhalang dengan aksi boikot.
Jika pengangguran merebak, tentunya akan melahirkan banyak mengalami kesusahan hidup, karena sehabis berhenti dari pekerjaan semula, dalam mencari pekerjaan baru, tidak segampang membalikkan telapak tangan, apalagi di perkotaan.
Sebagian orang yang sempit pikiran dan tipis iman, terkadang menempuh jalan-jalan pintas yang membahayakan diri dan masyarakatnya. Mereka pun melakukan pencurian, perampokan, pembegalan, pembunuhan, pemaksaan, atau menjual kehormatan. Wal ‘iyadzu billahi min dzalik.
Sisi lain, terkadang jika aksi boikot ini didalangi oleh para aktifis Islam, akan memberikan kesan buruk kepada Islam bahwa Islam mendatangkan kesempitan bagi masyarakat. Padahal itu hanyalah aksi personal dan pribadi atau kelompok, bukan mewakili Islam!!
Adanya aksi-aksi boikot serampangan ini jelas banyak melahirkan dampak negative bagi perekonomian masyarakat.
Karena itu, ulama kita mewanti-wanti kaum muslimin agar jangan serampangan dan ikut-ikutan melakukan aksi boikot ini, tanpa ada arahan dan komando dari pemerintah.
Ini merupakan sikap ceroboh. Aksi boikot yang serampangan dan ceroboh seperti ini juga dahulu pernah dilakukan oleh sekte sesat Syi-ah-Rofidhoh.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- mengisahkan aksi boikot kaum Syi’ah yang ceroboh dan serampangan atas masyakat Ahlus Sunnah,
“وَأَمَّا سَائِرُ حَمَاقَاتِهِمْ فَكَثِيرَةٌ جِدًّا: مِثْلَ كَوْنِ بَعْضِهِمْ لَا يَشْرَبُ مِنْ نَهْرٍ حَفَرَهُ يَزِيدُ مَعَ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَالَّذِينَ مَعَهُ كَانُوا يَشْرَبُونَ مِنْ آبَارٍ، وَأَنْهَارٍ حَفَرَهَا الْكُفَّارُ، وَبَعْضُهُمْ لَا يَأْكُلُ مِنَ التُّوتِ الشَّامِيِّ، وَمَعْلُومٌ أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَمَنْ مَعَهُ كَانُوا يَأْكُلُونَ مِمَّا يُجْلَبُ مِنْ بِلَادِ الْكُفَّارِ مِنَ الْجُبْنِ، وَيَلْبَسُونَ مَا تَنْسِجُهُ الْكُفَّارُ، بَلْ غَالِبُ ثِيَابِهِمْ كَانَتْ مِنْ نَسْجِ الْكُفَّارِ.” اهــ من منهاج السنة النبوية (1/ 38)
“Adapun kebodohan-kebodohan mereka (Syi’ah) yang lainnya, maka (jumlahnya) amat banyak, seperti : sebagian mereka ada yang tidak mau minum dari sungai yang digali oleh Kholifah Yazid.
Padahal Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dan orang-orang yang bersama beliau, dulu minum dari sumur-sumur dan sungai-sungai yang digali oleh orang-orang kafir
Sebagian dari mereka (Syi’ah), ada yang tidak mau makan dari buah-buahan dari negeri Syam. Sementara sudah dimaklumi bahwa Nabi –shollallahu alaihi wa sallam- dan orang-orang yang bersama beliau, dulu memakan sesuatu yang diimpor dari negara-negara kafir berupa keju, dan mereka juga menggunakan pakaian yang ditenun oleh orang-orang kafir. Bahkan mayoritas pakaian mereka berasal dari tenunan (produk) kaum kafir. [Lihat Minhajus Sunnah (1/38)]

Mutiara Salaf 66: Nilai Tinggi Menjaga Persatuan

Di dalam kehidupan di sebuah komunitas kecil, terkadang muncul riak-riak yang merusak persatuan. Terlebih lagi jika kehidupan itu adalah dalam sebuah negara yang menghimpun berbagai jenis ras, agama, tendensi, dan latar belakang yang berbeda. Menyatukan keragaman yang majemuk seperti ini adalah sesuatu yang berat. Belum lagi, terkadang sebagian pihak lebih mendahulukan egonya sehingga, di saat…
Read More

Nasihat Syaikh Ali bin Ahmad Ar-Rozihiy untuk Para Dai Ahlus Sunnah agar Jangan Ikut Campur dalam Urusan Pemerintah

Belakangan ini, ada sebuah fenomena yang kami perhatikan merebak di kalangan sebagian Ahlus Sunnah, berupa ikut campurnya mereka dalam perkara-perkara dan kasus-kasus yang ditangani pemerintah, karena (mungkin) termakan media.
Parahnya lagi, bila seorang dai ikut membuat pernyataan dalam urusan pemerintah yang bukan urusannya, sehingga bermunculan kesan buruk bagi dakwah Ahlus Sunnah bahwa mereka tidak menghormati pemerintah muslim. Padahal itu hanyalah sikap pribadi dai tertentu.
Akibatnya, kini banyak juga ikhwah alias audiens yang “berani” berkomentar tentang masalah-masalah kekinian yang mendera negeri ini, seperti kasus Bapak Patrialis Akbar, dan lainnya.
Tulisan dan nasihat ini, jangan dipahami bahwa kita menutup pintu nasihat bagi pemerintah. Silakan, nasihati mereka. Tapi tentunya dengan cara-cara syar’i, dan dilakukan oleh orang yang pantas mengemban tugas nasihat dari kalangan orang yang dikenal dan dekat dengan pemerintah. Nasihatilah mereka pribadi dengan cara yang baik berupa nasihat persaudaraan dan secara pribadi, bukan secara terang-terangan di depan publik melalui mimbar, media, dan lainnya!
Para pembaca yang budiman, adanya gejala buruk sebagian Ahlus Sunnah sudah mulai “berani” mengeluarkan STATEMENT (pernyataan) dalam menyikapi masalah-masalah sosial yang dihadapi pemerintah, sehingga seringkali menyerempet nama baik pemerintah muslim.
Adanya gejala buruk ini, memancing sebagian pihak untuk menanyakan hal ini kepada sebagian ulama Ahlus Sunnah di Yaman, dalam hal ini Syaikh Ali bin Ahmad Ar-Rozihiy -hafizhahullah-.
Berikut pertanyaan yang diajukan oleh sebgian thullab Ma’bar kepada Syaikh Ali bin Ahmad Ar-Rozihiy -hafizhahullah-

Duduk Tasyahhud yang Benar

Oleh : Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. -hafizhahullah-    Banyak teman yang bertanya kepada kami tentang posisi duduk tasyahhud saat seorang melakukan sholat satu atau dua raka’at. Mereka bertanya-tanya seperti ini, karena melihat realita di tengah kaum muslimin berupa adanya sebagian kaum muslimin yang melakukan tawarruk (duduk sambil menyentuhkan pantat kiri di lantai) saat sholat…
Read More

Mutiara Salaf 65: Bergembira dengan Sesuatu yang Memudharatkan

Manusia, dalam memandang dunia, seringkali menilai dari lahiriah dan kulitnya saja. Jika lahiriah seseorang bahagia dengan dunianya, maka kebanyakan orang menyangka bahwa orang itu adalah orang yang bahagia pada hakikatnya. Padahal tidaklah demikian, bahkan boleh jadi ia adalah orang yang paling merugi. Muhammad bin Ali Al-Hakim At-Tirmidziy (wafat 320 H) rahimahullah berkata, كَفَى بِالْمَرْءِ عَيْبًا…
Read More

Larangan Mengangkat Imam Besar dan Membai’atnya, saat Adanya Pemimpin Resmi dalam Negara

Belakangan ini sebuah kekhawatiran dalam hati, saat membaca, melihat dan mendengar berita bahwa ada sebagian jamaah mengangkat seorang “IMAM BESAR”[1] bagi kaum muslimin di negeri ini, lalu si imam besar ini pun dibai’at. Padahal pemimpin tertinggi negara ini ada dan dia adalah seorang muslim!
Ini merupakan sebuah bentuk pemberontakan dan pembangkangan bagi pemerintah yang sah dan menjadi sebab lahirnya dualisme kepemimpinan.
Jika muncul dualisme kepemimpinan bagi kaum muslimin, maka akan berikutnya berbagai macam kerusakan yang akan timbul dengan munculnya fenomena.
Kapan ada terjadi dualisme kepemimpinan, maka akan muncul banyak keributan dan kerusakan, bahkan boleh jadi perang besar.
Lantas apa pandangan ulama-ulama besar tentang realita ini?
Sebagai jawaban, berikut kami nukilkan sejumlah fatwa dari ulama ahlussunnah waljamaah yang telah dikenal dunia dan menjadi rujukan mereka dalam meminta fatwa.

Bencana Foto Selfie dan semisalnya, serta Bantahan atas Orang-orang yang Menghalalkan Foto Makhluk Bernyawa

Oleh : Ust. Abdul Qodir Abu Fa’izah, Lc. -hafizhahullah- Dewasa ini, dengan perkembangan teknologi yang amat pesat, muncul sebuah alat yang kita kenal dengan “POTRET”, alias “KAMERA”. Alat ini dengan berbagai jenisnya, membawa sebuah perubahan dalam kehidupan manusia. Terlebih lagi saat kamera merupakan salah satu fitur yang melengkapi ponsel moderen yang ada di zaman ini, maka semakin…
Read More

Menata Adab dan Akhlak sebelum Jauh Melangkah

Sebuah kesalahan para penuntut ilmu, ia hanya mengumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya. Namun ia lupa menghiasi dirinya dengan adab-adab islami kepada yang lain : kepada ustadz, ilmu, kitab, kawan-kawan, tetangga, masyarakat, orang tua dan lainnya.
Tak heran bila di zaman ini, kita akan menjumpai manusia-manusia durhaka kepada guru dan ustadznya yang telah mengajarinya sekian banyak jenis ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.
Semua itu dibalas dengan adab dan akhlak buruk kepada gurunya, sampai ada diantara mereka yang meng-ghibahi gurunya, menghukuminya sebagai orang sesat, sementara itu ia tak menasihatinya.
Gelar-gelar buruk tak luput dari lisannya sehingga manusia yang berjasa dalam hidupnya ia gelari dengan “kadzdzab” (tukang dusta), dajjal, pencuri dan sederet gelar-gelar hina ia sematkan kepada sang guru.
Di sudut sana, ada segelintir manusia rendah yang punya kebiasaan CURIGA dan buruk sangka kepada gurunya dan punya hobi menguntit aib dan kesalahan-kesalahan gurunya. Padahal gurunya adalah seorang yang berjalan di atas sunnah.

Awal Segala Sesuatu

Disana ada beberapa hal yang pertama kali terjadi di antara perkara-perkara penting kita ilmui dan yakini agar keimanan kita semakin kokoh. Diantara perkara-perkara yang kami maksudkan,

þ Makhluk Pertama

Makhluk yang pertama kali ciptakan oleh Allah -Azza wa Jalla- adalah Al-Qolam (pena). Dialah yang menulis segala takdir yang dikehendaki oleh Allah sampai kiamat.

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,
إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ، قَالَ: رَبِّ، وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
“Sesungguhnya sesuatu yang paling pertama Allah -Ta’ala- ciptakan adalah Al-Qolam (pena). Dia berfirman kepadanya, “Tulislah!!” Pena berkata, “Wahai Tuhanku, apa yang aku akan tulis?” Dia berfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu sampai tegaknya hari kiamat”. [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 4700). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (no. 2018)]

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa makhluk pertama adalah Arsy, maka ini adalah pendapat lemah yang tak memiliki dasar yang kuat!!